Rabu, 08 Maret 2017

SULUK
SUTEJA IBNU PAKAR
Kalangan sufi meyakini adanya empat tangga yang harus dicapai dalam rangka mencapai kesucian jiwa yang dapat mengantarkan seorang sufi atau calon sufi dapat mencapai ma’rifatullâh atau syuhûd al-Dzat (musyãhadah).[1] Musyãhadah merupakan buah yang diperoleh hamba yang telah mencapai maqãm ma’rifat.[2] Keempat tangga yang dimaksud adalah: [3] dzikrullâh, murâqabah, wuqûf al-Qalb, dan riyâdhah. Tangga terakhir dilakukan dengan cara mengosongkan hati dan jiwa dari segala hal yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan segala kebutuhan badaniah, menyedikitkan makan, menyedikitkan tidur serta ‘uzlah.
Metode yang dapat ditempuh oleh seorang sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah, dapat ditempuh dengan dua cara.[4] Pertama, ia berusaha menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya sehingga yang muncul hanyalah sifat-sifat Allah. Inilah yang dimaksud dengan fanã` Shifãt al-‘Âbid fi Shifãt Allãh.  Kedua, ia berusaha menghancurkan perasaan dan kesadaran akan adanya alam, bahkan dirinya juga, sehingga ia tidak lagi melihat, kecuali wujud Allah semata.  Metode tersebut disebut  sulûk  (perjalanan) yang selengkapnya disebut “sulûk tharîq Allâh Ta’âlâ” (menapaki jalan Allah).
Sulûk adalah perjalanan menuju Allah.  Sulûk  bertujuan untuk sampai kepada maqãm kasyf dan syuhûd. Meskipun demikian,[5] tidak dibenarkan melakukan sulûk dengan niat untuk tujuan memperoleh kasyf dan karãmah.  Ada beberapa ketentuan yang sangat ketat dan berat  bagi murid. Sãlik disyaratkan untuk memiliki kemampuan mengosongkan diri dari segala persoalan duniawi, termasuk tujuan untuk mendapatkan kasyf dan karãmah.  Ketentuan-ketentuan syari’at senantiasa harus dipedomani dan ditepati.  Mampu membebaskan diri dari dorongan hawa nafsu. Akhirnya, murid  disyaratkan untuk selalu terfokus  kepada ‘al-‘Âlam al-Rûhãnîyah serta meninggalkan dunia dan segala yang ada didalamnya. 
Sulûk merupakan aspek praktis dari tasawuf. Karena itu, tujuannya adalah tujuan tasawuf itu sendiri. Tasawuf al-Ghazâlî berpuncak pada situasi yang disebutnya  al-Qurb  atau dekat  kepada Allah, suatu terminologi yang diambil oleh al-Ghazâlî dari al-Qur’ân surat  al-Baqarah; 2: 187. Al-Ghazâlî menyatakan bahwa tasawuf berakhir pada situasi al-Qurb (dekat), sehingga ada sementara orang yang mengira bahwa situasi tersebut sampai kepada al-Hulûl, al-Ittihâd dan al-Wushûl.  Semua itu, menurutnya,   adalah keliru.[6]  Al-Ghazâlî sendiri tetap mempertahankan adanya  jarak  antara hamba dengan Tuhan ketika seseorang mencapai puncak tasawuf, sehingga terminologi yang dipergunakannya adalah “al-Qurb”.[7]
Sulûk merupakan proses pendidikan akhlak yang  mengharuskan beberapa  hal  yang  harus dilakukan seseorang (sãlik) atas bimbingan guru mursyid. Seorang sãlik dikenai berbagai persyaratan yang harus dimilki sebelum melakukan sulûk.  [8] Ia harus memiliki berbagai ilmu pengetahuan yang dapat memperkokoh ketakwaan, sudah berada pada posisi wara’, zuhud  dan tawakkal, serta  mampu menjalani  riyãdhah  dengan penekanan pengendalian hawa nafsu dan perbaikan akhlak, khalwat dan ‘uzlah.
Sulûk mirip dengan suatu sistem dalam pendidikan. Karena itu,  sulûk memiliki komponen: tujuan, peserta didik (murîd), pendidik (guru, mursyîd), alat dan kegiatan.[9] Sulûk  merupakan aspek praktis dari tasawuf.  Karena itu, tujuan sulûk adalah tujuan tasawuf itu sendiri. Tasawuf  berpuncak pada situasi yang disebut  “al-Qurb” (dekat) kepada Allah, suatu terminologi yang diambil  dari al-Qur’ân Surat  al-Baqarah; ayat 187.  Tasawuf  berakhir pada situasi al-Qurb (dekat),  tetapi  tetap   adanya  jarak  antara   hamba dengan Allah.[10]



[1]Mahmûd, Abd. al-Halîm, al-’Ãrif bi Allãh Abû  al-‘Abbãs al-Mursî, Kairo, Dãr al-Mishrîah, 1976,hal. 205. Musyãhadah   adalah tersingkapnya hijâb bagi hamba yang telah mengalami fanâ` secara total. Maqâm hamba atau sâlik, dalam keadaan demikian, adalah maqâm mukâsyafah.
[2]Mahmûd, Abd. al-Halîm, Mahmûd, al-’Ãrif bi Allãh Abû  al-‘Abbãs al-Mursî, hal. 169.
[3]Mahmûd, Abd. al-Halîm, Mahmûd, al-’Ãrif bi Allãh Abû  al-‘Abbãs al-Mursî,  hal. 169.
[4] al-Ghazâlî, Ihyâ’, Juz IV, hal. 135.
[5] al-Kamsyakhãwãnîy,  Jãmi’ al-Ushûl,  hal. 215
[6]al-Ghazâlî, al-Munqidz, hal. 378-379.
[7] Mahmûd, Abd al-Qadîr, al-Falsafah al-Shûfiyah fî al-Islâm, Kairo, Dâr al-Fikr al-‘Arabî, 1967, hal. 232.
[8] al-Ghazâlî, Rawdhat al-Thãlibîn wa ‘Umdat al-Sãlikîn,  hal. 9
[9] Jahja, Zurkani,  Teologi al-Ghazãlî, hal. 219.
[10] Mahmûd, al-Falsafah al-Shûfiyah fî al-Islâm,  hal. 232.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.