Senin, 20 Maret 2017

KEPEMIMPINAN KH. ABDUL JAMIL 1910-1946 M.

Edisi Pesantren Produsen Pemimpin Bangsa 

KEPEMIMPINAN KH. ABDUL JAMIL   1910-1946 M.
Sutejo ibnu pakar
Perkembangan Pesantren Buntet dimulai     pada periode kepemimpinan KH. Abdul Jamil (1842-1910), tepatnya setelah             kepulangannya  dari bermukim di Makkah. Langkah yang dilakukan pertamakali   memperbaiki sarana fasilitas yang telah dianggap rapuh, penyusunan jadwal pengajian, penambahan cara atau metode pengajaraan Kitab Kuning,  yaitu tidak hanya menggunakan metode tradisional seperti metode sorogan dan bandongan tetapi dikembangkan juga cara atau metode lain seperti mujadalah (diskusi) bahkan pada saat itu dikembangkan juga sistem klasikal (madrasi).

KH. Abbas Abdul Jamil memimpin Pondok Pesantren Buntet pada 1910-1946. Masa ini sering disebut sebagai kebangkitan kembali pesantren,  yang ditandai dengan perubahan baru Pondok Buntet Pesantren. Agar pesantren lebih maju, KH. Abdul Jamil,  segera menghimpun para kiai lingkungan keluarganya, saudagar, pedagang, dan lain-lain untuk membangun dan menata kembali sarana fisik dan aktivitas pesantren.  Asrama santri diperbaiki dan ditambah jumlahnya. Berkat bantuan sahabat terdekat yang juga muridnya, seorang  haji terkaya dari daerah Kanggraksan Cirebon bernama H. Ali maka dibangunlah masjid di komplek pesantren (sampai sekarang masjid ini masih digunakan dan terawat baik).

Untuk efektivitas dan efeseiensi  komunikasi dibangun pula  jalan dan jembatan yang menghubungkan komplek pesantren dengan desa sekitarnya. Pembangunan jalan dan jembatan ditempuh dengan cara menukar tanah Syekh Jamil kepada pemerintah yang saat itu membutuhkan sekali guna pembuatan sungai di mana kebetulan menjorok melintas tanah pekarangan milik Syekh Jamil. Jembatan tersebut dikenal masyarakat dengan nama Kreteg Uwung (jembatan lalu lintas  manusia) sedangkan jalan yang dibangun diberi nama Dalan Sekerikil (Jalan sebesar Kerikil).


KH. Abdul Jamil menginginkan semua keluarga terlibat.    KH Abdul Jamil meminta keluarga dan sanak familiyang terdiri dari KH. Abdul Mun’im, Kiai Tarmidzi, KH Abdul Mu’thi, Kiai Muktamil, Kiai Abdullah, dan Kiai Chamim menggelar pengajian. Antara lain lewat sistem halaqoh berbagai ilmu dan kitab kuning,   digelar secara rutin di masing-masing rumah kiai dan di masjid. Adapun para putera kiai dikirim ke pesantren-pesantren tertentu di tanah Jawa untuk menimba ilmu.   Syekh Abdul Jamil secara tekun dan telaten menyebarluaskan Tarekat Syatariyah serta latihan bela diri. 

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.