Selasa, 07 Maret 2017

WIHDAT AL-WUJUD, AL-ITTIHAD, AL-HULUL

WIHDAT AL-WUJUD, AL-ITTIHAD, AL-HULUL
OLEH: SUTEJO IBNU PAKAR
Abu al-Qosim  al-Junayd al-Baghdadi  (w. 299 H.) adalah tokoh yang dianggap sebagai pelopor tasawuf yang terkenal dengan ajarannya tentang tawhid, ma’rifat dan mahabbah. Dialah imam dan guru para syekh sufi generasi sesudahnya.[1]  Pengaruh Al-Junayd  kemudian diikuti oleh Dzu al-Nun al-Mishri dan muridnya, al-Syibli. Menyusul kemudian Abu Sulayman al-Daroni (w. 205 H.), Ahmad bin al-Hawari, Abu ‘Ali al-Husain bin Manshur bin Ibrahim, Abu al-Hasan Sirr bin al-Mughlis al-Saqothy (w. 253 H.), Sahal bin ‘Abdullah al-Tusturi (w. 273 H.), Abu Mahfudz Ma’ruf al-Kurkhi (w. 412 H.), Muhammad bin al-Hasan al-Azdi al-Sullami, dan Muhammad bin al-Husein bin al-Fadhl bin al-‘Abbas Abu Ya’la al-Bashri al-Shufi (w. 368 H.).
Tokoh-tokoh terkenal pada masa awal adalah Thoyfur bin ‘Isa bin Adam bin Syarwan, Abu Yazid al-Busthami (w. 263 H.) pencipta al-Ittihad, Abu al-Faydh Tsawban bin Ibrohim Dzu al-Nun al-Mishri (245 H.) pencipta ma’rifat, al-Husein bin Manshur al-Hallaj (244-309 H.)  pencipta al-Hulul, Abu Sa’id al-Khazzar (226 - 277 H.), Abu Abdullah bin Ali bin al-Husein (al-Hakim) al-Turmudzi (w. 320 H.), dan Abu Bakr al-Syibli (w. 334 H.).  Tokoh—tokoh inilah yang berpengaruh besar lepada generasi sesudahnya seperti   Dzu al-Nun al-Mishri. Dia murid ahli kimia Jabir bin Hiyan. Pada periode ini muncul terminologi mahabbah dan ma’rifat, maqam dan ahwal sufi. Muncul pula  masalah-masalah yang menjadi kajian penting dalam dunia sufi yaitu ‘ilmu batHin dan ‘ilmu laduni, selain masalah ittihad.[2]
        Masa sesudahnya tasawuf mulai dicampuri dengan falsafat Yunani. Maka, muncullah istilah-istilah al-Hulul, al-Ittihad, dan  wihdat al-Wujud,  serta al-Faydh dan al-Isyroq. Tokoh-tokoh berperan pada periode ini adalah Abu Mughits al-Husein bin Manshur al-Hallaj (244-309 H.),  al-Suhrawardi (w. 578 H.),  Abu Bakr Muhy al-Din Muhammad bin ‘Ali bin ‘Arabi al-Hatimi al-Tha’i al-Andalusi (560-638 H.) pencipta wihdat al-Wujud [3], Abu Hafsh ‘Umar bin ‘Ali al-Hamwi atau Ibn al-Faridh (566- 632 H.), dan  Quthb al-Din Abu Muhammad ‘Abd. Al-Haqq bin Ibrahim bin Muhammad bin Sab’in al-Isybili al-Mursi (614-669 H.).
           
Abu Hamid al-Ghazali (450-505 H.) pencipta kasyf,  yang muncul anatara Abad V dan awal abad VI Hijriah, datang  membawa perubahan baru di dunia sufi, dengan mengkompromikan budaya Persia kedalam Ahlussunnah.  Dia sufi terkenal  dalam bidang kasyf dan ma’rifat.  Mulai abad V Hijriah sampai awal abad VII Hijriah muncul Thoriqh al-Qodiriyah (w. 561 H.) yang mendapatkan ijazah tasawuf dari al-Hasan al-Bashri dari  al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib.  Pada masa ini pula muncul istilah-istilah yang tidak lumrah (syath/sytathohat) dari Syihab al-Din Abu al-Futuh Muhy al-Din bin Husein al-Suhrawardi (459-587 H), Abu al-Fath Muhyiddin bin Husein (459-587 H.), dan Abdurrohim bin ‘Utsman (w. 604 H.). al-Suhrawardi berhasil  memdofikasi pemikiran agama-agama Persia Kuno dan Yunani serta Neoplatonisme  kedalam ajarannya tentang al-Faydh yang dijadikan karakter khusus Thoriqoh al-Suhrawardiyah seperti dalam kitab Hikmat al-Isyroqiyah, Hayakil al-Nur, al-Talwihat al-‘Arsyiyah, dan al-Maqomat.  Dialah sufi pencipta madzhab isyraqiyah.[4]
Tasawuf al-Ghazali adalah termasuk tasawuf Sunni, bahkan di tangan al-Ghazali lah jenis tasawuf ini mencapai kematangannya. Lebih jauh Mahmud berpendapat bahwa para pemimpin Sunnî pertama telah menunjukkan ketegaran mereka dalam menghadapi gelombang pengaruh gnostik barat dan timur, dengan berpegang teguh kepada spirit Islam, yang tidak mengingkari tasawuf yang tumbuh dari tuntunan al-Qur'ân, yang selain membawa syari‘ah juga menyuguhkan masalah-masalah metafisika. Mereka mampu merumuskan tasawuf yang Islami  dan mampu bertahan terhadap berbagai fitnah yang merongrong akidah Islam di kalangan sufi. Tasawuf Sunni akhirnya beruntung mendapatkan seorang tokoh pembenteng dan pengawal bagi spirit metode Islami, yaitu al-Ghazali yang menempatkan syari‘ah dan hakikat secara seimbang.[5] 
Di tangan al-Gazali perkembangan tashawwuf sunni  menjadi kian luar biasa. Berangkat dari pemahamannya yang memuaskan terhadap kajian fiqh, ushul fiqh dan ilmu kalam serta ketidakpuasannya terhadap metode pencarian kebenaran yang ditawarkan filsafat membuat konsep tasawuf Islam umumnya dan tashawwuf sunniy, khususnya menjadi demikian merangsang minat masyarakat. Konsep tasawuf dalam perspektif al-Ghazali adalah konsep tasawuf yang memadukan secara tepat antara fikih sebagai perwakilan aspek eksoteris dengan etika dan estetika sebagai perwujudan dari dimensi esoteris sebagaimana yang nampak dalam Ihya' `Ulum al-Din.
Mungkin yang tertinggal dari konsep tasawuf yang diketengahkan al-Ghazali adalah keengganannya untuk mengikutsertakan wacana-wacana filosofis. Bahkan dengan tegas al-Ghazali menyebutkan bahwa jalan ideal untuk mencapai  kebenaran  adalah perilaku tasawuf, bukan tindakan-tindakan filsafati. Dampak dari keengganannya melibatkan unsur-unsur filsafat, menjadikan tasawuf  al-Ghazali nampak kurang greget di mata sebagian pakar tasawuf kontemporer. Namun pada akhirnya, sejarah tidak dapat memungkiri betapa besar jasa al-Ghazali yang metode bertasawufnya masih relevan dalam pergantian zaman.[6]
Memang bangunan tasawuf al-Ghazali tidak sepenuhnya dianggap demikian. Karena, dalam kenyataannya, pada masa sebelum al-Ghazali telah banyak tokoh sufi moderat yang telah berhasil mendamaikan antara tasawuf dan ortodoksi dan pada pasca al-Ghazali pun ternyata konflik antara tasawuf dan ortodoksi terus terjadi dan kadang-kadang justeru lebih keras dari pada yang terjadi sebelumnya.[7]
      Sebelum al-Ghazali, sebenarnya Al-Muhasibi adalah penulis sufi pertama dari barisan terkemuka yang untuk sebagian besar membentuk pola seluruh pemikiran selanjutnya. Bagian terbesar tulisan al-Muhasibi berkenaan dengan disiplin diri (muhasabah) dan karyanya, al-Ri’ayah li Huquq Allah, secara khusus berpengaruh besar pada keputusan al-Ghazaliuntuk menulis Ihya’ ‘Ulum al-Dîn.[8]
Karya lain al-Muhasibi, Kitab al-Washaya (atau al-Nasha’ih) yang berisi rangkaian nasihat-nasihat tentang tema-tema kezuhudan cukup berpengaruh pada tasawuf al-Ghazali. Pengantar karya al-Muhasibi ini bersifat otobiografis, dan dengan baik sekali telah terkandung dalam pemikiran al-Ghazaliketika menulis al-Munqidz min al-Dhalal.[9] Osman Bakar[10] menguatkan bahwa, pada kenyataannya, ciri otobiografis al-Munqidz al-Ghazalitelah dibentuk pada bagian pengantar Kitab al-Washaya al-Muhasibi.[11]
Sufi moderat lain sebelum al-Ghazaliadalah Abu Nashr al-Sarraj (w. 378 H./988 M.). Ia merupakan salah seorang penulis teks tertua tentang tasawuf. Karyanya, Kitab al-Luma’, adalah sebuah buku yang sangat berharga mengenai pengantar doktrin-doktrin dan praktek-praktek para sufi, yang berisi banyak kutipan dari berbagai sumber. Karya al-Sarraj tersebut juga memberikan perhatian khusus pada ungkapan-ungkapan teknis kaum sufi di antaranya adalah ungkapan-ungkapan ekstatik Abu Yazid al-Busthami yang interpretasinya dikutip kata demi kata oleh al-Junaydi. Al-Sarraj menutup bukunya itu dengan uraian panjang dan terinci tentang kekeliruan-kekeliruan teori dan praktek yang dilakukan oleh beberapa sufi.[12]
Al-Sarraj hidup tak jauh dari masa keemasan al-Muhasibi dan al-Junaydi. Al-Sarraj juga telah berupaya dengan keras dan sungguh-sungguh membuktikan bahwa tasawuf sepenuhnya sesuai dengan al-Qur’an, Sunnah dan syari‘ah. Banyak sufi terkemuka menjadi muridnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.[13]
Sufi moderat lain yang sangat penting sebelum al-Ghazali adalah Abu Thalib al-Makki (w. 386 H./996 M.). Karya terkenalnya adalah Qut al-Qulub yang memiliki pengaruh besar bagi tulisan-tulisan tasawuf di masa setelahnya. Karyanya tersebut mengandung lebih banyak argumen yang berhati-hati dan lebih sedikit kutipan yang aneh namun sangat penting sebagai usaha pertama dan sangat berhasil untuk membangun desain menyeluruh tasawuf ortodoks. Sebagaimana al-Muhasibi, Abu Thalib al-Makki telah dipelajari secara hati-hati oleh al-Ghazali dan memberikan pengaruh yang besar atas cara pemikiran dan tulisan al-Ghazalidi mana ia banyak sekali bersandar kepada karya al-Makki ini.[14]
Al-Kalabadzi termasuk sufi moderat lain sebelum al-Ghazali. Karyanya yang terkenal dan dibaca banyak orang sampai kini serta menjadi kompedium yang paling berharga tentang tasawuf adalah al-Ta‘arruf li Madzhab Ahl al-Tashawwuf. Al-Kalabadzi telah berupaya menemukan suatu jalan tengah dan dapat mendamaikan ortodoksi dan tasawuf. Menurut A.J. Arberry bahwa al-Kalabadzi telah membuka jalan yang selanjutnya diikuti oleh seorang sufi yang merupakan teolog terbesar: Al-Ghazali, yang karyanya, Ihya’ ‘Ulum al-Dîn, akhirnya mampu mendamaikan yang skolastik dan yang mistik.[15]
Munculnya berbagai aliran yang membingungkan dan adanya pertentangan antara syari‘ah dan tasawuf pada abad III dan IV Hijriah  mendorong Abu ‘Abd al-RaHman al-Sulami (w. 421 H./1021 M.)   tampil memadukan aspek-aspek esoterik dan eksoterik Islam dan ia mampu menciptakan penggabungan dan saling ketergantungan antara tasawuf dan syari‘ah. Michael Chodkiewicz[16] mengatakan bahwa al-Sulami tidak hanya memadukan antara fikih dan tasawuf, tetapi juga antara beberapa disiplin dan kajian yang berlainan dalam tasawuf. Al-Sulami adalah orang pertama yang menulis tentang sejarah hidup para sufi yang sistematis melalui karyanya yang berjudul al-Thabaqat al-Shufiyyah. Karya al-Sulami yang lain adalah al-Futuwwah, sebuah buku kecil yang mengulas perpaduan antara syari‘ah dan tasawuf.[17]
Sufi lain sebelum al-Ghazali yang perlu disebutkan di sini adalah Abu al-Qasim al-Qusyayri (w. 465 H./1072 M.). Ia adalah sufi terkemuka dari Ahli Sunnah dan karyanya yang terkenal adalah al-Risalah. Kitab ini ditulis oleh al-Qusyayri didorong oleh rasa keprihatinannya atas penyimpangan yang ada dalam tasawuf, baik dari segi akidah maupun moral. Al-Risalah ditulisnya untuk mengembalikan tasawuf kepada jalur yang benar seperti tasawuf para guru golongan sufi yang telah membangun kaidah-kaidah mereka di atas prinsip-prinsip tawhid yang benar. Dengan kaidah-kaidah tersebut, mereka memelihara akidah-akidah mereka dari bid’ah dan dekat dengan tawhid kaum Salaf dan Ahli Sunnah. Karya al-Qusyayri tersebut memberikan gambaran umum yang cermat dan mengagumkan tentang ajaran dan praktek tasawuf dari sudut pandang seorang teolog Asy’ariyyah.[18]
Sufi moderat lainnya sebelum al-Ghazaliadalah Abu al-Hasan ‘Ali ibn ‘Usman al-Hujwiri (w. 465 H./1072 M.). Ia adalah sufi Persia yang terkenal dengan karyanya yang berjudul Kasyf al-Mahjub.[19] Karyanya tersebut bertujuan untuk mengemukakan sebuah sistem tasawuf yang komprehensif, bukan hanya untuk menghimpun sejumlah ujaran para guru sufi, namun mendiskusikan dan menjelaskan juga tentang doktrin-doktrin dan praktek-praktek para sufi. Al-Hujwiri adalah seorang sufi Sunni dan pengikut madzhab Hanafi yang mencoba menjelaskan teologinya dengan satu corak tasawuf tingkat tinggi yang memberikan tempat utama bagi fana’. Namun, ia tetap bersikap moderat untuk menghindari kecenderungan pantheis. Ia sering memperingatkan para pembacanya agar tetap mentaati syari‘ah (hukum Islam) sebagaimana yang dicontohkan oleh semua sufi yang mencapai derajat kesucian yang tinggi.[20]
Sufi-sufi moderat sebelum al-Ghazali, sebagaimana yang telah diuraikan di atas, mempunyai peranan yang sangat penting dalam upaya mendamaikan tasawuf dan syari‘ah, dan mempertahankan ortodoksi Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Pengaruh mereka atas perkembangan tasawuf di kemudian hari, khususnya di dunia Sunni, sangat besar. Karya-karya mereka dibaca secara luas oleh banyak orang Muslim, dan dikaji serta dikutip oleh banyak sufi dan ulama sesudah mereka[21] termasuk yang tampak dalam pemikiran dan karya-karya al-Ghazali.
Abad VII Hijriah  tasawuf  mulai memasuki Andalus  sehingga lahirlah tokoh besar Syeikh al-Akbar Ibn ‘Arabi al-Tha’i (560–638 H.) dengan pemikirannya tentang al-Insan al-Kamil. Dialah tokoh pencipta wihdat al-Wujud  yang mengklaim dirinya sebagai Khotam al-Awliya’.  Karya-karyanya yang terrenal antara lain: al-Futuhat al-Makkiyyah, Fsuhsush al-Hikam, dan Ruh al-Quds. Di Turki muncul tokoh Jalal al-Din al-Rumi sang pencipta thariqah Mawlawiyah.
         Tasawuf di abad VIII-IX Hijriah nyaris tidak mengalami perkembangan yang bermakna selain aktivitas men-syarah kitab-kitab karya ibnu ’Arabi dan ibn al-Faridh. Hampir tidak ada  pemabaharuan dalam pemikiran di kalangan para sufi di abad ini. Tasawuf di era al-Rumi ditandai dengan pergumulan pemikiran kedua tokoh wujudiyah tersebut. Salah satu karya monumental dari abad ini adalah kitab karya ‘Abd. Al-Wahhab bin Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad al-Sya’rani (898-973 H/1492-1565 M.) yaitu al-Thabaqat al-Kubra’. Muhammad Baha’ al-Din al-Naqsyabandi (900-971 H./1317-1388 M.) muncul di abad ini sebagai tokoh pendiri thariqah al-Naqsyabandiyah  thariqah yang di kemudian hari banyak diminati bangsa Indonesia.
   Sufi yang terkenal sebagai pencipta dan penganut faham al-Wujudiyah  adalah: Abu Yazid al-Basthami,  Sahal bin ‘Abdullah al-Tusturi, al-Turmudzi (dikenal al-Hakim), ibnu ‘Atha’ Allah al-Sakandari, ibnu Sab’in, ibnu al-Faridh, al-Hallaj, al-Khathib, ibnu ‘Arabi, al-Rumi, al-Jily, al-‘Iraqi, al-Jami, al-Suhrawardi, dan Bayazid al-Anshari. Madzhab al-Hulul, Wihdat al-Wujud, dan  al-Ittihad berkeyakinan bahwa, sufi dapat mengetahui hal-hal gaib sebagaimana Allah. Tujuan madzhab ini adalah mencapai maqam nubuwwah kemudian berakhir pada titik puncak tetinggi yaitu sampai kepada maqam uluhiyah dan maqam rububiyah. Karenya, didalam beribadah, sufi tidak memiliki tujuan mencari sorga dan menghindar dari neraka, melainkan semata-mata karena Allah sebagai dzat yang disembah dan untuk mencapai peleburan diri (fana’) dengan Allah; Inilah sorga para sufi yang sesungguhnya. Para sufi meyakini Nabi Muhammad SAW, seperti aqidah yang dianut Ibn ‘Arabi, adalah satu-satunya makhluk Allah yang  telah sampai derajat uluhiyah dan bertahta di ‘arasy Allah SWT  dan beliau adalah nur  yang darinya tercipta semua ciptaan Allah.



[1] al-Thabaqat al-al-Shufiyah, 31.
[2] Ibn Taymiyah, Majma’ al-Fatawa, juz I,  h. 363
[3] Ibn ‘arabi adalah termasuk tokoh yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh para guru thariqah al-Naqsyabndiyah karena keutamaan-keutamaan dan karamah  yang dimilikinya (al-Khani, Muhammad bin ‘Abdullah,  al-Bahjah al-Saniyah fi Adab al-Thariqah al-Naqsyabandiyah,  56).
[4] Bakir, Abu al-’Azayim Jad al-Karim, Thalai’ al-Shufiyah, 2006, 17
[5] Mahmud,  ‘Abd al-Qadir, al-Falsafah al-Shufiyyah fi al-Islam,  Kairo, Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1967, 1 dan 151; M. Zurkani, Jahja, Teologi al-Ghazali: Pendekatan Metodologi,  Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1996, . 218-219.

[6] Umaruddin, M.,  The Ethical Philosophy of al-Ghazzali, New Delhi,1996, 123-156.

[7] Noer, Kautsar Azhari , Tasawuf Perenial,  198-201.

[8] Noer, Kautsar Azhari, Tasawuf Perenial,  191.
[9] Arberry, A.J., Sufism: An Account of the Mystics of Islam,  London, George Allen & Unwim Ltd., 1979,  46-47.
[10] Bakar, Osman, Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamic Science,  Malaysia, Nurin Enterprise, 1991
[11] Noer, Tasawuf Perenial,   191.
[12] Noer, Tasawuf Perenial, 192-193.
[13] Noer, Tasawuf Perenial,  193.
[14]Noer, Tasawuf Perenial, 193-194
[15]Noer, Tasawuf Perenial, 194-195.
[16] Michael Chodkiewicz, “Pengantar”, dalam Abû ‘Abd al-Rahmân al-Sulamî, Futuwwah: Konsep Pendidikan Kekesatiaan di Kalangan Sufi, terj.,  Bandung, al-Bayan, 1992,  9.
[17]  Noer, Tasawuf Perenial, 195-196.
[18] Noer, Tasawuf Perenial,  196.
[19] Sistematika karya al-Hujwirî, Kasyf al-Mahjûb, sebagian didasarkan pada Kitab al-Luma’ karya al-Sarraj dan kedua kitab ini serupa dalam rancangan umumnya, dan rincian-rincian tertentu dalam karya al-Hujwirî jelas dipinjam dari karya al-Sarraj. (Nicholson, “Pengantar Penerjemah”, dalam al-Hujwirî, Kasyf al-Mahjub: Risalah Persia Tertua tentang Tasawuf, terj. Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W.M., (Bandung: Mizan, 1993, 12). 
[20] Noer, Tasawuf Perenial,   197.
[21] Noer, Tasawuf Perenial, 197-198.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.