Sabtu, 25 Maret 2017

QALB, RUH, NAFS

QALB, RUH, NAFS
SUTEJO IBNU PAKAR
Qalb, rûh, atau nafs dalam arti metafisis adalah substansi tunggal yang tak terbagi-bagi, berdiri pada dirinya, bukan jisim dan tidak menempati jisim, serta tidak mengambil ruang dan arah tertentu. Watak esensialnya adalah mengendalikan badan sebagai alatnya.[1] Hakikat rûh sendiri termasuk ‘âlamal-malakût,[2] sejenis malaikat.[3] Ia termasuk rahasia Allah, di mana rasul tidak membicarakannya,[4] dan tidak mengizinkan untuk menjelaskan hakikatnya kecuali sekedar mengkaji karakteristik dan fenomena-fenomenanya yang penting untuk kehidupan manusia.[5] Tetapi tidak mustahil ada wali dari umatnya di mana rahasia ini bisa terbuka baginya, dan dalam syara’ tidak ada dalil yang memustahilkannya.[6] Jadi, rasul tidak diizinkan menjelaskannya kepada yang bukan ahlinya.[7]



[1]al-Ghazâlî, Mi‘yâr al-‘Ilm, (Beirût: Dâr al-Kutûb al-‘Ilmiyah, 1990), hal. 233-234; Al-Ghazâlî, Kîmiyâ’ al-Sa‘âdah, hal. 112-114; dan al-Ghazâlî, Ma‘ârij al-Qudsi, hal. 24-43.
[2]al-Ghazâlî membedakan alam (kosmologi) dalam tiga bagian, yaitu ‘âlamal-mulûk wa al-syahâdah (dunia material), ‘âlamal-jabarût (dunia selestial), dan ‘âlamal-malakût (dunia rohani). Konsep pembagian alam tersebut sangat sinkron dengan konsep al-Ghazâlî mengenai tahapan-tahapan atau pendakian menuju Tuhan yang akan dibahas lebih jauh dalam pembahasan selanjutnya.
[3]al-Ghazâlî, Kîmiyâ’ al-Sa‘âdah, hal. 111.
[4]Ibid., hal. 111-114.
[5]al-Ghazâlî, Ihyâ’, Juz III, hal. 3; Juz IV, hal. 112.
[6]Ibid., Juz I, hal. 100; al-Ghazâlî, Mahk al-Nazhar, hal. 137.
[7]al-Ghazâlî, Al-Madnûn al-Shaghîr, (Beirût: Dâr al-Hikmah, tt.), hal. 41-44. 

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.