Selasa, 21 Februari 2017

TARDISI PERINGATAN MAULID NABI DI NUSANTARA


TRADISI PERINGATAN   MAWLID NABI MUHAMMAD SAW
Sutejo ibnu Pakar
MUKADIMAH
Peringatan Mawlid Nabi Muhammad SAW. pertama kali diperkenalkan oleh seorang pemimpin  Dinasti Fatimiyah yang terkenal adil biajksana dan penyayang terhadap sesama umat manusia, yaitu  Shalah al-Din al-Ayyubi (memerintah 1174-1193 M./ 570-590 H.).  Kegoncangan jiwa  ummat Islam akibat kekalahan kala itu sangat membutuhkan pembangkit dan penggerak untuk merebut kembali kepemilikan  Bait al-Maqdis (Masjid al-Aqsho).  Mawlid    atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW   diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam yang sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara Eropa (Prancis, Jerman, dan Inggris) dalam sebuah episode Perang  Salib atau The Crusade.
Tentara salib waktu itu telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjid al-Aqsho menjadi gereja (1099 M.). Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan, ukhuwah.  Secara politis umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad namun hanya sebagai lambang persatuan spiritual.
Adalah Sultan Salahuddin al-Ayyubi seorang pemimpin yang pandai mengena hati rakyat jelata.  Pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo) Mesir. Daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.  Salahuddin memshsmi dan merasakan betul  semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi SAW. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW.  12 Rabi’ al-Awwal, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini harus dirayakan secara massal.
Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari khalifah al-Nashir di Baghdad  khalifah setuju.  Maka pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H (1183 M.), Salahuddin,  dikenal penguasa  dua tanah suci (Mekkah al-Mukarromah  dan Madinah al-Munawwaroh),  mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera mensosialikan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 H. (1184 M) tanggal 12 Rabi’   al-Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.
Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.
Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 M. (580 H.) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab al-Barzanji sampai sekarang masih dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan Mawlid Nabi SAW.
Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul 'Iqd al-Jawahir yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.  
Kitab al-Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Nama Barzanji diambil dari nama pengarang naskah tersebut yakni Syekh Ja'far al-Barzanji bin Husin bin ’Abd. al-Karim.  Dia lahir di Madinah tahun 1690 M.  dan meninggal tahun 1766 M.  Al-Barzanji  sebenarnya adalah  nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. [1]
Produktifitas karya pujian mereka kepada Nabi SAW melahirkan sebuah genre   pujian khas, dengan karakter prosody (ritme) yang spesifik, yang dalam kajian sastra Arab dikenal dengan istilah al-Mada'ih al-Nabawiyah (Prophetic Penegerics). [2]  
Peringatan Mawlid Nabi SAW yang  penyelenggaraan awalnya diinisiasi oleh  Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang sangat konstruktif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan,  sehingga pada tahun 1187 M. (583 H.) Yerusalem direbut kembali  oleh pasukan Shalahuddin dari tangan bangsa Eropa. Masjid al-Aqsha’  menjadi masjid kembali  sampai hari ini.
PERINGATAN   MAWLID NABI  DI NUSANTARA
Adalah Presiden Pertama Republik ini yang berwasiat kepada siapapun yang menjadi penggantinya agar selalu menyelenggarakan peringatan Hari Lahirnya Nabi Muhammad SAW. di Istana Kepresidenan.  Peringatan  Maulid Nabi SAW  atau Muludan   diberdayakan oleh Wali Songo dalam kerangka penyebaran Islam di Nusantara,  sebagai  sarana dakwah dengan berbagai kegiatan yang menarik masyarakat agar terpikat mengucapkan syahadatayn (dua kalimat syahadat),  sebagai pertanda memeluk Islam. Itulah sebabnya perayaan Maulid Nabi disebut Perayaan Syahadatain, yang oleh lidah Jawa diucapkan Sekaten. Dua kalimat syahadat itu dilambangkan dengan dua buah gamelan ciptaan Sunan Kalijaga bernama Gamelan Kiai Nogowilogo dan Kiai Gunturmadu, yang ditabuh di halaman Masjid Demak Bintoro  dalam upacara  perayaan Maulid Nabi. Sebelum menabuh dua gamelan tersebut, orang-orang yang baru masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dulu memasuki pintu gerbang pengampunan  yang disebut gapura (gapura berasal dari bahasa Arab ghafuro, artinya Allah Yang Maha  Mengampuni).
Kesultanan Mataram Islam (Pendiri: Raden Sutawijaya alias Panembahan Senopatri ing Ngalogo Sayyidina Penatagama ing Tanah Jawa), menamai perinagatan  Maulid Nabi SAW dengan sebut Gerebeg Mulud. Kata Gerebeg   berarti  mengikuti, yakni mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara. Perayaan  Grebeg Mawlid sekarang    disempurnakan dengan pagelaran wayang kulit. Puncak prosesinya ditutup dengan pembacaan kitab al-Barzanji, yang dilakukan oleh penghulu Keraton Yogyakarta, sebagai bukti bahwa Grebeg Mawlid adalah tradisi Islam Kesultanan Cirebon (Kanoman Kasepuhan dan Kacerbonan) menamainya dengan istilah Pelal  kata yang diadopsi dari kata bahasa Arab yakni Fahdlun  (utama, keutamaan).
PENUTUP
Tradisi pembacaan kitab tentang pujian kepada Rasul Allah biasanya dilandaskan kepada pendapat para fuqaha' dari madhhab al-Syafi'i, Ibn Hajar al-’Asqalani, misalnya, menyatakan bahwa tradisi seperti itu menyimpan makna kebajikan. Al-Suyuti juga menunjukkan sikap toleran terhadap produk budaya yang dihasilkan oleh tradisi mengagungkan kelahiran Nabi.[3]   Sikap kedua fuqaha tadi juga disepakati oleh fuqaha' al-Syafi'i yang lain, diantaranya Ibn Hajar al-Haytami dan Abu Syahmah.  Peringatan Mawlid adalah  perbuatan   yang paling terpuji (min ahsani ma ubtudi'a), jika disertai dengan amal sosial kemasyarakatan yang baik,  seperti sadekah, infaq serta kegiatan lain yang bernilai ibadah. [4]   

RUJUKAN
Abbas, Siradjuddin,  40 Masalah Agama, Jakarta,  Pustaka Tarbiyah, 1992
al-‘Asqalani, Ibn Hajar,  Fath al-Bari,  Juz 13, Beirut,  Dar al-Ma'rifah,  t.th.
al-Bajuri, Hasyiyat al-Bajuri 'ala Matn Qasidat al-Burdah,  Kairo, Dar Ihya' al-Kutub al-'Arabiyah,  1947
al-Bantani, Muhammad Ibn 'Umar,   Madarij al-Su'ud ila Ikhtisha’ al-Burud, Semarang, Matba'at Taha Putra,t.thal-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, Juz .2, Beirut,  Dar al-Fikr, 1983 
al-Hajj, Ibn,  al-Madkhal Juz 2, Kairo, al-Matba'ah al-Misriyah bi al-Azhar , 1929 
Katsir, Ibn, al-Bidayah wa al-Nihayah, Juz 2, Beirut, Dar al-Kutub al-'Ilmiyah 1988.
al-Maliki, Muhammad ibn 'Alawi,   Baqah 'Atirah min Siyagh al-Mawalid wa al-Mada'ih al- Nabawiyah al-Karimah, t.tp.,  t.th.,  1983
Mubarak, Zaki,  Qasidat al-Burdah,  al-Mada'ih al-Nabawiyah, Beirut: Dar al-Jil,  1992
Muslim, Shahih Muslim,  Juz 1, Beirut,  Mu'assasat 'Izz al-Din, 1987
Rajab, Ibn,   Kitab Lata'if al-Ma'arif lima li al-Mawasim al-'Amm min al-Wadza'if, Beirut,  Dar al-Jil 1975.
al-Sandubi, Hasan, Tarikh al-Ihtifal bi al-Mawlid al-Nabawi Kairo, Mathba'ah al-Istiqamah, 1948
al-Sya'rani, 'Abd. al-Wahhab, al-Minah al-Saniyah 'ala al-Wasiyah al-Matbuliyah,   Indonesia,  Dar Ihya' al-Kutub al-Arabiyah, t.th.
al-Suyuthi, Husn al-Maqsid fi 'Amal al-Mawlid, Dar al-Kutub al-Ilmiyah,1985



[1] Kitab al-Barzanji dan al-Diba'i atau  Qasidah al-Burdah yang ditulis dalam bentuk puisi, memiliki ritme  bacaan, karena keduanya ditulis dalam bentuk prosa bersajak (al-Natsr al-Masu')
[2] Qasidah pujian yang digubah oleh Ka'ab dikenal dengan nama Qasidat al-Burdah. (Zaki Mubarak,  al-Mada'ih al-Nabawiyah,  Beirut,  Dar al-Jil,  1992, hal. 11-12).

[3] al-Suyuti, Husn al-Maqsid fi 'Amal al-Mawlid, 45-51.
[4] Chalil, Moenawar ,  Hadith-Hadith Mauludan, CV. Abadi,   29 Pebruari 1953.


Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.