Sabtu, 25 Maret 2017

TAREKAT CIREBON TEMPO DULU

TAREKAT CIREBON TEMPO DULU
SUTEJO IBNU PAKAR
Sejak dahulu Cirebon selalu menjadi pusat tasawuf dengan sinkretik yang kuat. Banyak pesantren-pesantren kecil di sini mengajarkan tarekat Syattariyah dan Naqsyabandiyah.[1] Tarekat ini memiliki banyak pengikut di kalangan orang Jawa. Disebutkan bahwa, syaykh-syaykh tarekat ini cenderung menedekati penguasa dan mencari pengikut di kalangan elite politik.[2]  Tarekat Naqsyabandiyah sebenarnya sudah semenjak lama hadir di Cirebon. Desa Gunung Sembung Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon pernah menjadi pusat tarekat ini, bersama-sanam dengan tarekat lainnya seperti Syattariyah denganpimpinan  K. Zain, putra KH. Tolhah. Bahkan K. Zain  memiliki seorang khallifah di Desa Krasak (utara Cikampek) bernama Raden Sulaiman.Namun, sekarang kelihatannya tidak berbekas lagi.[3] Bahkan banyak pengikutnya sekarang  beralih ke Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah.



[1] Van Bruinessen, Martun, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, (Bandung, Mizan, 1992), hal. 166.
[2]Burienessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat,  h. 334.
[3]Burienessen, Martin Van,  Tareka Naqsuabandiyah di Indonesia,  Bandung, Mizan, 1992, h. 102

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.