Selasa, 07 Maret 2017

INSAN KAMIL

Insan Kamil MANUSIA PARIPURNA
OLEH: 
SUTEJO IBNU PAKAR
Manusia dalam pandangan sufi merupakan  pancaran Tuhan. Aliran unionisme adalah aliran  menganut paham bahwa manusia adalah pancaran dari Tuhan dan memiliki sifat-sifat ketuhanan. Manusia atau hamba pada hakikatnya adalah sama dengan Tuhan. Paham ini bisa disebut sebagai paham kesatuan (kesamaan) antara hamba dengan Tuhan atau ittihad, hulul, wihdat al-Wujud atau juga kesatuan kawula-Gusti. Menurut paham ini hakikat manusia berasal dari limpahan cahaya Tuhan dan sehakikat dengan Dzat Tuhan. Maka Insan Kamil menurut paham union-mistik ini adalah manusia yang telah sanggup melepaskan ikatan materi (jasmaniah)-nya, sehingga memancarlah sifat-sifat ke-Tuhanan dalam dirinya, dan peri kehidupannya mencerminkan kehidupan Tuhan. Jadi, dalam aliran union-mistik teori tentang Insan Kamil diperkuat dengan teori asal usul manusia yang berasal dari pancaran Dzat Tuhan dan memang bersifat ke-Ilahi-an. Oleh karena itu, Insan Kamil berarti Tuhan yang nampak. Di antara tokoh aliran ini adalah Abu Yazid al-Busthami, Husein ibn Manshur al-Hallaj, Ibn al-‘Arabi dan termasuk ’Abd al-Karim al-Jili. [1]
Bagi fuqaha’, kesesatan kedua paham ini terjadi karena para pendukungnya cenderung sangat mementingkan dan mengunggulkan aspek esoterik Islam (tasawuf), bahkan terkesan meremehkan aspek eksoteriknya (syari‘ah). Sementara mutakallimun memandang bahwa keduanya sebagai paham sesat dan menyimpang dari akidah Islam karena keduanya mengajarkan satu ajaran tentang “penyatuan” dengan Tuhan, yang oleh al-Busthami dengan paham ittihad dan al-Hallaj dengan paham hulul-nya biasa diekspresikan dengan ungkapan-ungkapan yang dalam tradisi tasawuf disebut dengan istilah syathahat (teofani). Syathahat adalah penuturan atau ungkapan sang sufi yang menggunakan ungkapan simbolik dan padat akan makna. Syathahat juga merupakan suatu bentuk ekspresi pengalaman keruhanian seorang sufi ketika ia telah berada dalam keadaan ekstase (wajd). Dalam keadaan seperti ini ia telah mencapai tingkat ekstase mistik di dalam peringkatnya yang tinggi, dan pada kondisi itu pula ia sesungguhnya telah kehilangan kesadaran kemanusiaannya dan dikatakan telah mengalami perasaan “menyatu” dengan hadirat Allah swt. Keadaan-keadaan ruhani (ahwal) yang dicapainya memberi peluang kepadanya untuk menangkap suara yang timbul dari kedalaman pengalaman hatinya berupa ucapan-ucapan yang mendalam dan paradoks. [2]
Kaum sufi adalah komunitas  unik. Tradisi, gaya hidup serta pandangan mereka serba eksklusif, serba berbeda dengan orang kebanyakan. Barangkali karena itulah sufisme menyisakan ruang yang cukup luas untuk diperbincangkan orang, ditelaah, dikaji dan bahkan dikritisi. Di antara sekian banyak keunikan dalam dunia sufi, adalah menarik jika kita mengamati ungkapan-ungkapan ambigu para sufi (syathahat) yang kerap membingungkan.
Al-Ghazali mengemukakan bahwa syathahat, terdapat dua macam. Pertama, ucapan yang muncul dari seseorang yang mengaku tenggelam dalam lautan ma’rifatullah, sehingga ia merasakan dirinya bersatu bersama Allah (ittihad). Dalam kondisi demikian, kata-kata kontroversial kerap terlontar. Al-Ghazali mengambil sampel kasus Ibn  ‘Arabi yang mengatakan,   Ana  al-Haq (Allah)  dan Abu Yazid al-Busthami dengan kata-katanya: Mahasuci aku, mahasuci aku.  Kendati al-Ghazali tidak memungkiri  status  kasyf pada sufi sekelas Abu Yazid al-Busthami, hanya saja beliau menganggap kata-kata tersebut bisa berakibat fatal bagi kalangan awam dan berpotensi merancukan akidah mereka. Lebih tegas, al-Ghazali mengatakan, "Membunuh satu orang semacam ini dalam agama Islam lebih baik daripada tidak membunuh sepuluh orang. Kedua, ucapan yang sulit dipahami sebab pengucapnya sendiri tidak paham. Bisa jadi, ungkapan itu keluar dari asumsi yang keliru, atau pemahaman yang benar namun tidak mampu diungkapkan dengan bahasa yang bisa wajar. Akhirnya, ungkapan itu disalahpahami oleh orang lain dan timbullah fitnah.
Hampir senada dengan al-Ghazali, adalah pandangan Ibn  al-Qayyim al-Jawziyah.   Ia mengatakan, terkadang seorang sufi mengungkapkan kata-kata yang diucapkan orang yang menyimpang  akidahnya, tetapi dengan maksud yang benar. Kata-kata ini dapat menimbulkan fitnah kepada dua kelompok. Pertama, mereka yang hanya memandang sisi negatif dari kata-kata itu tanpa melihat kebaikan-kebaikan pengucapnya. Kelompok ini cenderung berburuk sangka. Kedua, kelompok yang hanya melihat kebaikan-kebaikan pengucapnya tanpa menghiraukan kebenaran kata-katanya. Kelompok ini cenderung terjerumus pada fanatik buta.[3]
Berbeda dengan al-Ghazali dan Ibnu al-Jauzi, adalah Ibn  Atha' Allah al-Sakandari. Beliau tampak lebih apresisif terhadap keganjilan ungkapan-ungkapan sufi dan tidak sertamerta menyalahkan.  ‘Atha’ Allah  al-Sakandari menyatakan bahwa syathahat  bisa jadi muncul dari luapan hikmah pada hati mereka yang tidak mampu tertampung, lepas dari kontrol dan kesadaran. Ini adalah keadaan salikin yang masih dalam proses suluk. Adakalanya hati mereka mampu menampung hikmah-hikmah itu, namun mereka meluapkannya untuk memberi petunjuk kepada murid. Ini adalah keadaan muhaqqiqin yang sudah mencapai puncak suluknya. Bagi Ibn  ‘Atha’ Allah  apabila ungkapan sufi itu bukan karena meluapnya hikmah dalam hati mereka, maka ungkapannya itu hanyalah bualan belaka,  atau hati mereka dapat menampung hikmah-hikmah itu. Namun mereka meluapkannya bukan untuk memberi petunjuk kepada murid, maka berarti dia telah menebarkan  rahasia-rahasia Tuhan  yang sangat riskan untuk diungkapkan.
Abd al-Karim ibn Ibrahim ibn ‘Abd al-Karim bin Khalifah bin Ahmad bin Mahmud al-Jilli (767-826 H./1365 – 1428 M) terkenal dengan teori sufistiknya tentang al-Insan al-Kamil (manusia sempurna). Ia mengidentifikasikan insane kamil ini dalam dua pengertian. Pertama,  dalam pengertian konsep pengetahuan tentang manusia yang sempurna. Kedua,  terkait dengan jati diri yang mengidealkan kesatuan nama dan sifat-sifat Allah kedalam hakikat atau esensi dirinya. Menurutnya, manusia dapat mencapai kesempurnaan insaniyahnya melalui latihan rohani dan pendakian mistik. Latihan ini diawali dengan kontemplasi tentang nama dan sifat-sifat Allah. Kemudian masuk kedalam suasana sifat-sifat Allah dimana ia mulai melangkah menjadi bagian dari sifat-sifat tersebut dan beroleh kekuasaan yang luar biasa. Berikutnya, ia melintasi daerah nama serta sifat Allah, masuk kedalam hakekat mutlak menjadi “manusia Allah” atau insan kamil. Ketika itulah, matanya akan menjadi mata Allah, kata-katanya adalah kata-kata Allah, dan hidupnya menjadi hidup Allah. Kesemuanya ini didasarkan pada asumsi bahwa segenap wujud hanya mempunyai satu realitas, esensi murni yaitu Wujud Mutlak yang tak tergambarkan dan tergapai hakikatnya oleh segala pemikiran manusia yang fana’.
Wujud Mutlak itu kemudian  ber-tajalli secara sempurna menjadi alam semesta. Baginya  alam ini tercipta dari ketiadaan (creatio ex nihilo) dalam ilmu Allah. Ketika dalam kesendirian-Nya, yang ada hanya dzat Allah satu-satunya (bandingkan dengan pemikiran kaum filsuf). Dalam tajalli ini, manusia idela adalah sintesis dari makrokosmos yang permanen sekaligus aktual, cermin citra Allah secara paripurna. Untuk mencapai tingkatan ini, seseorang harus melewati tahapan pendakian spiritual (taraqqi) dimulai dari pengamalan dan pemahaman syariat (rukun Islam) secara baik. Hal ini tentu dibarengi dengan keyakinan pada rukun iman yang kokoh. Dengan bekal keduanya, seorang sufi lantas dapat memasuki tingkat kesalehan (al-Shalih) dimana terdapat kontinuitas dalam menunaikan ibadah kepada Allah atas dasar khawf dan raja’. Dari al-Shalih, seseorang meneruskan pada tingkat al-Ihsan (kebajikan) yang terdiri dari tujuh maqam: tawbat, inabah, zuhd, tawakkal, ridha’, tafwidh, dan ikhlash. Pada tingkatan ini seseorang sudah mulai disinari oleh perbuatan-perbuatan Allah.
Beranjak dari tahapan ihsan, seorang sufi dapat mendaki ke tingkatan penyaksian (al-Syahadah) dimana hati dipupuk kemauan dan cintanya kepada Allah dengan senantiasa mengingat-Nya dan melawan segala bentuk hawa nafsu. Puncaknya, seorang sufi akan memasuki tingkat kebenaran (al-Shiddiqiyah) atau ma’rifat yang mempunyai tiga bentuk yaitu: ’ilmu al-Yaqin (dimana sufi disinari asma’ Allah), ’ayn al-Yaqin (dimana sufi disinari sifat-sifat Allah) dan haqq al-Yaqin (dimana sufi disinari dzat Allah. Dengan demikian, diri sufi akan fana’ di dalam asma’, sifat dan zat Allah. Setelah ma’rifat, seorang sufi dapat meneruskan ke maqam qurbah, yakni merangkak sedekat mungkin dengan Allah hingga sampai pada derajat al-Insan al-Kamil.



[1] Simuh, “Konsepsi tentang Insan Kamil dalam Tasawuf” dalam al-Jami’ah, No. 26, Tahun 1981, . 58-61.

[2] Thawil, Tawfiq,  Ushush al-Falsafah,  Kairo, Dar al-Nahdhah al-‘Arabiyyah, 1979, 364; ‘Abd al-Qadir Mahmud, al-Falsafah al-Shufiyyah fî al-Islam,  Kairo, Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1967,
[3] Ali, Sayyid Nur bin Sayyid, al-Tasawwuf al-Syar’i.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.