Sabtu, 25 Maret 2017

AKHIR TASAWUF

AKHIR TASAWUF
SUTEJO IBNU PAKAR
Sulûk dalam konsepsi al-Ghazâlî merupakan aspek praktis dari tasawuf. Karena itu, tujuannya adalah tujuan tasawuf itu sendiri. Tasawuf al-Ghazâlî berpuncak pada situasi yang disebutnya “al-Qurb” (dekat) kepada Allah, suatu terminologi yang diambil oleh al-Ghazâlî dari al-Qur’ân (Qs. al-Baqarah (2): 187) dalam al-Munqidz, al-Ghazâlî menyatakan bahwa tasawuf berakhir pada situasi al-Qurb (dekat), sehingga ada sementara orang yang mengira bahwa situasi tersebut sampai kepada al-Hulûl, al-Ittihâd dan al-Wushûl. Tapi semua itu, menurut al-Ghazâlî adalah keliru.[1] Dari pernyataannya tersebut, jelaslah bahwa puncak tasawuf menurut al-Ghazâlî adalah sama saja, hanya persepsi orang terhadap situasi akhir itulah yang berbeda, sehingga menimbulkan kekeliruan pada sebagian golongan orang yang pada dasarnya tidak melihat lagi adanya jarak antara si hamba dengan Tuhan, sebagaimana ketiga paham yang dianggapnya keliru (al-Hulûl, al-Ittihâd dan al-Wushûl). Al-Ghazâlî sendiri tetap mempertahankan adanya “jarak” antara si hamba dengan Tuhan ketika seseorang mencapai puncak tasawuf, sehingga terminologi yang dipergunakannya adalah “al-qurb”.[2]



[1] al-Ghazâlî, Al-Munqidz, hal. 378-379.
[2] Abd al-Qadîr Mahmûd, Al-Falsafah al-Shûfiyah fî al-Islâm, (Kairo: Dâr al-Fikr al-‘Arabî, 1967), hal. 232.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.