Jumat, 10 Maret 2017

METODE PENGEMBANGAN DIRI

METODE PENGEMBANGAN DIRI
suteja
Tasawuf melahirkan aliran-aliran yang disebut thariqat (tarekat).   Tarekat, secara amaliah (praksis) tumbuh dan berkembang semenjak abad-abad pertama hijriah dalam bentuk perilaku zuhud  dengan berdasar kepada al-Qurãn dan al-Sunnah. Perilaku zuhud  sebenarnya merupakan perwujudan dari salah satu aspek yang lazim ditempuh dalam tarekat agar dapat sampai kepada Allah, yakni mujãhadah.
Zuhud bertujuan agar manusia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan terhadap kenikmatan duniawiah secara berlebihan.  Kelompok orang-orang yang zuhud   kemudian mengambil perkumpulan atas dasar persaudaraan. Mereka lebih mendahulukan amaliah nyata daripada perenungan-perenungan filasafis (kontemplasi atau meditasi). Mereka mempunyai anggota dan tempat pemondokan serta guru khusus yang disebut syekh  atau mursyid.    
Tarekat (tharîqah)   berarti  jalan  atau  metode,  sama seperti syarî’ah, sabîl, shirãth dan manhaj. Secara harfiah, kata  tharîqah  berarti sîrah, madzhab, thabaqãt  dan  maslak al-Mutashawwifah. Tarekat yang dimaksudkan adalah jalan para sufi untuk  mendekatkan diri kepada Allah SWT.     Tarekat merupakan perpaduan antara imãn dan islãm dalam bentuk ihsãn.  
Tarekat  dalam pandangan para sufi  merupakan istilah bagi praktek-mujãhadah. Mujahadah  adalah memerangi atau mencegah kecenderungan hawa nafsu dari masalah-masalah duniawi. Mujahadah yang lazim berlaku di kalangan orang ‘awam adalah berupa perbuatan-perbuatan lahiriah yang sesuai dengan ketentuan syari’at. Sementara di kalangan khawash mujahadah dimaknai sebagai usaha keras menuscikan batin dari segala akhlak tercela.    
Mujãhadah dan riyãdhah  adalah metode para sufi  atau calon sufi  yang dijalani atas petunjuk dari al-Sunnah dan menekankan kesesuaian antara amaliah lahiriah dan amaliah batiniah.  Mujãhadah dan riyãdhah  merupakan landasan dalam kerangka mengaktualisasikan kesempurnaan manusia dan jalan yang mesti ditempuh dalam pergerakan mencapai maqãm tertinggi yaitu  ma’rifatullah.  Ma’rifatullãh bukanlah hasil dari kontemplasi spekulatif tentang Allah, melainkan berkat latihan-latihan spiritual (riyãdhah) yang dilakukan melalui praktek tarekat.
Tarekat, sebagai model pembinaan kepribadian, membantu murid-muidnya untuk mencapai pensucian jiwa dan perbaikan diri (takhallî dan tahallî) sebagai media untuk dapat mencapai tujuan  dekat dengan Allah.  Jihãd al-Nafs,  dalam ayat tersebut,  adalah segala bentuk ketaatan terhadap  perintah Allah.  Mereka yang bersungguh-sungguh di jalan Allah,   akan diberi kemampuan untuk dapat sampai (wushûl) di hadirat Allah dan akan ditambahkan baginya petunjuk  menuju kebaikan (sulûk al-Khayr).     Mereka berhak memperoleh posisi kebersamaan (ma’îyah) dan kedekatan (qurbah) dengan Allah SWT.
Tarekat adalah wujud nyata tasawuf dan  lebih bercorak tuntunan hidup praktis sehari-hari. Ia adalah jalan seorang sãlik  menuju Allah dengan cara menyucikan diri agar dapat mendekatkan diri sedekat mungkin  kepada Allah. Tarekat   adalah metode, cara atau jalan yang perlu ditempuh untuk mencapai tujuan tasawuf yaitu sampai kepada Allah (wushûl ilã Allãh). Tarekat, dengan demikian, merupakan  model pembinaan kepribadian untuk mencapai pensucian jiwa dan perbaikan diri (takhallî  dan  tahallî) sebagai media para  murid untuk dapat mencapai tujuan  dekat kepada  Allah dengan bimbingan seorang syekh.
Tarekat, bagi masayarakt urban, bisa menjadi counter culture,  budaya tandingan terhadap arus teknologi informasi dan globalisasi yang sedang berkembang. Bagi mereka, tarekat adalah institusi  masyarakat yang sedang mengalami transformasi kehidupan desa atau pedesaan menuju kehidupan kota atau perkotaan yang sedang mengalami benturan budaya dan  menyebabkan culture shochk.  Dengan tarekat mereka bisa survive  dan tidak kehilangan identitas diri. Tarekat, di sisi lain, dinilai telah mampu menampilkan kelembutan wajah Islam yang luar biasa karena karakteristik tarekat yang lebih mendahulukan intuisi dari rasio. Bahkan, ada sisi-sisi sejarah yang menempatkan kelompok tarekat sebagai kelompok umat Islam yang berperan positif-konstruktif. Ia mampu mendorong umat Islam dapat hadir dan kuat di tengah-tengah pergaulan masyarakat perkotaan dengan keperdulian, keterlibatan dan sumbangsihnya bagi kemajuan dengan dasar moralitas, spiritualitas dan jiwa keberagamaan yang kuat.
Tarekat adalah  institusi pembinaan kepribadian yang sangat intens  terhadap proses  pensucian dan perbaikan diri (takhallî  dan  tahallî). Para  murid didalamnya berusaha dngan sungguh-sungguh dapat mencapai kualifikasi kedekatan kepada  Allah dengan bimbingan seorang syekh.  Seorang syekh (mursyid, muqaddam) betugas  membantu  ketercapaian    tazkîyat al-Nafs melalui tahapan-tahapan takhallî  dan  tahallî

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.