Selasa, 07 Maret 2017

KONTEMPLASI

HUDHUR AL-QALB

SUTEJO IBNU PAKAR


Mukasyafah, dalam pandangan al-Ghazali, bermula dari perasaan rindu dendam ingin berjumpa yang sangat dicintai yaitu Allah. Akan tetapi, ia memiliki kadar yang berbeda-beda. Pertama, melihat dengan sebenar-benarnya dalam arti  melihat dengan mata kepala.  Kedua, melihat dengan  mata hati. Ini derajat yang paling rendah.  Ketiga, melihat dengan keduanya, yakni mata dan hati. Inilah karunia Allah yang paling tinggi derajatnya.[1]

Dzikrullah dapat dilakukan dengan berbagai cara atau bentuk. Ia dapat dilakukan dengansuara keras atau diam, sendiri atau bersama-sama. Pengalaman dzikrullah yang terkenal dengan sebutan khalwah, biasanya berlangsung selama empat puluh hari, dan mendengarkan lautan lagu-lagu ruhani (sama’). Bagi para sufi dzikrullah tidak saja merupakan amaliah yang penting melainkan par excellence.[2] Al-Ghazali menegaskan bahwa, setiap amal ibadah, dan sebaiknya setiap perbuatan, hendaknya dibarengi dengan dzikrullah.[3] Menurutnya, dizkrullah merupakan prasyarat bagi tercapainya kehidupan ruhaniah, karenanya  ia menyarankan adanya perilaku yang konsisten atau istiqomah di dalam berdzikir.[4]
Dzikr Allâh yang dilakukan dengan hudhûr al-qalb memegang peranan sangat vital dalam kerangka mujâhadah dan riyâdhah yang mesti dijalani seorang sâlik dalam tujuannya mencapai maqâm ma’rifat Allâh.  Kekuatan atau dampak hudhûr al-qalb  bagi seseorang, dengan demikian, dapat digambarkan sebagai berikut:
1.    Menyebabkan terbukanya ’ilm al-ghayb.
2.    Menjadikan seseorang dapat menjumpai nur ’alam al-malakut dan rahasia ’alam al-jabarut.
3.    Menempatkan seseorang pada posisi mulia di hadapan Allah.
4.    Menjadikan seseorang mampu berbicara dengan bahasa hati.
5.    Mnjadikan seseorang dapat musyahadah.
6.    Menjadikan seseorang mampu menganalisis berbagai rahasia ’alam al-malakut dan berbagai rahasi kekuasan Allah.



[1] al-Ghazãlî, Sirr al-‘Ãlamîn wa Kasyf  mã  fî   al-Dãroyn (Beirut : Dar al-Fikr, 1996), h. 72. 
[2] Muhammad Isa Waley, “Amalan Kontemplasi (Fikir dan Zikir) dalam Sufisme Persia Awal”, dalam,  Sayyed Hossein Nasr, et.all., Op. Cit.,  h.590.
[3] Ibid.
[4] Ibid.,  h. 594.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.