Kamis, 30 Maret 2017

DZIKIR NAQSYABANDIYAH

DZIKIR THORIQOH NAQSYABANDIYAH
SUTEJA IBNU PAKAR

Agama shufi adalah wirid yang diciptakan oleh syekh dan dianggap sebagai ibadah. dizkir kalimat tahlil لا إله إلا الله adalah dizkir umum. Sedangkan dzikir khusus yait melafalkan kalimat الله diposisikan lebih utama daripada membaca al-Quran.[1]   Meskpiun berbeda-beda nama dan masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri akan tetapi tarekat para sufi seperti  al-Syãdzalî, al-Rifã’î, al-Tijãnî, al-Qãdirî, al-Naqsyabandî dan lain-lain memiliki tujuan  satu[2]     
Mendawamkan dzikir didalam tarekat diyakini sebagai cara efektif untuk mencapai kedekatan  (qurb) dengan Allah. Seluruh tarekat sepakat bahwa, mendawamkan dizkir akan membuahkan kebersihan sir.  Ketika sir  telah mendapatkan kejernihannya maka ia akan mendapatkan posisinya di hadirat Allah.[3] Apabila seorang selalu dizkrullãh maka dia akan mendapatkan penampakkan sifat-sifat Allah dan  lezatnya  sirna kedalam wujud-Nya, baik  materi dan immateri.   Haqîqat  adalah buah dari tharîqat  seperti persaksian terhadap nama-nama, sifat-sifat dan dzat Allah.[4]   
Al-Naqsyabandîyah didirikan oleh Bahauddin Muhammad bin Muhammad al-Bukhari (618-791 H.). Menyebar di Persia, India dan Asia Barat.[5]     Memiliki kekhasan dalam hal dzikir, khalwat dan karamah.[6]     Muhammad bin Sulayman al-Baghdadi al-Naqsyabandi, menegaskan, nyatakanlah ilmu, kasyf, syuhûd dan ‘irfãn dengan tajribah. Sesungguhnya, tarekat naqsyabandiyah merupakan tarekat paling efektif dan paling mudah bagi murid yang hendak mencapai derajat tauhid, karena fondasi naqsyabandiyah adalah jadzb dalam sulûk. Inilah tujuan tasawuf yaitu wihdat al-Wujûd.[7] 
Dzikir sufi mengutamakan dzikir ifrãd dengan melafalkan kalimat الله الله الله atau هو, هو, هو . Ada juga yang mendawamkan  sholawat.[8] Sudah menjadi kesepakatan setiap tarekat memandang pentingnya dzikir. Tarekat Naqsyabandi memformulasikan dzikir dengan cara menyebut nama    Allah       الله  berbeda dengan al-Syadzaliyah yang melafalkan kalimat laa ilaaha illa allah لا إله إلا الله.  Tarekat Naqsyabandi mengutamakan dzikir lafal Allahu.[9]
Dzikir nafyi itsbãt yaitu dizkir  لا إله إلا الله.  Dzikir ini dilakukan dengan melafalkan lafal jalãlah didalam hati dengan kekuatan yang akan membakar seluruh hawa nafsu. Dzikir ini bila dilakukan dengan benar sebanyak 21 kali maka akan mendatangkan keberkahan sebagaimana dijanjikan oleh para syekh al-Naqsyabandi yaitu: istighraq dan persaksian (syahãdah) atau melihat Allah.[10]  . Cara melakukan dizkir ini harus dimulai dengan kalimat إلهي أنت مقصودي ورضاك مطلوبي  Setelah itu meningkat ke tahapan dizkir suluk yaitu dizkir لا إله إلا الله sebanyak 5.000 kali dalam  sehari semalam.[11] 
‘Abd. al-Majîd Muhammad al-Khãnî al-Naqsyabandî menyatakan, murid yang sebenarnya ketika sibuk dizkrullah dengan ikhlas akan tampak kepadanya  hal-hal ajaib dan khawãriq yang aneh-aneh sebagai buah perbuatannya dan juga karunia Allah SWT  berupa kedamaian hati atau  keharmonisan hidup.   Murid yang selalu dizkrullah sepanjang siang dan malam selama lebih dari 20 tahun akan mendapatkan apa yang telah diperoleh Syekh ‘Abd. al-Qãdir al-Jaylãnî berupa keluar biasaan.[12] 




[1] al-Fawzan, Shalih bin Fawzan bin ‘Abdullah, Haqiqat al-Tasawuf wa Mawqif al-Shufiiyah min Ushul al-‘Ibadah wa al-Din, hal. 17
[2]  al-Qasim, Mahmud ‘Abd. Al-Rauf, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shufiyah, hal. 9. 
[3] al-Qasim, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shufiyah, hal. 371
[4] al-Qasim, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shufiyah, hal. 377
[5] Bakir, Abu ‘Azayim Jad al-Karim, Thalai’  al-Tashawuf, hal 27-28
[6] al-Qasim, Mahmud ‘Abd. al-Rauf, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shufiyah, hal.378.
[7] al-Qasim, Mahmud ‘Abd. al-Rauf, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shufiyah, hal.378.
[8] Bakir, Abu ‘Azayim Jad Al-Karim, Shuwar Min Al-Tashawuf,  hal. 11-12
[9] Bakir, Abu ‘Azayim Jad al-Karim, Thalai’  al-Tashawuf, hal. 27-28.
[10] al-Qasim, Mahmud ‘Abd. al-Rauf, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shûfiyah, hal.319-320
[11] al-Qasim, Mahmud ‘Abd. al-Rauf, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shûfiyah, hal. 322
[12] al-Qasim, Mahmud ‘Abd. al-Rauf, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shûfiyah, hal. 431

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.