Rabu, 31 Januari 2018

NGAJI BERSAMA KH. FUAD AMIN

NGAJI BERSAMA KH. FUAD AMIN
OLEH SUTEJO IBNU PAKAR
Pengasuh Pesantren Babakan Ciwaringin dikenal memiliki ikatan guru murid dengan KH. Cholil Bangkalan, hadhratusyekh KH. Hasyim Asy’ari, serta KH. Nasuha Sukunsari Plered Cirebon. Jaringan kekeluargaan diperluas dengan keluarga KH. Johar Arifin Balerante Palimanan dan keluarga KH. Syatori (PP Daruttauhid) Arjawinangun Cirebon. Salah satu menantu KH. Syatori adalah KH. Fuad Amin (putra KH. Amin Sepuh). Kyai ini dikenal simpatik,  ganteng dan berpenampilan selalu  perlente  meskipun hanya mengenankan sarung. Orang kebanyakan mengenalnya sebagai kyai yang selalu necis dan mengenakan jas. Sehingga menambah pesona krepibadiannya yang mudah akrab dengan siapapun dan adaptable. Abang-abang becak di wilayah Desa Babakan adalah komnuitas yang sering merasakan manfaat dan keberkahan sang kyai yang dikenal progressif.
Langkah kakinya yang cepat mencerminkan pola berfikir yang dipenuhi dengan berbagai ide, gagasan dan terobosan. Bersama-sama dengan KH. Syafii (Ketua Tanfidziyah  NU Kabupaten Cirebon), KH. Syarif Usman Yahya dan KH. Fuad Hasyim (PB NU),  dia dikenal sebagai kyai yang proaktif memasyarakatkan khithah NU 1926. Khithah NU 1926 menegaskan bahwa, NU adalah jam’iyah diniyah dan independen, terlepas dari orpol/parpol. Terobosan kembali ke khithah 1926 mengundang banyak tudingan dan atau salah tafsir, termasuk golkarisasi NU. Pribadi sang kyai selalu tampak tegar karena memiliki rasa humor yang tinggi dan  dicirikan sebagai salah satu kecerdasan logika dan kejiwaaan yang selalu fresh. Dia terbuka terhadap perbedaan karakter santri dan masyarakat sekitarnya, sehingga safari khithah yang dilakukannya semata-mata edukatif, bukan agitatif dan pemaksaan. Dia tidak pernah menghalangi apa yang menjadi kemauan masyarakat, terbuka, bersedia dan menerima dikritisi.
Pembelajaran KH. Fuad Amin adalah pembelajaran yang memberdayakan.  Semasa berada didalam bimbingan sang kyai antara tahun 1977 sampai dengan tahun1983, penulis merasakan kondisi pembelajaran yang sangat menyenangkan dan mencerdaskan. Ngaji kitab al-Fiyah ibnu Malik ataupun al-Waraqat yang dilakanakan secara klasikal (bandongan) serasa mengikuti perkuliahan di fakultas pascasarjana sekarang. Penulis yang kala itu masih duduk di bangku madrasah aliyah tidak merasakan dibedakan dengan santri-santri senior ataupun ustadz sekalipun. Sang kyai memposisikan diri sebagai isntruktur dan fasilitator  pelatihan. Kyai tidak saja subjek tetapi partisipan pembelajaran (learner/stupid oriented curriculum).
Sang Kyai memiliki wawasan keilmuan madzhab selain madzhab yang dianut warga NU.  Kami dilatih memahami, mengkaji dan mengkritisi teks-teks kitab klasik dan didik melakukan kontekstualisasi teks atau dhahir al-Nash.  Tidak jarang kami peserta pengajian diposisikan sebagai pribadi mu’tazilah yang berseberangan dengan Ahlussunnah wal Jama’ah. Para santri dididik termotivasi terbuka dan menerima perbedaan, memiliki independensi,   dan kebebasan berfikir tetapi tetap diajarkan kesadaran etis.  Secara tidak langsung kami para santri digiring menjadi pribadi pengikut struktural Jam’iyah Diniyah NU yang menjunjung tinggi nilai-nilai akhlaq al-Karimah.
Sang Kyai dikenal juga sebagai sang motivator ulung. Mengikuti pengajian (ngaji) kitab ‘Idzotun Nasyiin  bersamanya serasa mendengarkan langsung kehendak sang pengarang kitab, Syekh Mushthafa al-Ghalayin tentang generasi muda muslim. Tidak diragukan kemampuan sang kyai didalam menterjemahkan teks-teks kitab. Para santri dapat memahami dengan mudah teks-teks kitab. Meskipun tetap menggunakan gramatika kajian kitab ala pesantren tetapi para santri yang mengikuti pengajian terdidik memahami siyaq al-Kalam.   Para santri  termotivasi untuk melakukan internalisasi didalam kehidupan sehari-hari. Para santri tumbuh menjadi pribadi yang mampu menatap realitas dan menyadari tantangan dan masa depan generasi muda dan bangsanya.

.

.
.






Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.