Minggu, 16 April 2017

TARDISI MULUDAN

TARDISI MULUDAN
SUTEJO IBNU PAKAR

Tradisi pembacaan kitab tentang pujian kepada Rasul Allah biasanya dilandaskan kepada pendapat para fuqaha' dari madhhab al-Syafi'i, Ibn Hajar al-’Asqalani, misalnya, menyatakan bahwa tradisi seperti itu menyimpan makna kebajikan. Al-Suyuti juga menunjukkan sikap toleran terhadap produk budaya yang dihasilkan oleh tradisi mengagungkan kelahiran Nabi.[1]   Sikap kedua fuqaha  tadi juga disepakati oleh fuqaha' al-Syafi'i yang lain, diantaranya Ibn Hajar al-Haytami dan Abu Syahmah.  Peringatan Mawlid adalah  perbuatan   yang  paling terpuji (min ahsani ma  ubtudi'a), jika disertai dengan amal sosial kemasyarakatan yang baik,  seperti sadekah, infaq serta kegiatan lain yang bernilai ibadah.   


Adalah Presiden Pertama Republik Indonesia (Ir. Soekarno) ini yang berwasiat kepada siapapun yang menjadi penggantinya agar selalu menyelenggarakan peringatan Hari Lahirnya Nabi Muhammad SAW. di Istana Kepresidenan.  Peringatan  Maulid Nabi SAW  atau Muludan   diberdayakan oleh Wali Songo dalam kerangka penyebaran Islam di Nusantara,  sebagai  sarana dakwah dengan berbagai kegiatan yang menarik masyarakat agar terpikat mengucapkan syahadatayn (dua kalimat syahadat),  sebagai pertanda memeluk Islam. Itulah sebabnya perayaan Maulid Nabi disebut Perayaan Syahadatain, yang oleh lidah Jawa diucapkan Sekaten. Dua kalimat syahadat itu dilambangkan dengan dua buah gamelan ciptaan Sunan Kalijaga bernama Gamelan Kiai Nogowilogo dan Kiai Gunturmadu, yang ditabuh di halaman Masjid Demak Bintoro  dalam upacara  perayaan Maulid Nabi. Sebelum menabuh dua gamelan tersebut, orang-orang yang baru masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dulu memasuki pintu gerbang pengampunan  yang disebut gapura (gapura berasal dari bahasa Arab ghafuro, artinya Allah Yang Maha  Mengampuni).
Kesultanan Mataram Islam (Pendiri: Raden Sutawijaya alias Panembahan Senopatri ing Ngalogo Sayyidina Penatagama ing Tanah Jawa), menamai perinagatan  Maulid Nabi SAW dengan sebut Gerebeg Mulud. Kata Gerebeg   berarti  mengikuti, yakni mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara. Perayaan  Grebeg Mawlid sekarang    disempurnakan dengan pagelaran wayang kulit. Puncak prosesinya ditutup dengan pembacaan kitab al-Barzanji, yang dilakukan oleh penghulu Keraton Yogyakarta, sebagai bukti bahwa Grebeg Mawlid adalah tradisi Islam Kesultanan Cirebon (Kanoman Kasepuhan dan Kacerbonan) menamainya dengan istilah Pelal  kata yang diadopsi dari kata bahasa Arab yakni Fahdlun  (utama, keutamaan).

[1] al-Suyuti, Husn al-Maqsid fi 'Amal al-Mawlid, 45-51.



Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.