Rabu, 08 Maret 2017

PENDEKATAN KULTURAL

di atas langit ada langit”
PENDEKATAN KULTURAL
OLEH: SUTEJO IBNU PAKAR
Perlakuan lazim  para failosof dan  kelompok pecinta atau penggemar filsafat, memposisikan persoalan manusia, alam dan kehidupan sebagai diskursus penting dari filsafat pendidikan Islam.   Urgensi  alam dan kehidupan harus ditempatkan sebagai prasyarat bagi ada tidaknya kekhalifahan manusia di muka bumi ini.  Tanpa keduanya tidak akan pernah ada kekhalifahan Allah bagi manusia.  Sayangnya, argumen yang ia pergunakan selalu mengandalkan  dalil naqli; sangat langka argumen-argumen empiris. Pendekatan yang lazim berlaku  dalam  tradisi kaum mutakallim generasi awal (scholastik) adalah    jalan ikhtira’. Umat Islam selalu  mempelajari ayat-ayat kawniyah (alam semesta) dalam kerangka  berfikir secara analogis (qiyasi)  dan induktif (istiqrai).   
Kajian tentang  persolan manusia, juga mempergunakan pendekatan filsafis  dengan bersandar kepada wahyu.   Karenanya,   kesucian fitrah ditetapkan sebagai prasyarat kesempurnaan manusia. Dan, untuk mengembalikan manusia ke asal fitrahnya sebagai ahsan taqwim itu,   pendidikan harus dipilih sebagai satu-satunya wasilah  yang menjamin dapat tercapainya tujuan tersebut.  Pendidikan diharapkan dapat menjadikan  pribadi-pribadi yang yang memiliki jiwa dan perilaku khasyah  (takut) kepada Allah. Pendidikan hendaknya dipola sedemikian rupa, sehingga dapat mengembalikan manusia kepada asal usul semula manusia sebagai makhluk yang suci.   Falsafah pendidikan qurani  menetapkan  empat faktor penting sebagai penopang  yaitu:  faktor aqidah atau keyakinan, faktor  sosial, faktor geografis, dan faktor usia atau waktu. Untuk mendukung keempat faktor itu  perlunya melibatkan empat macam ilmu pengetahuan yang berhubungan secara langsung dengan persoalan kemanusiaan peserta didik. Keempat ilmu pengetahuan itu adalah: biologi, ilmu ekonomi, ilmu sejarah dan ilmu sosial.
Tujuan pendidikan   adalah keharmonisasn antara dua aspek  kehidupan manusia, yaitu kehidupan individual dan sosial, serta kehidupan duniawi dan ukhrawi. Berkenaan dengan harmonisasi kedua aspek utama itu, ia menyarankan dilakukannya kajian serius sekitar :  hakikat manusia, upaya pembinaan dan pengembangan kepribadian, dan upaya mempersiapkan masa depan individu. Beberapa aspek pendididikan Islam yang dicanangkan setidaknya meliputi   hal-hal yang terkait dengan persoalan pembinaan aqidah islamiah, pensucian jiwa, pembinaan pola fikir dan pilihan prioritas pengetahuan islami, persiapan pelaksanaan tugas-tugas professional akademis, serta aspek-aspek lain  pemandu pendidikan Islam.  Semua aspek tersebut dapat dinilai sebagai pemikiran yang mewakili ide umum  tentang manusia sebagai  makhluk  ruhaniah, makhluk pribadi dan makhluk sosial. Aspek-aspek yang musti ada dalam pendidikan Islam  adalah: pemahaman tentang perkembangan sebagai sebuah keniscayaan karena ia merupakan sunnah (hukum) kehidupan. Kedua, bersikap bijkasana terhadap tradisi dan kebudayaan.  Ketiga, keterbukaan terhadap berbagai kemajemukan informasi terkait dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Keempat,  keserasian antara ilmu dan amal, kelima, kewajiban belajar, keenam faktor keikhlasan, ketujuh, kontinuitas pembelajaran, kedelapan, pembatasan aspek rasio, dan urgensi relasi guru-murid.
Perkembangan asalah realitas perubahan yang dinamis. Pendidikan dapat saja melakukan berbagai antisipasi dan bahkan tindakan pengubahan dan pembaharuan (tajdid). Akan tetapi  dikehendaki adanya  usaha itu disesuaikan dengan dasar-dasar yang ditentukan  Islam agar tidak menyalahi sunnah.   Pembaharuan dibatasinya dalam hal-hal yang dipandang baik dan terpuji secara syar’i. Metode dan pendekatan yang lazim dalam cara-cara dakwah pegiat atau  aktivis  Islam Inklusif   berusaha memperlakukan tradisi dan  budaya lokal yang secara turun temurun sudah terkristalisasikan sebagai sesuatu yang tidak harus dibuang tetapi juga tidak dipelihara sepenuhnya secara  utuh.  Pendidikan  menghendaki ikhtiar islamisasi isi atau   essensi sebuah trdaisi atau  budaya.
Urgensi proses pendidikan yang berkesinambungan   semata-mata karena keyakinan yang kuat bahwa “di atas langit ada langit”, “di atas ilmu Musa masih ada ilmu Khidhir”.  Ketertutupan terhadap berbagai informasi mengakibatkan pendidikan Islam stagnant, statis dan bahkan mati.  Adalah pendirian yang benar sepanjang zaman dimanapun bahwa, ilmu harus menjadi penggerak amal saleh dan amal perbuatan musti didukung oleh ilmu pengetahuan. Pendirian inilah yang menjadi jiwa pendidikan yang qurani. Konsep  relasi guru-murid  lazimnya pendirian penganut setia Islam,  tidak lain adalah pola relasi yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW yang seluruh aspek kehidupannya merupakan uswah hasanah.
Asumsi yang beraku dalam konunitas failosof muslim dan para sufi,  pendidikan qurani  bermaksud memberlakukan keikhlasan sebagai motivasi awal yang musti dimiliki oleh setiap calon peserta didik. Al-Quran  menetapkan motif dasar belajar adalah ikhlash dalam arti semata-mata karena mencari mardhatillah, dan bukan karena tujuan-tujuan duniawi, baik yang bersifat materi kebendaan, popluritas,   jabatan,  ataupun  status sosial seseorang di tengah-tengah pergaulan masyarakat.      Pembatasan aspek rasio lahir dari asumsi dasar  tentang dua kategorisasi  ilmu secara epistemologis. Ilmu pengetahuan berdasarkan sumbernya didalam al-Quran dikategorikan menjadi ilmu pengetahaun yang diperoleh dengan jalan  wahyu Allah dan ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan jalan eksperimen secara empiris.  Ilmu jenis pertama, menurutnya, terkait dengan masalah-masalah metafisik atau mughayyabat. Ilmu ini diharapkan dapat memperkuat dan menyempurnakan ilmu dan keimanan.
Tradisi dan budaya doktriner adalah warian  sejarah masa lampau generasi feodal. Feodalisme pendidikan Islam dimulai semenjak kejayaan Mataram Islam mengendalikan pendidikan sistem pesantren di bawah kekuasaan Panembahan Senopati dan diperkokoh semasa pemerintahan Sultan Agung Mataram. Dan, pada akhirnya berlangsung dalam tradisi pendidikan pondok pesantren, madrasah dan lembaga pendidikan tinggi (UIN/IAIN/STAIN).
Untuk beberapa dekade kesan doktriner dan dogmatik masih dialamatkan kepada lembaga pendidikan tradisional semisal pondok pesantren dan madrasah (bukan sekolah). Udara perubahan dengan munculnya kelompok-kelompok modernis dan rasionalis, secara berangsur menghapus kesan doktriner dan dogmatik dari proses pembelajaran di lembaga pendidikan tinggi semisal  IAIN.  Kesadaran itu juga tumbuh subur di kalangan mutakhharij (alumni) pendidikan pesantren.  Akan tetapi perubahan dahsyat, yang secara essensial mengulang sejarah feodalisme mulai   menyusup kembali kedalam lembaga pendidikan tinggi Islam di Indonesia akibat dari jiwa para praktisi lembaga pendidikan tinggi yang  shock culture.
Sejarah memang selalu berulang. Semangat  doktirnasi, anarkhisme ilmiah, dan pembunuhan karakter terjadi kembali di lembaga perguruan tinggi  Islam. Akibat salah kaprah memahami percepatan  globalisasi sains dan teknologi di dunia perguruan tinggi secara tidak disadari sedang berlangsung anarkhisme ilmiah di satu sisi dan di sisi lain terjadi kultus inividu dan pendewaan terhadap sekelompok ilmuwan tertentu, yang diidolakan tentunya.  Pembunuhan karakter juga tidak bisa dihindarkan.  Kenyataan ini justru berlangsung di jenjang pendidikan tinggi dan menjadi makanan “sepesial”  kalangan ilmuwan. Multikulturisme juga memiliki andil tidak kecil dalam  hal ini sebagai sumber inspirasi anarkhisme, dan “kebanggan” (bandingan dari tawadhu’) ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pendidikan Islam di jenjang  pendidikan tinggi telah tercabut dari akar budaya dan kukltur Islam semasa  Rasulullah SAW masih jumemeng (hidup). Kemauan  melepaskan diri dari doktrin juga sangat kuat dan terbukti membuahkan hasil terlepasnya ikatan-ikatan secara kuktural-kesejarahan genarasi muda dengan generasi terdahulu.  Sikap ketidak mengertian terhadap aspek kesejarahan ilmu pengetahuan  dan peradaban Islam, merupakan salah satu penyebab sikap appriori setiap generasi.  Appriori yang terlanjur terpelihara inilah sebenarnya  sumber permasalahan pertama yang melahirkan sikap dan perilaku doktrinasi, anarkhisme  dan pembunuhan karakter  dalam proses pembelajaran di lembaga perguruan tinggi Islam.
Ketika pemahaman yang   tidak memihak (neutral) diarahkan kepada aspek kesejarahan umat Islam,   kita akan mendapatkan beberapa fakta sejarah pendidikan islam di Indonesia yang tidak seluruhnya baik tetapi juga tidak seluruhnya buruk.   Mencari sisi-sisi kebijakan  kultural yang  terbebas dari kesan doktriner, dogmatik dan anarkhis mesti diawali dengan penelaahan dan pemahaman kritis terhadap fakta sejarah pendidikan islam di Indonesia. Penelaahan dimaksudkan  untuk mencari bukti-bukti konkrit praktek kependidikian yang bersifat  doktriner dan dogmatik. Penemuan ini diharapkan mampu membantu  pemahaman baik secara ontologis,  epsitemologis ataupun aksiologis  tentang pendidikan yang dikesankan sebagai  doktriner.  Karena, istilah dibentuk oleh sejarah dan bukan sebaliknya.
Pemahaman terhadap fakta sejarah berarti langkah indah memahami kultur  atau budaya Islam. Kultur Islam adalah dibentuk oleh kehendak wahyu dan  tradisi  yang berlangsung sebelum wahyu itu turun ke bumi. Maka,  membebaskan  lembaga perguruan tinggi Islam dari kesan dan praktek doktrinasi, dogmatisme, dan anarkhisme  mau tidak mau harus dikembalikan kepada sumber  wahyu, Allah dan Rasulullah SAW.  Akan tetapi,  langkah startegis yang lebih esensial adalah menelaah kembali perjalanan sejarah doktrinasi dan dogmatisme sebelum meloncat jauh ke sumber Islam karena persoalan doktrinasi bukan persoalan penedekatan kewahyuan.  Persoalan doktrinasi adalah persoalan pengalaman sejarah umat manusia yang keliru memahami teks-teks wahyu dan karenanya harus didekati secara humanis-empiris.

Untuk merumuskan kebijakan kukltural pendidikan islam yang terbebas dari kesan doktrinasi selain menggunakan pendekatan kesejarahan dituntut mampu memahami kultur umat Islam itu sendiri.  Pendekatan kulktural adalah  kunci  bagi perumusan upaya dalam kerangka mencari kebijakan kukltural tersebut. Pendekatan kuktural adalah pendekatan yang memiliki  karakter  adaptatif, akomodatif dan persuasive terhadap berbagai  kemajemukan  tradisi dan budaya.  Target utama pendekatan  kultural  adalah mengislamkan setiap apa pun tanpa harus merubah bentuk dan penampilan luarnya.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.