Senin, 13 Maret 2017

KYAI SUMBER NILAI

KYAI ; SUMBER NILAI
Sutejo ibnu Pakar
Pendidikan pesantren memiliki berbagai macam dimensi : psikologis, filosofis, relijius, ekonomis, dan politis, sebagaimana dimensi-dimensi pendidikan pada umumnya.  Tetapi,  pesantren bukanlah semacam madrasah atau sekolah, walaupun di dalam lingkungan pesantren telah banyak pula didirikan unit pendidikan klasikal dan kursus-kursus. Berbeda dengan sekolah atau madrasah, pesantren memiliki  mempunyai kepemimpinan, ciri-ciri khusus dan semacam kepribadian yang diwarnai karakteristik pribadi kyai, unsur-unsur pimpinan pesantren, dan bahkan aliran keagamaan tertentu yang dianut.   
Teks-teks kitab yang telah dipelajari oleh santri adalah warisan intelektual generasi ulama abad pertengahan yang sampai ke tangan para wali sanga, dan seterusnya kepada kyai-kyai pesantren. Mereka para santri  dituntut untuk mengaplikasikan pelajaran yang diterimanya sehingga kitab-kitab itu merupakan himpunan kodifikasi tata nilai yang dianut oleh masyarakat pesantren. Wali Sanga dan kyai Jawa adalah agent of social changer  melalui pendekatan kultural. Ide cultural resistence   juga mewarnai kehidupan intelektual pendidikan pesantren. Subjek yang diajarkan di lembaga ini adalah kitab klasik  yang   diolah dan ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikut, yang sekaligus merujuk kepada  ke-ampu-an kepemimpinan kyai-kyai.
Pemberian pengajian oleh kyai kepada santrinya bisa merupakan proses pembentukan tata nilai Islam yang terwujud dalam tingkah laku sehari-hari mulai dari cara-cara melakukan ibadah ritual sampai kepada ketentuan-ketentuan tata pergaulan masyarakat. Dan, kyai dalam hal ini merupakan personifikasi  utuh dari sistem tata nilai itu yang juga turut melengkapi kedudukan kitab tersebut. Inilah kemudian yang disebut pola kehidupan santri.Isi pengajaran kitab-kitab itu menawarkan kesinambungan tradisi yang benar mempertahankan ilmu-ilmu agama dari sejak periode klasik dan pertengahan.  Memenuhi fungsi edukatif, materi yang diajarkan di pesantren bukan hanya memberi akses pada santri rujukan kehidupan keemasan warisan peradaban Islam masa lalu, tapi juga menunjukkan peran hidup yang mendambakan kedamaian, keharmonisan dengan masyarakat, lingkungan dan bersama  Tuhan.
Tujuan pendidikan pesantren bukan untuk mengejar kepentingan  kekuasan (powerfull), uang, dan keagungan duniawi. Tetapi, kepada para santri ditanamkan bahwa belajar atau menuntut ilmu adalah semata-mata karena melaksanakan perintah Allah dan rasul-Nya, mencari keridoan Allah, serta menghilangkan kebodohan, sebagai sarana memasyaraktkan ajaran Islam di muka bumi dalam wujud amar ma’ruf nahyu munkar.[1] Diantara cita-cita pesantren adalah latihan untuk dapat berdiri sendiri dan membina diri agar tidak menggantungkan  sesuatu  kecuali kepada Tuhan. 
Karena konsep di atas pula pesantren selalu tegar menghadapi hegemoni dari luar. Pesantren-pesantren tua biasanya selalu dihubungkan dengan kekayaan mereka berupa kesinambungan ideologis dan historis, serta mempertahankan budaya lokal. Denominasi keagamaan dalam pendidikan pesantren yang Syafi’i- Asy’ari-Ghazalian-Oriented   terbukti sangat mendukung terhadap pengembangan dan pelaksanaan konsep cultural resistance.



[1] al-Jurjani,  Ta’lim al-Muta’allim fi Thariq al-Ta’limwa al-Ta’allum,  h. 3.
 .

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.