Selasa, 07 Maret 2017

WILAYAH (KEWALIAN SUFI)

WILAYAH (KEWALIAN SUFI)
SUTEJO IBNU PAKAR
 Siapakah Wali itu?
Wilayah  lazim dikaitkan dan dipahami sebagai sebuah strata atau tingkat kualitan kewalian seseorang sufi.  Terminologi ini sering dijadikan bahan polemik dan kritik para ahli keislaman, baik dari kalangan internal umat Islam maupun kalangan luar, kaum oreintalis  atau  islamoloog. Tidak sedikit ulama-ulama Islam merasa tidak nyaman dengan feneomena kewalian yang menjadi salah satu karakteristik disiplin tasawuf. Ibnu Taymiyah dan para pengikutnya, misalnya, sampai sekarang, masih berkeberatan dengan term tersebut dan menduuhnya sebagai salah satu bentuk penyelewengan pemahaman atau tafsir terhadap ayat al-Quran dan al-Hadits. Syekh ’Abd. Al-Qadir al-Jaylani (470-561 H./1165-1977 M.), yang  mendefinisikan wali secara harfiah, memahami wilayat  sebagai sebuah proses pelatihan yang sistematis tentang pensucian jiwa.
            Namun demikian, para penganut dan pengamal ajaran thariqah, sebagai komunitas yang mengkalim dirinya penganut ajaran para sufi, tidak pernah terusik dan semakin memperkokoh keyakinannya yang diperoleh secara turun temurun dari guru (syaikh atau mursyid) mereka yang telah mengajarkan kaidah-kaidah dan norma-norma kewalian seseorang sufi. Meskipun masih dibutuhkan koreksi  terhadap keyakinan mereka yang, dalam berbagai hal, harus diluruskan dan dikenbalikan kepada al-Quran, al-Sunnah dan doktrin orsinal para sufi klasik dan atau syekh-syekh pendiri thariqah sufi. Seperti anggapan bahwa, “wali itu terjaga dari maksiat. Wali adalah orang yang sudah tidak memiliki sifat-sifat kemunisaan karena sudah diganti dengan sifat-sifat Allah lahir dan batin. Dia telah menyamai Allah SWT, memiliki keuatan menurunkan hujan, menyembuhkan penyakit, menghidupkan orang mati, serta menjaga ilmu dari kehancurannya”. Bagi jumhur ‘ulama’, aqidah seperti ini termasuk syirik rububiyah.
            Wali adalah seseorang yang dikarunia kemampuan untuk memelihara segala bentuk perintah Allah, wajib dan sunnah, memahami perintah Allah, dan merealisasikan ilmu yang dimilikinya. Setiap orang yang memiliki aqidah islamiah (yang bersih) dan perilaku dinilai shah oleh syari’at, maka dia berhak atas kewalian sebagai tanda kemuliaan yang dikaruniakan Allah atas dirinya. Tegasnya, bagi Sahl bin ‘Abdullah al-Tusttari, wali adalah setiap orang yang perilakunya sesuai dengan ketentuan syara’ (al-Quran dan al-Sunnah). Wali, bagi Yahya bin Mu’adz,  tidak terjangkit penyakit riya’ dan nifaq. Dinyatakan, tiga tanda kewalian seseorang adalah: sibuk dengan Allah, lari mengejar Allah dan setiap rencananya kepada Allah. Al-Kharraz menyatakan, manakala Allah menghendaki seseorang hamba diposisikan sebagai wali (kekasih Allah), maka dibukakan bagi pintu untuk mengingat Allah (dzikrullah), dan ketika dia telah mampu merasakan kelezatan  dzikrullah maka dibukakan bagi pintu qurb atau dapat dekat dengan Allah kemudian diangkat-Nya ke maqam merindukan Allah, dan dihantarkan ke kutsi tawhid.  Akhirnya, Allah menyingkapkan darinya segala hijab sehingga dapat memasuki rumah kesendirian (fardiyah). Tidak teman lagi baginya kecuali Allah SWT.
            Puncak kewalian adalah awal kenabian (nubuwwah). Kaum sufi meyakini tidak ada seorang pun yang dapat mencapai tingkatan atau derajat  nubuwwah. Kaum sufi kemudian mengklasifikasikan tingkatan kewalian menjadi : abdal, awtad dan quthb/aqthab. Abdal adalah derajat kewalian seseorang yang telah memenuhi kriteria kemampuan mengemban amanat dan tugas kenabian dalam memasyarakatkan ajaran Rasulullah SAW sebagai pembimbing umat. Awtad  adalah derajat kewalian sesorang yang telah mampu meneladani akhlak nabi Allah yang tergolong ulula’zmi.  Sedangkan quthb  atau  aqthab  adalah derajat kewalian bagi seseorang yang telah mampu meneladani akhlak hamba Allah yang terpilih (ishthifa’). Nabi SAW, dalam berbagai haditsnya, memang pernah mengisyaratkan tentang derajat kewalian umatnya, terutama tentang wali abdal.   [1]
 Strata Kewalian
        Ibnu ‘Arabi, didalam berbagai karyanya, melakukan kategorisasi dan klasifikasi kewalian seseorang berdasarkan kriteria yang ditentukan. Dia mengkelompokkan wali menjadi wali: quthb (gawth), awtad, abdal, nuqaba’, dan nujaba’. Bahkan, dengan berani, ia menentukan beberapa keitimewaan dan kelebihan diluar batas-batas manusia pada umumnya yang dimiliki seseorang wali.[2] Quthb  adalah wali Allah yang memiliki keistimewaan sebagai penglihatan Allah dan berada dialam hati Isrfil. Wali quthb ini hanya ada satu orang didalam satu masa. Satu tingkat di bawah quthb adalah awtad  yang jumlahnya hanya empat sesuai dengan arah mata angina (utara, selatan, timur dan barat). Setiap seorang wali bertugas di datu arah mata angina sebagai penjaga keseimbangan perjalan alam dunia. Tingkat di bawahnya adalah wali abdal (budala’) sejumlah tujuh orang dan memiliki keistimewaan mampu masuk kedalam diri seseorang yang disukainya, tetapi kemudian berpindah ke orang lainnya tetapi tidak diketahui kapan ia datang dan kapan ia pergi.Berikutnya adalah wali naqib atau nuqaba’  jumlahnya 300 dan memiliki kemampuan sama dengan wali abdal.  Terakhir adalah wali nujaba’ atau najib  berjumlah 40 orang dan bertugas memberikan pertolongan dengan cara meringankan beban manusia yang berada didalam kebaikan, atau kebenaran.
Wali Ma’rifat
  Tasawwuf mempunyai dasar pikiran khusus yaitu mencari hubungan langsung  dengan dunia immateri, metafisik atau ghayb, dan memuncak kepada cara ma’rifat pada dzat Allah. Para sufi yang mendapatkan anugerah ilmu kasyf  berarti mengalami dan menguasai ilmu gaib (‘ilm al-Mughayyabat). Mereka berhasil mengalami penghayatan kasyf.  Mereka pun dipuja-puja sebagai wali Allah.[3]  Para ahli ma’rifat, bangkit dari dataran rendah suatu metafor ke puncak Kenyataan. Begitu naik, mereka melihat langsung dan bertatap muka dengan Allah, tidak ada sesuatu pun kecuali hanyalah Dia.[4]  Sufi yang telah  ma’rifat, telah beridiri tegak di dalam Maqom penglihatan langsung kepada Allah.[5]  Kepada mereka yang telah dekat sedekat-dekatnya dengan Allah,  senantiasa faqr dan berharap kepada-Nya,  Allah memberikan derajat ma’rifat dan mukasyafah. Hal ini semata-mata karena hati mereka benar-benar bersih dan dipenuhi dengan cahaya yaqin (nur al-Yaqin).[6]
Wali ma’rifat yang sejati adalah wali yang telah mencapai tingkatan ma’rifatullah dengan mata hatinya dan dialah yang disebut manusia sempurna (al-Isnan al-Kamil). Tetapi, bukan penyatuan atau al-Hulul. Bagi al-Suhrawardi, meyakini adanya al-Hulul sebagaimana konsep diajarkan al- Hallaj  adalah merupakan perbuatan orang zindiq. [7] Al-Junayd menegaskan bahwasanya ajaran al-Hulul muncul dari pemahaman para pemeluk Nasrani dalam mentafsirkan konsep     nasut dan lahut. Kesalahan itu juga berlaku bagi ajaran yang dibawa oleh  Abu Yazid al-Basthami yang diketahui sebagai hasil dari perjalanan ruhaninya mengalami fana`  dan ketika merasa telah dapat menyaksikan Dzat Allah (Ghalabat al-Syuhud). Kedua ajaran tersebut sangat bertentangan dengan ajaran rasul Allah, Muhammad SAW.[8] 
Ma’rifat dalam dunia tasawwuf memang merupakan  kenikmatan  dan kelezatan terbesar yang khusus diperuntukkan bagi hati. Hati yang sudah ma’rifat kepada Allah akan bahagia dan tidak sabar ingin segera berjumpa dengan Dia. Ma’rifat adalah  nikmat yang tidak pernah berhenti, karena hati tidak pernah rusak meskipun jasad manusia telah mati.[9] Seseorang yang telah sampai tahapan ma’rifat  merasa yakin bahwa tidak ada sesuatupun yang bisa memberi faidah apapun bahaya kecuali Allah. [10]
Musyahadah merupakan martabat tertinggi seorang salik dan  tahapan aqidahnya telah mencapai aqidah yang sebenar-benarnya (haqiqah al-Iman) [11] karena hatinya telah mampu mengalami peristiwa yang disebut kasyf atau mukasyafah.[12] Dalam kajian tasawwuf, pengalaman tersebut tidak  dapat dirasakan kecuali dengan dzawq.[13]  Kemampuan intuitif atau dzawq, dapat dilalui seseorang yang telah mampu melalui empat tahapan pengendalian nafsu    (nafs al-Ammarah, nafs al-Mulhamah, nafs al-Muthmainnah, nafs al-Radhiyah, nafs al-Mardhiyah dan nafs al-Kamilah).[14]  Sedangkan ma’rifat yang sebenarnya, menurut Palimbani,  adalah tahapan fana`Fana` dan baqa` adalah sirnanya tabiat kemanusiaan (basyariyah) bersama segala identitasnya dan bekasnya dalam wujud Tuhan.  Atau, sirnanya kesadaran manusia terhadap segala alam fenomena, dan bahkan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Tuhan, sehingga yang benar-benar ada secara hakiki dan abadi didalam kesadarannya ialah Wujud Yang Mutlak. [15]  Seorang sufi yang telah mencapai kesadaran puncak mistis  inilah yang menduduki peringkat insan kamil. [16] 



[1] al-Sayuthi, Jalal al-Din, al-Jami’ al-Shaghir,  109.
[2] Ibn ‘Arabi, Rasail ibn ‘Arabi,  520.
[3] Simuh,  Tasawwuf dan Perkembangannya di Dunia Islam., 226.
[4] al-Ghazali,  Misykat al-Anwar,  h. 113-114;  al-Ghazali,  al-Jawahir, Kairo, 1345, 103-105.
[5] Martin Lings,  Syaikh  Ahmad al-‘Alawi Wali Sufi Abad 20,  terj., Badung, Mizan, 1993, 127.
[6] al-Suhrawardi,  ‘Awarif al-Ma’arif, Indonesia, Makatabah Usaha Keluarga Semarang, t.th.,  301.
[7] al-Suhrawardi, ‘Awarif al-Ma’arif, 384.
[8] al-Suhrawardi, ‘Awarif al-Ma’arif, 8-9.
[9] al-Ghazali, Kimia’ al-Sa’adah, Beirut, Dar al-Fikr, 1996, 9-10.
[10] al-Ghazali,  Ihya` ‘Ulum al-Din,  Juz I, Surabaya, Salim Nabhan wa Awladih, t.th., 230.
[11] al-Buniy,  Ahmad bin Ali,  Imam, Syams al-Ma’arif al-Kubra wa Lathaif al-‘Awarif,  J. III,  Beirut,  Maktabat al-Sya’biyah, t.th.,  436.
[12] al-Buniy,  Syams al-Ma’arif,  454.
[13] Syattâ, Abû Bakr ibn Muhammad, Menapak Jejak Kaum Sufi,  terj., Surabaya,  Dunia Ilmu, 1997,  351.
[14] Yunasir Ali,  Manusia Citra Ilahi Pengembangan Konsep Insan Kamil Ibn ‘Arabi oleh al-Jili, Yakarta,  Paramadina, 1977,  192.
[15] Nicholson,  Fi al-Tasawwuf al-Islamiy wa Tarikhuh,    23.
[16] Ali, Yunasir,  Manusia Citra Ilahi, 79.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.