Selasa, 21 Februari 2017

TERMINOLOGI MANUSIA DALAM AL-QURAN

TERMINOLOGI  MANUSIA DALAM AL-QURAN
Oleh: Suteja

1.     Kata al-Basyar

Berdasarkan penelitian terhadap seluruh ayat-ayat yang menggunakan kata al-Basyar, dijumpai  25 ayat yang menerangkan tentang kemanusiaan Rasul dan Nabi seperti pada surat al-Anbiya (21) 3, 34; Ali Imran (3): 79; al-Maidah (5): 18; al-An’am (6) : 91; Ibrahim (14): 10, 11; al-Kahfi (18): 110; al-Mu’minun (23): 24, 33; al-Syu’ara (26): 154, 186; Yusuf (36): 15; Fushilat (41): 6; al-Syura (42): 51; al-Tagabun (64): 6; al-Muddassir (74): 25; al-Hud (11): 27; Yusuf (12): 31; al Isra (17): 93, 94; al-Qmar (54): 24; al-Mu’minun (23): 47.
Terdapat 11 ayat yang menerangkan secara tegas bahwa seorang Nabi itu adalah al-Basyar, yaitu manusia pada umumnya yang secara biologis mempunyai ciri-ciri sama, makan, minum, dan lain-lain. Diantara ayat-ayat tersebut adalah seperti: al-Mu’minun (23): 24, 33, 34; Ali ‘Imran (3) 79; al-Maidah (5): 18; al-An’am (6): 91; Ibrahim (14): 10, 11; al-Nahl (16): 104; al-Anbiya’ (21): 3; al-Syura’ (26): 51, 154, 186; Yasin (36): 15; Fushshilat (41): 6; al-Tagabun (64): 6; al-Muddatstsir (74): 31; Hadid (11): 27; Yusuf (12): 31; al-Isra’ (17): 93, 94; al-Qomar (54): 24.
Didalam lima ayat lainnya, kata al-Basyar berhubungan dengan penjelasan tentang prose penciptaan manusia yang bermula dari tanah, sehingga Iblis tidak mau sujud kepadanya. Diantara ayat dimaksud terdapat dalam surat  Shad (38): 71-76; al-Furqon (25): 54, al-Rum (30): 20, al-Hijr (15): 28, kemudian 4 ayat yang lain kata al-basyar  digunakan untuk menjelaskan manusia sebagai manusia pada umumnya diantaranya adalah  al-Quran Surat al- Muddatstsir (74): 25, al- Muddatstsir (74): 74; Maryam (19): 17, 26;, dua ayat lainnya, kata al-Basyar dihubungkan dengan masalah hubungan seksual, seperti pada  al-Quran Surat Maryam (19): 20 dan Ali Imran (3): 47. Selanjutnya kata al-Basyar digunakan untuk menunjukkan kulit manusia seperti pada  Surat  al-Muddatstsir (74): 27-29, serta   menjelaskan manusia sebagai makhluk yang akan mengalami kematian, seperti  Surat al-Anbiya (21): 34-35.   
Kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakkan sesuatu dengan baik dan indah, dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit, manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas dan berbeda dengan kulit binatang yang lain.[1]
Manusia sebagai basyar lebih menunjukkan sifat lahiriah serta persamaannya dengan manusia satu sebagai satu keseluruhan, sehingga Nabi pun disebut sebagai basyar, sama seperti yang lainnya hanya saja Nabi diberi wahyu oleh Allah;  satu hal yang membuatnya berbeda dengan basyar yang lain.[2]
Basyar secara bahasa berarti kulit kepala, wajah atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Al-Basyar juga diartikan malamasah, yaitu persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan. Jadi secara etimologis manusia merupakan mahluk hidup yang memiliki segala sifat kemanusiaan dan keterbatasan. [3]  Penunjukkan kata al- Basyar dalam al-Quran ditunjukkan oleh Allah kepada seluruh manusia tanpa kecuali, termasuk pada Rasul,[4]:  Kata al-Basyar juga untuk menjelaskan eksistensi Nabi dan Rasul yang  mempunyai kesamaan dengan manusia umumnya, namun punya perbedaan khusus,[5] titik perbedaannya adanya wahyu dan tugas kenabian yang disandang para Nabi dan Rasul. Kata al-Basyar  juga digunakan untuk menjelaskan proses kejadian Nabi Adam As.[6] 
Dilihat dari proses penciptaannya, al-Quran menyatakan proses penciptaan manusia dalam dua tahapan yang berbeda, pertama tahapan primordial dan kedua tahapan biologi. Tahapan primordial sebagaimana yang terjadi pada penciptaan Nabi Adam AS, diciptakan dari  al-Thin ( tanah), al-Turob (tanah debu), al-Minshal (tanah liat), hamain masnun (tanah lumpur hitam yang busuk ).[7]  Selanjutnya tahapan proses biologi yang diciptakan dari inti sari pati tanah yang dijadikan air mani (nuthfah) tersimpan di tempat yang kokoh (rahim), nuthfah dijadikan darah beku (‘alaqah) tergantung dalam rahim, darah beku (‘alaqah) dijadikannya segumpal daging (mudhghoh) dan kemudian dibalut dengan tulang belulang dan ditiupkan ruh,[8] Hadits riwayat Bukhari-Muslim menyatakan bahwa:  “ruh dihembuskan Allah SWT ke dalam janin setelah ia mengalami perkembangan 40 hari nuthfah, 40 hari ‘alaqah dan 40 hari mudhghoh “.[9]
Penggunaan kata basyar dalam al-Quran    menunjukkan pada gejala umum yang nampak pada fisiknya, atau lahiriahnya. Dari ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa kata basyar lebih cenderung untuk manusia dilihat dalam konteks kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan aktivitas manusia secara lahiriahnya, yang dipengaruhi oleh dorongan kodrat alamiah, seperti makan, minum, bersetubuh. Seks merupakan potensi yang dimiliki manusia secara alamiah dan Allah mengetahui kebanyakan manusia tidak mampu menahan hawa nafsunya, oleh karena itu, Allah memberi petunjuk kepada manusia bahwa hubungan sek harus sesuai dengan petunjuk agama untuk menuju ketaqwaan kepada Allah.[10]
Seorang gadis suci pada zaman Nabi Zakariya AS yang bernama  Maryam AS putri ’Imron merasa keheranannya dapat memperoleh anak padahal dia belum pernah disentuh oleh basyar[11] artinya Maryam tidak mengadakan hubungan seks,[12] Maryam menolak dengan hubungan yang tidak sah karena dirinya bukanlah wanita pezina,[13] hubungan tidak resmi sesuai dengan aturan agama. Maryam merasa resah, cemas dan gelisah. Dengan demikian setiap aktifitas yang dilakukan oleh basyar harus di pertanggungjawabkan baik oleh laki-laki maupun perempuan secara sendiri-sendiri.[14]
            Dalam konteks basyar, manusia menemui kematian, manusia tidak kekal di dunia ini yang pada akhirnya manusia mati. Sehingga Nabi pun disebut sebagai basyar, bedanya Nabi diberi wahyu, dan hal ini yang membuat Nabi berbeda dangan manusia yang lain.[15] Manusia apabila dilihat dari terminologi basyar, berarti manusia dilihat dari aspek fisik jasmaniah dan biologisnya, yang memiliki dorongan, makan, minum,[16] hubungan seksual, dan sebagai mahluk generatif (berketurunan),[17] dan keturunan para nabi adalah keturunan dari orang-orang shaleh, semua ini adalah merupakan kebutuhan primer manusia, yang tidak dipelajari semua manusia bisa melakukannya.
Basyar adalah bentuk jamak dari kata basyarât yang berarti kulit kepala, wajah dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Ibn Barzah mengartikannya sebagai kulit luar. Al-Laîs mengartikannya sebagai permukaan kulit pada wajah dan tubuh manusia.
      Basyar[18], dalam pengertian bahasa disebutkan untuk semua makhluk dengan berbagai jenis dan jumlahnya.[19] Sedangkan basyar dalam al-Qur’ân[20] lebih dimaksudkan sebagai anak cucu Adam yang biasa makan, minum, berjalan-jalan di pasar dan mereka bertemu atas dasar  persamaan.[21] Secara ringkas, dapat dikatakan bahwa konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia seperti makan, minum dan seks, yang terikat dengan hukum-hukum alamiyah.

2. Kata al-Insan
Kata  al-Insan,[22] dalam al-Quran terdapat sejumlah  65 [23], disebut sebanyak 65 kali. [24] Insan berasal dari kata ‘uns yang berarti jinak, harmoni dan tampak atau dari kata nasiya yang artinya lupa, atau dari kata nasa yanusu yang artinya berguncang, menunjukkan kepada manusia yang menunjukan kepada seluruh totalitasnya, jiwa dan raganya.[25] Kata insan juga digunakan untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya (jiwa dan raga), manusia berbeda antara seseorang dengan yang lain, akibat perbedaan fisik, mental, dan kecerdasan.[26]      
Kata al-Insan dalam Al-Quran yang berasal dari kata al-uns, secara etimologi berarti harmonis, lemah lembut, tampak atau pelupa. Kata Al-Insan digunakan al-Quran untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani yang harmonis, makhluk Allah yang sempurna, unik serta istimewa. [27]  Atau digunakan untuk menjelaskan sifat umum serta sisi-sisi kelebihan dan kelemahan manusia.[28]  Atau  digunakan dalam al-Quran untuk menunjuk proses kejadian manusia sesudah Adam AS.[29]
Al-Insan dalam kedua ayat tersebut mengandung dua makna, Pertama : makna proses biologis, yaitu berasal dari sari pati tanah melalui makanan yang di makan manusia, sampai pada proses pembuahan. Kedua :  pendekatan spiritual  yaitu proses ditiupkannya ruh pada diri manusia, berikut berbagai potensi  yang dianugerahkan Allah kepada manusia.  Kata Al-Insan mengandung makna kesempurnaan dan keunikan yang telah ditinggikan derajatnya dari makhluk lain. Disamping memilki kelebihan, manusia juga memiliki kekurangan, keterbatasan, resah dan gelisah.[30]
Terminologi Insan, yang digunakan dalam al-Qiur’an mengandung pengertian   manusia dalam makna esensial yang menunjuk pada pengertian dua dimensi, yaitu   subyek lahiriah dan subyek batiniah.[31] 
Manusia disebut  insan mengandung arti sebagai mahluk psikologis (individu), sedangkan al-Nas mengandung arti sebagai mahluk sosial.[32] Manusia diistilahkan dengan insan tampak pada ciri-ciri khasnya, yaitu jinak, punya potensi memelihara, melanggar aturan sehingga manusia menjadi manusia yang harmonis dan kacau oleh karena potensi ini maka manusia diberi hidayah.[33] Konsep al-Insan menggambarkan fungsi manusia sebagai penyandang khlalifah Tuhan yang dikaitkan dengan proses penciptaan dan pertumbuhan serta perkembangan.[34] Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya.[35] Digambarkan sebagai sosok yang amat buruk dan lebih buruk dari binatang, apabila tidak sesuai dengan petunjuk Allah.
2 Kata al- Insan
Kata insan[36] dalam kajian etimologi mempunyai tiga makna.  Pertama, berasal dari kata nasiya yang bermakna “lupa”. Kedua, berasal dari kata anasa sinonim dari kata: abshara yang bermakna “melihat”; ‘alima yang berarti “mengetahui”; dan ista’dzana yang berarti “meminta izin”. Ketiga, berasal dari kata al-uns yang berarti “jinak”, sebagai lawan dari kata al-wahsyah yang memiliki arti “buas”.[37]
Dalam al-Qur’ân, insan dapat dikelompokkan dalam tiga kategori: pertama, insan dihubungkan dengan keistimewaannya sebagai khalîfah yang memikul tanggung jawab di bumi.[38] Menurut Fazlur Rahman, manusia adalah makhluk yang memikul amânah. Amânah ini diartikan sebagai upaya menemukan hukum alam dan menguasainya, yang dalam bahasa al-Qur’ân disebutkan: “mengetahui nama-nama semuanya” lalu menggunakannya dengan inisiatif moral insânî untuk menciptakan tatanan dunia yang baik.
Mnusia diberi kemampuan untuk mengembangkan ilmu dan daya nalarnya, yakni dengan menghubungkan kata insan dengan nazhar yang berarti “perenungan”, “pemikiran”, “analisis” dan “pengamatan” terhadap perbuatannya.
Kedua, insan dihubungkan dengan predisposisi negatif pada diri  manusia.[39] Ia cenderung kafir dan zhâlim.
Di samping itu, ia juga ambisius, bakhîl, bodoh, banyak membantah dan mendebat, resah, gelisah dan enggan membantu, merasa bersusah payah dan menderita, tidak berterima kasih, berbuat dosa dan meragukan hari pembalasan (akhirat). Ketiga, insan (manusia) dipandang sebagai makhluk yang paradoksal, yang berjuang mengatasi dua kekuatan yang saling bertentangan; kekuatan mengikuti fitrah dan kekuatan mengikuti prediposisi negatif. Tarik menarik antara dua kekuatan ini yang menyebabkan manusia dituntut untuk menemukan jati dirinya.
Kedua term di atas mengacu pada substansi yang sama dan menunjuk obyek yang sama, yaitu manusia. Hal tersebut membawa pengertian kepada manusia sebagai pribadi yang berkarakter insani dan basyari. Insani bermuara pada ruhani, sedangkan basyari bermuara pada unsur material. Kedua unsur tersebut harus padu dalam keseimbangan.[40]
 Kata insan  menunjuk pada sesuatu yang inheren dalam diri manusia (dimensi bâthin), sedangkan basyar menunjuk pada pengertian luar (dimensi zhâhir). Dalam hal ini tasawuf cenderung menggunakan term insan, karena kajian tasawuf melihat bagian dalam dari diri manusia.
3. Kata al-Ins
Kata al-Ins dalam al-Quran disebutkan sebanyak 18 kali, [41] menurut Ali Audah juga kata Al-Ins dalam Al-Quran disebutkan sebanyak  18 kali,[42] lihat lampiran. Dalam semua ayat pada tabel,  kata Al-Ins tetap dihubungkan dengan kata al-jinn. Sebanayak 7 kali kata Al-Ins mendahului kata Al-Jinn,[43]  sedangkan selebihnya , yaitu 10 ayat kata Al-Jinn mendahjului kata Al-Ins.[44]
Al-Ins dan Al-Jinn adalah mahluk yang diciptakan Allah agar senantiasa mengabdikan dirinya (beribadah) kepada Allah sepanjang hidupnya. Ibadah adalah satu-satunya tujuan hidup manusia dan jin. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam Al-Quran.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(56)
            Artina:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.[45]
Namun pada perjalanan hidupnya Al-Ins tidak selamanya berada pada garis ibadah. Liku-liku perjalann hidupnya disamping potensi dirinya sendiri, telah menggesernya lari dari tujuan hidupnya semula. Sehingga ia cenderung membangkang, lalai menjadi musuh agama dan akhirnya menjadi penghuni neraka. Terdapat 10 ayat,[46] yang menjelaskan hal itu, satu diantaranya seperti dijelaskan dalam surat al-Dzariyat : 179.

Dalam ayat di atas demikian juga dua ayat yang lainnya secara jelas disebutkan bahwa al-Ins dan al-Jinn adalah penghuni surga. Kecuali itu, dalam satu ayat lainnya disebutkan bahwa al-Ins adalah mahluk yang dapat diatur secara tertib.
Selanjutnya al-Ins tentunya bersama Al-Jinn juga merupakan makhluk pembangkang, sehingga mendapat tantangan dari Allah agar mereka bekerja sama untuk membuat semacam Al-Quran.[47] Tantangan juga diarahkan kepada kemampuan  untuk menjelajahi lapisan-lapisan langit. Berbeda tantangan untuk membuat Al-Quran seperti di atas, dimana Allah menjamin bahwa mereka tidak akan mampu melaksanakannya, tetapi dalam tantangan untuk menaklukkan lapisan langit, Allah memberikan peluang yang cukup luas untuk melaksanakannya. [48]
Kata al-Ins dipakai dalam al-Quran dalam kaitannya dengan berbagai potensi jiwa manusia, antara lain sebagai hamba Allah yang selalu berbuat baik hingga menjadi penghuni surga, tetapi juga berpotensial menjadi pembangkang Allah, sehingga membawanya menjadi penghuni neraka. Selain itu Al-ins juga diberi peluang untuk mengembangkan potensinya untuk menguasai alam.
Semua kemampuan seperti di atas pada dasarnya adalah sifat-sifat  yang dimiliki manusia. Pada dataran ini kelihatannya manusia masih dalam keadaan netral, yaitu potensial menjadi baik dan buruk, maka manusia kaitan dengan al-ins sangat tergatung pengaruh lingkungannya.
4.  Kata al-Nas
Kata al-Nas, dalam al-Quran sebanyak 241 kali[49].  Kata al-Nas dalam al-Quran menunjukkan pada eksistensi manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan tanpa melihat keimanan atau kekafirannya.[50] Kata Al-Nas lebih bersifat umum dibandingkan dengan kata Al-Insan,[51]  Manusia dilihat dari sosok sosial maka manusia perlu keteraturan tatanan hidup[52].
Di antara kata yang terpenting mengikuti terminologi al-nas adalah يا ايها  (wahai manusia). Kata ini dijadikan beberapa ayat yang mengikuti istilah al-nas. Allah menggunakan istilah ini untuk menunjukkan prinsip atau nilai yang berlaku untuk umat manusia secara umum, bukan hanya untuk umat Muslimin. Ketika Allah menyatakan يا ايها الناس  Allah menyertakan penjelasan tentang nilai-nilai yang bersifat universal, yang berlaku pada bangsa apapun dan di zaman apa pun.
Jika di analisa ayat-ayat yang menggunakan kalimat يا ايها الناس  akan ditemukan bahwa ayat-ayat itu mengajarkan nilai-nilai yang dipandang baik untuk seluruh umat manusia.
Al-Quran mengajarkan kepada manusia perdamaian. Nilai-nilai perdamaian ada pada seluruh umat  manusia sejalan dengan itu ajaran ini juga diberikan kepada seluruh umat manusia. Dengan demikian menurut al-Quran, sifat dasar manusia sebenarnya adalah  saling mencintai. Itulah nilai universal umat manusia dan untuk menegaskan sifat universal itu al-Quran memulai ayat tersebut dengan kalimat يا ايها الناس  (wahai manusia).
Perintah ibadah mengandung perintah yang universal, bahkan ajaran ibadah terdapat dalam setiap agama, keinginan beribadah adalah sifat dasar manusia. Terminologi al-Nas menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan karakteristiknya. Ayat-ayat itu lazim dikenal dengan ungkapan wa min al-nas (dan diantara sebagian manusia). Dengan memperhatikan ungkapan ini, kita menemukan kelompok manusia yang menyatakan beriman tapi sebetulnya tidak beriman,[53] yang mengambil sekutu terhdap Allah,[54] yang hanya memikirkan kehidupan dunia,[55] yang mempesonakan orang dalam pembicaraan tentang kehidupan dunia, tetapi memusuhi kebenaran,[56] yang berdebat dengan Allah tanpa ilmu, petunjuk, dan al-Kitab,[57] yang menyembah Allah dengan iman yang lemah,[58] yang menjual pembicaraan yang menyesatkan,[59] di samping ada orang yang rela mengorbankan dirinya untuk mencari kerelaan Allah.
Dengan memperhatikan penelaahan terhadap ayat-ayat al-Nas maka dapat  disimpulkan, sebagian besar manusia mempunyai kwalitas rendah, baik dari segi ilmu maupun dari segi iman. Menurut al-Quran sebagian manusia tidak berilmu,[60] tidak bersukur,[61] tidak beriman,[62] fasik,[63] melailakan ayat-ayat Allah,[64] kafir,[65] dan kebanyakan harus menaggung azab.[66] Ayat-yat ini dipertegas dengan ayat-ayat yang menunjukkan sedikitnya kelompok manusia yang beriman,[67] yang berilmu atau dapat mengambil pelajaran,[68] yang bersyukur,[69] yang selamat dari azab Allah,[70] yang tidak diperdayakan syetan,[71] surat 6:11 menyimpulkan bukti kedua ini, Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).
Terminologi al-Nas al-Quran menegaskan bahwa petunjuk al Quran bukanlah hanya dimaskudkan pada manusia secara individual, tapi juga manusia secara sosial, al Nas sering dihubungkan dengan petunjuk atau al-Kitab.[72]
Term al-Nas,[73]   mengacu  pada pengertian manusia sebagai makhluk sosial. Hal ini didasarkan pada banyaknya ayat al-Qur’ân yang menggunakan term al-Nas untuk menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan berbagai karakteristiknya. Ungkapan yang lazim dalam pengertian kelompok sosial  dengan  berbagai karakteristiknya diawali dengan ungkapan: ومن الناس (dan di antara sebagian manusia).
  1. Kata Unas

             Terminologi  Unas,  dalam al-Quran disebutkan sebanyak lima (5) kali. [74]   Berdasarkan konteks ayat-ayat tersebut, maka dapat digolongkan kepada beberapa kelompok, yaitu  dua  ayat kedalam suku.[75]

Berdasarkan penggunaan terminologi al-Unas dalam berbagai konteks di atas, maka dapat dipahami bahwa ia selalu dihubungkan dengan kelompok manusia, baik sebagai suku bangsa, kelompok pelaku kriminal, maupun kelompok orang yang baik dabn buruk nanti di akhirat. Dengan demikian dalam hubungannya dengan penjelasan tentang manusia dapat dipahami bahwa manusia adalah mahluk yang berkelompok, dan ia selalu akan membentuk kelompoknya sesuai dengan ciri-ciri dan persamaannya, seperti persamaan biologis, kebutuhan, kepentingan, suku, bangsa dan lain-lain.

Kata Bani Adam

Terminologi bani Adam digunakan dalam al-Qur’a sebanyak tujuh  kali masing-masing dalam tujuh  ayat dan tujuh surat. Berdasarkan kontek pembicaraan masing-masing ayat tersebut dapat dijelaskan bahwa terdapat  ayat-ayat yang membicarakan tentang keharusan manusia untuk memakai pakaian yang berguna untuk memperindah tubuh dan untuk menutupi aurat.[76]
Manusia diberi kelebihan dan keistimewaan untuk berhias dan berpakaian fungsi pakaian yang terpenting adalah menutupi aurat. Menutup aurat merupakan nilai peradaban dan kemanusiaan yang sangat tinggi. Istilah bani Adam dihubungkan dengan pembicaraan dengan keimanan, dan penjelasan tentang musuh uatama yaitu syaitan.[77]
Manusia sejak sebelun alhir telah mengenal kalimat tauhid. Penggunaan kata bani adam dalam konteks ini sangat tepat, bahwa manusia tanpa kecuali telah diberikan bekal potensial fitrah keagamaaan, yaitu mengesakan Allah. Bekal potensial itu, kemudian dipelihara dengan di utusnya Rasul dan Nabi. Dan diiringi dengan peringatan bahwa manusia dapat lari dari kefitrahan keagamaan akibat pengaruh syaitan.[78]
Dari keeluruhan ayat yang menggunakan kata bani Adam tersebut, dapat dipahami bahwa manusia adalah mahluk yang memiliki kelebihan dan keistimewaan dari mahluk lalinnya. Keistimewaan itu meliputi fitrah keagamaan, peradaban, dan kemampuan memanfaatkan alam. Dengan kata lain bahwa manusia adalh nahluk yang berada dalam relasi (hablum) dengan Tuhan (hablum min Allah), dan relasi dengan sesama manusia (hablum min an-nas), dan relasi dengan alam (hablum min al-‘alam).
Apabila disimpulkan dari terminologi al-Basyar, al-Ins, al-Nas, al-Insan, al-Unas dan Bani Bdam, yang digunakan oleh al-Quran berkaitan dengan manusia maka dapat diambil kesimpulan bahwa manusia adalah mahluk pilihan Tuhan, sebagai khlifah-Nya di bumi, serta mahluk yang semi samawi-duniawi yang di dalamnya ditanamkan sifat mengakui Tuhan dan keesaan-Nya, memiliki kebebasan (free will), terpercaya (amanah), memiliki rasa tanggung jawab, juga dibekali kecenderungan ke arah kebaikan dan kejahatan. Eksistensi mereka dimulai dari keadaan yang lemah (da’if) yang kemudian bergerak ke arah kekuatan yang dahsyat. Tetapi kekuatan itu tidak dapat mengatasi rasa kegelisahan mereka terhadap kematian, kecuali dengan mengingat dan mendekatkan diri dengan Tuhan.
Kapasitas mereka tidak terbatas dalam kemampuan belajar dan mengembangkan ilmu. Mereka memiliki keluhuran  dan martabat naluriah. Motivasi mereka dalan banyak hal bukan hanya terbatas pada sifat kebendaan, tetapi juga jauh menembus dataran transenden dan spiritual. Akhirnya mereka dapat leluasa memanfaatkan kerunia Allah yang dilimpahkan kepada mereka berupa alam, namun pada saat yang sama mereka harus menunaikan tanggungjawab dan kewajibannya, terhadap Tuhan, sesama manusia, dan alam.



[1]  Shihhab, Quraish,  Wawasan al-Qur’an,  Bandung, Mizan, 1995, 279
[2]  Mubarok, Achmad,  Sunatullah dalam Jiwa Manusia Sebuah Pendekatan Psikilogi Islam Jakarta, 2003, 17
[3]  Rizal, Samsul,  Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Intermassa,  2002, 23
[4] Q.S. 18 : 110
[5] Q.S. 11 : 27
[6] Q.S: 15 : 28
[7] Q.S:   6 :2; 15 : 26, 28, 29;  30 : 20;  55 : 4.
[8] Q..S:  23 : 12-14.
[9] Rizal,  Samsul,    Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta,  Intermassa, 2002, 23
[10] Q.S. 2 : 187
[11]Shihhab, Quraish, Wawasan Al-Qur’an , Bandung, Mizan,  1999, 279
[12] Q.S. 3 : 47
[13] Q.S. 19: 20
[14] Rahman, Fazl,   Tema-tema Pokok Al-Qur’an, Bandung, Pustaka,  1996,  29
[15] Q.S. 18 : 110
[16] Q.S.19:26
[17] Q.S. 3 : 39
[18] Ibn Manzhûr, Lisân al-'Arab, Mesir,  Dâr al-Mishriyah, 1968, Jilid V, hal. 124-126.
[19]Ibn Manzhûr, ibid., 125.
[20]Al-Qur’ân menyebut kata basyar sebanyak 27 kali. Dalam seluruh ayat tersebut memberikan referensi kepada manusia sebagai makhluk Biologis. ‘Abd al-Bâqî, Al-Mu'jam al-Mufahras li Alfâzh al-Qur’ân al-Karîm, (Beirût: Dâr al-Fîkr, tt.), hal. 153-154.
[21]Bint al-Syâthî, al-Maqâl fî al-Insân..., hal. 12.
[22] Ayat-ayat al-insan secara menyeluruh dapat dilihat pada lampiran tabel II
[23]  Mubarok,Achmad,   Psikologi Al-Qur’an, Jakarta, Pustaka Firdaus, 2001,  3
[24] Ali Audah : Konkordansi Qur’an Panduan Kata Mencari Ayat Al-Qur’an  (Litera Nusa :  Jakarta, 1991), 285
[25] Achmad Mubarok: Psikologi Al-Qur’an  (Pustaka Firdaus:  Jakarta, 2001), 3
[26] Quraih Shihhab: Wawasan Al-Qur’an (Mizan: Bandung, 1999), 280
[27] Samsul  Rizal:  Filsafat Pendidikan Islam, (Intermassa: Jakarta, 2002), 1-23
[28] Q.S: 53 : 24-25.
[29] Q.S.16:78
[30] Q.S.  17 :11
[31] Rifaat Syauqi Nawawi, Juhaya S. Praja Elmira N. Sumintarja, Rismiyati, Hanna Djumhana Bastaman, F. Joesoef Nusjirwan, Noeng Muhadjir, Soetarjo A. Wiramiharja, M. Djawad Dahlan, Fuad Nasori Suroso, Hamdani, Subandi : Metodologi Psikologi Islami (Pustaka Pelajar : Yogyakarta, 2000), 194
[32] Achmad Mubarok: Sunatullah dalam Jiwa manusia Sebuah Pendekatan Psikologi Islam ,  Jakarta, 2003, 18
[33] Q.S. 59 : 16
[34] Q.S. 2 : 3;  23 : 12-14
[35] Q.S. 95 : 4
[36]Kata insân disebutkan dalam al-Qur’ân sebanyak 65 kali. ‘Abd. al-Bâqî, op.cit., hal. 119-120.
[37]Ibn Manzhûr, Lisân al-'Arab, jilid VII, hal. 306-316.
[38] Rahman, Fazlur,  “The Qur'anic Concept of God, the Universe and Man”, dalam Islamic Studies, March 1967, VI: I, hal. 9.
[39]Jalaluddin Rakhmat, op.cit., hal. 78.
[40] al-Aqqad,  ‘Abbâs Mahmûd, “al-Insân fî al-Qur’ân”, dalam al-Amâl al-Kâmilah, Beirût,  Dâr Kutub Lubnani, 1974, hal. 381.
[41] Baharudin, Paradigma Psikologi Islam ; Studi tentanglemen Psikologi dari Al-Qur’an, Yogyakarta, Pustaka  Pelajar,  2004, l 70
[42] Audah, Ali, Konkordansi Qur’an Panduan Kata Mencari Ayat al-Qur’an, Litera Nusa,   Jakarta, 1991,  285
[43] Q.S. 6 : 11 ; 17 : 88; 55 : 39, 56, 74 dan 72 : 5-6.
[44] Q.S. 6 : 128, 130 ; 7 : 38, 179; 27 :17; 21 :45, 29; 46 : 18; 51 :56; 55 : 33
[45] Q.S. 57 : 56
[46] Q.S. 7 : 179, 38; 6 : 112, 128, 130; 41 : 25, 29; 46 : 18; 72 : 5, 6.
[47] Q.S. 17 : 88
[48] Q.S. 55 : 33
[49] Audah, Ali, Konkordansi Qur’an Panduan Kata Mencari Ayat al-Qur’an, Litera Nusa,   Jakarta, 1991,  468-472
[50] Samsul Nizar: Filsafat Pendidikan Islam,  Jakarta, Intermassa,  2002, 1-23
[51] Q.S. 2 : 24 ) :   
[52] Abudin Nata,  al-Qur’an dan Hadits,  Jakarta, Raja Grafindo, 1996, 19
[53] Q.S, 2: 8
[54] Q.S. 2: 165
[55] Q.S. 2: 200
[56] Q.S. 204
[57] Q.S. 22: 3, 8; 31: 20
[58] Q.S. 22: 11; 29: 10
[59] Q.S. 31: 6
[60] Q.S. 7:187; 12:21;  30:6, 30; 34:28, 36; 40:57
[61] Q.S. 40:61; 2:243; 12:38
[62] Q.S. 11:17; 12:103; 13:1
[63] Q.S. 5:49
[64] Q.S. 10:92
[65] Q.S. 17:89; 25:50
[66] Q.S. 22: 18
[67] Q.S. 4:66; 38:24; 2:88; 4:46; 4:155
[68] Q.S. 18:22; 7:3; 27:62; 40:58; 69: 42
[69] Q.S. 34:13; 7:10; 23:78; 67:23; 32: 9
[70] Q.S. 11:116
[71] Q.S. 4:83
[72] Q.S. 57:25; 4:170; 14:1; 24:35; 39:27.
[73] Kata al-Nâs disebutkan dalam al-Qur’ân sebanyak 240 kali. ‘Abd. al-Bâqî, Op. Cit., hal. 895-899.
[74] Mubarok, Achmad,   Psikologi Al-Qur’an, Jakarta, Pustaka Firdaus, 2001,  3
[75] Q.S. 7 :160; 2 :60
[76] Q.S. 17 : 70
[77] Q.S.  7 : 172
[78] Q.S. 7 : 26, 27, 31, 35, 172; 17 : 70; 36 : 60

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.