Kamis, 01 Februari 2018

MENTAL PEZIARAH KUBUR


MENTAL Peziarah KUBUR
catatan dari komplek makam sunan gunung jati cirebon
 SUTEJO IBNU PAKAR
PENGANTAR
Makam wali adalah kawasan damai di tengah keributan dunia. Fenomena tradisi ziarah makam para wali senantiasa merepresentasikan sintesa agama dan konteks kulturnya dalam panorama heteroginitas, yang sekaligus bermuara menjadi sesuatu yang global dan universal, yakni pemaknaan orang suci (wali) dan jejak biografinya yang menjadi tempat suci.
Seperti dengan mudah kita saksikan di makam para  wali pada umumnya,   adalah tempat pengungkapan perasaan religius yang bebas serta juga tempat memelihara ritus-ritus kuno. Jika amal sembahyang di masjid mencerminkan keseragaman dunia Islam, maka amal ziarah ke makam wali mencerminkan keanekaragaman budaya yang tercakup dalam dunia Islam.
Makam wali,   adalah juga tempat pelarian,     tempat orang merasa bebas dari berbagai paksaan, dan tempat merenungkan nasibnya, juga tempat berlindung sebentar untuk bermacam orang pinggiran: pengemis, orang cacat badan atau      jiwa, pengelana, buronan, dan sebagainya.
Mengesampingkan terlebih dulu sejumlah kritik dan keberatan terhadap fenomena tradisinya, ziarah ke makam para wali diakui atau tidak telah membawa ingatan kita pada segenap hubungan antara orang suci dan tempat suci dalam pemaknaan waktu dan ruangnya. Tak ada satu pun tempat suci dalam tradisi ritus agama-agama besar yang tidak berhubungan dengan peristiwa bersejarah dalam hidup orang-orang suci, sebutlah nabi dan rasul.
Tempat atau tanah suci inilah yang kemudian tak sekadar dipercaya sebagai kutub dari seluruh kesadaran transenden,  namun juga yang lantas berkaitan dengan ihwal identitas.   Penyebaran agama-agama ke berbagai belahan dunia, sebutlah   Islam, telah membuat tanah suci itu (Mekah) semakin jauh dan     mistis, sehingga membuat umatnya menciptakan tempat-tempat   suci baru yang dianggap cerminan dari tanah suci yang sebenarnya. Karena itulah,  sesungguhnya hanya satu tempat saja yang  ditunjuk oleh sejarah sebagai tanah suci, tetapi umat terus                   memperbanyak jumlah itu, sambil menyucikan negerinya                   masing-masing dan menciptakan peta kesucian baru.
Proses penghadiran peta kesucian baru ini meniscayakan   hubungannya dengan identitas pengeramatan manusia yang  kemudian tersebut sebagai wali. Oleh karena dalam Islam tidak  ada lembaga yang bertugas mengesahkan kewalian, maka     masyarakatlah yang mengangkatnya menjadi wali yang erat   kaitannya dengan jaringan kehidupan tarekat serta yang secara   genealogis merujuk pada Nabi Muhammad saw. sebagai kutub dari seluruh identifikasi orang suci. Para wali tentu saja      merupakan pewaris spiritual Rasulullah, akan tetapi mereka    bukanlah jembatan langsung dengan nabi yang didambakan itu.          
Oleh karena itu, setiap golongan manusia mereka-reka berbagai silsilah buatan guna menghubungkan para wali mereka langsung dengan Rasulullah saw. Para wali membentuk sebuah jaringan rantai panjang yang melalui fenomena peng-keramatan-nya, menghubungkan para peziarah dengan sang penerima wahyu Ilahi. Setiap wali akhirnya menjadi leluhur baru buat satu marga, satu desa, satu daerah, bahkan satu bangsa.
Tradisi ziarah makam para wali adalah sebuah kontrol atas waktu, sifat moral tradisi erat-terkait dengan proses interpretatif, di mana masa lalu dan masa sekarang dihubungkan.    Waktu, bahkan juga ruang, dalam ritus ziarah, dikontrol melalui     kesadaran atas proses penghadiran sosok wali. Seorang wali dan makamnya yang dikeramatkan, ”dibentuk” menjadi  mediator antara hari ini dan masa lalu, antara orang kebanyakan dan Rasulullah saw. sebagai kutub dari kesadaran atas orang-orang suci.           
Menariknya, seluruh prosesi ritus di makam para wali dan letak geografisnya sebagai tempat suci amat kuat dipengaruhi oleh   penafsiran ihwal alam sebagai ruang sakral. Nyaris seluruh  makam keramat di Jawa cenderung berada di atas bukit untuk   menjelaskan pemaknaan simboliknya dalam khazanah budaya lokal. Dan ini tak hanya ada dalam tradisi Islam di Jawa. Sendang Sono di Yogyakarta, tempat di mana umat Katolik berziarah juga    menyimbolkan bukit sebagai perjalanan menuju ke pusat  kesadaran mistis. Sendang Sono dianggap menjadi tempat suci bagi umat Katolik sehubungan dengan kepercayaan akan penampakan Maria di mulut goa. Perjalanan para peziarah ke tempat itu harus menaiki bukit dengan anak tangga yang melelahkan. Seluruhnya ini diandaikan menjadi simbol peristiwa penderitaan Kristus menuju puncak Golgota. Tradisi ziarah dalam konteks ini menjelaskan apa yang dimaksud tradisi dalam pemaknaannya sebagai media pengatur memori kolektif.
Dan satu hal yang selalu terdapat di berbagai tempat suci                adalah keberadaan air keramat yang diyakini mengalir dari masa                   lampau bersama kesucian tempat itu. Pada tempat-tempat suci                   umat Islam, agaknya hal ini untuk mengutuhkan seluruh replika                   tentang Mekah dengan keberadaan air zamzamnya. Lepas dari soal                   itu air di situ menjadi relik yang tidak hanya dilihat dari hubungannya dengan masa lalu, tapi lebih menekan pada faktanya yang berada di tempat yang dianggap suci. Selain air biasanya juga terdapat sejenis binatang tertentu yang dianggap keramat, dari mulai ikan, ular, hingga kera yang pantang diganggu.            
Bagi para peziarah, berdoa dan bertirakat di tempat suci adalah ikhtiar untuk berkomunikasi dengan isyarat ketuhanan    yang tak terjangkau. Namun seluruh ikon, relik, dan prosesi      ritual di tempat yang dikeramatkan itu, sekonyong-konyong     menjadi medium yang mentransformasikan ruang kekinian yang  profan ke dalam waktu dan ruang masa lalu yang penuh mistis  dan suci. "Apakah air itu menyembuhkan atau tidak, itu tidak lagi penting. Orang di situ membutuhkan isyarat-isyarat Ilahi meskipun kebenarannya hanya dari mulut ke mulut. Seperti Sendang Sono bagi umat Katolik, tempat-tempat seperti itu   menjadi tujuan imajiner. Air dalam kepercayaan berbagai agama memang senantiasa menjadi simbol      dari kehidupan dalam konteks penyucian. Jarak waktu dan ruang memang telah menciptakan berbagai kesadaran tentang pengalaman mistis yang terdapat dalam tradisi ziarah. Jarak itulah kemudian dalam fenomena ziarah berpeluang membangkitkan kesadaran-kesadaran spiritual. Jarak waktu dan ruang bagi para peziarah menerbitkan kesadaran spiritual imajiner bahwa ia menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar meski tak bisa menjangkau puncaknya.           
Para peziarah seolah menaiki anak tangga. Meski sadar bahwa mereka tak bisa mencapai puncak tangga di mana di situ bermukim orang-orang suci hingga Rasulullah, tapi menapakkan kaki di anak tangga pertama pun diyakini ia sudah berada di tangga. Artinya, mereka merasa sudah berkomunikasi dengan orang suci.
Menjadi bagian dan luluh ke dalam semesta misteri kegaiban tempat-tempat suci adalah juga bagian dari bagaimana identitas itu dimaknai. Tak sedikit tempat suci yang dipercaya sebagai pusat atau poros dunia. Pusat atau poros dimaksud lebih menekan pada poros kesadaran. Terlebih lagi sesuatu yang sakral senantiasa bersifat komunal. Dalam konteks ini, sakralitas tidak lagi dinilai   hanya karena hubungannya dengan masa lalu, tapi karena ribuan orang berkonsentrasi di tempat itu sehingga memancarkan energi spiritual.
Para peziarah tak pernah memilih mana makam wali yang benar, sebab ziarah lebih merupakan unsur rasa ketimbang nalar kebenaran sejarah. Makam wali dan para peziarah, akhirnya, merupakan  pertemuan yang kerap menakjubkan tentang bagaimana tradisi dan identitas itu dimaknai. Tentu saja hal ini tidak  mengabaikan fenomena berikutnya, yakni ketika para peziarah hanya datang membawa kepentingan-kepentingan yang serba pragmatis.
  
MENTAL SEHAT  Peziarah KUBUR
Bagian ini akan menyuguhkan beberapa indikator tentang kesehatan mental para peziarah makam Sunan Gunung Djati Cirebon dalam persepektif Psikologi. Beberapa indikator dimaksud sebenarnya diilhami oleh rumusan para ahli psikologi tentang ciri-ciri atau tanda-tanda kesehatan mental para penganut agama. Beberapa indikator dimaksud adalah meliputi : kesadaran beragama yang matang, motivasi kehidupan beragama yang dinamis, pelaksanaan ajaran agama secara konsisten dan produktif, pandangan hidup yang integral/komprehensif, semangat pencarian dan pengabdian kepada Tuhan.
1. Kesadaran Beragama yang Matang
Ketika seseorang pemeluk agama telah memiliki differensiasi yang baik, maka semua pengalaman, rasa dan kehidupan beragama makin lama, makin matang, makin kaya, kompleks dan makin bersifat pribadi. Pemikirannya makin kritis dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi dengan berdasarkan ke-Tuhanan. Penghayatan hubungan dengan Tuhan makin dirasakan bervariasi dalam berbagai suasana dan nuansa. Dalam kesendiriannya ia mencari dan merasakan kerinduan kehadiran Tuhan.
Lazimnya para peziarah ke makam adalah orang-orang yang bertujuan untuk dapat menyelesaikan masalah. Diantara mereka kebanyakan memiliki pemikiran yang kritis dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Artinya, selain memanfaatkan ziarah sebagai media pemecahan masalahnya, mereka juga tidak meninggalkan ikhtiar lahiriah. Seperti, Mang Udin salah seorang peziarah yang berprofesi sebagai karyawan, dia menyempatkan ziarah ke makam Sunan Gunung Djati hanya sebagai salah satu instrument dalam menghadapai masalah. Sebenarnya, dia mengetahui cara menyelesaikan masalah di tempatnya kerja akan tetapi, untuk memperkuat rasa percaya diri dia menyempatkan diri untuk berziarah dalam rangka memperkuat spiritualitasnya sebagai seorang pekerja. (Wawacara 20 April  2007).
2.     Motivasi Kehidupan Beragama yang Dinamis 
       Kesadaran agama yang muncul dari pemeluk agama akan tumbuh dan berkembang  menjadi pusat sistem kepribadian yang mantap, maka ia akan mendorong, mempengaruhi, mengarahkan, mengolah serta mewarnai semua sikap dan tingkah laku seseorang. Peranan kesadaran beragama itu merasuk ke dalam aspek mental lainnya. Tanggapan, pengamatan, pemikiran, perasaan, dan sikapnya akan diwarnai oleh rasa keagamaan.
       Motivasi kehidupan beragama para peziarah makam Sunan Gunung Djati di Cirebon, menurut Apeng [1] penziarah dari jambi (Cina Muslim) ketika diwawancarai mengatakan:
Motivasi kehidupan beragama masyarakat di sekitar Gunung Jati mencerminkan nilai-nilai ideal seperti terkandung di dalam ajaran wali yang dibawa syaikh Syarif Hidayatullah perlu terus ditingkatkan agar semakin dekat dengan nilai, norma, dan ajaran agama. Kualitas kehidupan beragama tercermin pada perilaku sosial setiap pemeluknya. Banyak indikasi yang menunjukkan bahwa kualitas kehidupan beragama peziarah Makam Keramat Syaikh Syarif Hidayatullah menunujukkan adanya toleransi yang tinggi. Hal ini dapat dilihat adanya makam warga keturunan Cina yang menurut cerita adalah istri Syaikh dan banyak juga warga-warga keturunan cina yang pada menziarahinya padahal mereka non Islam, akan tetapi masyarakat, pengunjung, dan para petugas di Sekitar makam keramat Syaikh tidak merasa terganggu dan bahkan mereka menghormati dengan cara memberikan jalan walaupun kondisi desak-desakan.
3. Pelaksanaan Ajaran Agama secara Konsisten dan Produktif          
     a. kemantapan dalam Melaksanakan Ajaran Agama
      Berdasarkan penuturan juru kuncen, pengamatan penulis terhadap aktivitas ziarah (khususnya upacara tahlilan), dan pengakuan para peziarah, sebagian besar peziarah makam Sunan Gunung Djati Cirebon tergolong kelompok masyarakat yang secara praktis sebagai pengamal ajaran agama (Islam) yang taat, patuh dan senang melakukan amalan-amalan ibadah secara istiqomah (kontinyu).  Hal ini dapat diamati dari berbagai aspek misalnya, penampilan dan citra para peziarah yang tergambar dalam tatacara berbusana (menutup ’aurat), gaya berbicara, sopan santun, dan peghormatan terhadap sesama peziarah, juru kuncen, para pedagang, juru parkir, dan bahkan penghormatan terhadap  situs-situs di sekitar Astana.
      Para peziarah makam Sunan Gunung Djati yang demikian menampakkan kesan kuat bahwa mereka dari segi tatacara berbusana, berbicara, sopan santun, dan peghormatan terhadap sesama adalah kelompok masyarakat muslim yang bermoral. Sedangkan sikap mereka yang lugu, sederhana, memahami kondisi masyarakat setempat (budaya lokal), menghormati perbedaan-perbedaan, menghormati tamu (karena peziarah identik dengan tamu), mampu menjaga keseimbangan diri ketika mendapatkan ”benturan” dari luar dirinya, mencerminkan kepribadian mereka yang integral dalam menjalankan ajaran agama yang mereka yakini kebenarannya. Kondisi jiwa keagamaan mereka tergolong stabil dan harmonis. 
b. Tanggungjawab dilandasi wawasan/pandangan yang luas
     Segala bentuk penampilan lahiriah yang digambarkan di atas sesungguhnya mencerminkan rasa tanggungjawab yang kuat dalam melaksanakan ajaran agama yang diyakininya, dilandasi oleh wawasan atau pandangan yang luas dalam beragama.
4. Pandangan Hidup yang Integral/Komprehensif
       Berusaha mencari nilai-nilai baru dan mentafsirkannya. Dalam kajian psikologi, diantara ciri pandangan hidup yang integral atau komprehensif adalah adanya usaha mencari nilai-nilai baru dan usaha untuk melakukan interpretasi nilai-nilai baru tersebut.
       Para peziarah makam Sunan Gunung Djati sebagian besar merupakan penduduk atau warga masyarakat yang berasal dari daerah Cirebon dan Desa Astana khususnya. Mereka juga bukan ahli atau kerabat keraton Kasepuhan, Kanoman, atau Kacerbonan. Kehadiran mereka, tidak diragukan, ke komplek Astana pada mulanya untuk berziarah ke makam Sunan Gunung Djati sebagai perwujudan dari rasa  khidmah kepada salah sorang da’i dan figur yang menjadi penyebab masyarakat Jawa Barat menjadi hamba Allah yang beriman (mu’min billah), menganut dan menghamalkan ajaran agama-Nya.
       Secara sepontan mereka kemudian mendapatkan nilai-nilai baru yang sangat berkesan. Nilai-nilai baru itu kemudian menjadi pendorong (sugesti) mereka untuk lebih mengetahui, mengenal dan memahami eksistensi dan esensi yang sebenarnya. Drs. Sulaiman Yusuf (asal Cianjur) misalnya ketika pertama kali berziarah menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak dijumpainya dalam kehidupan sehari-hari. Dia merasa harus datang kembali untuk berziarah karena bermaksud mengetahui dan mengenal lebih jauh nilai-nilai baru di dalam tradisi ziarah kubur di komplek Astana Gunung Jati.
Baginya,  upacara tahlilan di hadapan ataupun di sekitar makam Syaykh Syarif Hidayatullah merupakan penorama dan nuansa keberagamaan yang kompleks dan sekaligus baru sama sekali. Sebagai penganut agama Islam yang ”abangan”, menurut pengakuannya, dia merasa terpanggil memahami makna-makna bacaan dalam upacara tahlilan atau dzikir yang sangat beragam jenis dan macamnya. Dia merasa kalimat atau bacaan untuk mengingat Allah (dzikrullah) sangat beragam dan siapapun bahkan yang buta aksara pun bisa dan boleh melafalkannya. Selain itu, dia merasakan mendapat sesuatu yang baru yang ternyata dapat memberikan jawaban solutif bagi perkembangan kepribadiannya. Dia merasakan dzikrullah adalah satu-satunya solusi paling effektif dan tepat dalam mengatasi berbagai persoalan terutama tentang gejolak dan konflik internal (batiniah) seseorang, terutama dirinya. Itulah diantara pengakuan dan jawabannya ketika ditanya mengapa dirinya tertarik untuk lebih mengetahui hal-hal baru dari upacara tahlilan ketika ziarah ke komplek Astana Gunung Jati. (Wawancara 25 April  2007).
5. Semangat Pencarian dan Pengabdian kepada Tuhan
     Inidikator kondisi mental yang sehat adalah adanya semangat pencarian dan pengabdian kepada Tuhan. Indikator ini dapat diamati dari semangat seseorang dalam mencari kebenaran, semangat mencari rasa ketuhanan, adanya semangat mencari cara-cara terbaik untuk berhubungan dengan manusia dan alam, dan melakukan evaluasi terhadap peribatadannya untuk menemukan kenikmatan penghayatan kepada Tuhan.
   a. semangat dalam mencari kebenaran
     Semangat seseorang dalam mencari kebenaran dapat ditempuh dengan cara-cara rasional dalam kehidupan nyata (dunia empiris). Ia juga dapat ditempuh degan cara-cara yang tidak dapat dijangkau oleh pemahaman nalar yaitu dengan jalan intuisi. Kekuatan dan ketajaman intuisi inilah yang dapat memahami kenyataan-kenyataan yang bersifat supranatural atau metafisis. Dalam ajaran agama Islam, yang selama ini diyakini oleh para penganut yang dianggap tradisionalis, dikenal adanya alam syahadah (alam nyata, empiris), alam malakut dan alam jabarut.
     Alam syahadah  alam atau kosmos yang dapat dijangkau dan dilihat dengan melalui indera manusia normal. Alam malakut adalah alam yang dapat dijangkau dan dimngerti dengan pemahaman terhadap asma Allah, karenanya ia disebut ’Alam al-Asma’. Sedangkan alam jabarut  adalah alam atau kehidupan akhirat. Para peziarah tidak hanya mengenal alam empiris. Mereka mengenal dan meyakini adanya alam  malakut dan alam jabarut. Bahkan diantara mereka meyakini dirinya dapat mengindrai dan bahkan dapat memasuki alam  malakut. Bahkan banyak diantara mereka yang mempelajari tatacara (ilmu) sebagai instrumen agar dapat memasuki alam amalakut.  
  b. semangat mencari rasa ketuhanan
     Terlepas apakah alam malakut  itu bersifat objektif ataukah subjektif, yang jelas mereka para peziarah makam Sunan Guung Djati memiliki semangat mencari kebenaran. Semangat dalam mencari kebenaran yang mereka lakukan sesungguhnya dilandasi oleh keimanan dalam rangka memuaskan rasa ketuhanan mereka.                   Kebenaran inilah kemudian yang dijadikan landasan mereka dalam menemukan cara-cara terbaik berhubungan dengan sesama manusia dan alam semesta. Karena bagi mereka kemampuan memasuki alam malakut  ini merupakan pedoman untuk memahami eksistensi alam baik alam syahadah ataupun alam mughoyyabat  (suara natural atau metafisik). Dan, pada akhirnya mereka merasa berkewajiban untuk memperlakukan sesama manusia dan alam sesuai dengan kehendak atau sunnah Allah.
   c. melakukan evaluasi peribadatan kepada Tuhan
     Ketika seseorang yang berusaha memahami dan mengenali alam malakut, seperti dijelaskan salah seorang peziarah asal Indramayu Drs. KH. Muhammad Fattah Yasin, sebenarnya membutuhkan syarat kebersihan dan kejernihan aspek jiwa atau batiniah. Kejernihan batiniah ini, menurutnya, sangat menentukan keberhasilan seseorang memasuki alam  malakut,  disamping peribadatan-peribadatan kepada Allah SWT. Dan, baginya, pada saatnya kebersihan batiniah juga merupakan alat untuk melakukan evaluasi jiwa keagamaan seseorang. Karenanya, setiap yang hendak memahami alam malakut  terlebih dahulu menguatkan intuisi dengan instrumen pensucian jiwa. Pensucian ini sangat bergantung kepada kemauan seseorang melakukan evaluasi peribadatannya kepada Allah SWT.


SUTEJO IBNU PAKAR



[1] Wawacara pada  08 Mei  2007.  Apeng dari Jambi  adalah warga keturunan Cina yang sudah masuk Islam dan sering ziarah ke makam keramat kenjeng  Syaikh  Syarif  Hidayatullah 

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.