Selasa, 07 Maret 2017

KEMERDEKAAN dan SENYUM ALlAH

KEMERDEKAAN dan  SENYUM ALlAH  
SUTEJO IBNU PAKAR
Pewarisan bumi dengan segala potensinya kepada hamba-hamba yang saleh adalah sunnatullah. Allah hendak menjadikan manusia khalifah (wakil) yang  dipercayai mengelola kekayaan alam di dunia ini. Khilafah  atau ke-khalifah-an sesungguhnya merupakan tangungjawab manusia memanfaatkan karunia berupa kekayaan alam. Pemanfaatan ditujukan demi kesejahtraan manusia serta keseimbangan dan kelestarian ekosistem itu sendiri. Negara atau pemerintahan (dawlah) adalah tempat sebuah bangsa (sya’b) berkumpul dan bersatu demi mewujudan kedua amanat (bumi dan khilafah) tersebut.
Kesalehan adalah fitrah (asal penciptaan) setiap insane dan keniscayaan dalam transaksi pewarisan bumi. Kesalehan  merupakan  seni mengelola karunia dan amanat Allah.  Kesalehan menghajatkan kepemilikan ilmu pengetahuan dan ketrampilan, sains dan teknologi (sulthan) sebagai prasyarat terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan hidup serta  terpeliharanya kemanusiaan manusia.
Kemerdekaan (hurrîyah) adalah fitrah yang terbebas dari ikatan-ikatan yang membelenggu dan “pemaksaan” untuk bertuhan (tauhid),  bernegara dan berbangsa (istiqlal).   Kemerdekaan bangsa Indonesia adalah karunia karena Allah menghendaki bangsa Indonesia menjadi hamba   yang selalu kembali kepada fitrahnya. Allah sangat menyayangi bangsa Indonesia dengan mewariskan tanah air dengan segala kekayaan dan keindahannya. Segala parsarana dengan kemudahan-kemudahannya  adalah kasih sayang Allah yang hampir-hampir tidak dimiliki bangsa-bangsa lain. Kemudahan laksana kenikmatan di alam baqa’  (sorga, jannat al-Na’im).
Allah tersenyum bahagia ketika menjadikan bumi Indonesia. Allah tersenyum ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di siang hari Jum’at di bulan Ramadhan pada tanggal 17 Agustus 1945. Allah tersenyum bangga karena kesadaran, keikhlasan dan keyakinan kuat bangsa Indonesia kemudian berucap “Berkat rahmat Allah SWT sampailah kita kepada gerbang kemerdekaan. ……” . (رضي الله عنهم)
Senyuman Allah adalah inisiatif dan tidak pernah mengaharapkan timbal balik. Bisakah kita tersenyum karena kita memiliki fitah ? Bisakah kita tersenyum karena kita adalah khalifah Allah ? Bisakah kita tersenyum atas kemerdekaan bangsa Indonesia ? Apakah sneyuman kita  untuk semua ciptaan Allah ?   (SuTejo ibnu Pakar)

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.