Selasa, 07 Maret 2017

BELAJAR FILSAFAT YU ......?

BELAJAR FILSAFAT YU ......?
SUTEJO IBNU PAKAR
Filsafat, terutama Filsafat Barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir-pikir dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.
Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta (sekarang di pesisir barat Turki). Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.
Filsafat merupakan pengetahuan yang menjadi pokok pangkal segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya empat persoalan : metafisika (ontologi), etika, agama, dan antropologi.[1] Pembahasan filsafat oleh para ahli kemudian dikelompokkan ke dalam bidang-bidang pembahasan yang sering disebut sebagai cabang filsafat yaitu :
  1. Ontologi atau metafisika, yaitu filsafat tentang hakekat yang ada di balik fisika, tentang hakekat yang bersifat transenden, di luar atau di atas jangkauan pengalaman manusia;
  2. Logika, yaitu filsafat tentang pikiran yang benar dan yang salah;
  3. Estetika, yaitu filsafat tentang kreasi yang indah dan yang jelek;
  4. Epistemologi, yaitu filsafat tentang ilmu pengetahuan;
  5. Filsafat-filsafat khusus seperti filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat agama, filsafat manusia, filsafat pendidikan dan lain sebagainya.[2]
Namun demikian, perlu dicatat bahwa pada garis besarnya filsafat  itu mempunyai tiga cabang besar, yaitu teori pengetahuan (epistemology), teori hakikat (ontology), dan teori nilai (axiology).  Teori pengetahuan membahas bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Teori hakikat membahas semua obyek dan hasilnya (pengetahuan filsafat). Teori nilai membicarakan guna pengetahuan.
Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan kajian kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Barat sudah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontologi. Yang tertua di antara segenap failosof Barat yang kita kenal ialah orang Yunani yang bernama Thales (625-545 S.M.) disusul kemudian Anaximandros (610-545 SM.), Anaximandros (610-545 SM.), Anaximenes (585-528 SM.), Dn Demokritus  (460-360 SM.).
Ontologi dapat mendekati masalah hakekat dari dua sudut pandang. Orang dapat mempertanyakan kenyataan itu tunggal atau jamak. Yang demikian merupakan pendekatan kuantitatif. Atau orang dapat mempertanyakan tentang “apakah yang merupakan jenis kenyataan itu?”. Yang demikian disebut pendekatan kualitatif.
Parmenides  mengatakan, kenyataan itu tunggal adanya dan segenap keanekaragaman, perbedaan serta perubahan bersifat semu belaka. Dewasa ini sistem monistik ini tidaklah umum dianut orang. Karena, justru perbedaanlah yang merupakan kategori dasar segenap kenyataan yang ada dan tidak dapat disangkal lagi kebenarannya. Tetapi, ada juga orang yang berpendirian bahwa pada dasarnya segala sesuatu itu sama hakekatnya. Pendirian ini dianut oleh para pendukung paham monisme  dewasa ini. Monisme menganggap  hanya terdapat satu realitas dasar yang mutlak, yang mungkin jiwa, benda, materi, Tuhan atau substansi bentuk yang tidak diketahuidan bersifat netral.[3]



[1] Bakry, Hasbullah,  Sistematika Filsafat,  Jakarta, Widjaya, 1981, hal. 11.
[2] Anshari, Endang Saefudin, Ilmu, Filsafat dan Agama, Surabaya, Bina Ilmu,  1985,  hal. 94-95.
[3] Saefullah H.A., Ali, Filsafat dan Pendidikan,  Surabaya, Usaha Nasional, 1403 H., hal.   187.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.