Selasa, 07 Maret 2017

JAM’IYAH TAREKAT

JAM’IYAH TAREKAT ; INSTITUSI PERSAUDARAAN SUFI
OLEH: 
SUTEJO IBNU PAKAR
Kelompok orang-orang yang zuhud (zahid  atau zuhhad) kemudian mengambil perkumpulan atas dasar persaudaraan. Mereka lebih mendahulukan amaliah nyata daripada perenungan-perenungan filasafis (kontemplasi atau meditasi). Mereka mempunyai anggota dan tempat pemondokan serta guru khusus yang disebut syaykh  atau mursyid. Mereka, dengan demikian, telah memasuki sebuah perkumpulan yang terorganisir (jam’iyah).
Para pertapa di abad II hijriah (X Masehi) memunculkan penyiar-penyiar (muballigh) agama yang populer.[1] Dalam abad yang sama pula terjadi perubahan sifat umum pertapaan. Mula-mula dasarnya adalah rasa takut kepada Allah khowf  lalu  muncul penyebaran ajaran hubb/mahabbah dalam arti kecintaan berupa ketaatan dan pengabdian yang berkesinambungan kepada Allah SWT.[2]
Perubahan dalam sifat kemudian melahirkan perubahan dalam kepemimpinan. Semula para pemimpin tarekat terdiri dari ulama salaf abad III Hiriah  (XI M.) tetapi kemudian posisi itu diduduki oleh tokoh-tokoh yang tidak terdidik dalam ketertiban agama dan oleh berbagai macam kelas ekonomi dari warga Baghdad dan Baghdad keturunan Persia. Pada waktu yang sama pergerakan itu menjauhi tujuan-tujuan politik revolusioner dari kaum propagandis Syi’ah tentang keburukan-keburukan sosial.[3] Maka, setelah abad II H. cikal bakal atau orde baru tarekat dinilai baru lahir [4]. Syaykh ’Abd. al-Qodir al-Jaylani dianggap sebagai founding faher atau pendiri awal..[5]
Sejak abad VI dan VII Hijriah (XII dan XIII M.) tarekat-tarekat telah memulai jaringannya di seluruh dunia Islam. Taraf organisasinya beraneka ragam. Perbedaan yang plaing utama dari semuanya itu terletak pada upacara dan dzikir. Keanggotannya sangat heterogen. Kemudian sejak abad VIII H. (XIV M.) menyebar dari Sinegal sampai ke Cina. Semenjak itulah tarekat-tarekat telah beraneka ragam dengan ciri-ciri klhusus dan berbeda satu dengan lainnya.
Mulai saat itu tarekat menjadi organisasi keagamaan kaum sufi dengan jumlah relatifbanyak dan nama yang berbeda-beda; didasarkan pada pendiri atau pembuat wiridan atau  hizb.  Wilayah dakwahnya menyebar ke Asia Tengah, Asia Tenggara, Afrika Timur, Afrika Utara, Afrika Barat, India, Irak dan Turki serta Yaman, Mesir dan Syria.[6] Setelah abad XII dan XIII M.  tarekat berkembang menjadi sistem ritual dari pelatihan kejiwaan/spiritual (riyadhoh) bagi kehidupan bersama syaykh atau mursyid. Dengan demikian, organisasi atau jam’iyah thoriqoh baru muncul setelah abad IV H/XII M.
Pergerakan tarekat adalah pergerakan apologetik,  karenanya selama abad IV dan V Hijriah ia bertambah kuat, meskipun masih tidak disukai para ulama dan sebelumnya ditekan oleh pembesar-pembesar negara, terutama kaum siy’ah. Tekanan-tekanan yang datang dari ulama-ulama ortodoks adalah karena kekhawatiran terhadap pengaruh dzikr atau wiridan tarekat. Perumusuhan itu  muncul karena dzikr kaum sufi dapat menyaingi atau bahkan menggantikan masjid sebagai pusat kehidupan keagamaan.[7]
      Dari sekian banyak tarekat hanya beberapa saja yang dinilai besar dan memiliki ciri khusus. AJ Arbery, yang menganggap tarekat baru berdiri di abad V Hijriah (XI M.) menunjuk tarekat-tarekat dimaksud adalah:  al-Qodiryah, al-Suhrowardiyah, al-Syadzaliyah, dan Mawlawiyah (al-Rumiyah).[8] Sementara orientalis Gibbs menganggap tarekat al-Qodiriyah, al-Rifa’iyah, al-Badawiyah, Mawlawiyah, al-Syadzaliyah, al-Naqsyabandiyah dan al-Khalwatiyah  sebagai tarekat yang memiliki ciri khas. Ia pun mengkategorikan tarekat kota (al-Qodiriyah dan Mawlawiyah) dan tarekat desa (al-Rifa’iyah dan al-Badawiyah).[9] Sedangkan Harun Nasution menilai tarekat al-Qodiriyah, al-Rifa’iyah, al-Syadzaliyah, Mawlawiyah dan al-Naqsyabandiyah sebagai tarekat besar dimaksud.[10]Tarekat syattariyah adalah salah satu tarekat yang mendapat simpati dan banyak pendukungnya di Indonesia. Disamping itu terdapat pula tarekat  Naqsyabandiyah dan Tijaniyah.[11]
Tarekat Naqsyabandiyah sudah dikenal di Indonesia sejak abad ke-17 Masehi tetapi baru benar-benar menjadi populer pada akhir abad ke-19 Masehi.[12] Tarekat ini memiliki banyak pengikut di kalangan orang Jawa. Disebutkan bahwa, syaykh-syaykh tarekat ini cenderung menedekati penguasa dan mencari pengikut di kalangan elite politik.[13] Tarekat syattariyah juga tercatat sebagai tarekat yang jauh lebih disukai murid-murid Ahmad al-Qusyasyi (w. 1660 M.) dan Ibrahim bin Hasan al-Kurani (1615-1690 M.) di Indonesia, karena berbagai gagasan menarik dari kitab Tuhfah  menyatu dengan tarekat ini. Ia merupakan tarekat yang mempribumi karena mudah berpadu dengan tradisi setempat.[14] Sementara tarekat Tijaniyah yang didirikan oleh Syaykh Ahmad al-Tijani (1737-1815 M.) sering disebut sebagai tarekat neo-sufi. Tarekat ini dikenal reformis dan  menentang pengkultusan para  wali.[15] Tijaniyah masuk ke Jawa Barat pada akhir tahun 1920-an.[16]




[1]Gibbs, H.A.R.,  Mohammedanisme,  terj., Jakarta, Bathara, 1960, h. 109.
[2]‘Azmi, Op. Cit., h. 163.
[3]Gibbs, H.A.R., Op. Cit.,  h.. 112.
[4] Kamil Mustfa, al-Tashawwuf wa al-Tasyayyu’  Mesir, Dar al-Ma’arif, h. 443-444
[5] Kamil Mustfa, al-Tashawwuf wa al-Tasyayyu’  Mesir, Dar al-Ma’arif, h. 184.
[6] Lapidius,  A History of Islam Society,  New York, Cambrigde University Press, 1989, h. 999.
[7] Gibbs,  Op. Cit., h. 113-114.
[8] Arbery, AJ.,  Op. Cit., h. 108-113.
[9] Gibbs,  Op. Cit.,  h. 129-131.
[10]Nasution, Harun, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam,  Jakarta, Bulan Bintang, 1984, h. 90-91.
[11]Shihab, Op. Cit., h. 174-175
[12]Burienessen, Martin Van,  Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat,  Bandung, Mizan, 1999, h. 102
[13]Burienessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat,  h. 334.
[14]Burienessen, Martin Van,  Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat,  Bandung, Mizan, 1999, h. 194
[15]Brunessen,   Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat,   h. 200-201.
[16]Brunessen,   Ibid., h. 321

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.