Senin, 13 Maret 2017

Struktur Filsafat

Struktur Filsafat
SUTEJA
Metafisika, Ontologi : mempelajari tentang hakikat, asal-usul sesuatu berdasarkan kuantitas, atau kualitas atau kejadiannya. Tinjauan tentang kuantitas melahirkan monisme, dualisme, dan puralisme. Pandangan yang melihat sesuatu berdasarkan tetapnya sesuatu dan melahirkan spiritualisme dan materialisme. Kedua, pandangan yang melihat sesuatu berdasarkan kejadiannya dan melahirkan mekanisme, teleologi, determinisme dan indeterminisme.

Epsitemologi, metode, cara atau sumber pengetahuan. Pandangan tentang sumber pengetahuan melahirkan rasionalisme, empirisme, dan kritisme. Tentang hakikat pengetahuan melahirkan realisme dan idealisme.
Aksiologi, ethika. Dalam hal ini dikenal beberapa aliran seperti naturalisme, hedonisme, utilitarisme, idealisme, vitalisme dan teologi.
Secara umum cabang-cabang filsafat dapat dikemukakan sebagai berikut :
1. Aristoteles
a. Logika, induk filsafat
b. Filsafat teoritis yang terdiri dari fisika, metafisika dan matematika
c. Filsafat praktis yang terdiri dari etika, ekonomi, dan politik
d. Filsafat Poetika (senia) .

2. Dewan Redaksi ENSIE
a. Matematika
b. Logika
c. Filsafat Mengenal
d. Filsafat Ilmu
e. Filsafat Alam
f. Filsafat Kebudayaan
g. Etika
h. Estetika
i. Antropologi  

3. The Liang Gie
a. Logika 
b. Etika 
c. Estetika
d. Metafisika
e. Politik 
4. Endang Saefuddin Anshari
a. Metafisika (filsafat tentang hakikat yang ada di balik alam fisik, tentang hakikat yang transenden, di luar atau di atas jangkauan pengalaman)
b. Logika (filsafat tentang pikiran yang benar dan pikiran yang salah)
c. Etika (filsafat tentang tingkah laku yang baik dan yang buruk)
d. Estetika (filsafat tentang kreasi yang indah dan yang jelek)
e. Epistemologi  (filsafat tentang ilmu pengetahuan)
f. Dan lain-lain filsafat khusus 

Mengapa mempelajari filsafat, karena :
a. Filsafat memberikan keterangan pikiran dan kemantapan hati dalam menghadapi cobaan. Ia juga memberikan kesadaran arti hidup yang sebenarnya.
b. Filsafat menentukan manusia mencapai kebenaran dalam arti seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya, tujuan yang tertinggi dan satu-satunya.
c. Berfikir berarti mengatur hidup seinsaf-insafnya yaitu tanggung jawab kepada pokok, dasar hidup yang sedalam-dalamnya.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.