Rabu, 31 Januari 2018

TITIP RINDU BUAT KANG AYIP[

TITIP RINDU BUAT KANG AYIP[1]     
SUTEJO IBNU PAKAR
Sufi adalah putra dari zaman dan bangsanya. Itulah kesan mendalam tentang sosok Kang Ayip Usman Yahya.[2] KH. Abdullah ‘Abbas, Rois Syuriyah NU Jawa Barat waktu itu, menegaskan “Usman itu Ayip dan NU”.  KH. Abdullah Abbas, di sela-sela rapat menjelang keberangkatan rombongan PC NU Kabupaten Cirebon ke arena Muktamar NU di Cipasung, menegaskan Ayip itu salah satu modal NU dalam mempersatukan ummat. Kalimat  ini menggambarkan kepedulian dan kedekatan  Kang Ayip dengan nahdhiyyin. Mengentaskan kemiskinan warga masyarakat sekitar, melayani kebutuhan semua komunitas beragama, dan mensejehterakan sesama termasuk komunitas hafdizoh  (wanita penghafal al-Quran) warga Fatayat NU Cirebon adalah amal saleh yang harus diteladani untuk dilanjutkan generasi muda NU Cirebon yang  mengaku dekat dan atau mengidolakan dia. Kang Ayip memiliki kesadaran dan kemampuan menerima fakta-fakta dan realitas dunia (termasuk diri sendiri) daripada menolak atau menghindarinya.
Gagasan-gagasan dan tindakannya yang cenderung spontan, bila dilihat atau didengar dari kejauhan,  memang  mengejutkan. Kreativitasnya dikenal sangat tinggi dan variatif meskipun terkadang sulit dipahami atau diikuti. Bahkan dinilai tendensius dan politis oleh sebagian pihak. Kami merasa sangat dimuliakan karena  diperkenalkan dan dilibatkan dalam gerakan sosial (amal saleh) operasi katarak di lingkungan Pesantren Khatulistiwa Kempek Ciwaringin Cirebon, bersama-sama  dengan kelompok IDI (Ikatan Dokter Indonesia) serta Lion Club. Kang Ayip merasakan kebahagiaan ketika  usahanya mensejahterakan dan membahagiakan orang lain dapat terlaksana secara nyata, meskipun harus mengorbankan segala-galanya dan hanya mendapatkan celaan atau kritikan.
KH. Ibnu Ubaidillah Syatori, Prof. Dr. Chozin Nasuha dan KH. Husen Muhammad adalah tokoh-tokoh intelektual (kyai) yang giat mencerdaskan warga NU Cirebon. Hampir tiap malam kami berempat terlibat diskusi dengan Kang Ayip tentang keilmuan Islam klasik, modern dan kotemporer. Kecerdasan dan kepekaannya terhadap perkembangan keilmuan kontemporer tidak dapat diragukan oleh siapapun. Pilihan kata dan kalimatnya mencerminkan sistematika berfikir seorang pemikir dan penulis ulung. Suatu ketika KH. Husen Muhammad mengungkapkan  kekagumaannya di depan kami bertiga “kita heran, Ayip kuh kapan maca bukue, wonge weruan cah, dasar cerdas. Itu sepenggal kalimat yang saya ingat  meskipun tidak persis sama. Kalimat itu  pun di-ia-kan oleh kedua kyai tersebut.
Pujian tentang kealiman Kang Ayip yang datang dari berbagai kalangan ilmuwan dan akademisi adalah sesuatu yang lazim dan tidak pernah menjadikan pribadinya berubah, apalagi terbuai. Tawadhu’ (proporsional) dan tasamuh (toleran) adalah karakter pribadi bertubuh tinggi besar dan sepintas  “menyeramkan”, bagi yang belum mengenalinya secara benar. Tidak jarang kami berbeda pendapat di depan forum bahkan sampai terlontar guyonan  yang  “memalukan” tetapi selesai diskusi kecil kondisi kejiwaan kami dibahagiakan oleh sikap seorang sahabat sejati tempat kami menumpahkan keluh kesah dan perlakukan kasih sayang seorang ayah tempat kami merajuk dan bermanja-manjaan. Bahkan tidak jarang terlontar ungkapan yang mendewasakan kami,   “jare ente priben”.
Semua tutur kata, sikap dan perlakuan yang kami terima sejatinya adalah pendidikan seorang ayah kepada putra yang sangat disayanginya. Kang Ayip tidak pernah merasakan ditinggalkan anak didik atau anak ideiologisnya, karena dia tidak pernah melupakan anak didiknya. “Jo, ente mendi bae” adalah kalimat pertama yang dilontarkan ketika kami saling jumpa dan bahkan dalam komunikasi via tilpon. Tidak jarang, perjumpaan diawali dengan makan bersama padahal belum ada pembicaraan serius diantara kami. Rumah dan keluarga  Kang Ayip adalah rumah dan keluarga  kita bersama. Kami generasi muda nahdhiyyin tidak pernah menyebutnya bu Nyai atau Ummi kepada istri beliau.  Sejak muda sampai dengan sekarang kami menyebut dan memanggilnya mimi  dan mimi pun berkenan. 
Didalam pergaulan sosial sehari-hari Kang Ayip memiliki interest khusus dalam memecahkan masalah bersama dan mengutamakan masalah-masalah kemanusiaan, secara cerdas, cepat dan mudah dilaksanakan. Memecahkan masalah  merupakan fokus utamanya dalam melayani dan ngopeni  masyarakat. Intuisinya   sudah terlatih sejak semula untuk selalu berdekatan dengan orang lain dan menghargai kehidupan sesama. Kemampuan  melihat segala sesuatu secara objektif terlahir dari ketajaman intuisinya. Perilakunya merupakan cermin internalisasi dan independensinya dari otoritas eksternal tentang nilai-nilai universal Islam  rahmatan lil ‘alamin. (ibnu Pakar).





[1] Sebutan Kang Ayip di kalangan nahdhiyyin generasi  NU Cirebon periode 1980-an tidak lain ditujukan untuk KH. Syarif Usman Yahya Kempek. Sapaan akrab tanpa jarak strata atau kasta.
[2] Generasi tahun 2000-an menyebutnya Abah Usman, menghilangkan sebutan Ayip.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.