Rabu, 08 Maret 2017

PEMBINAAN MURID TAREKAT

PEMBINAAN  MURID TAREKAT
SUTEJO IBNU PAKAR
Pembinaan murîd  adalah  usaha membantu ke arah pengembangan kepribadian lebih baik. Kepribadian yang dimaksud [1] adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain. Kekhasan itu adalah integrasi  karakteristik dari pola tingkahlaku, minat, pendirian, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang.  Pembinaan kepribadian yang baik adalah pembinaan yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh  aspek kepribadian secara imbang dan harmonis. Aspek-aspek kepribadian meliputi aspek jasmani dan ketrampilan fisik, pengetahuan, dan mental atau ruhani. Atau fungsi kognitif, afektif dan konatif yang  akan membantu seseorang dapat memahami dan meyakini pengalaman keagamaan.[2]
Pemahaman murîd  tarekat terhadap ajaran Islam kemudian sangat mempengaruhi kualitas keyakinan dan pengamalan keagamaan dalam kesehariannya. Sebagai seorang muslim, murîd  tarekat  seyogyanya dapat menecerminkan  diri sebagai individu yang kepribadian muslim. Pribadi  muslim adalah individu yang meyakini dan mengamalkan rukun-rukun Islam (syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji)  secara istiqãmah dalam kesehariannya. Karenanya, proses pembinaan kepribadian murîd  kedua tarekat tersebut  merupakan bantaun bagi murîd tarekat untuk dapat menjadi pribadi muslim.
Proses pembinaan kepribadian murid tarekat diharapkan dapat menghasilkan pribadi-pribadi yang dapat menghayati dan mengaplikasikan keyakinan yang kuat terhadap semua rukun Islam.  Sehingga dalam kesehariannya terpancar keutamaan dan kemuliaan dari kemampuan menginternalisasikan nilai-nilai syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji.  Nilai-nilai syahadat akan melahirkan individu yang memiliki konsistensi kuat terhadap semua ajaran Islam karena dia telah melakukan ikrar dengan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Dia tidak mudah menerima pengaruh-pengaruh luar Islam sebelum benar-benar memahami baik buruknya.
Nilai-nilai shalat yang harus  tercermin dalam setiap murid anntara lain  adalah dimilikinya kedamaian (thuma’nînah) dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana diajarkan didalam rukun shalat dan kemampuan memfokuskan diri kepada  tugas hidup sehari.  Dia adalah pribadi yang disiplin dan mampu  memanfaatkan waktu untuk hal-hal positif.   
Penghayatan terhadap nilai dari syariat  puasa akan menampilkan  indvidu yang  jujur, tidak mudah mengeluarkan ucapan yang kurang bermanfaat,  merasakan kehadiran Allah atau merasa  selalu diawasi Allah (murãqabah).  Pribadi yang menghayati syariat puasa adalah pribadi yang gidup dalam kesederhanaan, memiliki kepedulian dan empati yang kuat terhadap sesama. Penghayatan terhadap syariat  zakat akan tercermin dalam perilaku keseharian yang gemar dan mencintai kebersihan lahiriah dan batiniah, serta kehati-hatian dalam proses perolehan dan pemanfaatan harta kekayaan.    Rukun Islam yang kelima adalah adalah ibadah haji.  Ibadah haji didalamnya terdapat ibadah ‘aqlîyah, ibadah jasmaniyah, dan ibadah mãlîyah karenanya  ibadah merupakan  lambang atau symbol dari  puncak keislaman keislaman seseorang. Ibadah haji adalah lambang keharmonisan aspek jasmaniah dan aspek ruhaniah dalam berkhidmat kepada Allah SWT, baik dalam melaksanakan tugas sebagai hamba dan fungsi sebagai khalifah Allah


[1]Tim Widyatamma, Kamus Psikologi, Jakarta, 20120, hal. 249
[2] Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama,  Jakarta,  Bulan Bintang, 1970,

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.