Selasa, 07 Maret 2017

MERINDUKAN ALLAH

MERINDUKAN ALLAH
OLEH:
SUTEJO IBNU PAKAR
Kegandrungan bertemu Sang Kekasih (Allah SWT)  mengilhami al-Jili untuk melanjutkan pengembaraan ritualnya. Dengan berbekal eksperimen  asketis (zuhud), al-Jili menempuh perjalanan menuju Makkah di akhir tahun 799 H. (usia 32 tahun) Di sana al-Jili melakukan kontak batin dengan mistikus-mistikus Bayt Allah untuk mengasah ketajaman bakat penerawangan esoterisnya. Pada tahun 803 H. (usia 36 tahun), al-Jili mengunjungi universitas al-Azhar Kairo dan memodifikasi kitab Ghaniyyah Arbab al-Sima’; karya  elaboratif atas tema-tema sufi dan balaghah. Rindu tebal menyelimuti al-Jili pada tahun 805 H. (usia 38 tahun) yang menuntunnya kembali ke Yaman untuk bertemu kembali dengan Syaikh Syarf al-Din al-Jabarti (w. 806). Al-Jabarti adalah guru tasawuf falsafi terkemuka di Yaman. Madrasah thariqaat al-Jabarti serius dalam mempromosikan karangan-karangan fenomenal Ibn ‘Arabi. Sufisme Ibn ‘Arabi  berkembang di Yaman tanpa ada resistensi dari kalangan fuqaha’, karena  tarekat  al-Jabarti sepenuhnya didukung oleh kekuasaan Bani Rasul,  dinasti sekte Sunni yang menguasai Yaman. Di lingkungan thariqah inilah al-Jili terpengaruh oleh esoterisme Ibn ‘Arabi.
Dukungan penguasa terhadap thariqah al-Jabarti merupakan realitas sosio-politik kondusif yang menjadi momentum bagi al-Jili untuk memodifikasi  karya-karyanya. Pertama,  Syarh Futuhat al-Makiyyah wa Fath al-Abwab al-Mughlaqat min al-‘Ulum al-Laduniyyah. Al-Jili tidak hanya memberikan komentar sebagaimana yang diberikan oleh komentator-komentator karya Ibn ‘Arabi. Ia bahkan  berani mengkritik Ibn ‘Arabi dan menawarkan perspektif baru dalam berbagai objek persoalan. Kedua, al-Kahfi wa al-Raqim fi Syarh bism Allah al-Rahman al-Rahim. Karya ini menjelaskan secara simbolik misteri-misteri di balik lipatan-lipatan huruf basmalah. Ketiga,  al-Qamus al-A’dzam wa al-Namus al-Aqdam fi Ma’rifat Qadr al-Nabi. KeempatKasyf al-Ghayat fi Syarh al-Tajaliyyat. Kelima,  al-Isfar ‘an Risalah al-Anwar, komentar atas al-Isfar ‘an Nata`ij al-Asfar karya Ibn ‘Arabi. Keenam, al-Nadirat al-‘Ayniyyah fi al-Badirat al-Ghaybiyyah yang berisi 540 kasidah-kasidah sufi. Ketujuh, al-Manadzir al-Ilahiyyah. Kedelapan,  al-Kamalat al-Ilahiyyah. Kesembilan, Insan ‘Ain al-Jud wa Wujud al-Insan al-Mawjud; Kesepuluh, Kasyf al-Sutur. Kesebelas,  Risalah Sabahat; 12) al-Qashidah al-Wahidah. Ketigabelas,  Musamarat al-Habib wa Musayarat al-Shahib. Keempatbelas, Tafsir al-Khadhm al-Zâkhir wa al-Kanz al-Fakhir. Dalam tafsir ini al-Jili menginterpretasikan ayat-ayat al-Quran dengan menggunakan pendekatan filsafat sufistiknya. Dan,  al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakhir wa al-Awa`il.  Jumlah karya al-Jili kurang lebih mencapai tiga puluh tiga buku, namun sebagian besar masih dalam bentuk manuskrip.[1]
Kitab al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakhir wa al-Awa`il  adalah karyanya yang paling populer dan menjadi teks ikon di kalangan  sufi. Kitab ini  relatif mendapat apresiasi luas dari kalangan sarjana Timur. Apresiasi itu dapat dilihat dari banyaknya komentar atas al-Insan al-Kamil, diantaranya Kasyf al-Bayan ‘an Asrar al-Adyan fi Kitab al-Insan al-Kamil wa Kamil al-Insan karya Abd al-Ghani al-Nablisi, Muwadhahat al-Hal ‘ala Ba’dh Masmu’at al-Dajjal karya Ahmad al-Madani al-Anshari dan lain-lain. Deretan karya-karya al-Jili merupakan tanda bagi produktivitas dan kematangannya dalam penguasaan khazanah keilmuan. Kematangan itu  diperoleh melalui pengembaraan ilmiah yang cukup panjang. Al-Jili memang memiliki kompetensi multidisipliner; linguistika Arab, tafsir al-Quran, hadits, tasawuf, filsafat Yunani, fiqh, ushul al-Fiqh, Tawrat, Injil, doktrin-doktrin Zarathustra, Manichaisme dan lain-lain.[2]  Tatabahasa dan Sastra Arab (balaghah)  membantu al-Jili dalam menggubah syair-syair yang memakau. Fiqh dan ushul fiqh melicinkan langkah al-Jili dalam usaha  harmonisasi antara syari’at dan hakikat.  “Kitab al-Insan al-Kamil ini, kata al-Jli,  aku bangun di atas pondasi penyingkapan tabir misteri yang jelas (kasyf).”  Sementara itu, penguasaannya terhadap Taurat, Injil dan doktrin agama non-Islam telah mempengaruhi terbentuknya pandangan-pandangan yang toleran dan pluralis. [3]
Abd al-Karim al-Jili mendapatkan pengalaman sama ketika berkenalan dengan Syaikh Syarf al-Din al-Jabarti di Yaman pada 796 H. Al-Jabarti menjadi inspirator bagi terbangunnya gagasan Insan Kamil al-Jili. Alih-alih hanya sekadar master tasawuf, al-Jabarti telah menjadi gambaran ideal sebagai the perfect a man bagi al-Jili. Al-Insan al-Kamil fi Ma`rifat al-Awakhir wa al-Awa`il merupakan magnum opus al-Jili yang ditulis setelah pertemuannya yang kedua dengan al-Jabarti pada 805 H. Buku ini tersusun dari enam puluh tiga (63) bab  tetapi bab keenam puluh (60) adalah muaranya. Al-Jili mengatakan, bab keenam puluh (60) yang berjudul al-Insam al-Kamil  ini  adalah tihang peyangga dari semua bab didalam kitab ini, bahkan semua elaborasi dari awal hingga akhir hanyalah penjelasan atas bab al-Insan al-Kamil ini. [4]
Teori al-Insan al-Kamil al-Jili ini merupakan pengembangan konsep wahdat al-wujUd, tajalli (theofani) dan al-Insan al-Kamil Ibn ‘Arabi.  [5]   Ibn ‘Arabi berpendirian  sebagaimana dinyatakan didalam salah satu  Hadits Nabi SAW,   bahwa  ”Allah mula-mula adalah ‘harta tersembunyi kanz makhfiy, kemudian Ia ingin dikenal, maka diciptakan-Nya makhluk, dan melalui makhluklah Ia dikenal”. Alam semesta adalah teofani nama dan pekerjaan Allah. Alam sebagai cermin yang didalamnya terdapat gambar Allah. Wujud alam bersatu dengan wujud Allah dalam ajaran wahdat al-Wujud, manunggaling kawulo-gusti.[6] Tajalli Allah, dalam perspektif al-Jili, terjadi melalui tiga tangga menurun yaitu: ahadiah, huwiah dan aniyah. Pada tangga pertama, Tuhan dalam absolusitasnya keluar dari kegelapan (al-'ama), tanpa nama dan atribut. Pada tangga kedua, nama dan antribut Tuhan telah muncul dalam bentuk potensial. Pada tangga ketiga, Tuhan menampakkan diri dengan nama-nama dan atribut-atribut-Nya pada makhluk-Nya. Manusia merupakan penampakan Tuhan yang lebih sempurna dibanding semua makhluk-Nya, tetapi tajalli-Nya tidak sama pada semua manusia. Tajalli Tuhan yang paling sempurna terdapat dalam Insan Kamil. Untuk mencapai strata Insan Kamil, seorang salik  atu murid  harus melewati tiga langkah (barzakh): al-Bidayah, al-Tawasuth dan al-Khitam. Pertama, seseorang harus mampu berperilaku sesuai dengan cerminan nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Di level ini seorang sufi disinari oleh nama dan atribut Tuhan; sufi pengasih dan penyayang akan memperoleh sinaran kasih sayang Tuhan. Pada level ini sufi akan menjadi khalifah dan gambar Tuhan, sebagaimana dalam haidts “Adam diciptakan seperti gambar Allah al-Rahman”. Kedua, seorang sufi harus mampu menyerap status kemanusiaan sekaligus hakikat ketuhanan. Sufi yang telah mencapai level ini dapat menerawang misteri-misteri alam ghaib. Ketiga, seorang sufi harus mengetahui hikmah di balik penciptaan. Dengan hal itu, sufi akan mengapai kekramatan supra-natural.[7]
Dalam terminologi al-Jili, al-Insan al-Kamil  secara etis hanya boleh disematkan kepada Muhammad SAW. Namun ketika Muhammad  menjelma  dalam diri para nabi dan wali, maka para nabi dan wali tersebut juga sah disebut sebagai al-Insan al-Kamil. Titisan-titisan Muhammad selalu muncul pada setiap generasi untuk kepentingan umat. Mereka adalah al-Khulafa’, para pengganti Nabi Muhammad. Salah satu titisan Muhammad, menurut al-Jili, adalah Syaikh Syarf al-Din al-Jabarti. Namun demikian,  al-Jili menolak dengan keras jika teori  penjelmaan atau tajalli (nur) Nabi Muhammad  disebut sebagai bentuk  atau diidentikkan reinkarnasi  (tanasukh/metampsychosis).[8] 
Historisitas konsep Insan Kamil memunculkan spekulasi bahwa teoritisasi dan epistemifikasinya dilatari oleh ‘proyek mistifikasi dan sakralisasi’ terhadap guru sufi. Secara dramatis al-Jili telah berusaha mensakralkan dan memistifikasi Syaikh al-Jabarti dengan menganggapnya sebagai titisan Muhammad saw. Dalam kacamata dialektika materialis-historis, sakralisasi dan mistifikasi itu memang dibutuhkan untuk membentengi thariqah al-Jabarti dari serangan fuqaha di satu sisi, sekaligus mengukuhkan reputasi al-Jabarti di mata para penguasa Dinasti Bani Rasul, di sisi yang lain. Upaya sakralisasi dan mistifikasi juga terlihat dalam statemen al-Jili, “Wajib bagi Anda untuk menghormati sufi titisan Muhammad saw sebagaimana Anda menghormati Muhammad saw itu sendiri. Ketika Anda telah mendapatkan  penyingkapan tabir (inkisayf) bahwa Muhammad saw telah menjelma dalam diri wali, maka Anda tidak boleh memperlakukannya dengan cara seperti biasanya. [9]
Statemen tersebut menimbulkan konsekuensi radikal bahwa seorang wali memiliki posisi religius yang setara dengan Muhammad SAW. Bahkan memberikan penghormatan setara kepada keduanya adalah ‘wajib’.  Akar persoalannya, sakralisasi dan mistifikasi ini mengandung sisi ideologis yang tak bisa disembunyikan. Dengan menganggap wali-wali, khususnya al-Jabarti, sebagai Insan Kamil titisan Muhammad SAW maka terciptalah  ideologi kekramatan.  Ideologi  kekramatan sufi  penting dibangun untuk mewujudkan hegemoni dan otoritarianisme. Kalangan sufi merasa berkepentingan untuk merebut kendali agama dari para khalifah teokratik yang mengaku sebagai khalifah Tuhan di muka bumi. Kendali agama yang berpotensi dimonopoli oleh penguasa elit harus dialihkan ke tangan para sufi sebagai representasi kaum proletar. Di sisi lain, ideologi kekramatan wali-wali juga merupakan produk dialektik di tengah-tengah konflik antara genre esoterisme dan eksoterisme.  



[1] Yusuf Zidan, ‘Abd. al-Karim al-Jili  Faylasuf al-Shufiyyah, Beirut,  Dar al-Jayl, 1992, 13-55.
[2] ‘Abd. al-Karim al-Jili, al-Insan al-Kamil fi Ma`rifat al-Awakhir wa al-Awa`il, Kairo, Maktabah Zahran, II,  72.
[3]Armstrong, Karen,  A History of God: The 4000-Year Quest of Judaisme, Cristianity and Islam, terj., Mizan,  , 2004,  312-313 dan  319.

[4] al-Jili, al-Insan al-Kamil, II, 90.
[5] Husayn Muruwah, Naz’ah Madiyyah fi al-Falsafah al-Arabiyyah-al-Islamiyyah, Beirut, Dar al-Farabi, cet. II, 2002,  III,  84-186.
[6]
[7] al-Jili, al-Insan al-Kamil, 98.
[8] al-Jili, al-Insan al-Kamil, 95.
[9] al-Jili, al-Insan al-Kamil, 95.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.