Senin, 13 Maret 2017

KEILMUAN PESANTREN

EDISI PESANTREN PENDIRI NUSANTARA
KEILMUAN PESANTREN
SUTEJO IBNU PAKAR

Menarik untuk disimak bahwa, mata rantai keilmuan dan pesantren adalah bersumber dari pemahaman dan interpretasi Wasli Songo  terhadap ajaran Islam. Mereka adalah para guru tariqat sufi yang merujuk kepada pemikiran dan doktrin kesalehan al-Ghazali (w. 450- 505 H / 1106-1111 M.). Al-Ghazali adalah ulama dan sufi yang  besar pengaruhnya. Dialah  pembela dan penyebar ajaran teologi al-Asy’ari dan fiqh al-Syafi’i.  Dialah penyebar doktrin al-Asy’ari  ke seluruh penjuru dunia, termasuk dunia belahan timur dan Nusantara.  Dari sudut pandang ini bisa dipastikan mata rantai kesejarahan, ideologis ataupun budaya pesantren dengan tradisi intelektual dengan para ulama sufi tempo dulu tetap terjaga, terpelihara, serta tetap lestari. 

Rujukan ideal keilmuan pendidikan pesantren cukup komprehensif  meliputi inti ajaran dasar Islam itu sendiri yang bersumber dari al-Quran dan al-Sunnah. Kelengkapan rujukan itu kemudian dibakukan ke dalam tiga sumber atau rujukan pokok yaitu al-Asy’ariyah untuk inti ajaran dasar Islam bidang teologi, al-Syaf’iyah untuk bidang hukumIslam (fiqh) dan al-Ghazaliyah untuk akhlak atau etika Islam dan tasawwuf.

Evaluasi pendidikan pesantren cenderung kepada proses penilaian terhadap bagaimana cara santri mengaplikasikan tata milai yang terdapat di dalam kitab-kitab yang telah mereka pelajari bersama-sama dengan kyai atau guru mereka.  Aplikasi tata nilai terutama mengarah kepada bagaimana setiap santri mengamalkan ajaran agama Islam dalam bentuk ibadah ritual dan tata cara bergaul dengan sesama santri, pergaulan mereka dengan kyai,   keluarga kyai serta masyarakat umum di sekitar pesantren.  Evaluasi tidak mengutamakan pencapaia sekor secara tertulis dalam bentuk angka-angka.

Pendidikan sistem pesantren mengutamakan pemahaman dan penghayatan santri terhadap isi dan kandungan kitab-kitab klasik yang dipelajarinya bersama-sama dengan kyai dalam sebuah proses pembelajaran. Ukuran keberhasilan seseorang santri adalah ditentukan oleh kemampuan dan kemauannya mengamalkan isi atau materi kitab-kitab yang telah dikajinya tersebut dalam pergaulan sehari-hari yang dimulai semenjak santri masih berada di dalam  lingkungan pondok pesantren. 

Keberhasilan proses pembelajaran pendidikan pesantren adalah kesalehan para santrinya. Kesantrian dan kesalehan seseorang santri adalah diukur dari perilaku keseharian bersama-sama dengan kyai/ustadz dan sesama santri. Apakah santri telah mengamalkan isi atau materi pengajian kitab-kitab warisan para ulama sufi yang ditransformasikan secara terus menerus dan berkesinambungan semenjak zaman wali sanga sampai dengan sekarang ?

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.