Selasa, 19 Desember 2017

KESEIMBANGAN KEPRIBADIAN

KESEIMBANGAN KEPRIBADIAN
OLEH: SUTEJA
Manusia, baik sebagai makhluk jasmaniah ataupun makhluk rohaniah memiliki dimensi hubungan dengan Allah, hubungan dengan alam dan hubungan dengan sesama manusia. Pembicaraan tentu akan mengarah kepada apa saja yang menjadi kebutuhan dan sifat-sifat dasar manusia sebagai makhluk hidup dan hamba Allah yang bertugas menyembah dan beribadah kepada-Nya. Tidak diragukan lagi, sebagaimana ditegaskan al-Nahlawi, bahwa segala jenis dan bentuk peribadatan kepada Allah mensyaratkan kesungguhan dan kekuatan tubuh fisik, jasmani.[1] Tujuan pendidikan yang dikehendaki al-Quran adalah keharmonisan antara aspek-aspek  kepribadian manusia : aspek biologis, intelektual, emosional/psikologis, dan spiritual. Berkenaan dengan harmonisasi aspek-aspek utama itu, al-Quran mengajarkan pentingnya memahami dinamika eomisonal manusia baik yang dibawa semenjak lahir (karakter, bawaan) maupun yang datang kemudian sebagai hasil dari interakasi secara sosial. Karenanya, al-Quran mengajak manusia memahami hakikat dirinya sendiri dan mengenali Tuhannya.
Pemahaman tentang hakikat manusia tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran tentang aqidah Islamiah.  Dengan demikian, pemahaman manusia sebagai khalifah musti melibatkan teks-teks wahyu yang mensyaratkan kesucian, kelurusan, dan kekuatan aqidah serta keimanan kepada Allah dan Rasulullah  SAW  (al-Quran dan al-Sunnah).Pendidikan bertugas mencetak pribadi-pribadi  yang dapat mengenali Allah (ma’rifatullah). Karenanya, pendidikan dituntut mampu membina dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki setiap peserta didik. Kekayaan-kekayaan rohaniah yang musti diperhatikan dalam hal ini adalah potensi akal (rasio), hati dan intuisi. Ketiga potensi itu musti dikembangkan secara wajar dan imbang (harmonis).
Manusia adalah makhluk ruhani karena ia dikaruniai ruh. Ruh  oleh para mufassir kemudian dipahami sebagai wujud spiritual yang menyatu dengan badan.[2] Al-Quran dengan tegas menyatakan bahwa kehidupan manusia bergantung kepada eksistensi jiwa atau ruh dalam dirinya. Keluarnya jiwa atau ruh dari dirinya berarti kematian bagi dirinya. Manusia tidak sekadar makhluk yang berdaging, bertulang dan memiliki kebutuhan biologis. Karakteristiknya yang dimiliki oleh binatang telah mengalami modifikasi dalam diri manusia. Perilakunya yang berkaitan dengan kebutuhan biologis, juga tidak boleh sama dengan seperti perilaku binatang karena ia makhluk spiritual. Unifikasi ruh dengan badan mengakibatkan perilaku. Perilaku  manusia  adalah merupakan perpaduan interaksi ruh dengan badan. Meskipun manusia merupakan perpaduan dua unsur yang berbeda, tetapi manusia merupoakan pribadi yang integral.
Pemenuhan kebutuhan jasmani tidak dapat terlaksana tanpa jiwa. Manusia memenuhi dan memuaskan kebutiuhannya dengan cara-cara yang manusiawi. Pemenuhan dan pemuasan kebutuhan tersebut bukan dilaksanakan demi pemenuhan dan pemuasaan itu sendiri, namun untuk tujuan-tujuan yang lebih tinggi.Pemenuhan kebutuhan dasar aspek jasmani, bagi Ibrahim ‘Ishmat Muthawi’,  didasarkan kepada pertimbangan mendasar mengenai keterkaitan dan ketrpengaruhan antara berbagai aspek kepribadian anak. Bahwa pertumbuhan jasmani secara langsung mempengaruhi perkembangan intelektual, emosional dan aspek psikologis anak. [3] Pemenuhan kebutuhan dasar manusia, pada dasarnya berkenaan dengan dua kebutuhan pokok yang saling terkait dan tidak dipisahkan satu dengan lainnya. Dua kebutuhan dimaksud adalah kebutuhan yang berhubungan secara langsung dengan potensi fisik jasmaniah anak dan kebutuhan yang berhubungan secara langsung dengan potensi emosional dan piskologis anak.  Kesimbangan pemenuhan kedua kebutuhan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan terbentuknya anak yang tumbuh dan berkembang secara harmonis sehingga menjadi pribadi yang utuh dan integral.[4] Pemenuhan kebutuhan aspek jasmani anak dengan demikian merupakan  sesuatu yang sangat prinsipil. Tetapi, katanya, pemenuhan aspek ini semata-mata tidak identik dengan  kepuasan.[5]
Pendidikan Islam harus didesain sedemikian rupa sehingga aspek jasmani, ruh, dan akal mendapat perhatian yang sama.  Kegagalan memperlakukan ketiganya secara seimbang, pada gilirannya mengakibatkan munculnya pribadi yang tidak memiliki kualifikasi sebagai khalifah.  Mengabaikan salah satu dari tiga potensi dasar itu mengakibatkan rusaknya tatanan ketiga aspek utama manusia tersebut. Dan, sirnalah harapan akan kebahagiaan yang sesungguhnya bagi  peserta didik kita sebagai calon khalifah Allah.[6]
Manusia mempunyai perasaan yang berkembang dan menjelma dalam seni, untuk berkembang lebih lanjut ke arah tasawuf. Sifat tadi berkembang lebih lanjut dan pada suatu saat sampai pada batas yang tidak dapat dilampaui lagi. Di seberang batas tadi nur Ilahi dalam bentuk ilham  akan menyinari iman sebagai tuntutan selanjutnya. Manusia paripurna (khalifah Allah) pada hakekatnya berakal, berperasaan,  dan beriman.
Jika keseimbangan   antara ketiga unsur tersebut tidak ada, maka manusia akan   goncang, jiwa akan resah, dan akan terwujud dalam penghamburan daya tanpa guna, bahkan sampai pada usaha bunuh diri. Keadaan  demikian sedang berlangsung  karena manusia dihinggapi kekosongan  agama, kehilangan dasar moral, dan rasa tanggung jawab ukhrawi.
KEBAHAGIAAN
Kebahagiaan manusia adalah terletak pada keberhasilan manusia menjadi hamba dan sekaligus khalifah Allah.  Tugas utama manusia sebagai hamba adalah beribadah dalam arti luas dan sebenar-benarnya.  Ibadah adalah setiap tindakan dan pebuatan yang didasari oleh niatan untuk mendapatkan ridha Allah SWT.  Bentuk peribadatan kepada Allah yang sangat urgen adalah peribadatan yang  bersifat langsung berhubungan dengan Allah  (ibadah mahdhah) dan lazim dikenal dengan sebutan ibadah ritual.  Ibadah ritual yang sangat utama dan pertama, setelah persaksian atau syahadat, adalah mendirikan shalat fardhu. Didalam kewajiban shalat inilah manusia diajarkan untuk mengenali posisi dirinya sebagai al-‘Abid dan al-Makhluq serta posisi Allah sebagai al-Ma’bud dan al-Khaliq. Ibadah shalat juga dapat dijadikan media pembelajaran penyadaran tentang kehadiran Allah Yang Maha Berkuasa dan Berkehendak atas kuasa-Nya.  Shalat adalah ibadah pertama dan utama yang dapat dijadikan media pembinaan tentang makna rasa ikhlash, khusyu’, dan hudhur  yang kemudian menghidarkan seseorang dari perbuatan-perbuatan yang meugikan berbagai fihak. Ikhlash, khusyu’ dan hudhur inilah kelak menjadi faktor pendorong bagi timbulnya sikap kebersamaan dan kepedulian diantara sesama manusia.
Sedangkan sebagai wakil Allah di bumi ini tugas utama manusia adalah melakukan amal saleh dengan upaya-upaya konkit menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan yang dapat dinikmati oleh semua makhluk Allah.  Tugas kekhalifahan sebenarnya merupakan pelengkap bagi tugas kehambaan manusia. Tugas kekhalifahan ini tidak akan muncul bila tidak didahului oleh kemampuan dan keberhasilan manusia sebagai hamba Allah. Landasan ibadah, baik ketika manusia sebagai ‘abid ataupun khalifah Allah, adalah kedalaman rasa cinta kepada Allah dan Rasulullah. Kecintaan yang akan melahirkan kepatuhan dan kepasrahan secara total terhadap semua kehendak (iradah) Allah. Landasan inilah yang menjanjikan diperolehnya kerelaan dan suka cita Allah (ridha/mardhatillah). Sang hamba pun tentu merasakan hal yang sama. Allah menegaskan betapa tingginya nilainya keimanan dan amal saleh yang tumbuh dari rasa cinta (mahabbatullah).    Rasa cinta kepada Allah dan rasul-Nya  adalah cermin dari emosionalitas manusia sebagai makhluk psikologis.
Pendidikan dalam pandangan Islam berarti upaya membangun individu memiliki kualitas dan peran sebagai khalifah, atau setidaknya individu berada pada jalan yang bakal mengantarkan kepada tujuan tersebut.[7]       Tujuan pendidikan merupakan cita-cita tertinggi dan ideal yang hendak dicapai setelah melakukan aktivitas pendidikan. Tujuan umum pendidikan adalah tujuan yang berada jauh dari masa sekarang.  Tiga apotensi dasar yang dimiliki manusia sebagai khalifah adalah : fitrah,  kemampuan untuk berkehendak (qudrah, free will). Dalam dunia pendidikan, manusia dibedakan dari makhluk-makhluk lain semisal  jin, malaikat dan binatang karena ketiga potensi dasar tersebut. Karena ketiga potensi  itu pula manusia diberi amanat dan didaulat oleh Allah untuk menjadi khalifah-Nya di bumi ini.
Tujuan pendidikan yang dikehendaki oleh al-Quran adalah dalam rangka menciptakan  kebahagiaan yang sebenarnya adalah sebagai berikut :[8]
1.    mengenalkan manusia akan peranannya di antara sesama manusia dan tanggungjawab pribadi didalam hidup.
2.    mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tanggungjawabnya dalam tata hidup bermasyarakat.
3.    mengenalkan manusia akan alam ini dan mengajak manusia mengetahui hikmah diciptakannya serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaat dari alam.
4.  mengenalkan manusia akan Sang Pencipta alam ini dan memerintahkan beribadah kepada-Nya.

Tiga potensi dasar yang dimiliki manusia sebagai khalifah adalah : fitrah,  kemampuan untuk berkehendak (qudrah, free will), dan akal. Dalam dunia pendidikan, manusia dibedakan dari makhluk-makhluk lain semisal  jin,  malaikat dan binatang karena ketiga potensi dasar tersebut. Karena ketiga potensi  itu pula manusia diberi amanat dan didaulat oleh Allah untuk menjadi khalifah-Nya di bumi ini. Pendidikan dalam pandangan Islam berarti upaya membangun individu memiliki kualitas dan peran sebagai khalifah, atau setidaknya individu berada pada jalan yang bakal mengantarkan kepada tujuan tersebut.[9]
Tujuan pendidikan merupakan cita-cita tertinggi yang harus  dicapai. Proses pendidikan yang salah satu tugasnya mentransfer ilmu pengetahuan dan  menanamkan pemahaman,  diharapkan dapat memenuhi apa yang menjadi kehendak (iradah) Allah yaitu tumbuhnya rasa takut  khasyyah  kepada Allah dan dapat mendorong proses penyadaran, dan kesadaran itu diharapkan dapat melahirkan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari baik dalam pergaulan dengan Allah, pergaulan dengan sesama manusia, ataupun dalam proses pemeliharaan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya alam ciptaan Allah.  Allahu A’lam bi al-Shawab          




[1] Al-Nahlawi, Abdurrahman, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibih, Beirut, Dar al-Fikr, 1982, hal. 116.
[2] Al_Qurthubi,  Tafsir al-Quran,  Juz X, hal. 324.
[3] Ibrahim ‘Ishmat Muthawi’, Ushul al-Tarbiyah,  Jeddah, Dar al-Syuruq, 1982, hal. 35.
[4] Madkur, Manhaj al-Tarbiyah fi al-Tashawwur al-Islami,    hal. 161.
[5] Madkur, Manhaj al-Tarbiyah fi al-Tashawwur al-Islami,, hal. 1612.
[6] Al-Syaibani, Mohammad al-Toumi, Falsafah Pendidikan Islam,  terj., Jakarta, Bulan Bintang, 1975, hal. 92-93.
[7] Abdurrahman Shalih Abdullah, Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut al-Quran serta Implementasinya,  1991, h. 151.
[8] al-Jamali, Mohammad Fadhil,  Filsafat Pendidikan dalam al-Quran,  1986, h. 3.
[9] Abdurrahman Shalih Abdullah, Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut al-Quran serta Implementasinya,   1991, h. 151.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.