Rabu, 22 Februari 2017

TUNTUTAN IBADAH

TUNTUTAN IBADAH

SUTEJA
BAB I
BERSUCI (THOHAHROH)
Thoharoh ialah bersuci dari hadats atau najis
A.   WUDHU’
1. Hal-Hal yang Membatalkan Wudhu’
1.1.  Keluar sesuatu dari kubul atau dubur
1.2.  Hilang ingatan karena tidur atau pingsan atau gila atau mabuk
1.3.  Bersentuhan kulit pria dan wanita dewasa yang bukan muhrim
1.4.  Menyentuh kemaluan lelaki atau perempuan dengan telapak tangan
2.      Fradhu Wudhu’ (yang harus dilakukan selama berwudhu’)
2.1.       Niat menghilangkan hadats
2.2.       Membasuk muka
2.3.       Membasuh kedua tangan sampai dengan siku
2.4.       Mengusap kulit kepala dengan air
2.5.       Membasuk kedua kaki sampai dengan mata kaki
2.6.       Tartib (mendahulukan rukun yang harus didahulukan)
3.      Sunnah-sunnah Wudhu’
3.1.       Bersiwak
3.2.       Membaca Basmalah
3.3.       Membasuk kedua telapak tangan
3.4.       Berkumur dan Menhirup air dengan hidung
3.5.       Membasuh dan mengusap tiga kali-tiga kali
3.6.       Mengusap seluruh kepala
3.7.       Membaca doa selesai berwudhu’
B.   MANDI
1.      Hal-hal yang Mewajibkan Mandi 
1.1.       Kematian  (bagi seorang muslim/muslimah)
1.2.       Haidh
1.3.       Nifas
1.4.       Bersetubuh
1.5.       Keluar Mani (sperma)
2.      Tatacara Mandi Jinabah
2.1.       Membaca Basmalah
2.2.       Membasuh kedua tangan tiga kali
2.3.       Menghilangkan najis dari anggota tubuh
2.4.       Berwudhu’
2.5.       Membasuh anggota tubuh bagian kanan kemudian bagian kiri
2.6.       Menggosok-gosok tubuh dengan air
2.7.       Mengalirkan air ke seluruh tubuh dan rambut
2.8.       Niat menadi jinabah

C.    HAIDH
Hal-hal yang Haram Dilakukan Wanita yang Sedang Haidh
1.      Membaca/Menghafal  al-Quran
2.      Menyentuh Mushaf (Kitab Suci)
3.      Sholat (wajib/sunnah)
4.      Puasa (wajib/sunnah)
5.      Diam di Masjid/Musholla
6.      Lewat/berjalan  didalam Masjid
7.      Bersetubuh








































BAB II
SHOLAT
A. SYARAT SAHNYA SHOLAT ITU LIAM  (5) YAITU :
1. Suci Badan dari Najis dan Hadats
2. Menutup Aurat dengan Pakaian yang Suci
3. Mengerjakan Sholat di Tempat yang Suci
4. Meyakini Sudah Masuk Waktu Sholat
5. Menghadap Qiblat
B. HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SHOLAT 11: 
1. Berbicara dengan Sngaja
2. Bergerak (bukan gerakan sholat) secara Berturut-turut
3. Berhadats
4. Terkena Najis
5. Terbuka Aurat
6. Berubah Niat
7. Membelakangi Qiblat
8. Makan
9. Minum
10. Tertawa
11. Keluar dari Islam (Murtad)
C. RUKUN SHOLAT
1.         Niat Di Hati  (Berbarengan dengan Membaca Takbirotul Ihrom)
2.         Takbirotul Ihrom
3.         Berdiri
4.         Membaca Surat Al-Fatihah
5.         Ruku’
6.         I’tidal (Berdiri Setelah Ruku’)
7.         Sujud
8.         Duduk Tuma’ninah dinatara Dua Sujud
9.         Membaca Doa Tasyahhud 
10.     Duduk Tasyahhud (Tahiyyat)
11.    Membaca Sholawat Kepada Nabi Muhammad
12.    Membaca Salam
13.    Tartib (Mendahulukan Rukun yang Mestinya Didahulukan)















BAB III
SHOLAT  BERJAMA’AH
A.   SYARAT SYAH MA’MUM
1.    Niat mejadi ma’mum (didalam hati) ketika tabirtul ihrom
2.    Tidak berdiri didepan/sejar dengan Imam
3.    Ma’mu dan Imam berada dalam satu tempat
4.    Gerakan lahirian Ma’mun sesuai dengan gerakan Imam
5.    Tidak mendahului Takbirtul Ihrom nya Imam
6.    Tidak mendahului Imam lebih dari satu rukun
7.    Gerakan lahiria tidak bertentangan dengan Imam
B.   SYARAT IMAM SHOLAT
1.    Bacaan )Utamakan yang paling fashih al-Quran)
2.    Paham tentang  Tatacara Sholat Jama’ah
3.    Umur (utamakan yang palng tua usia)
C. POSISI MA’MUM DALAM SHOLAT JAMA’AH
1.    Ma’mum pria dewasa berada di samping kanan Imam
2.    Ma’mum anak-anak di belakag ma’mum  pria dewasa
3.    Ma’mum waria berada di belakang ma’mum lelaki
4.    Ma’mum perempuan berada di belakang ma’mum waria
D. SHOLAT NAFILAH/SUNNAH
1.      Sholat sunah yang Dikerjakan secara sendirian
a.    Rowatib (qobliyah/ba’diyah)
b.    Witir (satu sampai dengan 11/13 roka’at)
b.    c  Dhuha (dua sampai dengan 12 roka’at)
a.    Tahiyyat al-Masjis (dua rka’at)
2. Sholat sunnah yang Dikerjakan secara berjama’ah
a. Sholat Sunah Gerhana Matahari (Kusu)
b. Sholat Sunah Bulan (Khusuf)
c. Sholat Sunah ‘Idul Fitri
d. Sholat Sunah ‘Idul Adha











BAB IV
SHOLAT JUM’AT
A.   SYARAT WAJIBNYA MENDIRIKAN SHOLAT JUM’AT
1.        BERAGAMA ISLAM
2.        SUDAH MEMASUKI USIA BALIGH
3.        BERAKAL SEHAT
4.        MERDEKA
5.        LELAKI
6.        PENDUDUK (PRIBUMI)
B.  SYARAT SHAHNYA SHOLAT JUM’AT
1.        SHOLAT JUM’AT DIDIRIKAN DI SEBAH   PEMUKIMNAN (DESA/KOTA)
2.        JUMLAH PRIA DEWASA YANG MENDIRIKAN  SHOLAT JUM’AT MINIMAL 40 ORANG
3.        SUDAH MASUK WAKTU DZUHUR
4.        TIDAK BERBARENGAN DENGAN JUM’AT DI MASJID LAIN YANG

RUKUN   KHUTHBAH JUM’AT
1.    MEMBACA KALIMAT HAMDALAH
2.    MEMBACA SHOLAWAT NABI
3.    WAIAT TAQWA
4.    MEMBACA AYAT AL-QURAN
5.    MENDOAKAN ORANG MU’MIN DIDALAM KHUTBAH KEDUA

SYARAT KHUTHBAH JUM’AT
1.    MEMPERGUNAKAN BAHASA ARAB
2.    DILAKUKAN SETELAH MASUK WAKTU SHOLAT DZUHUR
3.    KHOTIB DALAM KEADAAN BERDIRI
4.    DUDUK DIANTARA DUA KHUTBAH
5.    DAPAT DIDENGARKAN OLEH 40 ORANG
6.    KHOTHIB SUCI DARI HADATs DAN NAJIS
7.    KHOTHUB TERTUTUP ‘AURAT













BAB IV
SHOLAT  QOSHOR
1.                  SYARAT SHOLAT QOSHOR
1.1.            PERJALANAN JAUH
1.2.            PERJALANAN YANG DIBOLEHKAN OLEH SYARI’AT
1.3.            PERJALANAN TIDAK TERPUTUS-PUTUS
1.4.            DIKETUAHI TUJUANNYA
1.5.            BERNIAT UNTUK MENGQOSHOR
1.6.            TIDAK ADA PENGHALANG UNTUK QOSHOR
1.7.            MENGERTI TATACARA QOSHOR
2.                  SYARAT JAMA’ TAQDIM
2.1.            MENGERJAKAN SHOLAT YANG AWAL WAKTUNYA
       (SPT: DZUHUR BARU ASHAR)
2.2.            NIAT JAMA’ TAQDIM
2.3.            MENGERJAKAN SHOLAT SECARA BERTURUT



























BAB V
SHOLAT TARAWEH

PENJELASAN ABU YAHYA ZAKARIYA AL-ANSHORI AL-SYAFI’I 
DIDALAM  KITAB:  SYARH AL-BAHJAH AL-WARDIYYAH
HALAMAN 146-150
1. Sholat Tarawih Sunnah dikerjakan dengan berjama’ah
2. Imam al-Halimi Berfatwa:
       Bahwa Karena Jumlah Roka’at Sunnah Rowatib Di Luar  Bulan Romadhon Itu 10 Roka’at, Maka Sholat Tarawih Dilipatkan Menjadi   20 Roka’at.
3. Kalau Dikerjakan Dengan Satu Salam Setiap 4 Roka’at, Maka Tidak Sah  (Karena Sholat Sunnah Itu 2 Rok’at 2 Roka’at).
4. Yang Ingin Mengikuti Penduduk Madinah, Maka 36 Roka’at. Maka Hal Itu Adalah Sikap Yang Bagus.
5. Fatwa Imam  Al-Syafi’i & Murid-Muridnya, Dan Imamal-Nawawi:
     Penduduk Kota Madinah Al-Munawwaroh Melakukan Sholat Tarawih Sejumlah 36 Roka’at
6. Penduduk Madinah Mengerjakan Tarawih 36 Roka’at, Karena Memuliakan Nabi Muhammad Saw Yang Hijrah Ke Madinah Dan Wafat Serta Dikuburkan Di Madinah
7. Mereka Yang Ingin Mengikuti Contoh Penduduk Kota Mekkah Al-Mukarromah Tentang Jumlah/Banyak Roka’at Tarawih Adalah Pilihan (Sikap Keagamaan) Yang Utama, Karena Tradisi Penduduk Kota Mekkah Itu Tidak Pernah Dijadikan Bahan Perdebatan Oleh Ulama Fiqih (Ahli Hukum Islam).
      (Bagi Yang Ingin) Meringkas Jumlah Roka’at Tarawih, Berdasarkan Ijma’ (Konses) Seluruh Sahabat Nabi Muhammad Saw, Maka Cukup 20 Roka’at. 36 Roka’at adalah Yang Paling Utama, Karena Keutamaan Banyak Ruku’nya Dan Banyak Sujudnya  .

PENJELASAN IMAM AL-QOLYUBI AL-SYAFI’I 
DIDALAM KITAB:  HASYIYAH AL-QOLYUBI, JUZ III
HALAMAN 161-173
PENDAPAT PALING SHOHIH
Melaksanakan Shalat Tarawih secara berjama’ah itu disunnahkan
Nabi Muhammad SAW melaksanakan sholat tarawih dengan sahabat-sahabat beliau sejumlah 20  roka’at.
Di Zaman Khalifah ‘Umar bin al-Khoththob   sholat tarawih dilaskanakan di bulan Romadhon dengan 20 Roka’at (Lihat Kitab Syarh al-Muhadzdzah al-Syafi’i)
Imam Malik, didalam Kitab al-Muwaththa’, menyatakan bahwa tarawih itu 23 roka’at
Jikalau Sholat Tarawih Dilakukan Dengan Cara Setiap Empat Roka’at Satu Salaman, Maka Tidak Sah, Karena Bertentangan Dengan Yang Disyari’atkan.(Lihat Al-Qodhi Husayn didalam Kitab al-Rawdhah)
Nabi SAW bersabda: Sholat Malam itu dilaksanakan duaroka’at  duaroka’at  (HR. Imam al-Bukhori  dan Imam Muslim)
Penduduk Madinah al-Syarifah, karena tidak bisa melaksanakan thowaf di sela-sela Tarawih, maka mereka melaksanakan shalat tarawih sejumlah  36 roka’at. Hal Ini merupakan Ijma’ (konsensus) dan tidak seorang pun Ahli Fiqih yang mengingkarinya.
Fatwa Imam al-Syafi’i: “Tarawih dengan 20 roka’at itu paling aku cintai. Bagi selain penduduk Madinah tidak boleh melaksanakan shalat taraweh melebihi 20 roka’at”.

BAGIAN KEDUA

DZIKRILLAH DAN DOA  


BAB I  

DZIKRILLAH

1.    Dzikirullah dengan menyebut asma dan sifat Allah, memuji Allah dengan menyebut asma-Nya, serta mentawhidkan dan mensucikan Allah, seperti mengucapkan
سبحان الله، والحمد لله، ولا إله إلا الله، والله أكبر".
2.    Dzikurllah dengan cara memberikan penjelasan tentang baik buruk,  atau halal haram. Dzikr ini ada dua macam:
a. menyampaikan informasi tentang perintah dan larangan Allah.
b. bersegera melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
3.    Mengingat dan menyakini segala nikmat Allah, dengan cara :
a. bersyukur dengan lisan dan hati secara bersamaan
b. berysukur dengan hati
c.  bersyukur dengan lisan

TINGKATAN DZIKRULLAH

1.    Dzikr al-Dzohir, atau memuji Allah dengan ucapan
2.    Dzikr al-Khofy, yaitu dzikir dengan hati saja dengan penuh kesadaran.[1]
3.    Dzikr al-Haqiqi yaitu dzikr atau ingatnya Allah kepada hamba-hamba-Nya.[2]
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

RAGAM DIKRULLAH

1.    Dzikir yang bertujuan memuji Allah seperti :
سبحان الله . والحمد لله . ولا إله إلا الله . والله أكبر
2.    Dzikr yang bertujuan meminta (doa) seperti :
يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث .
3.    Dzikr yang bertujuan memuji dan juga berdoa

KUALITAS DZIKRULLAH

1.    Dzikr lisan.
2.    Dzikr hati.
3.    Dzikr sirr  dilakukan dengan cara tafakur.
4.    Dzikr ruh  dengan cara menganalisis.
5.    Dzikr anggota badan, dilakukan melalui empat tangga yaitu:
a.     menginternalisasikan pekerjaan-pekerjaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
b.    sifat-sifat Allah dalam kehidupan sehari-hari.
c.     nama-nama Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan kualitasnya dizikir dapat dikategorikan menjadi tiga tingkatan, yaitu:
1. Dzikir lisan.  Bila   dijalani dengan hati yang lupa, maka dianggap dzikir tradisi. (Dzikir orang awam/mu’min kebanyakan)
2. Dzikir dengan lisan yang dijalani dengan penghayatan (hati). Dzikir yang demikian termasuk kategori dzikir ibadah. (Dzikir orang khosh)
3. Dzikir dengan anggota tubuh. Dzikir ini disebut dzikir mahabbah wa al-Ma’rifah.  (Dzikir khowash al-Khosh).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

 DOA


 

DEFINISI DOA

Doa berarti meminta atau memohon. Doa dalam persepektif al-Quran berarti.memohon kebaikan kepada Allah dan berharap datangnya kebaikan dari Allah. Doa, dengan demikian, adalah permohonan seseorang hamba kepada Allah. Doa termasuk salah satu bagian dari dzikrullah (megingat Allah).

RAGAM DOA  

1. Doa yang bernilai ibadah (mengharapkan pahala dari Allah) 
2. Doa yang bersifat permohonan untuk memperoleh kebaikan ataupun menolak keburukan.
3. Doa ibadah dan doa permohonan.

KEKUATAN DOA

1.    Doa memiliki daya cegah atau daya usir  lebih kuat
2.    Doa memiliki daya cegah atau daya usir  lebih lemah
3.    Doa memiliki daya cegah atau daya usir imbang dengan kadar musibah.

DOA DAN ISTIGHOTSAH

Doa umum itu lebih umum daripada istighotsah. Didalam doa terkandung maksud atau tujuan istighotsah. Istighotsah bertujuan hanya untuk mendapatkan bantuan atau pertolongan ketika ditimpa kesusahan atau kesulitan.

SYARAT TERKABULNYA DOA

Syarat yang dimaksud adalah hal-hal yang harus dilakukan dan harus diadakan sebelum mengerjakan atau menjalani doa. Adapun syarat-syarat terkabulnya doa adalah :
1. Ikhlash yaitu membersihkan hati dari apapun selalin Allah. Sebelum seseorang berdoa kepada Allah disyaratkan membersihkan hati dan perbuatannya dari hal-hal yang menghalangi doa itu sampai kepada Allah. Maksud dan tujuan doa tidak ada lain kecuali kepada Allah. Tidak dibenarkan seseorang menyekutukan  Allah (syirik) dan karenanya sebelum seseorang bedoa, hendaknya melalukan instrospeksi apakah hatinya masih meyakini selain Allah SWT? Oleh karenanya, tujuan berdoa adalah semata-mata mengharapkan pahala dari Allah SWT, atau untuk terhindar dari siksa Allah, atau untuk tujuan mendapatkan ridho Allah. Atau dalam rangka mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah SWT. Karena, “segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Al-lah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
2.    Mengikuti dengan benar teladan Rasulullah SAW.
3.    Meyakini sepenuhnya kemahakusaan dan kemahasempurnaan Allah SWT.
4.    Hudhur al-Qolb  (hati yang menghadap kepada Allah), khusyu’, dan mencintai apapun yang ditentukan atau diputuskan  Allah SWT.
5.    Meyakni sepenuh jiwa kemahakuasaan Allah dan  bersungguh-sungguh didalam berdoa serta  tidak menggunakan bahasa pengandaian seperti ”Ya Allah, kalau Engkau berkenan ..........”

PENGHALANG TERKABULNYA DOA

1.    megkonsumsi makanan, atau menimun yang diharamkan oleh Alllah SWT.
2.    berfmewah-mewah dalam pakaian dan penampilan
3.    meminta disegerakan (dikabulkan dengan segera) sehingga menyebabkan seseorang memutuskan harapannya kepada Allah
4.    Mengerjakan larangan Allah 
5.    Meninggalkan perintah Allah
6.    Doa yang dipanjatkan kepada Allah bertujuan untuk kekahatan atau tujuan memutuskan silaturrahim.

Hal-hal tersebut termasuk bagian dari faktor-faktor yang menyebabkan doa seseorang tidak didengar atau dikabulkan oleh Allah SWTNamun demikian, faktor yang paling penting adalah faktor kebijaksanaan Allah SWT Maha Adil dan Maha Bijaksana. Allah SWT bisa saja mengabulkan atau tidak mengabulkan doa seseorang hamba-Nya. Doa seseorang hamba yang tidak dikabulkan, hendaknya dipahami dari aspek kemahabijaksaan Allah. Kesempurnaan dan Kebijaksaan Allah bisa saja menentukan doa seseorang tidak harus didengar, karena Allah mempunyai rencana besar yang lebih baik daripada yang diminta seseorang didalam doanya.
Dengan demikian, hak manusia adalah berdoa sedangkan hak Allah menentukan apakah doa itu didengar atau ditunda atau bahkan tidak didengar sama sekali.

ETIKA BERDOA

1.    Memulai dan mengakhiri doa dengan mengucapkan hamdalah dan sholawat  kepada Nabi SAW. Menurut Ibn al-Qoyyim al-Jawzi ada tiga pilihan seseorang  membaca sholawat kepada Nabi SAW didalam berdoa. Pertama, membaca sholawat setelah membaca hamdalah sebelum berdoa. Kedua, membaca sholawat di awal, di tengah dan di akhir doa.
2.    Ketiga, membaca sholawat di awal dan  di akhir doa.
3.    Tidak berdoa dengan suara keras atau rendah
4.    Berdoa dengan hati merendah di hadapan Allah SWT.
5.    Berdoa secara terus menerus
6.    Menjadikan amal saleh sebagai sarana (wasilah) mendekatkan diri kepada Allah

TIGA CARA BERDOA

1.     Meminta kepada Allah dengan menggunakan asma’ dan sifat Allah.
2.     Meminta kepada Allah dengan  menjelaskan kebutuhan, merasa diri  faqir (membutuhkan Allah),  dan merasa diri hina
3. Meminta hanya kepada Allah SWT.


















BAGIAN KETIGA
ILMU AL-QURAN AL-KARIM


A.    RAHASIA SURAT-SURAT AL-QURAN

membaca SURAT AL-KAHF di malam JUMAT  
diampuni dosa antara jum’at dengan jum’at berikutnya, dibebeaskan dari fitnah dajjal
قال إسحاق بن عبد الله بن أبي فروة : إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : [ ألا أدلكم على سورة شيعها سبعون ألف ملك ملأ عظمها ما بين السماء والأرض لتاليها مثل ذلك قالوا : بلى يا رسول الله ؟ قال : سورة أصحاب الكهف من قرأها يوم الجمعة غفر له إلى الجمعة غفر له إلى الجمعة الأخرى وزيادة ثلاثة أيام وأعطي نورا يبلغ السماء ووقي فتنة الدجال ] ذكره الثعلبي و المهدوي أيضا بمعناه

menghafal 10 ayat SURAT AL-KAHF dijaga dari fitnah dajjal
في صحيح مسلم عن أبي الدرداء أن نبي الله صلى الله عليه و سلم قال [ من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف عصم من الدجال ] وفي رواية   من آخر الكهف

membaca  tiga ayat surat al-hasyr di pagi hari didoakan oleh 70.000 malaikat
روى الترمذي عن معقل بن يسار قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من قال حين يصبح ثلاث مرات أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم وقرأ ثلاث آيات من آخر سورة الحشر وكل الله به سبعين ألف ملك يصلون عليه حتى يمسي وإن مات في يوم مات شهيد
membaca surat al-mulk terbebas dari api neraka
قال النبي صلى الله عليه و سلم : [ إن سورة من كتاب الله ما هي إلا ثلاثون آية شفعت لرجل حتى أخرجته من النار يوم القيامة وأدخلته الجنة وهي سورة تبارك ] أخرجه الترمذي بمعناه وقال فيه : حديث حسن
MEMBACA SURAT AL-MUZZAMMIL DILEPASKAN DARI KESUSAHAN DUNIA DAN AKHIRAT
عن النبي صلى الله عليه و سلم [ من قرأ سورة المزمل رفع الله عنه العسر في الدنيا والآخرة ]
MEMBACA SURAT AL-TAHRIM DIKARUNIAI TAUBAT NASUHA
وعنه عليه الصلاة و السلام [ من قرأ سورة التحريم آتاه الله توتة نصوحا ]  

MEMBACA SURAT AL-TAGHABUN TERHINDAR DARI KEMATIAN YANG MENDADAK
عن النبي صلى الله عليه و سلم [ من قرأ سورة التغابن دفع عنه موت الفجأة ]

MEMBACA SURAT SHOF DIDOAKAN OLEH  NABI  ‘ISA ASA.
عن النبي صلى الله عليه و سلم [ من قرأ سورة الصف كان عيسى مصليا عليه مستغفرا له ما دام في الدنيا وهو يوم القيامة رفيقه ]

MEMACA SURAT AL-MUMTAHANAH DIHARI KIAMAT AKAN DIBERI SYAFAAT
عن النبي صلى الله عليه و سلم [ من قرأ سورة الممتحنة كان له المؤمنون والمؤمنات شفعاء يوم القيامة ]

MEMBACA SURAT AL-WAQI’AHI  AKAN TERBEBAS DARI KEKURANGAN, SEPANJANG HAYAT
عن النبي صلى الله عليه و سلم [من قرأ سورة الواقعة في كل ليلة لم تصبه فاقة أبدا ]

SURAT AL-ROHMAN
عن النبي صلى الله عليه و سلم [ من قرأ سورة الرحمن أدى شكر ما أنعم الله تعالى عليه ]

SURAT AL-QOMAR
عن النبي صلى الله عليه و سلم [ من قرأ سورة القمر في كل غب بعثه الله يوم القيامة ووجهه كالقمر ليلة البدر ]



SURAT AL-NAJM
عن النبي صلى الله عليه و سلم [ من قرأ سورة النجم أعطاه الله عشر حسنات بعدد من صدق بمحمد صلى الله عليه و سلم وجحد به بمكة ]

MEMBACA SURAT MUHAMMAD AKAN DIBERI MINUM DARI SORGA
عن النبي صلى الله عليه و سلم [ من قرأ سورة محمد كان حقا على الله أن يسقيه من أنهار الجنة ]

MEMBACA SURAT AL-DUKHON DI MALAM JUM’AT DIAMPUNI DOSANYA KETIKA PAGI HARI
عن النبي صلى الله عليه و سلم [ من قرأ حم الدخان ليلة جمعة أصبح مغفورا له ]


MEMBACA SURAT AL-SHOFFAT DIJAUHKAN DARI JIN JAHAT DAN SYAITAN
وعن النبي صلى الله عليه و سلم [ من قرأ والصافات أعطي من الأجر عشر حسنات بعدد كل جني وشيطان وتباعدت عنه مردة الجن والشياطين وبرئ من الشرك وشهد له حافظاه يوم القيامة أنه كان مؤمنا بالمرسلين ]

MEMBACA SURAT AL-AHZAB DIBEBASKAN DARI SIKSA KUBUR
 [ قال عليه الصلاة و السلام من قرأ سورة الأحزاب وعلمها أهله أو ما ملكت يمينه أعطي الأمان من عذاب القبر ]

MEMBACA SURAT AL-TANZIL DIBERI PAHALA SAMA DENGAN MENGHIDUPKAN LAILATUL QODAR
[ عن النبي صلى الله عليه و سلم من قرأ ألم تنزيل تبارك الذي بيده الملك أعطي من الأجر كأنما أحيا ليلة القدر ]

MEMBACA SURAT AL-TANZIL DI RUMAH, MAKA SELAMA TIGA HARI RUMAH ITU TIDAK AKAN DIMASUKI SYAITAN
[عن النبي صلى الله عليه و سلم من قرأ ألم تنزيل في بيته لم يدخل الشيطان بيته ثلاثة أيام ]
MEMBACA SURAT YUSUF DIRINGANKAN WAKTU SKARATUL MAUT
عن النبي صلى الله عليه و سلم علموا أرقاءكم سورة يوسف فإنه أيما مسلم تلاها وعلمها أهله وما ملكت يمينه هون الله عليه سكرات الموت وأعطاه القوة أن لا يحسد مسلما


MEMBACA SURAT AL-TIN : DIBERI KESEAHATAN DAN KEYAQINAN SEPANJANG HAYAT
عن النبي صلى الله عليه و سلم   من قرأ سورة والتين أعطاه الله العافيه واليقين ما دام حيا فإذا مات أعطاه الله من الأجر بعدد من قرأ هذه السورة


MEMBACA SURAT AL-QODAR: DIBERI PAHALA PUASA ROMADHON DAN LAILATU QODAR
عن النبي صلى الله عليه و سلم : من قرأ سورة القدر أعطي من الأجر كمن صام رمضان وأحيا ليلة القدر

MEMBACA SURAT AL-ZALZALAH EMPAT KALI SAMA DENGAN MENGKHATAMKAN AL-QURAN
عن النبي صلى الله عليه و سلم : من قرأ سورة إذا زلزلت الأرض أربع مرات كان كمن قرأ القرآن كله

MEMBACA SURAT AL-KAFIRUN SAMA DENGAN MEMBACA SEPEREMPAT AL-QURAN
عن النبي صلى الله عليه و سلم : من قرأ سورة الكافرون فكأنما قرأ ربع القرآن وتباعدت عنه مردة الشياطين وبرئ من الشرك

MEMBACA SURAT YASIN
عن النبي صلى الله عليه و سلم  إن لكل شيء قلبا وقلب القرآن يس وأيما مسلم قرأها يريد بها وجه الله غفر الله له وأعطي من الأجر كأنما قرأ القرآن اثنتين وعشرين مرة وأيما مسلم قرئ عنده إذا نزل به ملك الموت سورة يس نزل بكل حرف منها عشرة أملاك يقومون بين يديه صفوفا يصلون عليه ويستغفرون له ويشهدون غسله ويشيعون جنازته ويصلون عليه ويشهدون دفنه وأيما مسلم قرأ يس وهو في سكرات الموت لم يقبض ملك الموت روحه حتى يجيئه رضوان بشربة من الجنة فيشربها وهو على فراشه فيقبض روحه


B.    SURAT YANG DIBACA RASULULLAH SAW
DIDALAM SHOLAT
1. SHOLAT SHUBUH
    SURAT AL-WAQI’AH, SURAT QOF, SURAT AL-THUR, SURAT AL-KUWWIRAT, SURAT 
    AL- ZALALAH, SURAT  YASIN, SURAT AL-RUM,  SURAT AL-  SHAFFAT.
    KHUSUS SHOLAT SHUBUH HARI JUM’AT:  SURAT AL- SAJADAH DAN  SURAT AL-
    INSAN
1.    SHOLAT DZUHUR DAN ;ASHAR:  SURAT AL-THARIQ, SURAT AL-BURUJ, SURAT AL-LAYL
3. SHOLAT MAGHRIB:  SURAT AL-TIN, SURAT MUHAMMAD, SURAT AL-THUR, SURAT
    AL-MURSALAT
2.    SHOLAT ‘ISYA’: SURAT AL-SYAMS,  SURAT AL-INSYIQAQ, SURAT AL-A’LA, SURAT AL-QALAM, SURAT AL-LAYL
5. SHOLAT TAHAJJUD  : MINIMAL 150 AYAT 


















BAGIAN KEEMPAT
KEHIDUPAN MANUSIA DI ALAM ARWAH/ AZALI
(DUNIA ESSENSI)


A.     PERJANJIAN TENTANG RIZKI, AJAL
DAN KEBAHAGIAAN
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَهُوَ الصَّادِق الْمَصْدُوقُ، قَالَ:  { إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَبْعَثُ اللهُ مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، وَيُقَالُ لَهُ: اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ فَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْكُمْ لَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ كَتَابُهُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ وَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ إِلاَّ ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ} أخرجه البخاري

B.     PERJANJIAN TENTANG JENIS KELAMIN,  RIZKI, AJAL
DAN KEBAHAGIAAN
عَنْ  أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: {  إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا، يَقُولُ: يَا رَبِّ نُطْفَةٌ يا رَبِّ عَلَقَةٌ يَا رَبِّ مُضْغَةٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقَهُ، قَالَ:   أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثى شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ وَالأَجَلُ فَيُكْتَبُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ}  أخرجه البخاري

عَنْ  عَلِيٍّ رضي الله عنه، قَالَ: كُنَّا فِي جَنَازَةٍ، فِي بَقِيعِ الْغَرْقَدِ فَأَتَانَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَقَعَدَ وَقَعَدْنَا حَوْلَهُ، وَمَعَهُ مِخْصَرَةٌ، فَنَكَّسَ، فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِمِخْصَرَتِهِ ثُمَّ قَالَ: { مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ، مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلاَّ كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَإِلاَّ قَدْ كُتِبَ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا، وَنَدَعُ الْعَمَلَ فَمَنْ كَانَ مِنَّا مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنَّا مَنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ قَالَ: أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسِّرُونَ لَعَمَلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَبُيَسِّرُونَ لِعَمَلِ الشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى  الآية} أخرجه البخاري

عَنْ  عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ: { قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ أَيُعْرَفُ أَهْلُ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ قَالَ: نَعَمْ قَالَ: فَلِمَ يَعْمَلُ الْعَامِلُونَ قَالَ: كُلٌّ يَعْمَلُ لِمَا خُلِقَ لَهُ، أَوْ لِمَا يُسِّرَ لَهُ  أخرجه البخاري
عَنْ  أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: {إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ، لاَ مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ وَيُكَذِّبُهُ} أخرجه البخاري
D. PENCIPTAAN DI HARI TUJUH
عن ابن عباس رضي الله عنهما ان النبي  صلى الله عليه وسلم  قال:  يوم السبت يوم مكر وخديعة  ويوم الاحد يوم عرس وبناء  ويوم الاثنين يوم سفر وطلب رزق   ويوم الثلاثاء يوم حديد وبأس   ويوم الاربعاء يوم لا أخذ ولا عطاء   ويوم الخميس يوم طلب الحوائج  والجمعة يوم خطبة النكاح  }   رواه  الطبراني عن ابن مسعود{

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : أخذ رسول الله صلى الله عليه و سلم بيدي فقال
خلق الله التربة يوم السبت  وخلق فيها الجبال يوم الأحد   وخلق الشجر يوم الاثنين وخلق المكروه يوم الثلاثاء  وخلق النور يوم الأربعاء  وبث فيها الدواب يوم الخميس  
وخلق آدم عليه السلام يوم الجمعة بعد العصر من يوم الجمعة في آخر الخلق في آخر ساعة من النهار بين العصر والليل }رواه مسلم{



















[1] Lupa atau tidak mengingat Allah merupakan hijab penghalang antara hamba dengan Allah SWT. 
[2] Ibn al-Qoyyim al-Jawzi, Madarij al-Salakin, Juz II, hal. 430. Ibn al-Qoyyim al-Jawzi,al-Wabil al-Shoyb, hal. 187.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.