Kamis, 16 Maret 2017

MUTAN KURUIKULUM

MUTAN KURUIKULUM
SUTEJA

Ada hubungan erat antara materi kurikulum dengan ilmu. Sebab, isi pendidikan tidak lain adalah ilmu.  Mengenai isi atau materi kurikulum, menurut Langgulung, adalah meliputi pengetahuan (kognitif), ketrampilan (psikomotor), dan nilai-nilai (afektif). Ketiga unsur inilah yang membentuk materi pendidikan yang berbentuk disiplin ilmu pengetahuan.  
Pengetahuan atau mata pelajaran dalam kurikulum menempati posisi yang penting untuk memberikan jawaban terhadap apa yang dikerjakan untuk menciptakan manusia yang dicita-citakan oleh pembuat kurikulum itu. Tetapi, ketika ada pertanyaan apakah pengetahuan itu? Mulailah timbul masalah yang tidak mudah diselesaikan. Masalah kemudian akan lebih rumit lagi ketika ada pertanyaan: apakah pengetahuan itu ?

Sejarah tentang pendidikan telah melahirkan sejumlah filsafat yang kemudian menjadi landasan bagiya. Dari berbagai filsafat yang ada, terdapat tiga aliran yang dirasakan masih dominan pengaruhnya hingga saat ini, yang secara kebetulan ketiganya lahir pada zaman abad pencerahan menejelang zaman modern. Ketiga aliran itu ialah Nativisme atau Naturalisme, Empirisme atau Environtalisme, dan Konvergensionisme atau Interaksionisme. 

Nativisme atau Naturalisme, dengan tokohnya antara lain: J.J. Rousseau (1712-1778) dan Schopenhauer (1788-1860 M). Paham ini berpendirian bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan suci dan dianugerahi dengan potensi insaniyah yang dapat berkembang secara alamiah. Karena itu, pendidikan pada dasarnya sekedar merupakan suatu proses pemberian kemudahan agar anak berkembang sesuai dengan kodrat alamiahnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung pesimistis. 
Teori tentang nilai (ontologi), seperti teori Plato, Descrates, dan Kant, mengatakan bahwa pada dasarnya  pengetahuan itu bebas dari pengamatan indera dan sudah tentu membawa kepada ssuatu pendapat bahwa pengetahuan adalah pemberian Tuhan (karunia).

Pengetahuan adalah bebas dari orang yang mengetahui, tidak bergantung pada kondisi makhluk yang memiliki pengetahuan itu. Inilah pendapat madzhab rasionalisme.

Madzhab empirime merupakan salah satu madzhab yang membahas tentang teori  pengetahuan (epistemologi). Empirisme atau Environtalisme, dengan tokohnya antara lain John Locke (1632-1704 M) dan J. Herbart (1776-1841 M). Aliran ini berpandangan bahwa manusia lahir hanya membawa bahan dasar yang masih suci namun belum berbentuk apapun, bagaikan kertas  tulis (white sheet) yang masih bersih belum tertulisi (Tabula Rasa, Locke ) atau sebuah bejana yang masih kosong (Herbart). Atas dasar itu, pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu proses pembentukan dan pengisian pribadi peserta didik ke arah pola yang diinginkan dan diharapkan lingkungan masyarakatnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung optimistis.

Konvergensionisme atau Interaksionisme, dengan tokohnya antara lain William Stern (1871-1939). Pandangan ini pada dasarnya merupakan perpaduan dari kedua pandangan terdahulu. Menurut pandangan ini, baik pembawaan anak maupun lingkungan merupakan faktor-faktor yang determinan terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi peserta didik. Oleh karenanya, pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu rangkaian peristiwa interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Pribadi peserta didik akan terbentuk sebagai resultante atau hasil interaksi dari kedua faktor determinan tersebut. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung rasionalistis.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.