Kamis, 09 Maret 2017

Edisi Pesantren Produsen Pimpinan Bangsa
MBAH MUQOYIM;   QADHI PATRIOT
SUTEJA IBNU PAKAR

Jabatan penghulu kerajaan (qadhi) dalam sejarah Islam merupakan  jabatan kehoratan karena kecerdasan intelektual dan kecerdasan moral, yang oleh pemnguasa dikur berdasakan dedikasi dan loyalitas seseorang. Daulat Bani Umayyah da Daulat Bani ’Abbasiyyah menghasilkan banak tokoh penghulu agama yag karya-karyaya dipegangi oleh kaum sunnni hingga sekarang. Mbah Muqoyim bin KH. Abdul Hadi  diamanati tugas sebagai qadhi  di lingkungan istana kesutanan Kanoman Cirebon karena kualitas intelektual dan moralnya.

Layaknya seorang qadhi  setiap ucapan dan keputusannya adalah rujukan bagi kerja administratif dan manajerial serta aktivitas politik penguasa didalam usaha mengendalikan pemerintahan terkait langsung dengan kebijakan berkenaan dengan kehidupan masyarakat.  Kita bisa mencatatat nama al-Imam al-Mawardi, penulis kitab al-Ahkam al-Sulthaniyah,  kitab yang, sampai dengan sekarang dijadikan rujukan berpolitik kaum nahdhiyyin, terkenal dengan semoboyan”megikuti penguasa yang dzalim adalah lebih baik daripada negara dalam keadaan kosog dari kepemimpinan, tidak memiliki pemimpin”.
Akan tetapi, pendirian qadhi  yang tidak didengar oleh sang penguasa atau kebijakan puhlik sag penguasa yang tidak menemukan titik temu tekadang menjadi penyebab berakhirnya sang qadhi  berada di dalam lingkungan sebuah kekuasaan. Demikialah yang dialami Mbah Muqoyyim pada suatu ketika di tahun 1750 M. lantaran pihak penguasa Kanoman melakukan kompromi degan pihak penjajah Belanda. Ketegasan dan keberanian Mbah Muqoyyim menentang penguasa yang menerima kehadiran penjajah di ligkungan keraton Kanoman tidak saja membuahkan tegaknya kharisma keulamaan seorang kyai. Justru memperkuat kehadiran seorang guru mursyid Tarekat Syaththariyah yang memiliki kebebasan penuh melakukan poitik kerakyatan dalam arti melakukan pendampingan secara intens terhadap rakyat yang dalam posisi dianiaya penjajah.
Melalui pendidikan pesantren yang dibangunnya, Mbah Muqoyyim dengan segenap kekuatan pribadinya kembali menyusun   semangat dan kekuatan rakyat melakukan perlawanan terhadap penjajah untuk merebut kembali hak-hak rakyat yang telah  dirampas secara membabi buta. Penjajah berkeinginnan keras menjauhkan pengaruh Mbah Muqoyyim dari para peguasa Kanoman, tetapi dia tidak sendirian. Belanda yang, meyadari dirinya, tidak mampu mengendalikan Mbah Muqoyyim beserta para pengikutya, segera melakukan pengejaran dan bahkan pembakaran pondok pesantren yang dirintis sang kyai yang kemudian menjadi leluhur para kyai Buntet Pesantren.
Namun demikian, sang mursyid Sayththariyah ini tidak pernah merasa letih apalagi berputus asa memerdekakan rakyat dari penajajahan. Buku ini mengajak pembaca memahami peran seorang Mbah Muqoyyim sebagai penghulu keraajaan dan  mursyid tarekat awal abad ke-18 Masehi yang didalam dirinya berkobar semangat nasionalisme (keindonesiaan) yang tidak pernah padam yang harus diteladani tidak hanya oleh murid-murid tarekat di Cirebon, tetapi masyarakat dan generasi bangsa negeri ini Indonesia tercinta. (ibnu Pakar).




















Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.