Senin, 13 Maret 2017

TASAWUF ISLAM

TASAWUF  ISLAM
SUTEJO IBNU PAKAR
Ketika kaum muslimin mengalami kemunduran dalam hal kekuatan politik dan militer, serta pada waktu mundurnya kegiatran intelektual Islam pada abad ke-12 dan ke-13 Masehi (abad ke-6 dan ke-7 Hijriyah), gerakan-gerakan sufi-lah yang memelihara jiwa keagamaan di kalangan kaum muslimin, serta mereka pulalah yang menjadi perantara menyebarnya agama Islam ke luar dearah Timur   terutama ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. Bahkan di beberapa tempat seperti India struktur organisasi gerakan tasawuf telah membentuk masyarakat setempat begitu rupa sehingga medekati pola-pola yang ada di dunia Islam (Timur Tengah).    

Tasawuf, dimana-mana mudah dan cepat menyesuaikan diri dengan tradisi dan bahkan mistik masyarakat setempat. Beberapa tokoh yang berpengaruh secara signifikan dan dikenali antara lain: al-Ghazali (450-505 H./1058-111 M.), yang telah menguraikan konsep moderat tasawuf  akhlaqi  yang dapat diterima di kalangan para fuqaha’, Ibnu ‘Arabi (560-638 H./1164-1240 M.), yang karyanya sangat mempengaruhi ajaran hampir semua sufi, serta para pendiri tarekat semisal ‘Abd. al-Qadir al-Jaylani (470-561 H./10771-165 M.) yang ajarannya menjadi dasar tarekat Qadiriyah, Abu al-Najib al-Suhrawardi (490-563 H./1096–1167 M.),  Najmudddin al-Kubra (w. 618 H./1221 M.) yang ajarannya sangat berpengaruh terhadap takekat Naqsyabandiyah, Abu  al-Hasan al-Syadzali (560-638 H./1196-1258 M.) sufi asal Afrika dan pendiri tarekat Syadzaliyah,  Bahauddin al-Bukhari al-Naqsyabandi (717-781 H./1317-1389 M.), dan ‘Abdullah al-Syattar (w. 832 H./1428 M.).   Metode tasawuf yang dikembangkan mereka adalah kesinambungan tasawuf al-Ghazali. 

Tasawuf yang berkembang pertama kali di abad ke-15 Masehi sangat berbeda dengan tasawuf yang dipahami dan berkembang luas di tengah masyarakat sekarang ini. Tasawuf pada masa itu masih kental dengan ajaran-ajaran filasafisnya, mempunyai watak dinamis akibat nilai-nilai spekulatif-nya (tasawuf falsafi).  Sementara pada saat ini, tasawuf yang diajarkan leih pada aspek amaliah yang bisa diamalkan secara luas dengan menekankan  amalan dan wiridan-wiridan, kurang menonjolkan pengungkapan rasa cinta mahabbah  kepada Allah, dan kadang-kadang sulit dibedakan dengan pendidikan akhlaq.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.