Selasa, 07 Maret 2017

KUALIFIKASI MURID TAREKAT

TAQARRUB
KUALIFIKASI  MURID TAREKAT
oleh: SUTEJO IBNU PAKAR
Tasawuf, sebagaimana dapat dipelajari dari pengalaman pribadi al-Ghazali,  harus ditempuh dengan dua cara, yaitu ilmu dan amal. Ilmu yang dimaksud adalah pengetahuan tentang   konsep-konsep dan langkah-langkah yang harus ditempuh  seperti zuhud, tawakkal, mahabbah, dan ma’rifah. Sedangkan yang dimaksud amal adalah mengalami secara langsung konsep-konsep dan langkah-langkah yang harus dilalui. Ilmu dan amal harus menyatu.[1] Konsekuensinya, ia dihadapkan pada pilihan keharusan untuk memilih dan kemantapan hati memasuki tasawuf secara utuh dengan konsekuensi meninggalkan segala hasrat dan godaan hawa nafsu yang mengajak kepada  kelezatan kehidupan duniawi, atau tidak sama sekali memasuki tasawuf.[2] Kedua-duanya  menjadi penolong  bagi jiwanya dapat mencintai Allah  di atas cintanya kepada selain Dia.[3] Amal diperlukan guna keperluan dzikr kepada Allah.[4] Amal ibadah di dalamnya terdapat dzikir kepada Allah,[5] dan memalingkan jiwa dari dunia kepada akhirat. Tujuan akhir amal adalah mencintai dan dekat kepada Allah, melalui dzikir kepada-Nya dan dengan penyucian jiwa serta memperindahnya.[6] Perlu dilakukan berbagai  amal  dan ibadah dengan hati yang ikhlas dan hudhûr al-qalb karena dengan demikian akan dapat mencapai dzikr Allâh secara konstan, dan tercapailah kemesraan dan cinta ilahi.[7] Ikhlas adalah terbebas dari riyâ yang akan mencemari jiwa dengan cinta dunia dan menyerah kepada hawa nafsu.[8]
Ilmu dan amal akan kekal di dalam jiwa.[9] Kesempurnaannya sangat bergantung pada kedekatannya dengan Allah. Dengan ilmu dan amal, tercapailah keakraban dengan Allah.[10] Secara fitrah, jiwa memang bersih dari perbuatan tercela dan berkat dzikr yang terus menerus ia semakin dekat dan  semakin cinta kepada Allah. [11]  Jiwa memang diciptakan untuk dapat mencintai Allah.[12] Semakin besar  cinta kepada Allah  setara dengan pencapaian puncak kesempurnaan tertinggi, yakni  kedekatan dengan Allah. Pada puncaknya, cinta kepada Allah  akan melahirkan kasyf [13] dan pada akhirnya  ia berkembang menjadi pemusnahan (fanâ`), yang menjadi tujuan para sufi.[14] Tetapi lagi-lagi al-Ghazali  menolak paham pantheisme seperti perpaduan, percampuran, penyamaan, inkarnasi dan sebagainya.[15]  Pengalaman fanâ`, menurutnya, hanya berlangsung bagaikan pancaran kilat, sebab kekuatannya tidak teranggungkan oleh manusia, tetapi jika keadaan ini dapat bertahan ia akan menjadi kebiasaan yang mapan dan tetap dan akan melahirkan kasyf.[16]
Tasawuf adalah jalan yang dapat mengantarkan hamba dekat dengan Tuhannya, karena  ia merupakan jalan para sufi. Para sufi adalah kelompok orang-orang  beriman yang akhlaknya lebih bersih, cara hidupnya lebih benar, gerak dan diamnya  lahir dari jiwa yang disinari oleh Nur Tuhan.[17] Mereka mendapatkan ilmu secara langsung dari  Tuhan (al-kasyf),[18]  dalam bentuk ilhâm sebagaimana para nabi mendapatkan wahyu.[19] Nur itulah yang dapat menjauhkan  hati atau jiwa mereka  dari kehidupan dunia yang penuh dengan tipuan, kembali ke dunia yang abadi, dan mereka  pun menjadi dekat sedekat-dekatnya dengan Tuhan sebagai kunci bagi  penghayatan ma’rifat Allâh.[20]
Jiwa yang bersih akibat mujâhadah dan riyâdhah, menurut al-Ghazali, pantas mendapatkan tempat yang dekat dengan Allah. Setelah  mengalami penyucian yang berat dan panjang jiwa yang demikian akan kembali kepada keberadaannya semula menjadi suci, ia mulai mengalami kehidupan yang baru dengan hilangnya sifat-sifat buruk dan tercela.  Jiwa  pun memperoleh sifat-sifat baik dan terpuji seperti tawbah, shabr, syukr, rajâ`, khawf, faqr, zuhd, tawakkal, hubb, syawq, qurb, dan ridhâ`. Mujâhadah dan riyâdhah yang telah menjadi kelaziman di kalangan sufi  semata-mata hanyalah bertujuan untuk mencapai kedekatan dengan Allah .[21] (ibnu Pakar)








[1] al-Ghazali , Abu Hamid , al-Munqidz,   42.
[2] al-Ghazali , Abu Hamid , al-Munqidz, 44-45.
[3]al-Ghazali , Abu Hamid Ihya`,   J. IV., 145.
[4] al-Ghazali , Abu Hamid Ihya`, J. II,   292.
[5] al-Ghazali , Abu Hamid Ihya`, J. III,  51-52.
[6] al-Ghazali , Abu Hamid Ihya`,J. II,  155-158.
[7] al-Ghazali , Abu Hamid Ihya`,J. II, 188-189.
[8] al-Ghazali , Abu Hamid Ihya`,J. II,192.
[9] al-Ghazali , Abu Hamid Ihya`, J. III,  197.
[10] al-Ghazali , Abu Hamid Ihya`,  J. II,  144.
[11] al-Ghazali , Abu Hamid Ihya`,J. III,  1901-191.
[12] al-Ghazali , Abu Hamid Ihya`,J. IV.,  54.
[13] al-Ghazali , Abu Hamid Ihya`, J. II, h. 247.
[14] Ibid., J. IV., h. 68.
[15] Ibid., J. II, h. 256.
[16] Ibid.,  J. II, h. 226-227.
[17] al-Ghazali , Abu Hamid , Rawdhah, 47.
[18] al-Ghazali , Abu Hamid , Rawdhah,46.
[19] al-Ghazali , Abu Hamid , Rawdhah,49-50.
[20] al-Ghazali , Abu Hamid , Rawdhah,11.
[21] al-Ghazali , Abu Hamid , Ihyâ`,  J. IV., 367.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.