Selasa, 07 Maret 2017

KEAHIRAN THARIQAH SUFI

KEAHIRAN  THARIQAH SUFI
SUTEJO IBNU PAKAR 
    Kemunduran Islam mengakibatkan pemikiran umat Islam tidak lagi menyatu dengan tindakan dan perilaku keagamaan mereka. Jalan lurus menuju Islam telah terpecah menjadi dua, yaitu jalan keduniwian dan jalan kesalehan.[1] Kedua jalan itu selalu berlawanan. Jalan yang satu dipandang terpuji dan mengandung semua nilai religius dan etis, sedangkan jalan lainnya dipandang terkutuk dan mengandung nilai-nilai materialistis. Kedua jalan itu mengalami transformasi. Jalan pertama berubah menjadi spiritualitas hampa, sama dengan spiritualitas kosong dan kerahiban Kristiani dan Budha. Tidak terbayangkan oleh para syaykh pendiri tarekat-tarket sufi dan para peletak dasar-dasar ideologis, kalau persaudaraan atau perkumpulan mereka akan menyimpang sedemikian rupa dan menyimpang jauh karena memperkembangkan etik dan tujuan peribadatan yang bertentangan dengan Islam.
Penilaian sepihak itu juga datang dari kelompok cendekiawan yang, mengaku, mengamati dari jauh praktek-praktek pelaksanaan doktrin-doktrin tarekat dengan pengamatan dari luar. Para pengamal doktrin tarekat dinilai telah tergoda dengan tahayul dan keunggulan manusia-manusia pembuat keajaiban. Penilaian yang bahkan lebih lazim adalah ditujukan terhadap realiasasi doktrin zuhud, faqr  dan tawakkal  yang dinilai bertentangan dengan realitas dinamika umat Islam secara keseluruhan. Terminilogi subjektif yang lazim dioergunakan, antara lain,  ketika mereka menterjemahkan zuhud  dengan  dan scetisme ’uzlah  dengan escapisme.
Jalan kedua yang sebenranya juga mendapatkan sorotan naif, akibat kemunuduran operadaban Islam secara menyeluruh, adalah jalan keduniawian yang telah mengembangkan sistemnya sendiri yang immoral.  Sistem ini pada akhirnya akan mengalami kehancuran dan menjadi santapan setiap orang atau kelompok  pesaing. Pemerintahan dan institusi-institusi politik, dengan menjadikan politik sebagai alat, kekuasaan untuk merampas keuntungan-keuntungan moral rakyat (’awam al-Muslimin).
Jalan sufi yang demikian itu, lazimnya dituduh sebagai biang depolitisasi  umat Islam dengan metode zuhud dan ’uzlah.  Para pengamal tarekat diajak untuk menjauhi kesibukan aktiviyas keduniaan dan kondisi umat yang sedang berlangsung. Situasi pemerintahan yang dihiasi kemewahan dan foya-foya para penguasa serta budaya individulistis dna materilistis yang telah meracuni sebagian besar umat Islam atau sikap pasrah tak berdaya (tawakkul=tawakal) dati masyarakat lapisan bawah, ditinggalkan jauh-jauh oleh kelompok tarekat; dan mereka kebih memilih untuk mengisolir  diri,  ’uzlah jasadiyah ke pelosok-pelosok desa yang memberikan situasi sepi, aman dan terbebas dari hiruk pikuk kesibukan duniawi, sehingga dapat dengan tekun beribadah dengan sesungguhnya (mujahadah).Klimasknya mereka berharap dapat musyahadah (berjumpa dengan Allah), setelah merasakan benar-benar dekat (qurb) dan memiliki kesucian jiwa.  
Tarekat, dalam pandangan para sufi, merupakan istilah bagi praktek-praktek dzikir berdasarkan model kurikulum pembelajaran. Tarekat juga merupakan himpunan tugas-tugas murid dalam ikhtiar perbaikan diri dan pensucian jiwa sebagai media untuk mencapai tujuan ”dekat dengan Allah”. Tarekat adalah cara atau jalan kaum sufi dalam mencapai tujuan yang dikehendaki. Tarekat (thoriqoh) secara harfiah berarti  jalan  atau  metode,  sama seperti syariah, sabil, shirath dan manhaj yaitu jalan menuju kepada Allah guna mendapatkan   ridho-Nya dengan mentaati ajaran-ajaran-Nya.
secara harfiah, kata  thoriqoh  berarti sirah, madzhab, thAbaqot  dan  maslakul mutashowwifah.Thoriqoh yang dimaksudkan adalah jalan para sufi.[2] Jalan itu adalah jalan untuk mencapai tingkatan-tingkatan (maqomat) dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Melalui cara ini seorang sufi dapat mencapai tujuan peleburan diri (fana’) dengan al-Haq (Allah). Dalam ungkapan lain, tarekat diartikan sebagai jalan yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang mencari Allah di sini dan kini. Merupakan perpaduan antara iman dan islam dalam bentuk ihsan.[3]
      Secara amaliah (praksis) tarekat tumbuh dan berkembang semenjak abap-abad pertama hijriah dalam bentuk perilaku zuhud  dengan berdasar kepada al-Quran dan al-Sunnah. Perilaku zuhud  sebenarnya merupakan perwujudan dari salah satu aspek yang lazim ditempuh dalam tarekat agar dapat sampai kepada Allah. Aspek dimaksud ialah mujahadah. Zuhud  bertuJuan agar manusia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan terhadap kenikmatan duniawiah secara berlebihan.[4] Bagi al-Gahzali, tarekat sufi itu dibangun di atas empat landasan pokok, yaitu ijtihad (islam), suluk (iman), sayr (ihsan), dan thayr  yakni sampainya seorang hamba kepada Allah karena proses jadzb  atau ditarik oleh Allah lantaran posisi ihsan-nya.[5]
Secara essensial iman adalah kepercayaan terhadap keesaan Allah dan islam adalah kepa Allah (al-Inqiyad wa al-Khudhu’) terhada segala kehendak Allah. Islam mengatur keduanya dan mentransformasikannya ke dalam apa yang disebut ihsan. Sufi-sufi besar,[6] diakui, telah  memberikan batasan tarekat sesuai dan merujuk krpada hadits tentang ihsan. Tarekat merupakan kebajikan atau ihsan pada iman dan islam. Iman yang dibentuk oleh ihsan akan melahirkan ’irfan  dan  ma’rifat  yang menembus dan menyentuh manusia. Apabila islam dilihat dari aspek ihsan, ia akan menjadi kefanaan di hadapan Allah. Satu kesadaran dari penyerahan diri secara total terhadap Allah dan kesadaran Alllah adalah segala-galanya dan manusia bukan apa-apa di hadapan-Nya.
Komunitas sufi mengenal syariat sebagai bentuk penghambaan kepada Allah yang dimulai dari tahapan taubat, taqwa dan berakhir dengan istiqomah. Sementara tarekat dimaknai sebagai kelanjutan dari syariat, karena didalam tarekat, selain menghamba juga memiliki maksud untuk menuju dan mendekati Allah. Bertarekat harus dimulai dengan proses perbaikan aspek batin dalam bentuk kebiasaan berlaku ikhlash, jujur dan tuma’ninah.[7] Oleh karenanya, bertarekat harus dimulai dengan meleyapkan sifat-sifat hina dan menghiasi diri dengan berbagai keutamaan batiniah. Ketika seseorang sudah bertarekat dengan baik maka pintu haqiqah pun akan terbuk baginya. Dia akan dikaruniai kemampuan muraqabah musyahadah, dan ma’rifah.
Memasuki tarekat berarti melakukan olah batin atau pelatihan spiritual  (riyadhah), berjuang dengan kesungguhan mengendalikan kecenderungan nafsu (mujahadah), serta melakukan pensucian diri dari akhlak tercela (takhalli), menghiasi diri dengan akhlak terpuji (tahalli) agar dapat mencapai internalisasi atau penghayatan nama, sifat dan pekerjaan Tuhan (tajalli)dengan terbukanya pintu ma’rifatullah.
Seperti halnya al-Tharîqah, al-Haqîqah pun tidak dapat dipisahkan keberadaannya dari al-Syarî‘ah. Tiap-tiap al-syarî‘ah itu adalah al-Haqîqah, dan tiap-tiap al-Haqîqah itu adalah al-Syarî‘ah. Al- Syarî‘ah mewujudkan perbuatan, dan al-Haqîqah mewujudkan keadaan bâthin.  Bagi al-Qusyayri,  menjalankan syariat berarti menjalankan ibadah dan haqiqat adalah menyaksikan sifat rububiyah Allah. Akan tetapi, keduanya tidak bisa dipisahkan dan harus saling menguatkan. Amaliah syariat yang tidak diikat oleh haqiqqat atau sebaliknya amaliah haqiqat yang tidak diikat oleh syariat, maka keduanya tidak diterima Allah SWT.[8]
Jadi, al-Syarî‘ah merupakan landasan bagi para sufi untuk menjalani al-Tharîqah, yang  jika dijalani dengan segenap kesungguhan  akan menghantarkan pada al-Haqîqah, yakni kesempurnaan bâthin. Syariat adalah kualitas  keislaman, sedangkan thariqoh adalah kualitas keimanan dan haqiqah adalah kualitas ihsan.[9] Syariat adalah penjelas sedangkan haqiqat merupakan penentu arah. Syariat adalah hakim (penentu benar dan salah) terhadap  haqiqat yang tampak dalam wujud perbuatan lahirian dan sebaliknya haqiqat nerupakan hakim terhadap pengalaman syariat yang tidak tampak secara lahiriah.[10]  Dengan kata lain, syariat harus diperkuat dengan haqiqat dan haqiqat harus diikat oleh  syari’at.[11]



[1]al-Faruqi, Isma’il Raji,  Islamisasi Ilmu Pengetahuan,  terj., Bandung, Pustaka, 1984, h. 53.
[2] Anis, Ibrahim,  al-Mu’jam al-Wasith,  Beirut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, h. 556.
[3] Lihat Sayyed Hussein. Nashr, Living Sufisme,  terj.  Jakarta, Pustakal-Falsafah wa al-Akhlaq, a, h. 63.
[4] al-Nasyr, Ali Sami, Nasy’at al-Fikr al-Islamiy, Mesir, Dar al-Ma’arif, h. 52; ‘Azmi Islami, Mabadi’ al-Falsafah waal-Akhlaq,  Kairo, al-Mathba’ah al-Mishriyah, 1987, h. 155-158; Arbery, AJ.,  Sufisme; An Account of the mYstic of Islam,  terj., Bandung, Mizan, 1993, h. 107. 
[5]al-Ghazali, Rawdhat al-Thalibin wa ‘Umdat al-Salikin,  h. 14.
[6] Lihat Sayyed Hussein. Nashr, Ideals and Relities of Islam,  h. 134.
[7]Lihat al-Husayni, al-‘Arif billah Ahmad bin ahmad bin ‘Ujaybah, Iqodz al-Himam fi Syarh al-Hikam, h. 44.
[8]al-Qusyayri, al-Risalah al-Qusyayriyah, h. 42
[9]al-Husayni, Iqodz al-Himam,  h.  44
[10]al-Husayni, Iqodz al-Himam,  h. 308.
[11]al-Kamsyakhowani, Ahmad, Jam’ al-Ushul fi al-Awliya’ wa Ushul kull Thariq wa Muhimmat al-Murid wa Syuruth al-Syaykh wa Kalimat al-Shufiyah wa Ishthilahim wa Anwa’ al-Tashawwuf wa Maqamatihim, Surabaya, al-Haramain, t.th., h. 74

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.