Selasa, 19 Desember 2017

INTERNALISASI NILAI-NILAI SUFISME

INTERNALISASI NILAI-NILAI SUFISME
DIDALAM PENDIDIKAN PESANTREN
OLEH: SUTEJA
A. PENGANTAR
Pendidikan pesantren adalah lembaga pendidikan rakyat yang tertua di Indonesia. Pesantren yang dianggap paling tua dan pertama adalah pesantren Mawlana Malik Ibrahim di Gresik (didirikan tahun 1619 M.).[1] Pendidikan pesantren konon diadopsi dari negeri asal kelahiran Islam, Makkah al-Mukarromah, seperti bentuk pengajian yang mula-mula diadakan di luar kota Makkah dan kemudian dipindahkan ke rumah pemuda bernama Arqam. Ada juga yang menilai pesantren berasaldari sistem pendidikan Islam di zaman kejayaan Baghdad.
Pendapat yang lazim adalah pendidikan pesantren merupakan kelanjutan dari sistem pendidikan zaman Hindu-Buddha yang dijumpai oleh generasi pertama Wali Songo. Syaikh Mawlana Malik Ibrahim dinilai telah membawa tradisi sistem Guru Kala ke dalam sistem pendidikannya dalam menyebarkan Islam di Nusantara.[2] Kemudian perkembangan selanjutnya, bagi Soegarda Poerbakwatja, sistem pendidikan yang berasal dari Hindu Jawa lambat laun berubah menjadi perguruan-perguruan agama Islam.[3]
Sebagai pusat kegiatan dan pengkaderan calon-calon da’i (penyebar ajaran agama Islam), dewan Wali Songo mendirikan masjid dan sekaligus pesantren. Dengan demikian sejarah pendidikan pesantren di Jawa sama tuanya dengan kedatangan Wali Songo di tanah Jawa. Adapun pesantren pertama adalah pesantren yang didirikan oleh Syaikh Mawlana Malik Ibrahim.[4] Menyusul kemudian pesantren Sunan Ampel di daerah Kembangkuning Surabaya, yang pada mulanya hanya memiliki tiga orang santri atau murid.[5] Pesantren Sunan Ampel inilah yang melahirkan kader-kader Wali Songo seperti Sunan Giri (Raden Paku atau Raden Samudro).
Sunan Giri mendapat ilmu pengetahuan agama mula-mula dari Sunan Ampel dan kemudian setelah dianggap cukup memadai, ia belajar ke Mekkah atas perintah sang guru. Akan tetapi, sebelum sampai ke Mekkah ia singgah di Pasai. Di sana ia berguru kepada Mawlana Ishaq (ayahanda Sunan Giri). Kepadanya  Sunan Giri mendapatkan ilmu baru yang belum diterima dari Sunan Ampel, yaitu ilmu tasawwuf dan ihwal yang berkenaan dengan kewalian. Beberapa tahun kemudian ia kembali ke Jawa dan ikut membangun pendirian Masjid Agung Demak. Di Gresik Sunan Giri kemudian mendirikan sebuah pesantren di Desa Sidomukti,  yang lebih dikenal dengan tanah Kedaton. Sekarang pesantren Sunan Giri lebih akrab disebut Pesantren Giri Kedaton karena letaknya di atas gunung atau giri.
Abu Bakar Atjeh, seperti dinukil Marwan,   melukiskan bahwa pesantren Giri Kedaton sebagai pesantren yang termasyhur di wilayah Jawa Timur. Para santri yang datang untuk belajar di sana berasal dari daerah yang sangat beragam seperti : Madura, Lombok, Bima, Makasar, dan Ternate (Halmahera), selain daeri daerah-daerah di Jawa Timur sendiri. Sampai dengan abad ke-17 M. pesantren ini masih tetap harum dan didatangi oleh para santri untuk menimba ilmu agama Islam di sana.


B. PESANTREN;  LEMBAGA PENDIDIKAN TASAWUF
Pesantren dalam perkembangannya masih tetap disebut sebagai lembaga keagamaan yang mengajarkan, mengembangkan dan mengajarkan ilmu agama Islam. Pesantren dengan segala dinamikanya dipandang sebagai lembaga pusat perubahan masyarakat melalui kegiatan dakwah islamiah, seperti tercermin dari berbagai pengaruh pesantren terhadap perubahan dan pengembangan kepribadian individu santri, sampai pada pengaruhnya terhadap politik di antara pengasuhnya (kyai) dan pemerintah.
Pesantren dari sudut paedagogis tetap dikenal sebagai lembaga pendidikan agama Islam, lembaga yang terdapat di dalamnya proses belajar mengajar. Fungsi pesantren dengan demikian lebih banyak berbuat untuk mendidik santri. Hal ini mengandung makna sebagai usaha membangun dan membentuk pribadi, masyarakat dan warga negara. Pribadi yang dibentuk adalah pribadi muslim yang harmonis, mandiri, mampu mengatur kehidupannya sendiri, tidak bergantung kepada bantuan pihak luar, dapat mengatasi persoalan sendiri, serta mengendalikan dan mengarahkan kehidupan dan masa depannya sendiri. Pesantren dalam hal ini bertugas membentuk pribadi  muslim yang  harmonis dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama dan lingkungan yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan tetangga dekat.
Penyebaran  Islam di Melayu, termasuk Nusantara, diakui oleh  sebagian besar ahli menggunakan  pendekatan sufistik. Mereka berhasil mengislamkan sejumlah besar penduduk. Faktor utama  keberhasilannya  adalah kemampuan para sufi menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif khususnya dengan menekankan perubahan dalam kepercayaan dan praktek keagamaan lokal. Betapa signifikan peran yang dimainkan para sufi  dalam proses islamisasi.[6]
Bagi ‘Abbãs Muhammad ‘Aqqãd, kepulauan Indonesia merupakan tempat paling layak untuk membuktikan kenyataan bahwa Islam diterima dan berkembang di tengah-tengah penduduk yang menganut agama lain.  Di setiap penjuru negeri terdapat bukti nyata betapa keteladanan yang baik berperan dalam penyebaran Islam tanpa menggunakan kekerasan.[7]
Masuknya Islam ke Pulau Jawa  tidak dapat dilepaskan dari konteks masuknya Islam di Nusantara. Tokoh-tokoh yang dianggap berperan dalam penyebaran Islam di Jawa sering disebut sebagai Wali Songo. Di sisi lain, berdirinya kerajaan Islam di Jawa yang dimotori para wali itu–dengan tokoh sentral para wali penyebar Islam- tidak dapat dilepaskan dengan kondisi Pasai yang menjadi dearah persinggahan para penyebar Islam dari Tanah Arab. Ketika Kerajaan Pasai sedang mengalami kemunduran dan Malaka direbut Portugis, menurut Vlekke, muncullah tiga kerajaan yang bertugas mempertahankan panji-panji Islam di gugusan Pulau Melayu. Ketiga negara itu adalah Aceh di Sumatera bagian Utara, Ternate di Maluku dan Demak di Jawa.[8]
Masuknya orang-orang Jawa menjadi penganut Islam, menurut cerita rakyat Jawa karena peran dakwah Wali Songo yang sangat tekun dan memahami benar-benar kondisi sosio-kultural masyarakat Jawa, sehingga mereka mampu berbuat banyak dan menakjubkan. Tampaknya, mereka menggunakan pendekatan kultural dan edukasional, sehingga sampai kini dapat disaksikan bekas-bekasnya seperti pertunjukan wayang kulit dan wayang purwa, pusat pendidikan Islam model pondok pesantren, arsitektur majsid dan filosofinya, tata ruang pusat pemerintahan, dan sebagainya. [9]
Tampaknya, para wali itu dalam dakwah keagamaannya menggunakan pola yang akomodatif, sehingga islamisasi di tanah Jawa mengesankan banyak orang.  A. Jones menyebutkan, awal mula perkembangan Islam di Indonesia dan khususnya di Jawa adalah dalam bentuk yang sudah bercampur baur unsur-unsur India, Persia, terbungkus dalam bentuk praktek-praktek keagamaan.[10] Sesampainya di Jawa, praktek-praktek keagamaan yang sudah tidak murni lagi itu bercampur pula dengan berbagai variasi praktek keagamaan setempat, baik kepercayaan agama/kepercayaan lokal, Hindu, ataupun Budha.
Para wali itu diidentikkan dengan tokoh   kharismatik yang lazim dikenal sebagai penganut ajaran ulama-ulama sufi. Berperannya para sufi di dalam penyebaran Islam tampak sekali dalam peran menyatukan umat Islam, disinyalir terkait erat dengan kejatuhan Baghdad di tangan bangsa Mongolia pada tahun 1258 M. Penyebaran tariqat-tariqat sufi ternyata sampai pula di tanah Jawa, sehingga banyak dijumpai orang-orang Jawa, Sunda, Madura dan lainnya yang beragama Islam menjadi pengikut tariqat-tariqat tersebut.
Ajaran tasawwuf sudah berkembang pertama kalinya di Aceh pada abad ke-17 M. Paham itu telah dibawa oleh para pedagang Melayu sehingga sampai di Demak dan Banten. Paham Syekh Siti Jenar juga diperkenalkan pada sebagian masyarakat yang mempelajari agama,  mengingat sebagian besar penduduk daerah ini menganut  madzhab Syãfi’îyah dalam bidang fikih.  Sedangkan ajaran tasawwuf  yang diajarkan dan berkembang sampai dengan sekarang adalah ajaran al-Ghazãlî.[11]
Berdasarkan babad Cirebon, Purwaka Caruban Nagari, ketika Kerajaan Pasai mengalami kemunduran, adalah seorang warga Pasai bernama Fadhilah Khãn (wong agung saking Pase) datang ke Pulau Jawa terutama Demak dan Cirebon (1521 M.)[12] Setelah Kerajaan Demak beridiri,  Islam tersebar demikian cepat ke selurûh pelosok Pulau Jawa. Keharuman nama  Demak sebagai basis penyebaran Islam di Pulau Jawa sesungguhnya tidak lepas dari peran Wali Songo. Meskipun tidak membawa bendera tertentu, kecuali Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, metode dakwah yang digunakan para wali itu adalah penerapan metode yang dikembangkan para ulama sufi sunni dalam menanamkan nilai-nilai ajaran Islam melalui keteladanan yang baik sebelum berkata-kata.[13] Al-Ghazãlî menyatakan bahwa, hakikat tasawwuf adalah ilmu dan amal yang membuahkan akhlak terpuji, jiwa yang suci dan bukan ungkapan-ungkapan teoritis belaka.[14]
Sikap keteladanan merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki para wali yang berjiwa sufi dalam menyebarkan Islam. Disamping mereka memiliki pengetahuan,  pengalaman luas, dan penguasaan terhadap budaya masyarakat yang menjadi tempat tujuan dakwah mereka. Sejarah babad Jawa membuktikan dan menjelaskan pegulatan antara spiritualitas Islam dengan spiritualitas Hindu-Budha, dengan adanya keunggulan agama baru yang dibawa oleh para  wali  sufi.   Kenyataan   ini membuktikan para penyebar Islam dengan semangat spritualismenya berjalan pada jalur generasi muslim  abad pertama.[15]
Adanya pengarûh al-Ghazãlî yang berakar kuat dalam pemikiran  tasawwuf  Wali Songo,   terutama disebabkan oleh pencarian tarekat yang mereka jalani. [16] Para wali itu memang tidak meninggalkan karya tulis seperti para tokoh sufi lainnya.   Jejak yang ditinggalkannya  terlihat dalam kumpulan nasihat agama yang termuat dalam tulisan para murid dalam bahasa Jawa. Tulisan itu berisi catatan pengalaman orang-orang saleh yang menegaskan bahwa   latihan-latihan spiritual (riyãdhaţ) sangat diperlukan dalam rangkaian pembersihan hati dan menjernihkan jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allãh, yaitu kedekatan yang mengantarkan seseorang pada alam rûhani ketika jiwa merindukan Allãh hingga memeperoleh titisan cahaya Ilahi.  Hubungan intim dengan Allãh tidak dapat dicapai oleh jiwa yang berwawasan materialistis, yang menyibukkan diri dengan rasa ketergantungan pada dunia materi dan jauh dari agama dan Allãh.[17]
Dari pemikiran dan praktek-praktek tasawwuf tersebut, diperoleh kejelasan bahwa corak tasawwuf yang dianut oleh para wali itu adalah tasawwuf sunni, misalnya al-Ghazãlî.  Para wali sering menjadikan  karya-karya al-Ghazãlî sebagai referensi mereka. Bukti nyata mengenai hal ini terdapat dalam manuskrip yang ditemukan Drewes yang  diperkirakan  ditulis pada masa transisi Hinduisme pada Islam, pada masa Wali Songo masih hidup. Dalam manuskrip  yang menguraikan tasawwuf itu terdapat beberapa paragraf yang dinukil dari kitab Bidãyat al-Hidãyah karya al-Ghazãlî.  Ini menunjukkan  bahwa tasawwuf Sunni berpengarûh pada saat itu.  Lebih dari itu,  informasi-informasi tertulis mengenai ajaran-ajaran Wali Songo sangat bertentangan dengan pemikiran panthaeisme. Demikian pula generasi berikutnya yang meriwayatkan diri dari  tulisan-tulisan  Ibn ‘Arabî  seperti Futûhãt al-Makkîyah.[18] Wali Songo tetap berada dalam jalur nenek moyang mereka yang loyal kepada mafzhab Syãfi’î dalam aspek syari’at dan al-Ghazãlî dalam aspek tarekat.  Tak heran jika mereka menjadikan Ihyã’ ‘Ulûm al-Dîn sebagai sumber inspirasi dalam melakukan dakwahnya, disamping kitab-kitab andalan Ahlussunnnah lainnya, seperti  Qût al-Qulûb karya Abû Thãlib al-Makkî, dan Bidãyat al-Hidãyah serta Minhãj al-‘Ãbidîn karya al-Ghazãlî.  Para wali juga berhasil memberikan kontribusi dalam bentuk pesantren dan madrasah yang tersebar di selurûh pelosok tanah air.   Sebagian besar menerapkan tasawwuf Sunni dengan mengajarkan Ihyã’ ‘Ulûm al-Dîn sebagai salah satu materi dasarnya.[19]
Selain Wali Songo ternyata masih banyak tokoh sufi di tanah  Jawa yang tidak kalah penting.   Ulama-ulama itu merupakan generasi pelanjut perjuangan para wali. Salah satunya di Jawa Barat tercatat nama Syaykh Hãji Abdul Muhyi Pamijahan (Tasikmalaya), seorang ulama penyebar Islam di kawasan selatan Jawa Barat, yang lebih dikenal umum sebagai seorang wali.[20] Dia adalah murid dari Syaykh  Abdurrauf Sinkli (sufi Aceh).[21] Dia  aktif menyebarkan tarekat Syattarîyah di tanah Jawa dan semenjanjung Melayu.[22] Namun demikian,  ia tetap menolak faham Wujûdîyah yang menganggap adanya penyatuan antara Tuhan dan hamba.[23]
Syaykh Ahmad Hasbullah bin Muhammad (Madura), Syaykh Tholhah (Kalisapu Cirebon), dan Syaykh Abdul Karim (Banten) adalah para tokoh  yang paling berjasa dalam penyebaran Tarîqat Qãdirîyah wan Naqsyabandîyah di Indonesia, terutama di Pulau Jawa dan Madura.  Ketiganya adalah  khalifah Syaykh Khathîb  Sambas (w. 1875 M.).[24] Syaykh Tholhah adalah guru utama Tarîqat Qãdirîyah wan Naqsyabandîyah di wilayah Cirebon dan Priangan Timur. Salah satu muridnya yang terkenal dan diangkatnya sebagai khalifah untuk wilayah Jawa Barat bagian tengah dan timur adalah Syaykh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh, w. 1956 M.), ayah dari Syaykh Shãhib al-Wafã Tãjul Arifin (Abah Anom), pemimpin  Pesantren Suralaya Tasikmalaya.[25]
Salah satu kebiasaan yang patut diteladani dari  mereka adalah kesalehan dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari dengan para santri dan masyarakat di lingkungannya. Ketinggian dalam bidang keilmuan (wawasan keislaman) dan kondisi kejiwaan yang istiqomah dalam melakukan riyadhah dan mujahadah merupakan  salah satu keistimewaan (maziyyah) yang sangat  dibangga-banggakan oleh para pengamal tariqat shufi. Empati mereka terhadap masyarakat bawah sangat besar sekali. Sikap kasih sayang serta rasa menghargai dan menghormati berbagai perbedaan  yang berkembang di lingkungannya juga sangat menonjol dalam diri mereka.
Betapa, misalnya, seorang Syaykh Tholhah pada suatu pagi hari diundang oleh salah seorang tetangganya untuk menghadiri upacara tahlilan. Tetangga yang lainnya merasa “harus” mendapatkan penghormatan dari sang syaykh. Dia mengundang syaykh bijak itu untuk menghadiri upacara khitanan yang menyuguhkan tontonan wayang kulit (wayang purwa, istilah Cirebon waktu itu). Upacara tahlilan dan pagelaran wayang kulit, pada zamannya, merupakan cerminan dua kutub yang berbeda (pahala dan dosa, atau ibadah dan maksiat) dari sudut pandang keagamaan masyarakat awam dan “santri” Cirebon.  Tetapi Ki Tholhah (panggilan akrab masyarakat Cirebon)  tidak pernah memandang dua kutub itu dari sudut pandang keagamaan ulama kebanyakan pada waktu itu yang pada umumnya  mengakibatkan diskriminasi dan apalagi tuduhan negatif terhadap Islam. Dia menghadiri kedua undangan tetangganya itu dan sekali-kali tidak mendasarkan tindakan keberagamannya  kepada aspek legal-formal (hukum fiqh). Dia justru berhasil  menyatakan pendirian kesufiannya sebagai ajaran agama (Islam) yang mampu memberikan ketentraman tidak saja bagi pribadi pengalamnya. Melainkan justru  dapat menjadi motivator bagi terciptanya sebuah tatatan hidup sosial (bertetangga) yang sakinah sebagaimana diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW.
Di hati komunitas pesantren di wilayah III khususnya, nama Ki Tholhah sering diakit-kaitkan dengan tokoh-tokoh kenamaan semisal Syaykh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati), Syaykh DzatulKahfi ataupun Syaykh Qurra’.  Dia tercatat sebagai salah seorang sesepuh masyarakat Cirebon yang mewariskan generasi yang sekarang memangku bebeberapa pondok pesantren di bagian utara dan barat Kabupaten Cirebon.
Ki Tholhah adalah putra dari Desa Kalisapu, salah satu daerah di wilayah pantai utara Cierbon. Keberhasilannya menempatkan diri sebagai tokoh sufi  yang adaptable dan sangat emphaty menjadikannya sangat akrab di hati masyarakat pantai pesisir utara Kabupaten Cirebon yang dikenal sangat temperamental; selain sangat dihormati  oleh masyarakat muslim Pasundan. Sampai dengan sekarang perilaku keseharian masyarakat di sekitar Astana Gunung Jati dan Gunung Sembung kepada Ki Tholhah dan juga keturunannya masih tetap respct. Bahkan kerabat Astana dan Keraton Cerbon sangat “sungkan” kepada kebesaran namanya sebagai generasi yang mewarisi keilmuan Kanjeng Sinuwun (Sunan Gunung Djati). Masyarakat Desa Trusmi juga merasakan bangga bila menyebut dirinya keturunan darinya.
Komunitas tertentu memandang Ki Tholhah dari sudut berbeda sesuai dengan ambisi mereka masing-masing. Dia dikenal sebagai ssalah seorang kyai yang sakti mandra guna. Kelompok masyarakat ini memandangnya dari sudut kepentingan dan obsesi ketidak berdayaan mereka memahami inti ajaran tariqat shufi. Segala kelebihan dan keistimewaan sang shufi itu diposisikan sebagai kelebihan seorang pendekar pilih tanding tanpa banding.
Mereka tidak memahami seluk beluk keilmuan sufisme Islam dengan sebenarnya dan mereka tidak mampu memposisikan sang syakh (mursyid) itu sebagai pewaris ajaran para nabi dan rasul Allah. Segenap para nabi dan rasul Allah adalah manusia pilihan yang karena mentalitas dan spritualitasnya di atas rata-rata manusia biasa, diamanati tanggung jawab (tugas dan peran) sebagai khalifah Allah untuk menciptakan kesejahteraan dan kedamaian di muka bumi dengan menaburkan nilai-nilai yang disinari oleh pekerjaan, nama-nama, dan sifat-sifat ilahiah.
Penempatan figur shufi sebagai tokoh sakti mandraguna tidak saja merupakan kesalahan besar. Lebih jauh kesalahan itu merupakan dampak dari kegagalan proses pewarisan nilai-nilai sufisme yang merupakan  tahap penggabungan dan penyempurna keimanan dan keislaman, yaitu aspek  ihsanIhsan secara sederhana difahami sebagai kemampuan perseorangan “menghadirkan” Tuhan dalam dirinya, atau kemampuan merasakan kehadiran Tuhan yang selalu mengawasi secara detrail setiap gerak lahir dan batin ciptaan-Nya.
Proses pewarisan nilai-nilai sufisme di Indonesia lazim dialamatkan kepada lembaga pendidikan pesantren yang sepanjang sejarah perkembangannya  memiliki komitmen tinggi dan konsistensi kuat terhadap ajaran tasawwuf, dantariqat shufi khususnya. Kegagalan pendidikan pesantren didalam prposes pewarisan nilai-nilai sufisme tidak dapat  secara serta merta harus diakui sebagai penyebab pertama. Pesantren tertua di Cirebon yang sezaman dengan Ki Tholhah adalah pesantren Ki Jatira di Babakan Ciwaringin. Kedua tokoh itu sebenarnya sama-sama tokoh tariqat. Tetapi Ki Jatira juga membuka jalan bagi pembinaan ketangguhan aspek kesaktian santrinya karena sengaja diseiakan untuk melakukan konforntasi fisik dengan kolonialisme Belanda.
Perkembangan selanjutnya, pesantren Babakan justru lebih besar penetrasinya bagi komunitas masyarakat pesantren. Pesantren Babakan lebih mudah dikenali dengan pelatihan-pelatihan kedigjayaannya, ketimbang pengajian tariqat. Masyarakat Cirebon dan komunitas santri, dengan demikian, lebih mudah memahami aspek eksoteris lahiriah ketimbang aspek esoteris batiniah sebuah ajaran. Ajaran dan doktrin tariqat shufi yang paling essensial (nilai-nilai ihsan ) yang sesungguhnya, ternyata sangat susah dimengerti komunitas pesantren.
Mata hati mereka terslimuti kabut hitam tebal sehingga  setiap wirid tariqat (hizb) diposisikan sebagai mantera yang mendatangkan kesaktian dan kedigjayaan. Hizb yang sebenarnya diciptakan sebagai metode taqarrub ila Allah dijadikan pelarian untuk membela diri dari ketidak berdayaan memahami ajaran. Krireia kealiman dan kesalehan seseorang juga telah bergeser. Seseorang kyai, dalam masyarakat ini, dipandang  ‘alim dan suci (wali) bila memiliki berbagai jenis kesaktian dan ketabiban, dibandingkan kyai tanpa kesaktian dan ketabiban. Kyai pada akhirnya, secara tidak disadari, di-sama-kan  dengan  pendekar dan tabib atau dukun. Dan,  santri diidentikkan dengan pertapa, pendekar pengembara atau pengelana seperti dalam dongeng-dongeng masa pra Islam.
Keistimewaan lahirah akibat melafalkan wiridan dalam dunia sufi lazim disebut sebagai karamah lahiriah bagi seseorang yang memiliki sikap istiqomah secara lahirian. Tetapi, naifnya keistimewaan lahirah (karamah lahiriah) tidak dipahami sebagai ujian dan sekaligus penghambat ke tingkatan atau maqam kesufian seseorang di hadapan Allah.  Mereka terbuai hawa nafsu yang karakternya mendorong mengejar popularitas, kedudukan, status sosial, kekayaan (materi), dan kelebihan-kelebihan duniawi lainnya. Karamah bathiniah sebagai hasil dari sikap istiqomah secara batiniah yang diperintahkan Rasulullah SAW menjadi terabaikan. Kabut tebal dan hitam telah menghambat datangnya ilham Ilahiah. Bisikan nafsu tidak lagi bisa dibedakan nur Ilahi dan tidak mampu ditangkapnya dengan benar.
Namun demikian, setiap sesuatu yang negatif tentu saja masih menyimpang nilai-nilai positif dan kronstruktif sekecil apa pun. Baik masyarakat yang terbuka untuk dapat memahami intisari ajaran sufi ataupun yang tertutuip rapat-rapat tetap memiliki satu kesamaan yang sangat menguntungklan bangsa dan negara. Kedua hasil atau produk kreasi itu meskipun bentuk dan tipologinya laksana langit dan bumi, tetap  sama-sama memiliki semangat dan jiwa nasionalisme yang kokoh. Pada saatnya mereka kembali bertemu dan bersatu sebagai lazimnya saudara kembar dari seorang ibu yang sama.
Semangat dan jiwa nasionalisme itu lahir dari doktrin yang sama tentang hubb alk-Wathon min al-Iman. Baik mursyid yang hanya menggelar pengajian tariqat maupun musryid yang melakukan pembinaan kesaktian dan kedigjayaan selalu menanamkan anti penjajahan di harti setiap orang yang dijumpainya di manapun. Doktrin inilah yang sepanjang sejarah kemanusiaan masih tetap harus dilestarikan dan selalu menghendaki aktualisasi dari generasi ke generasi bangsa Indonesia. Penjajahan dengan berbagai bentuknya dalam sejarah peradaban manusia, selalu saja lahir dari pribadi-pribadi yang berkarakter penjajah atau pribadi-pribadi yang terjajah oleh kecenderungan hawa nafsunya sendiri.
Tariqat sufi dan pendidikan pesantren, sepanjang sejarah masih bisa merekam dengan teliti, senantiasa mengutamakan kemerdekaan pribadi dari penjajahan oleh hawa nafsu. Kemerdekaan dimaksud seperti  dalam berbagai literatur keilmuan Islam, sesuai tuntutan al-Quran dan al-Sunnah, ditampilkan dalam berbagai bentuk akhlak terpuji seperti: jujur (shidq) lawan dari dusta, dapat dipercaya (amanah) lawan dari khianat, shabr lawan dari putus asa, ikhlash lawan dari syirik dan riya’, zuhd lawan dari tidak merasa cukup, qana’ah lawan dari thama’ (mengharap-harap pemberian), tawakkul lawan dari nekad dan putus asa,  ridha’ lawan dari mengeluh,  yaqin lawan dari ragu-ragu dan was-was, dan lain-lain. Proses pewarisan nilai-nilai itu di dlam sistem pendidikan pesantren dinilai sangat effektif. Pendidikan pesantren, dalam hal ini,  dicatat telah membuktikan dirinya mampu melalui tahapan-tahapan yang lazim dikenal dalam kajian sosiologi kepribadian yaitu : proses imitasi, sugesti, motivasi, dan internalisasi, serta aktualisasi.
C. PENUTUP
Pesantren sebagai lembaga pendidikan lerakyatan yang bersifat agamis berkembang dalam proses sejarah yang panjang dan tetap lesatri sampai dengan sekarang. Kehadirannya bersamaan dengan aktivitas penyebaran Islam di Jawa yang dibawa oleh para wali (Wali Songo). Pesantren pada zaman Wali Songo, pemerintahan Demak, dan pemerintahan  Sultan Agung Mataram dari aspek kurikulumnya masih sama dan belum mengalami perubahan dari tujuan dasar ajaran Tariqat Shufi dan Tasawwuf al-Ghazali.
Tradisi keilmuan dan konsep kesalehan pesantren tetap memiliki kesinambungan mata rantai dengan:  ajaran Islam  Wali Songo, Tariqat Sufi, Imam al-Ghazali, Teologi al-Asy’ari, Fiqih al-Syafi’i, sampai kepada Rasulullah, Muhammad SAW. Namun demikian. Konsep kesalehan individual yang bersumber dari tasawwuf al-Ghazali  di dalam lingkungan pendidikan pesantren lebih menonjol.
Konsep jujur, amanah, ikhlas, shabr, zuhud, qana’ah, tawakkul, dan seterusnya sebagai pembentukan pribadi santri adalah konsep yang bersumber dari ajaran al-Quran dan al-Sunnah yang tetap dilestarikan sampai dengan sekarang.  Komunitas pesantren meyakini kemuliaan akhlak yang dilandasi keimanan  musti diposisikan sebagai  fondasi utama dalam mengantarkan para santri mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, baik sebagai hamba maupun khalifah  Allah dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

[1] Djaelani, H.A. Timur, Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pembangunan Perguruan Agama (Jakarta : Dermaga, 1980), h. 17.
[2] Di Nusantara Sistem Guru Kala telah berkembang mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Airlangga di Surabaya Jawa Timur dan pendidikan Buddha pada   masa pemerintahan Sriwijaya. Ki Hajar Dewantara memasukkannya ke dalam Taman Siswa. (M. Said, Mendidik dari Zaman ke Zaman, Bandung, Jenmars, 1987, h. 88).
[3] Soegarda Poerbakwatja, Pendidikan dalam Alam Indonesia Merdeka (Jakarta : Gunung Agung, 1970), h. 18.
[4] Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren (Jakarta : Dharma Bhakti, 1982), h. 24.
[5] Ibid., h. 25.
[6] Azyumardi Azra, Jaringan Intelektual Ulama Timur dan Kepulauan Nusantara Abad XVII (Bandung : Mizan, 1995), h. 35.
[7] Abbãs Muhammad ‘Aqqãd, al-Islãm fî al-Qurãn al-‘Isyrîn: Hãdhirûh wa Mustaqbaluh (Kairo : Dãr al-Kutub al-Hadîstah, 1954), h. 7.
[8] Tuanku Abdul Jalil, “Kerajaan Islam Perlak Poros Aceh-Demak”, dalam A. Hasymi, Op. Cit., h. 273.
[9] Uka Tjandrasasmita, “Peninggalan Kepurbakalaan Islam di Pesisir Utara Jawa”, dalam al-Jami’ah No. 15 (Yogjakarta : IAIN Sunan Kalijaga, 1977).
[10] A. Jones, “Yentang Kaum Mistik dan Penulisan Sejarah”, dalam,  Taufik Abdullah (ed.), Islam di Indonesia (Jakarta : Tintamas, 1974).
[11] M. Solihin, Sejarah dan Pemikiran Tasawuf di Indonesia (Bandung : Pustaka Setia, 2001), h.69.
[12] Uka Tjandrasasmita, “Proses Kedatangan Islam dan Munculnya Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh”, dalam A. Hasymi,  Op. Cit.,  h. 367.
[13] Alwi Shihab, Islam Sufistik (Bandung : Mizan, 2001), h. 38.
[14] al-Ghãzãlî, al-Munqidz min al-Dhalãl (Kairo : Silsilat al-Tsaqãfah al-Islãmîah, 1961), h. 42 dan 46.
[15] Ibid., h. 38.
[16] Alwi Shihah, Islam Sufistik, h. 19.
[17] Ibid., h. 38.
[18] Ibid., h. 45.
[19] Abdullah bin Nuh, Sejarah Islam di Jawa Barat hingga Masa Kerajaan Kesultanan Banten (Bogor : 1961), h. 11-12.
[20] Aliefya M. Santrie, “Martabat (Alam) Tujuh, Suatu Naskah Mistik Islam dari Desa Karang, Pamijahan”, dalam, ahmad Rif’at Hasan, (ed.), Warisan Intelektual Islam Indoensia (Bandung : Mizan, 1990), h. 105.
[21] Abd.Aziz Dahlan, (Ed.), Ensiklopedi Islam, J. I, (Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999),  h. 5.
[22] Ibid., h. 6.
[23] Azyumardi Azra,  Op. Cit.,  h. 210.
[24] Dadang Kahmad, Tarekat dalam Islam Spiritualitas Masyarakat Modern (Bandung : Pustaka Setia, 2002), h. 100.
[25] Ibid., h. 103-104.







STUDI AWAL POTENSI IDEOLOGIS DAN KESEJARAHAN
PENDIDIKAN  PESANTREN
oleh : Suteja
A. PENGANTAR
Pesantren, menurut Mastuhu, adalah adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya modal keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.[1] Pengertian tradisional di sini menunjuk bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan agama (Islam) telah hidup sejak 300 – 500 tahun lalu dan telah menjadi bagian yang mengakar dalam kehidupan sebagian besar umat Islam Indonesia, dan telah mengalami perubahan dari masa ke masa. Tradisional bukan berarti tetap tanpa mengalami perubahan.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang unik di Indonesia.[2] Lembaga pendidikan ini telah berkembang khususnya di Jawa selama berabad-abad. Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pusat penyebaran agama Islam lahir dan berkembang semenjak masa-masa permulaan kedatangan agama Islam di Nusantara. Lembaga ini berdiri untuk pertama kalinya di zaman Wali Songo. Syaikh Mawlana Malik Ibrahim atau Mawlana Maghribi (w.1419 M.) dianggap sebagai pendiri pesantren yang pertama di Jawa.[3] Syaikh Mawlana Malik Ibrahim  dipandang  sebagai Spiritual Father Wali Songo, gurunya guru tradisi pesantren di tanah Jawa.[4]
Menyusul kemudian pesantren Sunan Ampel di daerah Kembangkuning  Ampe Denta Surabaya, yang pada mulanya hanya memiliki tiga orang santri atau murid.[5] Pesantren Sunan Ampel inilah yang melahirkan kader-kader Wali Songo seperti Sunan Giri (Raden Paku atau Raden Samudro). Sunan Giri setelah tamat berguru kepada Sunan Ampel dan ayahandanya sendiri  (Mawlana Ishak)   kemudian mendirikan pesantren di Desa Sidomukti Gresik.  Pesantren itu sekarang lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Giri Kedaton.[6]
Raden Fatah adalah juga murid Sunan Ampel. Setelah mendapatkan ijazah dari sang guru ia mendirikan pesantren di Desa Glagah Wangi, sebelah Selatan Jepara (1475 M. =880 H.). Di Pesantren ini pengajarannya terfokus kepada ajaran tasawwuf para  wali  dengan sumber utama Suluk Sunan Bonang (tulisan tangan para wali). Sedangkan kitab yang dipergunakan adalah Tafsir al-Jalalayn.[7] Ketika Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono (memerintah 1521 – 1546 M.= 928 – 953 H.)  Fatahillah (Fadhilah Khan) yang dipandang ‘alim dan dihormati masyarakat dipercaya untuk mendirikan pesantren di Demak.[8]
Satu abad setelah masa Wali Songo, abad 17, Mataram memperkuat pengaruh ajaran para wali. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, yang dikenal sebagai Sultan Abdurrahman dan Khalifatullah Sayyidina Penotogomo ing Tanah Jawi (memerintah 1613-1645 M. = 1022-1055 M.) mulai dibuka kelas khusus bagi para santri untuk memperdalam ilmu agama Islam (kelas takhashshush) dengan spesialiasi cabang ilmu tertentu,  serta  pengajian tarekat,[9] atau pesantren tariqat.[10]
Hal baru yang sangat menarik adalah inisiatif Sultan Agung untuk memperhatikan pendidikan pesantren secara lebih serius. Dia menyediakan tanah perdikan bagi kaum santri serta memberi iklim sehat bagi kehidupan intelektualisme keagamaan (Islam) hingga mereka berhasil mengembangkan tidak kurang dari 300 buah pondok pesantren.[11] Kenyataan ini identik dengan dinamika dan kemajuan yang dinikmati Madrasah Nidzamiyah Baghdad ketika pada masa-masa keemasannya di bawah kepemimpinan al-Ghazali.
Pada tahap-tahap pertama pendidikan pesantren memang masih memfokuskan dirinya  kepada upaya pemantapan iman dengan latihan-latihan ketarikatan daripada menjadikan dirinya sebagai pusat pendalaman Islam sebagai ilmu pengetahuan atau wawasan.  Sebagai contoh Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Pesantren tertua di Jawa Barat ini  didirikan pada tahun 1817 M.=1233 H. oleh Ki Jatira (salah seorang murid Maulana Yusuf dan sekaligus  utusan Kesultanan “Hasanuddin” Banten).  Seperti banyak dikemukakan dalam perjalanan sejarah, bahwa seputar abad ke-17 dan 18 M., dimana pesantren mulai dirintis, kondisi masyarakat pada umumnya masih demikian kental dengan tradisi mistik yang kuat.[12]
Eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam mistik saat itu  dikarenakan oleh sebab-sebab  yang berasal dari  luar pesantren.  Sebab-sebab  dimaksud adalah  langkanya literatur keislaman di Jawa ketika itu sebagai konsekuensi logis dari  kurangnya kontak antar umat Islam di Jawa dengan Timur Tengah, yang disebabkan oleh politik pecah belah Belanda yang tengah berusah keras  menunjang penyebaran agama Kristen di Nusantara.[13]
Pesantren dalam bentuknya semula tidak dapat disamakan dengan lembaga pendidikan madrasah atau sekolah seperti yang dikenal sekarang ini.  Perkembangan selanjutnya menunjukkan pesantren sebagai satu-satunya lembaga pendidikan tradisional yang tampil dan berperan sebagai pusat penyebaran sekaligus pendalaman agama Islam bagi pemeluknya secara terarah.[14]
Abad ke-19 M. adalah abad permulaan adanya kontak umat Islam di Indonesia dengan dunia Islam, termasuk  Timur Tengah. Selain kontak melalui jamaah haji Indonesia, juga melalui sejumlah pemuda Indonesia yang belajar di Timur Tengah (Makkah).  Mereka sebagian besar berasal dari keluarga pesantren.[15] Di antara mereka yang sukses secara gemilang adalah Syaikh Nawawi Tanara Banten (w. 1897 M.),  Syaikh Mahfudz al-Tirmisi (w. 1919 M.),  Syaikh Ahmad Chothib Sambas (asal Kalimantan),  dan Kiai Cholil Bangkalan (w. 1924 M.= 1343 H.). Pada abad ke-19 M. mereka adalah orang-orang yang mengisi kedudukan sebagai  imam dan pengajar di Masjid Haram Makkah al-Mukarromah.[16]
Generasi pertama  itu kemudian melahirkan para santri sebagai murid langsung, yang selanjutnya dikenal sebagai generasi kedua dalam jajaran pelopor dan pendiri pesantren di Jawa dan Madura.  Mereka adalah  KH. A. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang (1871-1947 M.=1288–1367 H.),  KH. Abdul Wahab Hasbullah (Surabaya),   dan KH. Bisyri Syamsuri.
Pada tahun 1899 M.=1317 H., KH. A. Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng.  Pesantren itu  menawarkan panorama yang berbeda dari pesantren-pesantren lain sebelumnya. Ia mencoba merefleksikan hubungan berbabagai dimenasi yang mencakup ideologi, kebudayaan serta pendidikan.[17] Pendirian pesantren ini dipandang sebagai upaya penting komunitas pesantren karena mulai memperlihatkan sikap pesantren menentang hegemoni penjajah. Boleh dijuga diasumsikan motivasi politik yang ditujukan Pesantren Tebuireng adalah manifestasi kesadaran diri dan percaya diri paling tertinggi dari kaum pesantren.[18]
Pada wal abad ke-20 M., Pesantren Tebuireng di bawah pimpinan   KH. A. Wahid Hasyim (1916 M. = 1335 H.)  berhasil melakukan perubahan  yang radikal  secara kelembagaan berkenaan dengan kurikulum pesantren.  Dia memasukkan pendidikan persekolahan (komunitas pesantren menyebutnya sistem madrasi) dengan mendirikan Madrasah Nidzamiyah di dalam lingkungan pesantren.  Di madrasah itu diajarkan berbagai mata pelajaran yang oleh seluruh komunitas pesantren saat itu dihukumi haram dan yang mempelajarinya divonis kafir. Mata pelajaran yang dimaskud  adalah :  Berhitung, Ilmu Bumi, Sejarah, Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Belanda.
Perkembangan pada masa-masa selanjutnya berhasil mencatat pesantren sebagai lembaga pendidikan agama (Islam) yang mampu melahirkan suatu  lapisan  masyarakat  dengan tingkat kesadaran dan pemahaman keagamaan (Islam)  yang relatif utuh dan lurus.[19] Di sisi lain,  sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memegang peranan penting dalam penyebaran ajaran agama (Islam) prinsip dasar pendidikan dan pengajaran pesantren adalah pendidikan rakyat. Dan, karena tujuannya memberikan pengetahuan tentang agama,  ia tidak memberikan pengetahuan umum.[20]
B. PENDIDIKAN ISLAM ERA WALISONGO
Wali Songo dan komunitas pesantren selalu loyal pada missinya sebagai pewaris Nabi Muhammad yang terlibat secara fisik dalam rekayasa sosial. Misi utama mereka adalah menerangkan, memperjelas, dan memecahkanpersoalan-persoalan masyrakat, dan memberi modelidealbagi kehidupan sosial agama masyarakat. Model Wali Songo yang diikuti oleh para ulama di kemudian hari telah menunjukkan integrasi antara pemimpin agama dan masyarakat yang membawa mereka pada kepemimpinan proaktif dan effektif. Pendekatan dan kearifan Wali Songo kini terlembagakan dalam esesni budaya pesantren dengan kesinambungan ideologi dan kesejarahannya.
Keberhasilan pendidikan Islam  Wali Songo terhadap pendekatan penguasa tercermin dalam menyatukan unsur pemimpin agama dan negara. Dikotomi antara ulama dan raja, sebagaimana diteladankan oleh para pemimpin sesudah Nabi Muhammad (Khalifah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali)   tidak mendapatkan ruang dan tempat dalam ajaran dasar Wali Songo. Ajaran ini, sebagaimana dikemukakan Abdurrahman Wahid, adalah warisan Sunan Kalijaga sebagai grand desinger dan kemudian dipopulerkan oleh Sultan Agung.[21] Namun demikian seperti dikemukakan di atas, pendidikan Wali Songo mudah ditangkap dan dilaksanakan.
Wali Songo dan kyai Jawa adalah agent of social changer melalui pendekatan kultural. Ide cultural resistence juga mewarnai kehidupan intelektual pendidikan pesantren. Subjek yang diajarkan di lembaga ini adalah kitab klasik yang   diolah dan ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikut, yang sekaligus merujuk kepada keampu-an kepemimpinan kyai-kyai.
Isi pengajaran kitab-kitab itu menawarkan kesinambungan tradisi yang benar mempertahankan ilmu-ilmu agama dari sejak periode klasik dan pertengahan.  Memenuhi fungsi edukatif, materi yang diajarkan di pesantren bukan hanya memberi akses pada santri rujukan kehidupan keemasan warisan peradaban Islam masa lalu, tapi juga menunjukkan peran hidup yang mendambakan kedamaian, keharmonisan dengan masyarakat, lingkungan dan bersama  Tuhan.
Tujuan itu secara sederhana seperti dikemukakan Mastuhu,[22] adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhidmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau aabdi masyarakat tetapi rasul (pelayan masyarakat sebagaimana kepribadian Nabi Muhammad), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dala kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat, dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia.
Karena konsep di atas pula pesantren selalu tegar menghadapi hegemoni dari luar. Pesantren-pesantren tua biasanya selalu dihubungkan dengan kekayaan mereka berupa kesinambungan ideologis dan historis, serta mempertahankan budaya lokal. Denominasi keagamaan dalam pendidikan pesantren yang Syafi’i- Asy’ari-Ghazalian-Oriented terbukti sangat mendukung terhadap pengembangan dan pelaksanaan konsep cultural resistance.
C. Tradisi Keilmuan Pesantren
Menarik untuk disimak bahwa, mata rantai keilmuan dan pesantren adalah bersumber dari pemahaman dan interpretasi Wasli Songo terhadap ajaran Islam. Mereka adalah para guru tariqat sufi yang merujuk kepada pemikiran dan doktrin kesalehan al-Ghazali (w. 450- 505 H / 1106-1111 M.). Al-Ghazali adalah ulama dan sufi yang  besar pengaruhnya. Dialah  pembela dan penyebar ajaran teologi al-Asy’ari dan fiqh al-Syafi’i.  Ketika dipercaya menjadi rektor Universitas Nidzamiyah Baghdad pada masa keemasan peradaban Islam, dia menampakkan keberaniannya dengan tidak mengikuti pola pemikiran sang guru yaitu Imam al-Haramaian yang, pada zamannya, dianggap lebih mu’tazili ketimbang tokoh-tokoh mu’tazilah. Dia justru mengikuti pola-pola al-Baqillani dan al-Asy’ari. Dialah penyebar doktrin al-Asy’ari  ke seluruh penjuru dunia, termasuk dunia belahan timur dan Nusantara.  Dari sudut pandang ini bisa dipastikan mata rantai kesejaharan, ideologis ataupun budaya pesantren dengan tradisi intelektual dengan para ulama sufi tempo dulu tetap terjaga, terpelihara, serta tetap lestari.
Rujukan ideal keilmuan pendidikan pesantren cukup komprehensif  meliputi inti ajaran dasar Islam itu sendiri yang bersumber dari al-Quran dan al-Sunnah. Kelengkapan rujukan itu kemudian dibakukan ke dalam tiga sumber atau rujukan pokok yaitu al-Asy’ariyah untuk inti ajaran dasar Islam bidang teologi, al-Syaf’iyah untuk bidang hukumIslam (fiqh) dan al-Ghazaliyah untuk akhlak atau etika Islam dan tasawwuf.
Tradisi keilmuan pesantren sampai sekarang nampaknya tidak pernah bergeser dari aspek essensinya. Dawam Rahardjo, dalam hal ini, menaruh kepercayaan besar terhadap alumni-alumni pesantren yang memperoleh pendidikan di dunia Barat dan bekerja di beberapa sektor dan kantor swasta dan negara di Indonesia.[23]
D. Pembentukan Kepribadian
Pesantren dalam perkembangannya masih tetap disebut sebagai lembaga keagamaan yang mengajarkan, mengembangkan dan mengajarkan ilmu agama Islam. Pesantren dengan segala dinamikanya dipandang sebagai lembaga pusat perubahan masyarakat melalui kegiatan dakwah islamiah, seperti tercermin dari berbagai pengaruh pesantren terhadap perubahan dan pengembangan kepribadian individu santri, sampai pada pengaruhnya terhadap politik di antara pengasuhnya (kyai) dan pemrintah.
Pesantren dari sudut paedagogis tetap dikenal sebagai lembaga pendidikan agama Islam, lembaga yang terdapat di dalamnya proses belajar mengajar. Fungsi pesantren dengan demikian lebih banyak berbuat untuk mendidik santri. Hal ini mengandung makna sebagai usaha membangun dan membentuk pribadi, masyarakat dan warga negara. Pribadi yang dibentuk adalah pribadi muslim yang harmonis, mandiri, mampu mengatur kehidupannya sendiri, tidak bergantung kepada bantuan pihak luar, dapat mengatasi persoalan sendiri, serta mengendalikan dan mengarahkan kehidupan dan masa depannya sendiri. Pesantren dalam hal ini bertugas membentuk pribadi  muslim yang  harmonis dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama dan lingkungan yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan tetangga dekat.
Pendidikan pesantren memiliki berbagai macam dimensi : psikologis, filosofis, relijius, ekonomis, dan politis, sebagaimana dimensi-dimensi pendidikan pada umumnya. Tetapi, bagi Dawam,[24] pesantren bukanlah semacam madrasah atau sekolah, walaupun di dalam lingkungan pesantren telah banyak pula didirikan unit pendidikan klasikal dan kursus-kursus. Berbeda dengan sekolah atau madrasah, pesantren memiliki  mempunyai kepemimpinan, cirri-cirikhusus dan semacam kepribadian yangdiwarnai karakteristik pribadi kyai, unsur-unsur pimpinan pesantren, dan bahkan aliran keagamaan tertentu yang dianut.  Pesantren memiliki juga memiliki pranata tersendiri yang memiliki hubungan fungsional dengan masyarakat dan hubungan tata nilai dengan tradisi atau kultur masyarakat, khususnya yang berada dalam lingkungan pengaruhnya.
Pesantren sejak awal kelahirannya  telah menjadikan pendidikan sebagai way of life. Pembentukan kepribadian muslim yang dilakukan oleh pesantren justru hampir seluruhnya terjadi di luar ruang belajar. Hubungan, interaksi, dan pergaulan sehari-hari santri dengan kyai, atau santri dengan sesamanya, bahkan santri dengan masyarakat  di sekitar lingkungan pesantren adalah sumber pembelajaran utama dalam rangka pembentukan kepribadian muslim yang dicita-citakan pesantren. 
Pola hubungan santri-kyai dan santri-santri sebagai proses pembentukan kepribadian muslim dalam pendidikan pesantren adalah merupakan kesinambungan dan pelestarian tradisi, budaya, serta nilai-nilai Islam yang ditanamkan oleh Wali Songo yang memposisikan ajaran mereka sebagai ajaran para ulama sebelumnya yang memiliki mata rantai bersambung (istishal al-Sanad)  dengan Rasulullah, Muhammad SAW.
Tujuan pendidikan pesantren bukan untuk mengerjakan kepentingan kekuasan (powerfull), uang, dan keagungan duniawi. Tetapi, kepada para santri ditanamkan bahwa belajar atau menuntut ilmu adalah semata-mata karena melaksanakan perintah Allah dan rasul-Nya, mencari keridoan Allah, serta menghilangkan kebodohan, sebagai sarana memasyaraktkan ajaran Islam di muka bumi dalam wujud amar ma’ruf nahyu munkar.[25] Menurut Abdurrahman Wahid, diantara cita-cita pesantren adalah latihan untuk dapat berdiri sendiri dan membina diri agar tidak menggantungkan sesuatu  kecuali kepada Tuhan.[26]
Pesantren, dengan demikian, lebih mengutamakan faktor keikhlasan hati baik dari pihak santri dan wali santri, ataupun dari pihak kyai,  para pengajar, dan komponen pimpinan pesantren. Konsep ikhlas dalam pendidikan pesantren  merupakan konsep kerelaan hati berbuat baik dalam bentuk apapun, tanpa mengharap imbalan atau upah dari makhluk ciptaan Tuhan. Konsep ikhlas yang dianut oleh komunitas pesantren selama berabad-abad merupakan warisan Wali Songo sebagai kepanjangan dari ajaran tasawwuf al-Ghazali.
Konsep ikhlas dipandang sudah teruji sepanjang sejarah perkembangan umat Islam Idonesia. Para  santri dan  alumni pesantren yang ikhlas dalam arti sesungguhnya dinilai telah berhasil dan lulus dalam kancah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang menawarkan janji-janji menggoda tentang  kemewahan duniawi baik berupa jabatan, pangkat, kedudukan, popularitas, uang, kekayaan bendawi, serta kepuasan-kepuasan psikologis yang sifatnya tidak kekal.
Konsep ikhlas dalam tradisi pesantren mendorong para santri mengejar  kebahagaiaan ruhhaniah yang  kekal, yaitu kedamaian dan ketentraman, karena kedekatan dengan Tuhan sebagai bersihnya hati dan beningnya pikiran dari ambisi mengejar kepuasaan duniaiwi.
Ikhlas merupakan pintu pertama menuju terbentuknya kepribadian muslim yang harmonis baik dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi. Keharmonisasn pribadi berawal dari hati yang bersih dari ketergantungan kepada selain Allah (syirik) dan prasangka buruk (su’u dzan) kepada sesama, serta keragu-raguan dalam bertindak. Kondisi kejiwaan inilah yang paling  pertama ditanamkan sejak santri baru memulai mengikuti pembelajaran di dalam lingkungan pendidikan pesantren.
Sejarah mencatat, akibat keberhasilan pendidikan pesantren dalam menanamkan keikhlasan kepada para santrinya telah banyak memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Beberapa pesantren tua seperti dikemukakan di atas telah berhasil memberikan teladan dengan melakukan konfrontasi secara fisik dengan penjajah. Hal ini dapat dicermati juga melalui letak geografis beberapa pesantren di  tanah Jawa yang sejak semula nyata-nyata menampakkan perlawanan dengan sentra-sentra kekuatan dan ekonomi penjajahan Belanda di Indonesia. Zamakhsyari Dzofir mencatat bahwa Pesantren Tebuireng Jombang  (Jawa Timur)  letaknya tepat berhadapan dengan salah satu pabrik gula terbesar yang terletak  di Desa Cukir Jombang.  Fenomena ini menunjukkan bahwa sejak semula pesantren telah menyatakan konfrontasi dengan kemajuan teknologi Barat yang secara langsug mempengaruhi pola fikir dan prilaku santri waktu itu.[27]
Di wilayah Jabawa Barat terdapat pesantren tua yang terletak di Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Cirebon. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1817. Ketika terjadi Perang Diponegoro di Jawa tengah (1825-1830),  yang dipimpin oleh  Syaykh Abdurrahim putra Amangkurat III dari hasil pernikahan dengan seorang putri Kyai dari Desa Tingkir,  Ki Jatira (kyai yang sebenarnya putra Banten dan utusan kesultanan Mawlana Hasasnuddin Banten) dan para santri pesantren itu tengah berjuang keras melawan Belanda yang bermarkas di Gunung Jaran Desa Gempol Kecamatan Ciwaringin. Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon (didirikan KH. Ahmad Syathori) adalah salah satu pesantren di wilayah kawedanan Arjawinangun yang sebagian bangunan fisiknya mempergunakan tanah bekas pabrik gula yang dibangun  Belanda (regendom). KH. Ahmad Syathori termasuk salah seorang santri KH. Jawhar ‘Arifin Balerante yang tergolong kirtis. Dia juga belajar hadits/ilmu hadits dan fiqih Maliki kepada Syakykh Muhammad ‘Alawiy al-Malikiy di Madinah. Semasa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, sang kyai ini kerapkali keluar masuk penjara karena perlawananya terhadap kekuasaan kolonial.
Beberapa pesantren lain yang juga memposisikan diri berkonforntasi dengan kekuatan penjajah misalnya: Pesantren Kempek Ciwaringin (didirikan oleh K. Harun), Pesantren Balerante Palimanan (didirikan seorang putr bangsawan bernama Cholil), Pesantren Sukun Sari Plered (Weru Kidul), Buntet Pesantren di Mertapada Wetan Kecamatan Astajanapura, dan Pesantren Gedongan Desa Ender Astanajapura. Letak geografis semua pesantren tersebut  mendekati pabrik gula  yang pada masa itu  merupakan  pusat perkonomian Belanda  yang dijadikan tumpuan eksploitasi kekuatan infrastruktur rakyat Indonesia.
E. SIMPULAN
Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia  tumbuh dan berkembang dalam proses sejarah yang panjang. Kehadirannya bersamaan dengan aktivitas penyebaran Islam di Jawa yang dibawa oleh para wali (Wali Songo). Pesantren pada zaman Wali Songo, pemerintahan Demak, dan pemerintahan  Sultan Agung Mataram dari aspek kurikulumnya masih sama dan belum mengalami perubahan dari tujuan dasar ajaran Tariqat Shufi dan Tasawwuf al-Ghazali.
Perkembangan sebelum abad 19 Masehi menujukkan eksistensi pesantren tariqat baik di tanah Jawa maupun di Aceh. Kurikulum pendidikan pesantren mulai mengalami perubahan setelah generasi awal ulama-ulama Nusantara berkesempatan memperdalam ajaran Islam di Timur Tengah, khususnya Makkah al-Mukarromah.
Kontak budaya dengan dunia Islam pada umumnya,  juga mulai terbuka pada abad itu. Generasi awal yang mempunyai santri atau murid langsung boleh berbangga hati karena ternyata sang murid dapat menggoreskan tinta emas ke dalam catatan sejarah perkembangan pendidikan pesantren. KH. A. Hasyim Asy’ari dipandang sebagai tokoh pertama yang melakukan pemabahruan di dalam dunia pesantren.
Pada masanya, pesantren mulai memperkenalkan ilmu-ilmu keislaman dari sumber rujukan primer. Sehingga, pesantren  memiliki tipologi baru yang berbeda dengan sebelumnya. Kalau sebelum Hasyim Asy’ari pesantren hanya berorientasi kepada pengajaran tariqat, maka Pesantren Tebuireng yang didirikannya  berhasil mempelopori pesantren syari’at dengan memperkenalkan kajian berbagai keilmuan islam seperti Ilmu Tafsir dan Ilmu Hadits, dua ilmu pokok untuk memahami al-Quran dan Sunnah Rasul.
Hal layak yang dapat digaris bawahi adalah bahwa, perjalanan panjang dan perubahan umat Islam Indonesia yang dinamis tidak pernah dapat menggeser tradisi keilmuan dan nilai-nilai kesalehan pesantren, yang diwariskan oleh ulama sebelumnya. Tradisi keilmuan dan Konsep kesalehan pesantren tetap memiliki kesinambungan mata rantai dengan:  ajaran Islam  Wali Songo, Tariqat Sufi, Imam al-Ghazali, Teologi al-Asy’ari, Fiqih al-Syafi’i, sampai kepada Rasulullah, Muhammad SAW.
Konsep ikhlas sebagai pembentukan pribadi santri adalah konsep yang bersumber dari ajaran tasawwuf Wali Songo yang tetap dilestarikan sampai dengan sekarang. Komunitas pesantren meyakini keikhlasan tetap menjadi fondasi utama dalam mengantarkan para santri mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, baik sebagai hamba Allah, anggota masyarakat, dan warga negara. Karenanya, konsep ikhlas, yang terbukti telah teruji dan lulus dalam proses seleksi interaksi sosial dari zaman ke zaman, tidak perlu digantikan. Dalam hal ini pendidikan pesantren mesti mengukuhkan norma المحافظة بالقديم الصالح والأخذ بالجدديد الأصلح (Sutejo ibn Pakar). والله أعلم بالصواب

[1] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta : INIS, 1994), h. 55.
[2] Abdurrahman Mas’ud, “Sejarah dan Budaya Pesantren”, dalam, Ismail Huda SM, ed., Dinamika Pesantren dan Madrasah (Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2002), h. 3.
[3] Kafrawi, Pembaharuan SistimPendidikan Pondok Pesantren sebagai Usaha Peningkatan Prestasi Kerja dan Pembinaan Kesatuan Bangsa (Jakarta : Cemara Indah, 1978), h. 17.
[4] Abdurrahman Wahid, Bunga Rampai Pesantren (Jakarta : Dharma Bhakti, 1399 H.), h. 52.
[5] Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren (Jakarta : Dharma Bhakti, 1982), h. 25.
[6] Abu Bakar Atjeh, seperti dinukil Marwan,  melukiskan bahwa pesantren Giri Kedaton sebagai pesantren yang termasyhur di wilayah Jawa Timur. Para santri yang datang untuk belajar di sana berasal dari daerah yang sangat beragam seperti : Madura, Lombok, Bima, Makasar, dan Ternate (Halmahera), selain daeri daerah-daerah di Jawa Timur sendiri. Sampai dengan abad ke-17 M. pesantren ini masih tetapharum dan didatangi oleh para santri untuk menimba ilmu agama Islam di sana. (Marwan Saridjo, h. 25).
[7] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta : Dharma Bhakti, 1982), h. 257.
[8] Marwan Saridjo Op. Cit., h. 27.
[9] Mahmud Yunus, Op. Cit., h. h. 257.
[10] Lihat Ensiklopedi Islam (Jakarta : Ikhtiar Baru, 1993).
[11] Abdurrahman Saleh, dkk.,  Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren (Jakarta : Binbaga Islam, 1982), h. 6.
[12] Abu Bakar & Shohib Salam, “ Pesantren Babakan Memangku Tradisi dalam Abad Modern “, dalam, Agus Sufihat, dkk., Aksi-Refleksi Khidmah NahdhatulUlama 65 Tahun (Bandung : PW NU Jawa Barat, 1991), h. 44.
[13] M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia (Jakarta : Bulan Bintang, 1969), h. 21.
[14] Slamet  Effendy Yusuf, dkk., Dinamika Kaum Santri Menelusuri Jejak dan Pergolakan internal NU (Jakarta : Rajawali, 1983), h. 4.
[15] Ibid.h. 4.
[16] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren (Jakarta : LP3ES, 1982), h. 85
[17] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung : Remaja Rosda Karya, 1992), h. 194.
[18] Abdurrahman Mas’ud, Sejarah dan Budaya Pesantren, h. 20.
[19] Slamet, Op. Cit., h. 4.
[20] Djumhur, I, Sejarah Pendidikan (Bandung : CV Ilmu, 1976, cetakan ke-6), h. 111-112.
[21] Abdurrahman Wahid, “Principles of Pesantren Educatuon”, dalam, Manfred Oepen and Wolfgang Karcher (Ed.,), the Impact of Pesantren (Jakarta : P3M, 1988), h. 198.
[22] Mastuhu, Op. Cit., h. 55-56.
[23] Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pemebaharuan (Jakarta : LP3ES, 1988), h. 7.
[24] Ibid.., h. 27.
[25] al-Jurjani, Ta’lim al-Muta’allim fi Thariq al-Ta’limwa al-Ta’allum, h. 3.
[26] Abdurrahman Wahid, Op. Cit., h. 42.
[27] Zamakhsyari Dzofir, Tradisi Pesantren (Jakarta : LP3S, 1985), h. 101.


Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.