Minggu, 12 Maret 2017

PEMBELAJARN FIKIH DI PESANTREN

EDISI PESANTREN PENDIRI NUSANTARA
PEMBELAJARN FIKIH DI PESANTREN
SUTEJA IBNU PAKAR

Pengamatan terhadap kurikulum yang dipergunakan pendidikan pesantren, ditemukan kebenaran anggapan bahwa pondok pesantren dengan  kurikulum yang dikenal sekarang memang sudah ada sejak zaman Wali Songo (Abad ke-15 dan 16 M.).   Namun demikian,  diperlukan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan bahwa tarekat memainkan peranan yang sangat penting pada gelombang islamisasi yang pertama. Di antara naskah-naskah Islam paling tua, dari Jawa dan Sumatera, yang masih ada sampai sekarang  (dibawa ke Eropa sekitar tahun 1600 M.) kita menemukan tidak adanya risalah-risalah tasawuf dan cerita-cerita penting keajaiban yang berasal dari Persia dan India, tetapi juga kitab peganagan ilmu fiqih yang baku. Risalah-risalah keagamaan berbahasa Jawa paling tua yang masih ada sekarang tampaknya menunjukkan adanya usaha mencari keseimbangan ajaran-ajaran ketuhanan, fiqih dan tasawuf. 

Sejarah mencatat bahwa, perjalanan Islam ke Indonesia melalaui Persia dan anak benua India ketika itu dicatat sangat berorientasi pada tasawuf. Kitab-kitab yang berhasil menggabungkan fikih dengan amalan-amalan akhlak merupakan pelajaran utama di pesantren-pesantren. Karaya-karya al-Ghazali seperti  Ihya’ ‘Ulumal-Din, Bidayat al-Hiadayah, Minhaj al-‘Abidin,  dan sebagainya merupakan karya fikih-sufistik yang sangat mendominasi kurikulum pendidikan pesantren. Sepanjang tujuh abad lamanya (abad ke-13 sampai 19 M.), fikih-sufistik itu berkelindan dengan mistik Jawa dan budaya-budaya lain di Indonesia, sehingga ia tidak hanya memasuki dunia pesantren, tetapi juga seluruh kehidupan umat IslamIndonesia. Sifat utama dari fikih-sufistik ini ialah mementingkan pendalaman akhlak yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.  Hipotesa ini menunjukkan bahwa, ajaran tasawuf al-Ghazali, yang lebih moderat,  lebih lama dan kuat di Indonesia daripada ajaran panteisme.   

Selain kitab-kitab karya al-Ghazali, sampai saat ini di seluruh pesantren masih sangat kuta pengaruh kitab Ta’lim al-Muta’allim fi Thariq al-Ta’allum karya al-Zarnuji. Kitab ini merupakan pedoman bagi santri dalam menuntut ilmu di pesantren, bersama-sama dengan kyai dan sesama santri. Di antara materi kitab ini adalah adanya penekanan untuk menghormati dan mematuhi guru dan  kitab-kitab yang diajarkannya.  Karena itu, pemberian ilmu yang bersifat penalaran akal di pesantren agak tersingkir, dan sebaliknya hal-hal yang bersifat dogmatis lebih mendalam. 

Selain disebabkan oleh karena pemberian materi pendidikan yang kurang seimbang, juga karena lingkungan budaya Islam pesantren bersifat sangat ekspresif.  Lingkungan budaya Islam di Jawa pada dasarnya bersifat tradisional. Sistem guru-isme di dalam tradisi tarekat yang lebih menomorsatukan ilmu kasyf, turut mendukung  sistem Pendidikan pesantren salafi dalam  mengembangkan  kebeningan hati dan ketajaman intuisi sebagai karakter dan keuniklan sistem pendidikan pesantren.  

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.