Rabu, 08 Maret 2017

GURU MURSYID TAREKAT

GURU MURSYID TAREKAT
suteja ibnu pakar
Thoriqoh, semula diciptakan sebagai metode seorang syaykh yang sedang menekuni dunia tasawuf dan bermaksud untuk mencapai derajat syaykh. Syaykh atau mursyid  adalah guru pembimbing spiritual yang memberikan petunjuk ke jalan lurus. Dia adalah pwaris sejati Nabi Muhammad SAW. Sifa-sifat mursyid  adalah sifat-sifat yang dimiliki Nabi.
Syaykh thoriqoh menjadikan dirinya sebagai sanad (mata rantai) keilmuan tasawuf yang bersambung kepada guru-guru salaf sampai kepada al-Juanyd al-Baghdadi dan terakhir kepada Rasulullah SAW. Sedangkan syaykh yang sanadnya terputus kemudian menciptakan thoriqoh baru yang segala ketentuannya dan namanya dibuat sendiri berdasarkan nama pendirinya. Bahkan mereka meyakini bahwa, bentuk dzikir dan wiridannya merupakan karunia agung yang diperoleh secara langsung melalui ilham baik dari Rasulullah ataupun Khidhir.
Syaykh merasa bahwa hal yang demikian itu merupakan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan. Mereka merasa dirinya memiliki karomah, kasyaf, ilmu, dan derajat kewalian. Karenanya, pemilihan seseorang syaykh dalam tradisi thoriqoh tidak semata-mata didasarkan kepada keilmuan dan kesalehan seseorang, melainkan kepada keraomah yang dimiliki seseorang syaykh.
Mursyidadalah orang yang memiliki hubungan silsilah dengan guru-guru sebelumnya hingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW.  Pengertian silsilah di sini bukan berarti silsilah yang menunjukkan hubungan keturunan te­tapi menunjuk kepada hubungan penurunan ilmu tarekat dari satu guru kepada guru tarekat yang lain.  Orang yang dianggap berhak menjadi guru tarekat biasanya diberiijazah atau khirqah dari guru sebelumnya.
Satu hal yang masih tetap menarik bahwa para sufi dan guru-guru tarekat selalu berusaha mengajak umat Islam dalam kerangka penyadaran akan kehadiran Allah didalam kehidupannya dan menjadikan pribadi-pribadi tangguh dan berkesadaran bahwa manusia di hadapan Allah bukan apa-apa dan Allah adalah maha segala-galanya. Karenanya, mereka harus melalui jalan spiritual yang, dengan dasa al-Quran dan al-Sunnah, menunjukkan manusia mencapai kesucian yang dengan kesucian itu dapat mengetahui dan mendekati Allah Yang Suci.
Al-Gahzali, dalam kitabnya Qawa’id al-‘Aqa’id fi al-Tawhid, memberikan batasan mengenai prasyarat seorang mursyid yang didkhendaki. Pertama, seorang mursyid tidak dibenarkan memiliki rasa cinta berlebihan terhadap harta dan jabatan. Kedua, menjalani perialku riydahat seperti sedikit makan, sedikir bicara, sedikir tidur, dan mempercanyak sahalat sunnah, sedekah dan puasa sunnah. Ketiga, dikenal terpuji akhlaknya karena sabar, syukur, tawakal, yaqin, tuma’ninah dan dermawan. Keempat,  terbeas dari akhlak tercela. Kelima, terbebas dari fanatisme. Keenam,  memiliki pengetahuan memadai tentang syariat Islam.[1]



[1]al-Gahazali, Qawa’id al-‘Aqa’id fi al-Tawhid,  h. 12

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.