Rabu, 08 Maret 2017

KONTEMPLASI (HUDHUR)

KONTEMPLASI  (HUDHUR)
Suteja 
Kehidupan sufi adalah konsentrasi. Sufi menguasasi konsentrasi tetapi tidak membiarkan konsentras menguasasinya.[1]  Bagi sufi cinta atau mahabah adalah sesuatu yang dapat membnatu konsenasi. Pengabdian dan ibadah yang dilandasi kecintaan keada Allah dan rasul-Nya merupakan cara terbaik dalam pencapaian pengalaman sufistik.
Setiap sufi yang sedang mengalami pengalaman sufistiknya merasakan seolah-olah kehndak manusinya berhenti, persis seperti sedang menemukan kekuatan dari luar dirinya yang sangat menekannya. [2]  Pengalaman sufistik lebih mirip dengan keadaan-keadaan intuisi tetapi yan mengalaminya ampak sebagai keadaan yang sudah dikenali.  Pengalaman sufistik adalah pengalaman intusi sufi. Intuisi sufi pada darnya sama dengan intuisi kebanyakan orang normal karena ia bukan mu’jizat. Kebenarannya sangat subyektif dan relative karena ia bersifat individual. 
Psikologi memandang intuisi sebagai  “pandangan batiniah yang serta merata tembus mengenai satu peristiwa atau kebenaran anpa perenungan atau proses berfikir”. [3] Intuisi sifatnya kreatif dan menjadi  bagian kehidupan psikis  yang tidak disadari.  Karena intuisi itu tidak rasional atau irrasional  maka  kebenarannya harus dianalisa dan diverifikasi.[4]
Pengalaman sufistik bersifat ilhami dan tidak argumentatif. Setiap yang mengalaminya merasa memiliki makna yang luhur dan kekatan yang besar. Sebagai sebuah pengalaman, ia bersifat pasif dalam arti tidak dapat dipaksanakan dan bahkan seorang sufi tidak dapat memaksakan diri unuk mendapatkannya. Karena, ia merupakan hasil dari kesadaran yang intens dari dzikrullãh  dan ibadah-ibadah lahiriah. Pengalaman sufistik adalah mawhibah atau karunia Allah.
Intuisi sufi adalah mirip ilham. Ilham dapat berfungsi sebagi penuntun kepada suatu keyakinan. Meskipun tidak dapat dijelaskan secara vebal, akan tetapi  setiap yang mengalaminya merasa memiliki sesuatu yang istmewa dari Allah SWT. Setiap yang mengalami pengalaman ini, dengan tiba-tiba, dirinya terbentuk menjadi individu dengan kepecayaan diri yang tinggi karena merasakan kedekatannnya dengan Allah telah dijawab dengan kuasa-Nya dengan memberinya penuntun kehidupan yang benar. Murid-murid Naqsyabandiyah  , meyakini sepenuh hati bahwa guru mursyid mereka dikarunia kemampuan intuitif atau ilhami karena kelehannya dalam hal kontemplasi dan meditasi 



[1] Khan, Inayat, Dimensi Spiritual Psikologi,  Jakarta, Pustaka Hidayah,2000, hal. 123
[2] al-Najar, Pskoterapi Sufistik,  hal.164
[3] Kartono, Kartini, Psikologi Umum,  Bandung, Alumni, 1984, hal. 108.
[4] Kartono,,  Psikologi Umum,  hal. 108-109

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.