Selasa, 07 Maret 2017

MENUJU ALLAH

 MENUJU ALLAH
Oleh:
Suteja
Setiap pribadi muslim pasti mendambakan kehidupan yang husnul khotimah sebuah perjalanan hidup dan kehidupan yang berakhir dengan kebaikan. Khusnul khotimah  yang dimaksud, sebagiaman dimaklumi secara umum, adalah kehidupan yang berkahir dengan kemampuan melafalkan kaliat tauhid : Laa iaaha ilaa Allahu. Khusnul khotimah bukan sebuah akhir yang tidak memiliki awal atau proses. Para lama sepakat bahwa untuk dapat mencapainya setap pribadi muslim disyaratkan unuk memiliki dua kebaikan uama yani husnul ‘ibadah dan husnul mu’amalah.
Husnul ‘ibadah  adalah cara-cara yang baik yang dilakukan dalam setiap peribadatan, penghambaan, dan pengabdian kepada Allah SWT.  Husnul mu’amalah  merujuk kepada kebaikan didalam pegaulan dan berinteraksi  dengan sessama manusia dan semua ciptaan Allah SWT. Husnul ‘ibadah  adalah wujud peghayatan terhadap peran sebagai ‘abdullah  hamba Allah dan  husnul mu’amalah  merupakan wujud peghayatan terhadap peran sebagai khalifatullah.
Setiap murid tarekat memiliki tugas pokok harian yang apabila dapat diaksanakan secara kontinyu maka ia akan dapat sampai kepada tujuan yang telah dicanangkan. Keempat tugas iu adalah munajat, muhasabah, mu’asyarah dan takhalli atau pembersihan diri (setiap saat).   Pelaksanaan tugas pokok itu tentunya mensyaratkan niat.  Niat itu harus ditujukan karena Allah  dan untuk Allah.  Setiap peribadatan  (‘badah  dan ‘ubudiyah) harus berawal dari Allah dan berakhir kepada Allah. 
Tugas berikutnya adalah  setiap murid tarekat atau pengamal tasawuf harus melakukan perjalanan (suluk) menuju atau sampai keada Allah (wushul).  Tahapan-tahapan  itu dimulai dari tahapan  tawbat  dan  seyogyanya diniatkan karena Allah dan untuk Allah.   Pendakian ruhaniah   yang tidak berlandaskan “dari Allah dan untuk Allah” akan berakhir dengan kesia-siaan.  Seseorang yang sedang mendaki tahapan zuhud  misalnya  tetapi orientasinya untuk sesuatu selain Allah  laksana seekor keledai yang berjalan sepanjang siang dan malam  dengan beban di punggungnya.  Dia merasa  sangat letih dan seluruh kekuatannya tekuras habis  karena mengira telah menempuh perjalanan sangat jauh. Sesengguhnya  keledai  itu  tidak pernah melakuka perjalanan ke mana pun, dia tetap  berada di tempatnya dan tidak bergeser sedikitpun.
           Setiap priadi yang melakukan pendakian ruaniah  (riyadhah, mujahadah,  ata suluk) dengan niat atau tujuan mendapatkan  keutamaan-keutamaan atau karomah,    memburu pahala dan sorganya Allah, atau tujun-tujuan dunawiah akan berakhir dengan keletihan, kesia-siaan dan kualitas ruhaniah yang stagnant.  Ada tiga hal  yang akan membantu murid tarekat untuk dapat meningkatkan kualitas niat (berawal dari  Allah dan berakhr kepada Allah) yaitu:[1] mengkhususkan setiap rencana   hanya untuk Allah,  selalu berorientasi kepada (ridho) Allah dalam setiap peribadatan bukan untuk kepentingan diri sendiri atau kepuasan hawa nafsu, dan selalu kembali kepada Allah SWT (tawakal dan istislam). Al-Syekh al-Imam Abu al-Hasan al-Syadzali menyarakan empat hal yang dapat memperkuat orientasi “dari  Allah dan berakhir kepada Allah” yaitu:   hanya mencintai Allah, merasa cukup dengan bantuan Allah, shidq  dan yaqin, keimanan yang benar, dan meyakini segala ketentuan Allah.[2] Allahu A’lambi al-Shawab


[1] Materi Halaqoh Malam Kamis LTM NU Kota Ciebon, 13 Juli 2016 M./08 Syawwal  1437 H.Sebaliknya, setiap pribadi yang dikaruniai kemampuan meningaktkan kualitas niat dari selain Allah menuju  Allah,  dia akan mendapatkan kemampuan syuhud  dan ’uyyan  serta tidak lagi bergantung kepada bukti-bukti empiris dan logika (burhan) dalam meyakini serta persaksian terhadap tajalli  Allah SWT. 




[1] Ibn ‘Ajibah, Iqadz al-Himam,  hal. 93-94.
[2] Ibn ‘Ajibah, Iqadz al-Himam,  hal. 94.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.