Rabu, 16 Agustus 2017

ASTANA GUNUNG JATI CIREBON

ASTANA GUNUNG JATI  CIREBON
SUTEJO IBNU PAKAR
GEOGRAFIS CIREBON
Terletak di Pantai Utara Jawa, Cirebon disebut sebagai kota udang. Cirebon berarti air udang kecil. Pecahan dari Ci dan Rebon; Ci (atau cai) dalam bahasa sunda berarti “air” dan  Rebon berarti “udang kecil”. Banyaknya rebon atau udang kecil di Cirebon menurut cerita menjadi asal muasal nama kota Cirebon. Daerah Cirebon dahulu pernah bernama Caruban yang artinya tempat dimana orang berbaur dan tinggal berdampingan. Sebagai perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, di sebelah timur Cirebon berbatasan dengan Kabupaten Tegal, di utara dan timur-laut dengan laut, sebelah barat dengan Kabupaten Subang dan Sumedang, di selatan dengan Kabupaten Ciamis.
Secara administratif, Cirebon adalah bagian dari propinsi Jawa Barat. Berdasarkan sistem administratif, kabupaten dan kotamadya memiliki status yang sama. Masing-masing berada di bawah kepemimpinan gubernur Jawa Barat. Setingkat di bawah kabupaten dan kotamadya adalah kecamatan. Satu kecamatan bisanya terdiri dari 10 – 12 desa atau kelurahan. Tiap desa atau kelurahan dipimpin oleh kepala desa atau lurah (Kuwu). Tingkat paling bawah kelurahan masih dibagi lagi menjadi beberapa dusun (RW). Dusun dipimpin oleh kepala dusun yang mengkoordinir beberapa Rukun Tetangga (RT).Kotamadya dan Kabupaten Cirebon, terletak antara 108° 50` Bujur Timur, dan 60° 30` dan 7° 00` Lintang Selatan. Luasnya 984,15 km persegi atau kira-kira 2,15 % propinsi Jawa Barat. Area ini terbentang dari barat ke timur sepanjang 54 km dan dari utara ke selatan 39 km.
FILSAFAIS ASTANA GUNUNG JATI (KOMPLEK  MAKAM)
Komplek Astana Gunung Jati terletak di Desa Astana, Kecamatan Cirebon Utara, 5 km arah utara sepanjang jalur utama Cirebon-Indramayu. Kompleks ini terdir atas dua lokasi yang dibelah oleh jalan raya utama. Dari arah Cirebon, Gunung Jati berada di sebelah kanan jalan raya, sementara di sebelah kiri jalan raya adalah Gunung Sembung.
Dari kaki bukit Gunung Jati, kita dapat berjalan kaki melintasi jalan mendaki melewati makam para sahabat Sunan Gunung Djati; namun, para sahabat ini tidak memiliki pertalian keluarga dengan keluarga keratin. Naik lagi lebih ke atas dekat puncak bukit terlindung pepohonan yang tinggi terdapat makam Syaikh Datu Kahfi. Ia dikenal sebagai guru agama Islam pendahulu Sunan Gunung Djati. Melalui jalan lain ke arah puncak bukit terletak puser bumi, atau sebuah dataran tinggi yang dahulunya merupakan bekas kawah gunung berapi; dari kawah ini kita dapat melihat pemandangan langsung ke laut. Mendekati puncak, terdapat sebuah gua (dalam bahasa arab: kahfi), yang konon menjadi tempat berkhalwat Syaikh Datu Kahfi. Dan dari situlah asal mula  Syaikh Datu Kahfi.
Di seberang jalan utama dari bukit Gunung Jati adalah wilayah bekas Pasambangan (sekarang wilayahnya hanya mencakup Pakemitan yakni sebuah bangunan tempat tinggal pengurus kompleks pemakaman), tempat lokasi kompleks pemakaman Gunung Sembung. Beberapa penjaga mengatakan bahwa dahulu Gunung Sembung adalah sebuah tempat peristirahatan, tetapi setelah Nio Ong Tin (Nyai Rara Sumanding), istri Sunan Gunung Djati yang berasal dari Cina meninggal dunia dan dikubur di sana, tempat itu berkembang menjadi kompleks pemakaman. Nama Sembung konon berasal dari kata sambung, karena tempat itu dibangun dengan menambahkan banyak sekali tanah yang diambil dari berbagai tempat dan ditambahkan ke bukit yang ada.
Berhadapan dengan jalan utama Cirebon-Indramayu di depan Kantor Desa adalah jalan aspal sepanjang 500 meter menuju alun-alun Astana, juga ke kompleks Gunung Sembung, yang terhampar di sebelah Utara. Pendirian bangunan kompleks ini ditunjukkan dalam Candra Sangkala (prasasti) dalam huruf Jawa―yang berbunyi “Sirna Tanaman Warna Tunggal,” bertahun Saka 1400.  Prasasti Candra Sangkala “Sirna (hilang), Tanana (tiada), Warna (empat), Tunggal (satu),” menurut Juru Kunci, mengacu pada angka 0041 yang harus dibaca dari kanan ke kiri. Ia menunjukkan Tahun Saka yang perhitungannya dimulai tahun 78 Masehi.
Di alun-alun terdapat dua bangunan yakni; Pendopo Ringgit dan Mande Mangu. Pendopo Ringgit adalah gedung tempat pertunjukkan wayang atau pertunjukkan lainnya, sedangkan Mande Mangu adalah rumah kayu di sayap barat. Rumah ini berprasasti Candra Sangkala “Singa Kari Gawe Anake,” bertahun Saka 1402, dan konon merupakan hadiah dari Ratu Nyawa, puteri Raden Fatah dari Demak, yang menikah dengan Gung Anom (P. Bratakelana), putera Sunan Gunung Djati. Jalan masuk pertama ke dalam kramat adalah melalui dua gerbang tak beratap (candi bentar), yang diberi nama Gapura Wetan (Gerbang Timur) dan Gapura Kulon (Gerbang Barat). Kata gapura berarti  ‘jalan masuk’ atau ‘gerbang’, dan secara simbolis diasosiasikan dengan kata arab “ghafura,” yang artinya ‘ampunan’, yang menyiratkan bahwa orang yang melalui gerbang ini akan mendapat ampunan.

Beberapa langkah dari Gerbang Timur, dikelilingi dinding setinggi setengah meter membatasi kompleks pemakaman dengan alun-alun di sisi kanan gerbang, terdapat sebuah sumur yang dinamakan Sumur Jati. Di sisi kiri gerbang, tiga buah bangunan berdiri sejajar. Bangunan pertama adalah Mande Cungkup Danalaya, yang berstruktur kayu milik Desa Danalaya (8 km barat Cirebon). Berikutnya adalah museum tempat menyimpan koleksi hadiah dari raja-raja asing kepada Sunan Gunung Djati. Di dalamnya tersimpan puluhan guci dari Dinasti Ming, serta berbagai benda-benda berharga lainnya. Bangunan ketiga disebut Mande Cungkup Trusmi, yang berstruktur kayu milik penduduk Trusmi dan berfungsi seperti halnya Danalaya.
Di gerbang kedua, yang ditandai dengan guci tempat mengambil wudlu, sebelum melakukan ziarah, terdapat Pendopo Soka yang dahulu berfungsi sebagai gedung pertemuan (kini dimanfaatkan sebagai ruang istirahat peziarah). Di sebelahnya adalah Siti Hinggil, yaitu panggung tempat Sultan melemparkan pandangan ke alun-alun. Di dekat Siti Hinggil, berdiri bangunan kayu yang disebut Mande Budi Jajar atau Mande Pajajaran dengan Candra Sangkala “Tunggal Boya Hawarna Tunggal,” bertahun Saka 1401. Mande ini konon dibawa oleh Dipati Jagabaya dari Pajajaran dan digunakan oleh Pangeran Cakrabuana (Walangsungsang) sebagai pemimpin Cirebon di bawah kekuasaan Pajajaran.
Gerbang utama ke tempat tujuan ziarah adalah Gerbang Weregu. Para peziarah harus melewati gerbang ini menuju Pakemitan (bangunan berpilar yang berfungsi sebagai Pasambangan atau kantor pengurus makam). Pasambangan terbagi dua bagian yaitu Paseban Bekel (kantor bekel) di sebelah Barat dan Paseban Kraman (kantor wong kraman) di sebelah Timur. Di kantor inilah pengurus makam menjalankan tugasnya dengan berpakaian adat Cirebon lengkap dengan ikat kepala, kemeja kampret putih untuk bekel atau kutung (penutup dada) untuk kraman, dan tapi (kain batik).
Di sisi kiri sepanjang koridor adalah bangunan Gedongan Raja Sulaeman, yang didirikan oleh Sultan Sepuh IX dan kemudian dijadikan makamnya. Seluruh dinding di bagian ini dihiasi piring porselen Belanda dan Cina. Lantai tempat duduk peziarah berada di dekat gedongan ini. Lantai tersebut membujur diapit Gedongan Raja Sulaeman di Timur, Pelayonan di Barat, Lawang Krapyak di Selatan dan Lawang Pasujudan atau Siblangbong di Utara.  Kedua lawang (gerbang) ini adalah bagian dari sembilan gerbang yang berdiri berurutan dari selatan ke utara, sepanjang jalur mendaki dari alun-alun menuju makam Kanjeng Sunan Gunung Djati di puncak bukit. Urutan Gerbang Sembilan adalah: 1) Gapura Kulaon, 2) Krapyak, 3) Pasujudan atau Siblangbong, 4) Ratnakomala, 5) Jinem, 6) Rararga, 7) Kaca, 8) Bacem, dan 9) Teratai.
Kecuali Gapura Kulon, semua gerbang tertutup rapat dan dibuka hanya pada malam Syawalan khusus bagi Sultan dan keluarga. Krapyak dibuka setiap malam Jumat Kliwon selama tahlilan, tidak untuk dilintasi, melainkan hanya untuk memperlihatkan jalur mendaki menuju bukit.
Ke arah barat, di dekat lantai ziarah adalah Pelayon atau Mande Layon, bangunan kayu yang berfungsi sebagai tempat jenazah disemayamkan sebelum dikubur. Setelah ini, ada tempat bagi peziarah Cina membakar hio untuk memuja Nio Ong Tin, dan terakhir di ujung Barat kompleks makam, berdiri Gedong Keprabon, tempat berziarah khusus bagi Sultan beserta keluarganya (lihat diagram). Gedong Raja Sulaman adalah satu-satunya bagian keraton yang boleh dilintasi oleh peziarah umum. Gerbang lain setelah Lawang Pasujudan di sepanjang sisi Timur dan Barat hingga ke arah puncak bukit, normalnya tidak boleh dilintasi oleh peziarah umum. Hanya ketiga Sultan dan kerabatnya (atau mereka yang memperoleh izin tertulis dari Sultan) yang diperbolehkan masuk.
Gerbang utama dinamakan Gedong Jinem Gusti Syarif, yang terletak di puncak bukit tempat dimakamkannya Sunan Gunung Djati dan 17 tokoh-tokoh penting lainnya―seperti Walangsungsang(Cakrabuana), Fadhillah Khan (Falatehan), Rarasantang (Syarifah Mudaim), dan Nyai Ratu Tepasari (Tepasan). Di atas atap Gedong Jinem ini terdapat memolo (puncak) yang disebut kendi petula (kendi zamrud) bersepuh emas murni. Di balik dinding, di luar 29 blok kraton terletak makam para pendiri (Ki dan Nyai Gede) berbagai desa. Bagian ini terbuka untuk umum pada malam Syawalan dan Raya Agung.

Beberapa langkah dari Gerbang Timur, dikelilingi dinding setinggi setengah meter membatasi kompleks pemakaman dengan alun-alun di sisi kanan gerbang, terdapat sebuah sumur yang dinamakan Sumur Jati. Selain Sumur Jati, ada dua buah sumur lain, yaitu Sumur Kesepuhan dan Sumur Kanoman, yang terletak di ujung Barat komplek  makam.  Selain itu masih banyak sumr lain, salah satunya adalah Sumur Kejayaan di dalam Masjid di sisi Timur-Laut kompleks makam. Banyak peziarah termasuk orang Cina mandi di tujuh sumur (adus sumur pitu), secara berpindah-pindah dari satu sumur ke sumur berikutnya. Tujuan acara mandi ini adalah melepaskan kotoran dari badan (ngirab), sebagai simbol membersihkan semua dosa dan menyingkirkan nahas (mbuang kekebel). Nama-nama ketujuh sumur tersebut adalah:1) sumur Jati, 2) sumur Kesepuhan, 3) sumur Kanoman, 4) sumur Kejayaan, 5) sumur Tegang Pati, 6) sumur Jala Tunda, 7) sumur Kadigjayaan?

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.