Selasa, 07 Maret 2017

WARGA NU CERBON TAHAN NAFAS DULU?

WARGA NU CERBON TAHAN NAFAS DULU?
SUTEJO IBNU PAKAR
Tidak seharusnya nahdhiyyin larut ke dalam sikap dan tindakan emosional berkepanjangan. Demikian, tegas Kang Tejo (Ketua Lajnah Peguruan Tinggi NU Kab. Cirebon)  ketika ditemui di sela-sela kesibukannya  Sabtu,  25 Agustus 2013.  Ditanya tentang tindakan  dimaksud, dia menjelaskan bahwa, kondisi masyarakat nahdhiyyin  sekarang sedang dihadapkan secara langsung dengan  usaha  "pengkaburan" khithtah NU 1926 secara sengaja. Komentar beberapa tokoh di berbagai media belakangan ini mencerminkan sebuah upaya yang menggiring opini masyarakat tentang adanya ketidak selarasan antara norma-norma organisasi (jam'iyah) dengan tendensi kepentingan sesaat dari kelompok-kelompok "kepentingan".   
Komentar dari manapun, lanjut Kang Tejo, mustinya bersumberkan AD/ART NU.    AD/ART NU  menegaskan bahwa, siapapun baik pengurus NU (Mustasayar, Syuriah dan Tanfidziyah), pengurus  Badan Otonom/Lembaga/Lajnah  tidak dibenarkan melibatkan NU  struktural kedalam persoalan politik praktis (mendukung/tidak mendukung calon atau partai apapun). Sehingga, ketika ada person dari warga NU tidak bisa menahan diri untuk melibatkan diri kedalam kancah politik. Seyogyanya,  seharusnya berani dengan tegas menyebut dirinya(nama pribadi) dan tidak mengatasnamakan NU struktural.Tidak berlindung di bawah kebersaran nama jam’iyyah.
Ketidakselarasan atau ketidakharmonisan norma jam'iyah (AD/ART) dengan tindakan keseharian lazim disebut sebagai "dusta" (istilah agama). Dikhawatirkan, tindakan-tindakan sesaat ini akan menjadi karakter yang melekat sebagai citra diri warga NU.  Tendensi dan kecenderungan terhadap sesuatu  memang kondarti setiap pribadi. Akan tetapi, jangan menyebabkan kita kehilangan 'adalah dan apalagi muruah. Ungakapan-ungkapan dengan meminjam terminologi agama semisal "wajib",  "haram", ataupun "durhaka" untuk memenuhi propaganda poilitik, seyogyanya tidak lagi beredar di kalangan masyarakat kebanyakan.
Berkiprah secara praktis dan langsung didalam kancah "kekuasaan" memang tidak bisa dihindari oleh warga nahdhiyyin. Namun demikian, memposisikan amar ma'ruf nahyu munkar  sebagai alat adalah keniscayaan setiap orang dewasa. Bukan sebaliknya. amar ma'ruf nahyu munkar          jangan diposisikan sebagai tujuan sehingga menghalalalkan (membolehkan) segala-galanya.

Instutusi (NU, partai dan pemerintahan) sebagai media dakwah mengandung nilai-nilai yang harus diagungkan.  Kebenaran sebuah organisasi bersumber dari kesepakatan bersama yang diputuskan dalam permusyawaratan yang diselenggarakan dengan penuh kesadaran, didukung berbagai wawasan keilmuan dan kearifan (kedewasaan) yang menjunjung tinggi nilai "benar" dan "baik". Konsesnsus (ijma') dibuat untuk mencapai kebaikan bersama dan juga kebaikan sesama. Akankah  kebenaran, kebaikan dan keindahan sebagai keluhuran  akan  dipisahkan satu dengan yang lainnya? (sutejo ibnu pakar).

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.