Senin, 18 Desember 2017

KEBENARAN, KABAIKAN, DAN KEINDAHAN
OLEH: SUTEJA
PENDAHULUAN
Secara historis, istilah yang lebih umum dipakai adalah etika (ethics) atau moral (morals). Tetapi dewasa ini, istilah axios (nilai) dan logos (teori) lebih akrab dipakai dalam dialog filosofis. Aksiologi bisa disebut sebagai the theory of value atau teori nilai bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong), serta tentang cara dan tujuan (means and ends). Aksiologi mencoba merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilaku etis. Ia bertanya seperti apa itu baik (what is good?). Tatkala yang baik teridentifikasi, maka memungkinkan seseorang untuk berbicara tentang moralitas, yakni memakai kata-kata atau konsep semisal “seharusnya” atau “sepatutnya” (ought/should).  Demikianlah aksiologi terdiri dari analisis tentang kepercayaan, keputusan, dan konsep-konsep moral dalam rangka menciptakan atau menemukan suatu teori nilai. Terdapat dua kategori dasar aksiologis; (1) objectivism dan (2) subjectivism. Keduanya beranjak dari pertanyaan yang sama: apakah nilai itu bersifat bergantung   atau tidak bergantung   pada manusia (dependent upon or independent of mankind)? Dari sini muncul empat pendekatan etika, dua yang pertama beraliran obyektivisme, sedangkan dua berikutnya beraliran subyektivisme.
 Pertama, teori nilai intuitif (the initiative theory of value). Teori ini berpandangan bahwa sukar jika tidak bisa dikatakan mustahil untuk mendefinisikan suatu perangkat nilai yang bersifat ultim atau absolut. Bagaimanapun juga suatu perangkat nilai yang ultim atau absolut itu eksis dalam tatanan yang bersifat obyektif. Nilai ditemukan melalui intuisi karena ada tata moral yang bersifat baku. Mereka menegaskan bahwa nilai eksis sebagai piranti obyek atau menyatu dalam hubungan antarobyek, dan validitas dari nilai obyektif ini tidak bergantung pada eksistensi atau perilaku manusia. Sekali seseorang menemukan dan mengakui nilai tersebut melalui proses intuitif, ia berkewajiban untuk mengatur perilaku individual atau sosialnya selaras dengan preskripsi-preskripsi moralnya.
Kedua, teori nilai rasional (the rational theory of value). Bagi mereka janganlah percaya pada nilai yang bersifat obyektif dan murni independen dari manusia. Nilai tersebut ditemukan sebagai hasil dari penalaran manusia dan pewahyuan supranatural. Fakta bahwa seseorang melakukan sesuatu yang benar ketika ia tahu dengan nalarnya bahwa itu benar, sebagaimana fakta bahwa hanya orang jahat atau yang lalai yang melakukan sesuatu berlawanan dengan kehendak atau wahyu Tuhan. Jadi dengan nalar atau peran Tuhan, seseorang menemukan nilai ultim, obyektif, absolut yang seharusnya mengarahkan perilakunya.
Ketiga, teori nilai alamiah (the naturalistik theory of value). Nilai menurutnya diciptakan manusia bersama dengan kebutuhan-kebutuhan dan hasrat-hasrat yang dialaminya. Nilai adalah produk biososial, artefak manusia, yang diciptakan, dipakai, diuji oleh individu dan masyarakat untuk melayani tujuan membimbing perilaku manusia. Pendekatan naturalis mencakup teori nilai instrumental dimana keputusan nilai tidak absolut atau ma’sum (invallible) tetapi bersifat relatif dan kontingen. Nilai secara umum hakikatnya bersifat subyektif, bergantung pada kondisi (kebutuhan/keinginan) manusia.  Keempat, teori nilai emotif (the emotive theory of value). Jika tiga aliran sebelumnya menentukan konsep nilai dengan status kognitifnya, maka teori ini memandang bahwa bahwa konsep moral dan etika bukanlah keputusan faktual tetapi hanya merupakan ekspresi emosi-emosi atau tingkah laku (attitude).  Nilai tidak lebih dari suatu opini yang tidak bisa diverifikasi, sekalipun diakui bahwa penilaian (valuing) menjadi bagian penting dari tindakan manusia.
Pendidikan nilai adalah pendidikan yang mencakup keseluruhan aspek nilai kebenaran, kabaikan, dan keindahan. Pendidikan nilai adalah suatu kesepakatan tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk mengarahkan generasi muda atas nilai-nilai dan kebajikan yang akan membentuknya menjadi manusia yang baik (insan kamil) yang menjadi tujuan pendidikan Islam. Selain itu, pendidikan nilai bertujuan  membentuk kedewasaan  intelektual dan emosianal generasi muda yang memungkinkan untuk membuat keputusan bertanggungjawab atas hal atau permasalahan rumit yang dihadapinya dalam kehidupan. Konsep ihsan dalam Islam merupakan nilai tertinggi yang dapat dijadikan pedoman didalam mengawasi (to controll), mengarahkan dan membina fitrah suci dan  prilaku keseharian peserta didik.

KEBAHAGIAAN
Kebahagiaan manusia adalah terletak pada keberhasilan manusia menjadi hamba dan sekaligus khalifah Allah.  Tugas utama manusia sebagai hamba adalah beribadah dalam arti luas dan sebenar-benarnya.  Ibadah adalah setiap tindakan dan pebuatan yang didasari oleh niatan untuk mendapatkan ridha Allah SWT.  Bentuk peribadatan kepada Allah yang sangat urgen adalah peribadatan yang  bersifat langsung berhubungan dengan Allah  (ibadah mahdhah) dan lazim dikenal dengan sebutan ibadah ritual.
Ibadah ritual yang sangat utama dan pertama, setelah persaksian atau syahadat, adalah mendirikan shalat fardhu. Didalam kewajiban shalat inilah manusia diajarkan untuk mengenali posisi dirinya sebagai al-‘Abid dan al-Makhluq serta posisi Allah sebagai al-Ma’bud dan al-Khaliq. Ibadah shalat juga dapat dijadikan media pembelajaran penyadaran tentang kehadiran Allah Yang Maha Berkuasa dan Berkehendak atas kuasa-Nya.  Shalat adalah ibadah pertama dan utama yang dapat dijadikan media pembinaan tentang makna rasa ikhlash, khusyu’, dan hudhur  yang kemudian menghidarkan seseorang dari perbuatan-perbuatan yang meugikan berbagai fihak. Ikhlash, khusyu’ dan hudhur inilah kelak menjadi faktor pendorong bagi timbulnya sikap kebersamaan dan kepedulian diantara sesama manusia.
Sedangkan sebagai wakil Allah di bumi ini tugas utama manusia adalah melakukan amal saleh dengan upaya-upaya konkit menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan yang dapat dinikmati oleh semua makhluk Allah.  Tugas kekhalifahan sebenarnya merupakan pelengkap bagi tugas kehambaan manusia. Tugas kekhalifahan ini tidak akan muncul bila tidak didahului oleh kemampuan dan keberhasilan manusia sebagai hamba Allah. Landasan ibadah, baik ketika manusia sebagai ‘abid ataupun khalifah Allah, adalah kedalaman rasa cinta kepada Allah dan Rasulullah. Kecintaan yang akan melahirkan kepatuhan dan kepasrahan secara total terhadap semua kehendak (iradah) Allah. Landasan inilah yang menjanjikan diperolehnya kerelaan dan suka cita Allah (ridha/mardhatillah). Sang hamba pun tentu merasakan hal yang sama. Allah menegaskan betapa tingginya nilainya keimanan dan amal saleh yang tumbuh dari rasa cinta (mahabbatullah).    Rasa cinta kepada Allah dan rasul-Nya  adalah cermin dari emosionalitas manusia sebagai makhluk psikologis.
Pendidikan.  dalam pandangan Islam,  berarti upaya membangun individu memiliki kualitas dan peran sebagai khalifah, atau, setidaknya,  individu berada pada jalan yang bakal mengantarkan kepada tujuan tersebut.[1]       Tujuan pendidikan merupakan cita-cita tertinggi dan ideal yang hendak dicapai setelah melakukan aktivitas pendidikan. Tujuan umum pendidikan adalah tujuan yang berada jauh dari masa sekarang.
Tiga potensi dasar yang dimiliki manusia sebagai khalifah adalah : fitrah,  kemampuan untuk berkehendak (qudrah, free will). Dalam dunia pendidikan, manusia dibedakan dari makhluk-makhluk lain semisal  jin, malaikat dan binatang karena ketiga potensi dasar tersebut. Karena ketiga potensi  itu pula manusia diberi amanat dan didaulat oleh Allah untuk menjadi khalifah-Nya di bumi ini.  Tujuan pendidikan yang dikehendaki oleh al-Quran adalah dalam rangka menciptakan  kebahagiaan yang sebenarnya adalah sebagai berikut :[2]
1.         mengenalkan manusia akan peranannya di antara sesama manusia dan tanggungjawab pribadi didalam hidup.
2.         mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tanggungjawabnya dalam tata hidup bermasyarakat.
3.         mengenalkan manusia akan alam ini dan mengajak manusia mengetahui hikmah diciptakannya serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaat dari alam.
4.      mengenalkan manusia akan Sang Pencipta alam ini dan memerintahkan beribadah kepada-Nya.

Tiga potensi dasar yang dimiliki manusia sebagai khalifah adalah : fitrah,  kemampuan untuk berkehendak (qudrah, free will), dan akal. Dalam dunia pendidikan, manusia dibedakan dari makhluk-makhluk lain semisal  jin,  malaikat dan binatang karena ketiga potensi dasar tersebut. Karena ketiga potensi  itu pula manusia diberi amanat dan didaulat oleh Allah untuk menjadi khalifah-Nya di bumi ini.  Pendidikan dalam pandangan Islam berarti upaya membangun individu memiliki kualitas dan peran sebagai khalifah, atau setidaknya individu berada pada jalan yang bakal mengantarkan kepada tujuan tersebut.[3]     Tujuan pendidikan merupakan cita-cita tertinggi yang harus  dicapai.  Proses pendidikan, termasuk di  IAIN SYEKH NURJATI CIREBON, yang salah satu tugasnya mentransfer ilmu pengetahuan dan  menanamkan pemahaman,  diharapkan dapat memenuhi apa yang menjadi kehendak (iradah) Allah yaitu tumbuhnya rasa takut  khasyyah  kepada Allah dan dapat mendorong proses penyadaran, dan kesadaran itu diharapkan dapat melahirkan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari baik dalam pergaulan dengan Allah, pergaulan dengan sesama manusia, ataupun dalam proses pemeliharaan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya alam ciptaan Allah.  Allahu A’lam bi al-Shawab          



[1] Abdurrahman Shalih Abdullah, Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut al-Quran serta Implementasinya,  1991, h. 151.
[2] al-Jamali, Mohammad Fadhil,  Filsafat Pendidikan dalam al-Quran,  1986, h. 3.
[3] Abdurrahman Shalih Abdullah, Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut al-Quran serta Implementasinya,   1991, h. 151.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.