Rabu, 08 Maret 2017

DZIKIR KALIMAT THAYÎBAH

DZIKIR KALIMAT THAYÎBAH
suteja ibnu pakar
Dzikir adalah upaya yang biasa dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Ia dapat berupa lantunan kalimat syahãdatayn, lã ilãha illã Allah  atau kalimat  thayibah.  Dzikir adalah  rukun tasawuf yang utama. Para sufi, menurutnya,  mengutamakan dzikir kalimat thayyibah Setiap amal ibadah, dan sebaiknya setiap perbuatan, hendaknya dibarengi dengan dzikrullah. Dzikrullah merupakan prasyarat bagi tercapainya kehidupan ruhaniah, karenanya disyaratkan  konsistensi di dalam berdzikir.
Dzikrullâh dapat dilakukan dengan berbagai cara atau bentuk. Ia dapat dilakukan dengan suara keras atau diam, sendiri atau bersama-sama. Bagi para sufi dzikrullah tidak saja merupakan amaliah yang penting melainkan sebuah par excellence  atau pengalaman puncak.
Par excellent atau pengalaman puncak dialami oleh seseorang yang telah melakuan aktualisasi diri.[1] Individu yan telah mengalami pengalaman puncak biasanya ditandai dengan hal-hal khusus. Pertama, ia memiliki pegetahuan yang realitsis mengenai dirinya dan mampu menerima diri sendiri apa adanya. Kedua, memiliki kemandirian, spontanitas dan menyenangkan. Ketiga, memiliki rasa humor yang filasafis. Keempat, mencintai sesama manusia. Kelima, tidak mudah mengikuti orang lain tetapi tetap etis.[2]
Kebutuhan untuk beratualisasi akan muncul apabila kebutuhan lain sudah terpenuhi dengan baik.  Kebutuhan yang mesti dipenuhi dalam kerangka aktuliasasi diri adalah kebutuhan ruhaniah berupa keadilan, cinta, keindahan, hidup teratur, dan integritas.  Untuk itulah  seorang murid tarekat atau sãlik disyaratkan memilki kemampuan-kemampuan khusus seperti menyukai kesunyian dan merasa nyaman dengan kesendirian.  Hidup teratur dapat diidentikkan dengan istiqãmah. Menyukai kesunyian dan merasa nyaman dengan kesendirian  dapat diidentikkan dengan  ’uzlah dan  khalwat.
Dzikrullah  dengan cara terus menerus dan intensif, dengan cara meneyendiri selama beberapa hari atu bahkan beberapa minggu adalah  amalan satu-satunya selama menjalani khalwat.  Anjuran untuk mengasingkan diri dari masyarakat yang destruktif  (khalwah) dan ‘uzlah  yang sesuai dengan semangat anti kerahiban dalam sufi, menjadi ciri khas Tariqat Naqsyabandiah yang  diterima secara luas oleh sufi-sufi lainnya.  Khalwah yang dilakukan dengan memperbanyak dzikrullãh akan membawa seorang sãlik mencapai istighrãq dengan Allah secata total. Kemudian, ia akan mengalami musyãhadah (perjumpaan dengan Allah) dan pada akhirnya akan fanã` di hadirat Allah. Dalam keadaan demikian Allah akan menampakkan diri (tajallî) dan sang sãlik dengan kekuatan mata hatinya (bashîrah) menyaksikan kehadiran-Nya.[3]
Tujuan utama dizkurllãh adalah kedekatan dengan Allah.  Uzlah adalah salah satu  tanda  keberhasilan sãlik menuju kedekatan dengan Allah.[4] ‘Uzlah  yang dilakukan para khawwãsh tidaklah lain adalah menjauhkan sifat-sifat manusiawi menuju kepada sifat-sifat malakîyah, meskipun tetap dalam keadaan hidup secara berdampingan dengan masyarakatnya. Atau menjauhi sifat-sifat tercela dan menjauhinya. Seseorang yang sudah mencapai ma’rifat (al-‘Ârif) secara lahiriah ia tetap bersama-sama dengan orang banyak tetapi secara batiniah dia tidak bersama mereka.[5]  Ungkapan  ini  menunjukkan sikap seorang sufi yang  memiliki  ketetapan hati dan jiwa  yang  kuat, tidak terkontaminasi hal-hal duniawi akan tetapi adaptatif dan tetap berada bersama dengan masyarakatnya.
Kelanjutan dari proses bai’at murîd Naqsyabandîyah  Bongas  adalah pelaksanaan dzikir berjama’ah dan konsultasi katarekatan serta kajian kitab-kitab tasawuf.  Dzikir dilakukan baik secara sendiri-sendiri maupun berjamaah.  Kebanyakan pengikut dan murid Naqsyabandiyah Bongas Indramayu lebih sering melakukan dzikir secara sendiri-sendiri. Tetapi mereka yang tinggal dekat seseorang syekh cenderung ikut serta secara   teratur dalam pertemuan-pertemuan dimana dilakukan dzikir berjamaah.   
Teknik dasar Naqsyabandiyah, seperti kebanyakan tarekat lainnya, adalah dzikir yaitu berulang-ulang menyebut nama Allah ataupun   menyatakan kalimat لا   إله     إلا    الله  . Tujuan latihan itu ialah untuk mencapai kesadaran akan Allah yang lebih langsung dan permanen. Tarekat Naqsyabandiyah membedakan dirinya dengan tarekat-tarekat  lain dalam hal dzikir khofi  (dzikir secara tersembunyi)   atau   qalbi  (dzikir dengan hati), sebagai lawan dari dzikir keras (dzahri) yang lebih disukai tarekat-tarekat lain.  Dzikir  al-Khofîy  atau  dzikir dengan hati disertai kesadaran penuh merupakan tingkatan dzikir kedua setelah dzikr al-Dzahir atau dzikir dengan ucapan.
Semula, jumlah bilangan atau hitungan dzikir yang mesti diamalkan   murid Naqsyabandiyah adalah lebih banyak daripada kebanyakan tarekat lain. Akan tetapi kemudian ditentukan langsung oleh sang guru mursyid.  Setiap murid ditugaskan melafalkan kalimat thayibah  setiap selesai shalat maktûbah sebanyak 165 kali. Dzikir ini dilaksanakan secara samar (dzikr khofî). Dianjurkan dzikir diucapkan didalam hati dengan mengatur jalannya nafas. Selain kewajiban dzikir yang dilakukan secara perseorangan para murid juga dibebani tugas dzikir berjama’ah.



[1] Friedman, Howard S., dan Miria W. Schustack, Keprbadian Teori Klasik dan Riset Modern,  I, ter., Frnasiska Dian Ikarini, dkk., Jakarta, Erlangga, 2008, hal. 350.
[2] Friedman, Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern, hal. 351.
[3] al-Ghazãlî, Rawdhaţ, 10.
[4] al-Naqsyabandi, Jami’ al-Ushul, 123.
[5] al-Naqsyabandi, Jami’ al-Ushul,  124.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.