Rabu, 15 Maret 2017

Hizb

HIZIB
SUTEJO IBNU PAKAR
Proses pewarisan nilai-nilai sufisme di Indonesia lazim dialamatkan kepada lembaga pendidikan pesantren yang sepanjang sejarah perkembangannya  memiliki komitmen tinggi dan konsistensi kuat terhadap ajaran tasawwuf, dan tariqat shufi khususnya. Kegagalan prposes pewarisan nilai-nilai sufisme tidak dapat  secara serta merta harus diakui sebagai penyebab pertama. Masyarakat  dan komunitas santri,   lebih mudah memahami aspek eksoteris lahiriah ketimbang aspek esoteric,  batiniah sebuah ajaran. Ajaran dan doktrin tariqat shufi yang paling essensial (nilai-nilai ihsan ) yang sesungguhnya, ternyata sangat susah dimengerti orang kebanyakan

Setiap wirid tariqat (hizb) diposisikan sebagai mantera yang mendatangkan kesaktian dan kedigjayaan. Hizb  yang sebenarnya diciptakan sebagai metode taqarrub ila Allah dijadikan pelarian untuk membela diri dari ketidak berdayaan memahami ajaran. Kriteria kealiman dan kesalehan seseorang juga telah bergeser. Seseorang kyai, dalam masyarakat, dipandang  ‘alim dan suci (wali) bila memiliki berbagai jenis kesaktian, dibandingkan kyai tanpa kesaktian padahal dalam dirinya ada nilai mulia yang lebih semisal istiqomah  dan kemampuannya berempati serta menanggung beban orang banyak. Kyai pada akhirnya, secara tidak disadari, di-sama-kan  dengan  pendekar atau tabib atau dukun. Dan,  santri diidentikkan dengan pertapa, pendekar, pengembara atau pengelana seperti dalam dongeng-dongeng masa pra Islam. 

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.