Sabtu, 18 Maret 2017

TQN ABAD 20 M. DI INDRAMAYU CIREBON

TQN ABAD 21 M.  DI INDRAMAYU CIREBON
SUTEJO IBNU PAKAR

Kedatangan Tarekat Qodiriyah wanNaqsyabandiyah (TQN) di Kecamatan Bongas Kabupaten Indramayu, menurut Abdul Hakim,  diawali oleh peristiwa bubarnya yayasan pendidikan al-Wasilah Bongas di tahun 1999-2000. Sejak itu dia sering menuju demak, sampai akhirnya di tahun 2005 di baiat menjadi murid.  

Menjelang  yayasan pendidikan al-Wasilah dinyatakan bubar karena tidak lagi memiliki peserta didik dan seluruh dewan gurunya menyatakan diri keluar, Abdul Hakim mengundang Prof. Dr. Khoril Muniri untuk memberikan ceramah umum di perguruan al-Wasilah dengan harapan perguruan itu mengalami kebangkitan. Singkat kata, sang guru mengamanatkan bahwa, al-Wasilah boleh bubar tetapi selip (pabrik penggilingan padi) kelak akan menjadi penggantinya. Selang beberapa bulan, di awal tahun 2003 Bapak KH. Ahmad (sekarang menjadi mertua Abdul Hakim) mendermakan hasil usaha selipan padinya untuk membangun musholla. Akhir  tahun 2004 mulai ada santri yang belajar mengaji al-Quran di musholla sebagai cikal bakal pesantren Darussa’adah. 

Tarekat sendiri dimulai di akhir tahun 2005. Saat itu, tutur Abdul Hakim,  di bulan November 2005 dilakukan pelaksanaan bai’at oleh gurukepada kami berenam. Keenam orang dimaksud adalah: Abdul Hakim (Demak), Subakir (Semarang), Warman ( Bongas), Suyitno (Cirebon), Sunardi  (Bongas) dan Nono Suhanto (Bongas). Pada tahun 2006 kembali dilakukan baiat, kali ini peserta bai’at bertambah menjadi 12 orang. Enam orang peserta bai’at adalah mereka yang sudah dibai’at di tahun 2005 dan enam orang lagi peserta baru yang semuanya berasal dari Bongas, yaitu : Muh. Yani, Sunarto, Sunanda, Watirah (wanita), Dedi Hafandi  dan Ali Marzuki.

Pelaksanaan bai’at mulai dari tahun 2005 sampai 2010 dilakukan di Demak, di tempat asal sang guru. Sedangkan pelaksanaan bai’at di  bongas baru dilakukan di tahun 2011, yang pesertanya mencapai 38 orang. Pelaksanaan baiat dilakukan jika ada permintaan dari jamaah, persyaratannya minimal ada sembilan orang. Edi salah satu murid tarekat yang dibaiat, kesehariannya memiliki usaha pabrik beras menceritakan pengalamannya, ketika ditanya alassan kenapa ia ikut memasuki dunia tarekat. Ia mengungkapkan bahwa ia memasuki tarekat awalnya memang karena alasan usahanya yang lesu, tapi seiring berjalannya waktu ia tersadar bahwa usaha enak atau tidak  itu tergantung jiwa seseorang. Dan, ia mengungkapkan dengan masuknya ia ke tarekat, hidupnya menjadi lebih tenang. Ia juga bertekad “ketika jaya saya harus lebih giat lagi di tarekat”.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.