Kamis, 13 April 2017

PENGALAMAN PUNCAK

IBADAH HAJI : PENGALAMAN PUNCAK
SUTEJO IBNU PAKAR
Haji adalah rukun Islam yang kelima atau terakhir.  Ibadah haji mensyaratkan kesiapan yang sangat prima, karena didalamnya ada  ketentuan yang mencerminkan pengalaman puncak ibadah seseorang. Ibadah haji mensyaratkan kesiapan dalam berbagai hal seperti kekuatan motivasi (niat), kesiapan fisik termasuk kesehatan berbeda dengan puasa yang jsutru mengharuskan kemampuan menahan lapar dan haus sepanjang hari.
Ibadah haji   mensyaratkan  kesiapan dan kecukupan harta berbeda dengan  ibadah puasa yang tidak membutuhkan modal harta. Berbeda dengan  ibadah shalat yang sekadar membutuhkan pakaian penutup aurat dan air untuk bersuci, serta tempat secukupnya. Atau ibadah zakat yang mengharuskan pengeluaran sekadar sesuai ketentuan (nishab).
Berbeda denan ibadah sahalat  ibadah haji mensyaratkan kesiapan fisik untuk melakukan pergerakan dari satu tempat ke tempat lain yang membutuhkan banyak tenaga dan stamina yang prima.  Ibadah haji juga  membutuhkan  pelengkap seperti alat transportasi dan fasilitas akomodasi memadai.
Prateknya, ibadah haji mensyaratkan setiap pribadi untuk mempau beradaptasi dan berkomunikasi dengan siapa dengan tidak memandang perbedaan kulit, ras, atau negara asal setiap orang. Ibadah haji adalah ibadah yang mendidik setiap pribadi mampu memposisikan diri sebagai makhluk Allah yang sama dan sederajat di hadapan Allah. Tidak memadang seseorang dari keturunan (nasab), keilmuan, kekayaan, status sosial dan bahkan usia sekalipun.
Syahadat berfungsi sebagai “mission statement”, puasa sebagai “self  controlling”, serta zakat dan haji sebagai peningkatan “social intelligence” atau kecerdasan sosial. Islam menuntut penganutnya agar senantiasa melaksanakan rukun Islam secara konsisten dan kontinu. 

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.