Minggu, 12 Maret 2017

PEMERIINTAHAN WALISANGA

EDISI PESANTREN PENDIRI NUSANTARA 
WALISANGA ITU ULAMA DAN JUGA UMARO'
SUTEJA IBNU PAKAR
Wali Songo  dan komunitas pesantren selalu loyal pada missinya sebagai pewaris Nabi Muhammad yang terlibat secara fisik dalam rekayasa sosial. Misi utama mereka adalah menerangkan, memperjelas, dan memecahkanpersoalan-persoalan masyrakat, dan memberi modelidealbagi kehidupan sosial agama masyarakat. Model Wali Songo  yang diikuti oleh para ulama di kemudian hari telah menunjukkan integrasi antara pemimpin agama dan masyarakat yang membawa mereka pada kepemimpinan proaktif dan effektif. Pendekatan dan kearifan Wali Songo  kini terlembagakan dalam esesni budaya pesantren dengan kesinambungan ideologi dan kesejarahannya.

Keberhasilan pendidikan Islam  Wali Songo  terhadap pendekatan penguasa tercermin dalam menyatukan unsur pemimpin agama dan negara. Dikotomi antara ulama dan raja, sebagaimana diteladankan oleh para pemimpin sesudah Nabi Muhammad (Khalifah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali)   tidak mendapatkan ruang dan tempat dalam ajaran dasar Wali Songo. Ajaran ini, sebagaimana dikemukakan Abdurrahman Wahid, adalah warisan Sunan Kalijaga sebagai grand desinger dan kemudian dipopulerkan oleh Sultan Agung.  Namun demikian seperti dikemukakan di atas, pendidikan Wali Songo  mudah ditangkap dan dilaksanakan. 

Wali Songo dan kyai Jawa adalah agent of social changer  melalui pendekatan kultural. Ide cultural resistence   juga mewarnai kehidupan intelektual pendidikan pesantren. Subjek yang diajarkan di lembaga ini adalah kitab klasik yang   diolah dan ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikut, yang sekaligus merujuk kepada keampu-an kepemimpinan kyai-kyai. 

Pendirian pesantren ini dipandang sebagai upaya penting komunitas pesantren karena mulai memperlihatkan sikap pesantren menentang hegemoni penjajah. Boleh dijuga diasumsikan motivasi politik yang ditujukan Pesantren Tebuireng adalah manifestasi kesadaran diri dan percaya diri paling tertinggi dari kaum pesantren. 

Pada wal abad ke-20 M., Pesantren Tebuireng di bawah pimpinan   KH. A. Wahid Hasyim (1916 M. = 1335 H.)  berhasil melakukan perubahan  yang radikal  secara kelembagaan berkenaan dengan kurikulum pesantren.  Dia memasukkan pendidikan persekolahan (komunitas pesantren menyebutnya sistem madrasi) dengan mendirikan Madrasah Nidzamiyah di dalam lingkungan pesantren.  Di madrasah itu diajarkan berbagai mata pelajaran yang oleh seluruh komunitas pesantren saat itu dihukumi haram dan yang mempelajarinya divonis kafir. Mata pelajaran yang dimaskud  adalah : Berhitung, Ilmu Bumi, Sejarah, Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Belanda. 

Perkembangan pada masa-masa selanjutnya berhasil mencatat pesantren sebagai lembaga pendidikan agama (Islam) yang mampu melahirkan suatu lapisan  masyarakat  dengan tingkat kesadaran dan pemahaman keagamaan (Islam)  yang relatif utuh dan lurus.   Di sisi lain,  sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memegang peranan penting dalam penyebaran ajaran agama (Islam) prinsip dasar pendidikan dan pengajaran pesantren adalah pendidikan rakyat. Dan, karena tujuannya memberikan pengetahuan tentang agama,  ia tidak memberikan pengetahuan umum. 
 

 

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.