Selasa, 21 Februari 2017

PENDIDIKAN PRANATAL DAN PEWARISAN NILAI

PENCIPTAAN MANUSIA;
PENDIDIKAN PRANATAL DAN PEWARISAN NILAI

OLEH: SUTEJA
A. PENDAHULUAN
Manusia merupakan karya Allah SWT yang terbesar, dibandingkan makhluk-makhluk lainnya.[1]  Dia satu-satunya mahluk yang perbuatannya mampu mewujudkan bagian tertinggi dari kehendak Tuhan. Dia mahluk kosmos yang penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat.[2] Peradaban  Timur dan Barat berbeda-beda memandang esensi manusia. Islam memandang manusia berdasarkan konsepsi spiritual dan wahyu. Barat, yang sekular dan tidak mengandung wawasan yang kudus, telah menjadi polemik  karena kehilangan tujuan sebenarnya, pengetahuan dipahami secara keliru, demikian telah menyangkut kesangsian dan skeptimisme dan beberapa hal agnostisisme, ketingkat metodologi ilmiah dan dengan itu telah menimbulkan kekacauan di semua bidang pengetahuan manusia, sehingga persepsi Barat terhadap manusia hanya sampai kepada kepribadian saja.[3]
Pengetahuan dan kebudayaan Barat merupakan perpaduan historis antara kebudayaan-kebudayaan, filsafat, nilai-nilai dan aspirasi-aspirasi Yunani-Roma Kuno, percampuran dengan Yudaisme dan agama Kristen serta perkembangan dan pembentukannya. Karena peradaban Barat tidak berasal dari akar yang sama maka tidak dapat menampilkan unsur-unsur yang harmonis tentang realitas hakikat manusia, teori peradaban barat tidak dapat merumuskan visinya mengenai kebenaran realitas berdasarkan pengetahuan yang diwahyukan, hanya mengandalkan pemikiran lahir dari  tradisi-tradisi rasional dan sekluar bangsa Yunani dan Roma, sehingga kehilangan kandungan spiritualnya. Dan merupakan spekulasi dari para pemikir yang menganut paham evolusi kehidupan dan penjelasan psikoanalistik tentang kodrat manusia, hasilnya adalah desakralisasi pengetahuan. 
Kegagalan ilmu pengetahuan Barat modern dalam memahami manusia karena mendasarkan diri hanya memahami realitas sebatas kemampuan indera manusia, padahal sisi lain, realitas bukanlah semata-mata sesuatu yang empirik (atau disebut realitas indrawi) tetapi juga ada realitas non inderawi (non empirik),[4] Desakralisasi pengetahuan memotong pengetahuan dari akar-akarnya.  Salah satu dikotomi utama dalam peradaban Barat terdapat dalam masalah ruh dan tubuh. Para filusuf Barat berusaha memecahkan masalah ini dengan mereduksi tubuh menjadi ruh atau sebaliknya. Peradaban Barat lebih cenderung kepada scientisme dan mekanisme.   Beberapa filusuf berusaha menghilangkan sumber utama yaitu Allah dan wahyu seperti Halvetius dan  Holbach menjadi Atheisme begitu populer di Prancis dan juga  La Mettrie  [5] Karl Mark, yang mengakui menganut ateisme yang paling radikal,    menganggap agama adalah hanya sebagai respon dari frustasi jiwa dan agama adalah sebagai emosi  alam yang tak memiliki esensi, tidak memiliki ruh, merupakan candu bagi masyarakat, menghapus agama akan memberikan kebahagiaan yang fantastis bagi manusia yang akan membawa mereka pada kebahagiaan yang hakiki.[6]
Sistem Eropa Timur yang Marxis-Leninis merupakan percobaan yang sungguh-sungguh untuk menghapus agama dan untuk melepaskan manusia dari peranan agama, akan tetapi menemui kegagalan karena tidak benar-benar mampu menghapus agama dan justru lebih ironis Marxisme sendiri telah menjadi agama pengganti (quasi religion) yang lebih rendah dan kasar jika tidak dikatakan primitif.  Dan ini merupakan usaha tragis dari upaya manusia dalam mencari makna hidupnya dan menemukan pemecahan yang “ilmiah” bagi persoalan hidup. [7] 
Psikologi sebagai ilmu yang menelaah perilaku manusia, pada umumnya berpandangan bahwa kondisi ragawi, kualitas kejiwaan dan situasi lingkungan merupakan penentu utama perilaku dan corak kepribadian manusia,[8] dan manusia tidak dapat dipisahkan dengan makhluk-makhluk yang lainnya, karena ada hubungan-hubungan obyektif antara satu dengan lainnya yang menciptakan sifat-sifat analog pengalaman manusia,[9]  Persepsi terhadap alam eksternal terjadi melalui indera luar (indera penglihatan, indera pendengaran, indera penciuman, indera perasa dan indera kulit), sedangkan persepsi terhadap apa yang terjadi di tubuh melalui indera dalam seperti lapar dan haus, semua mendorong manusia untuk melakukan tingkah laku yang sesuai dengan alam luar inderawi maupun alam non inderawi.
Pengetahuan yang dihasilkan dari pancaindera dari mata akan memperoleh bentuk, warna, dan sebagainya kepada sesuatu yang dapat dilihat dengan mata dengan syarat ada cahaya. Pendengaran melalui telinga terdapat sesuatu yang dapat didengar dengan berbagai macam suara, penciuman  melalui hidung akan memperoleh segala yang bau, rasa didapat melalui lidah memperoleh segala yang mempunyai rasa seperti manis, asam atau lainnya. Dan perabaan melalui seluruh anggota tubuh yang akan memperoleh rasa panas dingin, licin dan kasar. [10]
Psikologi, yang dimaksud dalam pembahasan ini, adalah suatu titik pandang para pemikir, cara bijak memandang kehidupan sebagai gagasan-gagasan dari mereka yang mengetahui kehidupan secara lebih menyeluruh. Psikilogi adalah ilmu fitrah manusia, kecenderungan manusia, perkembangan manusia dan pikiran manusia. Semakin dalam seseorang menyentuh ilmu ini, semakin ia mendapat pencerahan sehingga membuat kehidupan lebih jelas di matanya. Psikologi  yang dimaksudkan adalah suatu ilmu yang menjembatani antara ilmu material dan esoterisme (spiritual),[11] atau dengan kata lain manusia sebagai mahluk material dan spiritual. [12]
B. STRUKTUR  MANUSIA 
Manusia adalah  makhluk ciptaan Allah termulia dari seluruh makhluk yang ada di alam ini. Allah karuniakan keistimewaan-keistimewaan yang membedakannya dari makhluk lain. Karunia itulah kemudian yang memposisikan manusia sebagai makhluk pilihan Allah yang mengembangkan tugas ganda, yaitu sebagai khalifah Allah dan ’Abdullah (hamba Allah). Untuk mengaktualisasikan kedua tugas tersebut, manusia dibekali dengan sejumlah potensi yakni:  ruh, nafs, akal, hati, dan fitrah.


1. Aspek jAsmANiah
      Aspek jasmaniah adalah keseluruhan organ fisik-biologis, serta sistem sel, syaraf dan kelenjar diri manusia. Organ fisik manusia adalah organ yang paling sempurna diantara semua makhluk. Alam fisik-material manusia tersusun dari unsur tanah, air, api dan udara. Keempat unsur tersebut adalah materi dasar yang mati. Kehidupannya tergantung kepada susunan dan mendapat energi kehidupan yang disebut dengan nyawa atau daya kehidupan yang merupakan vitalitas fisik manusia. Kemampuannya sangat tergantung kepada sistem konstruksi susunan fisik-biologis, seperti: susunan sel, kelenjar, alat pencernaan, susunan saraf sentral, urat, darah, tulang, jantung, hati dan lain sebagainya. Jadi, aspek jasmaniah memiliki dua sifat dasar. Pertama berupa bentuk konkrit yakni tubuh kasar yang tampak dan kedua bentuk abstrak berupa nyawa halus yang menjadi sarana kehidupan tubuh. Aspek abstrak jasmaniah inilah yang akan mampu berinteraksi dengan aspek nafsiah dan ruhaniah manusia.
2. Aspek nafsiah     
      Aspek nafsiah adalah keseluruhan kualitas insaniah yang khas dimiliki dari manusia berupa pikiran, perasaan dan kemauan serta kebebasan. Dalam aspek nafsiah ini terdapat tiga dimensi psikis, yaitu dimensi nafsu, ‘aql, dan hati.  
       Dimensi nafsu merupakan dimensi yang memiliki sifat-sifat kebinatangan dalam sistem psikis manusia, namun dapat diarahkan kepada kemanusiaan setelah mendapatkan pengaruh dari dimensi lainnya, seperti ‘aql dan hati, ruh dan fitrah.
Nafsu adalah daya-daya psikis yang memiliki dua kekuatan ganda, yaitu: daya yang bertujuan untuk menghindarkan diri dari segala yang membahayakan dan mencelakakan (daya al-Ghodobiyah), serta daya yang berpotensi untuk mengejar segala yang menyenangkan (daya al-syahwaniyyah).
       Dimensi akal adalah dimensi psikis manusia yang berada diantara dua dimensi lainnya yang saling berbeda dan berlawanan, yaitu dimensi nafsu dan hati. Nafsu memiliki sifat kebinatangan dan hati memiliki sifat dasar kemanusiaan dan berdaya cita-rasa. Akal menjadi perantara diantara keduanya. Dimensi ini memiliki peranan penting berupa fungsi pikiran yang merupakan kualitas insaniah pada diri manusia.
Dimensi hati memiliki fungsi kognisi yang menimbulkan daya cipta seperti berpikir, memahami, mengetahui, memperhatikan, mengingat dan melupakan. Fungsi emosi yang menimbulkan daya rasa seperti tenang, sayang dan fungsi konasi yang menimbulkan daya karsa seperti berusaha.
3.     Aspek ruhaniah
Aspek ruhiyah adalah keseluruhan potensi luhur (high potention) diri manusia. Potensi luhur itu memancar dari dimensi ruh dan fitrah. Kedua dimensi ini merupakan potensi diri manusia yang bersumber dari Allah. Aspek ruhaniyah bersifat spiritual dan transedental. Spiritual, karena ia merupakan potensi luhur batin manusia yang merupakan sifat dasar dalam diri manusia yang berasal dari ruh ciptaan Allah. Bersifat transidental, karena mengatur hubungan manusia dengan yang Maha transenden yaitu Allah. Fungsi ini muncul dari dimensi fitrah.  
Aspek jasmaniah bersifat empiris, konkrit, indrawi, mekanistik dan determenistik. Aspek ruhaniah bersifat spiritual, transeden, suci, bebas, tidak terikat pada hukum dan prinsip alam dan cenderung kepada kebaikan. Aspek nafsiah berada diantara keduanya dan berusaha mewadahi kepentingan yang berbeda.
Aktualisasi potensi diri manusia tersebut dapat diarahkan melalui konsep pembinaan “kecerdasan emosional dan spiritual”. Rukun iman dan rukun Islam adalah sistem pembinaan kecerdasan emosional dan spiritual. Rukun iman dan rukun Islam, disamping sebagai petunjuk ritual bagi umat Islam, ternyata pokok pikiran dalam rukun iman dan rukun Islam juga dapat memberikan bimbingan untuk mengenal dan memahami perasaan diri  sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri, mengelola emosi dalam berhubungan dengan orang lain.
Rukun Islam merupakan metode pengasahan dan pelatihan kecerdasan emosional. Syahadat berfungsi sebagai “mission statement”, puasa sebagai “self controlling”, serta zakat dan haji sebagai peningkatan “social intelligence” atau kecerdasan sosial. Islam menuntut penganutnya agar senantiasa melaksanakan rukun Islam secara konsisten dan kontinu. Ini merupakan bentuk training sepanjang hidup manusia. Disinilah pembentukan dan pembinaan kecerdasan emosional dan spiritual yang sempurna. 
Para ahli psikologi mengatakan bahwa tingkat perkembangan intelligence Quetiont (IQ) berbeda dengan perkembangan emotional dan spiritual quetiont (ESQ).  Tingkat kecerdasan IQ relatif tetap, sedangkan kecerdasan ESQ dapat meningkat sepanjang hidup manusia. Struktur susunan rukun iman dan rukun Islam merupakan susunan anak tangga yang teratur secara sistematis, logis dan objektif dalam pembentukan ESQ. Rukun iman berfungsi membentuk struktur fundamental mental berupa: prinsip landasan mental, prinsip kepercayaan, prinsip kepemimpinan, prinsip pembelajaran, prinsip masa depan hingga prinsip keteraturan.
Setelah mental terbentuk, dilanjutkan dengan langkah-langkah pembentukan “mission statement” melalui dua kalimat syahadat, kemudian pembangunan karakter melalui shalat lima waktu sehari semalam, pengendalian diri melalui puasa. Kemudian pembentukan kecerdasan sosial melalui zakat dan haji. Semua itu merupakan struktur sistem pembinaan dengan strategi dan metode training yang ideal.
Pembinaan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual secara komprehensif melalui rukun iman dan rukun Islam adalah proses pengaktualisasian potensi diri manusia secara totalitas. Pengaktualisasian potensi ruh mewujudkan fungsi khalifah dan aktualisasi potensi fitrah mewujudkan fungsi ibadah. Dimana aktivitas pendidikan hamba Allah tetap akan menjadi ibadah, bukan malah sebaliknya menjadi aktivitas yang jauh dari nilai-nilai relegiusitas.
E. MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BIOLOGIS
      Manusia, baik sebagai makhluk jasmaniah ataupun makhluk rohaniah memiliki dimensi hubungan dengan Allah, hubungan dengan alam dan hubungan dengan sesama manusia. Pembicaraan tentu akan mengarah kepada apa saja yang menjadi kebutuhan dan sifat-sifat dasar manusia sebagai makhluk hidup dan hamba Allah yang bertugas menyembah dan beribadah kepada-Nya. Tidak diragukan lagi, sebagaimana ditegaskan al-Nahlawi, bahwa segala jenis dan bentuk peribadatan kepada Allah mensyaratkan kesungguhan dan kekuatan tubuh fisik, jasmani.[13]
Manusia yang dimaksud al-Quran dan al-Sunnah adalah manusia sempurna (homo sapiens sapiens), bukan kera-manusia atau setengah manusia (parapithecus, proconsul, australopithecus, paranthropus, dan zinjanthropus), atau manusia-kera (pithecantrophus dan sinanthropus) atau manusia purba (homo sapiens neanderthalensis, cro-Magnon).
     Ayat-ayat al-Quran yang akan dikemukakan dalam tulisan ini pada dasarnya merupakan ayat-ayat dipandang cukup representatif  untuk menegaskan hakikat bahwa, al-Quran adalah sumber inspirasi dengan pesan-pesannya yang secara  umum merupakan dinamisator dan motivator  mengenai masalah-masalah tersebut. Menurut ‘Abdurrahman Thalib al-Jazairi al-Quran, dalam hal ini,  adalah pendidik yang paling mulia.[14]
1. PENCIPTAAN MANUSIA PERTAMA

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى     ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ     مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الْأَرْضَ    هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ  زَوْجٍ بَهِيج  ٍ(الحج : 5)

     Artinya:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ(الحجر : 26)

Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari  tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
             
Kata     dan   خلق diterjemahkan kedalam  bahasa Indonesia dengan kata membuat, menjadikan, atau menciptakan. Dalam proses penciptaan pertama atau yang tidak melibatkan kreativitas makhluk Allah, al-Quran menggunakan kata yang pertama جعل   seperti dalam ayat tersebut di atas. Tetapi, dalam penciptaan selanjutnya atau yang melibatkan kreativitas makhluk,  al-Quran  mempergunakan kata yang kedua  خلق   seperti dalam surat al-Mumtahanah : 7.
عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً وَاللَّهُ قَدِيرٌ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ  (  الممتحنة :7)
Artinya:
Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kata turab تُرَابٍ (Indonesia : tanah), jamaknya        أَْترِبَة  - تِرْباَن   berarti  adonan  dari tanah                أديم الأرض.[15]  Kata lain yang menunjuk kepada  tanah  sebagai bahan dasar penciptaan manusia adalah kata صَلْصَالٍKata  صلصال    menurut Jalalin berarti tanah yang kering, kata  حمإ berarti  طين  يابس    tanah hitam dan kata مسمنون    berarti متغيّر  berubah.

      Manusia yang diciptakan dari bahan dasar tanah ini hanyalah  Adam, manusia pertama. Sedangkan keturunannya sampai dengan sekarang diciptakan dari bahan dasar sperma. Nuthfah (tetesan air), ‘alaqah (darah yang sangat merah), dan mudhghah (daging segar) membentuk menjadi janin setelah masing-masing mengalami masa empat bulan. ‘Abdullah bin Mas’ud menyatakan bahwasanya Rasulullah bersabda: “sesungguhnya penciptaan kamu didalam perut ibumu melalui tahapan-tahapan: nuthfah dalam 40 hari pertama, ‘alaqah dalam 40 hari kedua, dan mudhghah dalam 40 hari ketiga”.

حدثنا عبد الله بن مسعود حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال :  إنّ أحدكم يجمع خَلْقُهُ في بطن أمه أربعين يوما     ثمّ يكون في ذالك علقة مثل ذالك ثمّ يكون مضغة مثل ذالك ... (رواه البخاريّ)

أَ
Waktu yang sudah ditentukan  أَجَلٍ مُسَمًّى  yang dimaksud, menurut Jalalin,  adalah kepastian sampai dengan janin dilahirkan ke dunia.

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا وَمِنْكُمْ   مَنْ يُتَوَفَّى مِنْ قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ( المؤمن : 67)
Artinya:
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya).

Setelah lahir ke dunia, setiap manusia mengalami tiga umur ekologis yaitu : prareproduksi   طِفْلًا, reproduksi  أَشُدَّكُمْ,  dan pascareproduksi  شُيُوخًا. Periode prareproduksi atau periode muda manusia belum melakukan regenerasi,  karena alat kelamin belum matang. Pada periode  reproduksi  atau periode dewasa alat kelamin sudah matang. Dalam periode ini terjadi pernikahan dan terjadilah peristiwa melahirkan. Pada periode  pascareproduksi  manusia tidak lagi produktif.
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ(فاطر   11)
Artinya:
Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.

 خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ( الرحمن  14)
Artinya:
Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar
           
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ
 الحجر : 28
Artinya:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ(الحجر : 26)
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

Kata  صلصال    menurut Jalalin berarti tanah yang kering, kata  حمإ berarti  طين  يابس    tanah hitam dan kata مسمنون    berarti متغيّر  berubah.






2. PENCIPTAAN DI DALAM  RAHIM (UTERUS)
a. Percampuran (Pembuahan, Ovulasi)
            Menemukan ide reproduksi dalam al_Quran sesungguhnya bukanlah sesuatu yang mudah. Kesulitan pertama karena ayat-ayat al_Quran berkenaan dengan soal ini tersebar di berbagai surat al-Quran. Kedua, pembahasan mengenai reproduksi mesti memadukan pengetahuan tentang  bahasa al-Quran dan bahasa Arab dengan pengetahuan ilmiah. Karenanya, al-Quran terus menerus mengingatkan kita tentang apa yang dialami embrio   atau janin dalam uterus (rahim) sang ibu.
مَا لَكُمْ لاَ تَرْجُوْنَ ِللهِ وَقاَرًا. وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا ( نوح : 14 )

Mengapakah kamu tidak percaya akan kebesaran Allah. Padahal, Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.
    هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا وَمِنْكُمْ   مَنْ يُتَوَفَّى مِنْ قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون َ(المؤمن : 67)
Artinya:
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya).

Tingkatan atau athwâr yang dimaksud, bagi Jalalin, adalah dari tingkatan sperma, darah, daging  sampai dengan sempurnanya atau sempurna  menjadi manusia. Bagi Qurthubi thur bisa dimaknai sebagai tingkatan dari mulai  masa anak-anak, remaja, pemuda, dewasa, sampai dengan masa tua. Atau, katanya, bisa dimaknai sebagai tingkatan perbedaan akhlak  dan tindakan. Firman Allah dalam surat al-Rum : 54.
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً   ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ   (الروم : 54)
Artinya :
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا      مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ (الزمر : 6)
Artinya:
Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?  

Maksud dari ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ  bagi Jalalain dan Qurtubi adalah tiga kegelapan yaitu kegelapan ketika sang janin berada dalam perut sang ibu,  rahim dan plasenta مشيمة     yang terbungkus dan terlindungi. Atau, seperti pendapat IbnKatsir, kegelapan adalah masa ketika masih berupa sperma didalam tulang rusuk lelaki, perut ibu, dan rahim ibu.
Al-Jazairi mengemukakan bahwa, berdasarkan asal usul penciptaannya maka manusia tidak bisa disebut malaikat karena manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan atau dosa. Akan tetapi, manusia juga tidak dapat disamakan dengan  hewan ataupun binatang  yang hanya dipenuhi oleh kebutuhan-kebutuhan biologis semata.[16]
      Al-Sya’rani meneyebutnya dengan istilah manhaj al-Hayat  yang disyari’atkan al-Quran agar generasi sekarang mau merenungkan dan mengikuti secara baik dan benar.[17]                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         Dari aspek kependidikan, sebagaimana dikemukakan al-Jazairi, bahwa yang musti ditanamkan kepada anak-anak adalah pemahaman tentang dua hal.  Pertama, asal usul penciptaan manusia dari air yang hina. Kedua, kemuliaan manusia bisa akan tercapai manakala ia memiliki ilmu pengetahuan.[18]
b. Fase Penciptaan
Fase-fase penciptaan manusia, dalam pandangan al-Jazairi, merupakan proses pembelajaran menentukan pilihan terhadap dua cara yang musti dijalani yakni kebaikan dan keburukan.[19]
       1). Fase Nuthfah (Sperma, Mani)
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِق يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ   الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ  (الطارق : 5-7)
Artinya:
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang iga.
ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (السجدة 8)
Artinya:
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).
أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِين  ٍ(المرسلات:   20)
   Artinya:
Tidakkah Kami ciptakan kamu dari air yang hina

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (المؤمنون   13)
Artinya:
Kemudian Kami jadikan saripati  itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ   (السجدة : 21)
Artinya :
Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim)

Mâ’ mahîn adalah nuthfah (sperma). Dâfif adalah air yang memancar dari lelaki dan perempuan di dalam rahim perempuan. Al-Shulb adalah tulang rusuk lelaki dan yang  dimaksud al-Tarâib adalah tulang rusuk perempuan. Nuthfah atau sperma lelaki adalah berwarna  putih.[20]  Rasulullah menyatakan bahwa sperma lelaki yang subur itu berwarna putih lagi kental dan sperma perempuan itu berwarna kuning lagi cair (encer).
 Apabila seperma lelaki bercampur dengan seperma perempuan dan seperma lelaki lebih kuat, maka atas izin Allah akan lahir seorang bayi lelaki. Tetapi sebaliknya apabila seperma perempuan lebih kuat, maka atas izin Allah akan lahir seorang bayi perempuan. Sperma lelaki akan membentuk tulang dan neoroune  atau sel-sel saraf (خليّةالعصب), sedangkan perempuan akan membentuk  daging dan darah.
      Amsyâj berarti bercampur yakni bercampurnya air lelaki dan air perempuan. Campuran yang dimaksud, berdasarkan hasil kerja empiris dalam bidang sains dan kedokteran, adalah campuran antara testicule, vesicules seminate, prostrate, dan cooper atau mery.[21]
1.      Testicule, pengeluaran kelenjar kelamin lelaki yang mengandung spermatozoide yakni sel panjang yang berekor dan berenang dalam cairan serolite.
2.      Vesicules seminate,  kantotng-kantong benih; organ ini merupakan tempat menyimpan, tempatnya dekat prostate, organ ini juga mengeluarkan cairan tetapi cairan itu tidak membuahi.
3.      Prostrate,  mengeluarkan cairan yang memberi sifat krem serta bau khusus kepada sperma.
4.      Cooper atau mery, kelenjar yang mengeluarkan cairan yang melekat dan kelenjar pengeluar lendir (letter).

2). Fase Darah
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (العلق : 2)
Artinya:
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى( القيامة  38)
Artinya:
Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah  menciptakannya, dan menyempurnakannya
ونقرّ في الأرحام كيف نشآء إلى أجل مسمّىً (الحجّ : 5)
Artinya:
Dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki  sampai waktu yang telah ditentukan.
 
  Kata  ‘alaq  dalam beberapa kitab tafsir, missal Jalalin, Ibn Katsir dan Qurthubi,  menunjuk kepada arti segumpal darah segar dan beku. Kata ‘alaq   adalah bentuk plural dari kata’alaqah . Pemakaian bentuk kata jamak ini  karena ayat tersebut ditujukan kepada semua manusia secara keseluruhan, bukan perseorangan. Terjemahan kata  ‘alaq   yang tepat berdasar kepada beberapa hasil  penemuan sains modern adalah “sesuatu yang melekat”. “sesuatu yang meleklat” adalah  arti pokok dari kata ‘alaq  . Karena,  manusia tidak pernah melewati tahap gumpalan darah.[22]
3). Fase Daging

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَاالْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ  فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ  (المؤمنون  14)
Artinya:
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan sesuatu yang melekat dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang, lalu tulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuklain. Maha Suyci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Mudhghah  adalah segumpal darah yang belum memiliki bentuk.  Sedangkan tulang yang dimaksud adalah bentuk kelanjutan dari mudhghah berupa : kepala, tangan, kaki, dan yang sejenis.  Setelah mengalami masa nuhtfah dan ‘alaq (darah), kemudian embrio memasuki fase mudhghah (daging), kemudian nampaklah tulang yang diselebungi dengan daging.  Kehidupan selama masa nuthfah, ‘alaq, dan mudhghah  yang berlum terbungkus itu masing-masing selama empat puluh hari atau tiga bulan. Setelah  masa empat bulan sepuluh hari, Allah memperlengkapinya dengan pendengaran, penglihatan, serta gerakan-gerakan sederhana.[23]
Daging pada mulanya berasal dari darah yang dihasilkan oleh saripati nutrisi yang masuk kedalam tubuh manusia. Baik buruknya darah sangat bergantuing kepada baik buruknya makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh tubuh secara teratur.  Kualitas darah yang terdapat dalam tubuh manusia pada akhirnya sangat menentukan kualitas sperma (lelaki dan perempuan), sebagai bahan baku bagi calon embrio جنينة. Karenanya, bukan sesuatu yang bertentangan dengan fitrah dan sifat dasar manusia kalau al-Quran banyak membicarakan masalah makanan dan minuman.
Atas dasar kasih-Nya, Allah selalu menmgingatkan dan bahkan memerintahkan (wujub syar’iy)  setiap umat Islam selalu mengkonsumi makanan dan minuman yang  halal dan baik (bergizi dan bervitamin memadai).   Allah dan rasul-Nya   menghendaki setiap pribadi umat Islam memiliki kualitas fisik jasmaniah yang kuat dan sehat, serta immune terhadap setiap penyakit. Allah juga tidak membiarkan umat Islam melahirkan generasi yang lemah secara fisik jasmaniah. Pemenuhan kebutuhan jasmaniah dan biologis manusia, dengan demikian, merupakan prioritas utama dari pesan umumal-Quran dalam kerangka mempertahankan umat Islam sebagai makhluk  paling sempurna.
3. KEBUTUHAN DASAR BIOLOGIS
Al-Quran memposisikan pemenuhan kebutuhan akan makan dan minum serta sandang dan perumahan sebagai salah satu objek sasaran dari proses kependidikan yang dijiwai oleh dasar keimanan kepada Allah SWT.[24] Makan dan minum adalah prasyarat bagi tegaknya kehidupan manusia sebagai makhluk biologis.  Para nabi dan rasul Allah adalah manusia biasa dan bukan malaikat. Mereka  membutuhkan makan dan minum, sandang, dan tempat tinggal. Mereka juga melakukan pernikahan guna melanjutkan keturunan.
وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لاَ يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ  (الأنبيآء :8)
Artinya :
Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal          
       
Salah satu aspek penting  pendidikan adalah pembinaan aspek jasmani. Pendidikan bertugas melakukan pemenuhan kebutuhan dasar fisik jasmani seperti makan, minum, sandang, serta pemeliharaan dan pembinaan aspek jasmani. Menurut al-Jazairi pemenuhan kebutuhan dasar tersebut, terutama masalah makan, merupakan perintah Allah yang tertuang di dalam al-Quran dan dapat dijumpai pada delapan belas ayat.[25] 
      Pendidikan jasmani menurut  Islam adalah pendidikan yang bertujuan menyempurnakan seluruh potensi fisik jasmani anak manusia. Potensi yang dimaksud adalah potensi dasar berupa pendengaran, penglihatan, hati dan akal fikiran. Potensi tersebut adalah karunia Allah kepada setiap anak manusia dan harus diperlihara, dibina serta dikembangkan. [26]
Pendidikan Islam sangat berperhatian terhadap masalah aspek fisik jasmani anak dengan memberikan pelatihan-pelatihan berupa permainan dan olahraga seperti bermain pedang, bermain panah, bermain kuda, ataupun berenang. Rasulullah sendiri, menurut al-Nahlawi, lebih bersikap toleran dengan berbagai jenis permainan. Keteladanan yang dapat diambil dari Rasulullah sebagai seorang pendidik adalah bahwa, setiap selesai mengerjakan shalat maghrib secara berjama’ah Rasulullah memulai perlombaan mengendarai kuda dengan  sahabat-sahabat beliau.[27] 
Pemenuhan kebutuhan dasar aspek jasmani, bagi Ibrahim ‘Ishmat Muthawi’,  didasarkan kepada pertimbangan mendasar mengenai keterkaitan dan ketrpengaruhan antara berbagai aspek kepribadian anak. Bahwa pertumbuhan jasmani secara langsung mempengaruhi perkembangan intelektual, emosional dan aspek psikologis anak. [28]
Pendidikan qurani  adalah pendidikan yang komprehensif dan bertujuan membina dan mengembangkan seluruh aspek kepribadian secara wajar dan imbang. Setiap aspek kepribadian : jasmaniah, intelekttual, moral, sosial, intuisi, emosi dan aspek ruhani diarahkan kepada pertumbuhan dan perkembangan yang maksimal. Hal-hal yang berkenaan dengan seluruh kebutuhan dasar fisik jasmani seperti makan, minum, pakaian dan tempat tinggal menjadi perhatian khusus dalam kerangka integralisasi aspek-aspek kepribadian.

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ        وَمِنْ أَصْوَافِهَا  وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ
Artinya :
Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa) nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ ....(15)

Artinya:
Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun".

    وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا  . لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا   

Artinya:
Allah telah menghamparkan bumi bagi kamu, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu".(Q.S. Nuh: 19-20)

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُون َ(الأنبيآء : 31)
Artinya :
Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.
         Bagi al-Jazairi  pengalaman bangsa-bangsa sebelum Rasulullah Muhammad SAW dapat dijadikan materi pendidikan yang sangat representatif bagi pembinaan umat dalam menyikapi kehidupan yang dinamis.  Pengalaman kaum saba’  yang hidup dalam kesejahteraan dan kemakmuran tetapi kemudian mengalami kehancuran secara total termasuk peradabannya, menuruttnya karena mereka telah menjauhi alan Tuhan atau manhaj rabbani, sebagaimana yang dimaksud dalam beberapa ayat tersebut. Karenanya, dalam hal ini pendidikan bertugas memperkenalkan sejarah kehidupan umat atau bangsa-bangsa terdahulu agar dapat dijadikan cermin bagi anak didalam membangun masa depan mereka.[29]
      Pemenuhan kebutuhan dasar manusia, bagi Madkur, pada dasarnya berkenaan dengan dua kebutuhan pokok yang saling terkait dan tidak dipisahkan satu dengan lainnya. Dua kebutuhan dimaksud adalah kebutuhan yang berhubungan secara langsung dengan potensi fisik jasmaniah anak dan kebutuhan yang berhubungan secara langsung dengan potensi emosional dan piskologis anak.  Kesimbangan pemenuhan kedua kebutuhan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan terbentuknya anak yang tumbuh dan berkembang secara harmonis sehingga menjadi pribadi yang utuh dan integral.[30] Pemenuhan kebutuhan aspek jasmani anak dengan demikian merupakan  sesuatu yang sangat prinsipil. Tetapi, katanya, pemenuhan aspek ini semata-mata tidak identik dengan  kepuasan.[31]
C. PROSES REGENERASI DAN PEWARISAN NILAI
Pada ayat-ayat tentang proses penciptaan manusia terdapat proses pendidikan  yang sangat esensial dan harus dilakukan kepada anak-anak sejak  usia dini. Bagi al-Jazairi, ayat-ayat tersebut pada dasarnya mengajarkan tentang proses berfikir dan menganalisis. Katanya, ada empat masalah pokok yang hendak dituju  dalam proses berfikir dan menganalisis proses penciptaan manusia. Keempat hal itu ialah pertama,  tentang asal usul manusia, kedua kehidupan yang musti dilakukan sesudah lahir ke dunia, ketiga fenomena alam semesta, dan keempat dinamika kehidupan bangsa-bangsa terdahulu.[32]  

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى   …(الحجرات :13)
Artinya:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan…

وأنّه خلق الزوجين الذكر والأنثى . من نطفة إذا تمنى.  (النجم : 45-46)
Artinya:
Dan bahwasanya Dialah yangmenciptakan berpasangan-pasangan laki-laki dan perempuan, dari mani apabila dipancarkan.

Beberapa hadits  Rasulullah SAW di bawah ini menyatakan proses  bilogis yang menjadikan perbedaan jenis kelamin seorang bayi  karena kualitas sperma dari masing-masing pasangan suami istri. Dunia ilmu pengetahuan lazim menyebutnya sebagai proses genetika.
Beberapa hadits mengajarkan bahwa  figur seorang ayah dan ibu sebagai pihak pendidik dan pewaris nilai. Apapun jenis kelamin anak manusia (bayi) yang dilahirkan oleh seorang ibu setelah melalui proses pernikahan secara islami,   pada intinya mengajarkan tentang  perlunya bibit  terpilih, baik ayah ataupun ibu.  Karena pendidikan sangat membutuhkan contoh teladan yang baik. Ayah dan juga ibu harus berasal dari generasi atau keturunan orang baik dan beragama. [33]   
Beberapa ayat dan juga hadits tentang asal usul dan penciptaan manusia, jenis kelamin dan keturunan, serta kehiduppan umat terdahulu dalam tinjauan kependidikan al-Jazairi, memberikan pemahaman bahwa sejak dini anak-anak musti ditanamkan pemahaman tentang eksistensinya sebagai makhluk sosial. Disadarai atau tidak disadari, manusia sebagai bagian dari mamsyarakat tidak dapat hidup berdiri sendiri. Ia akan membutuhkan orang  lain meski sekadar untuk berkomunikasi dan mengekpressikan hal-hal yang terkandung didalam angan-angan atau hatinya. Karena itu, menurutnya, pendidikan bertugas memberikan pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang asal usul penciptaan manusia dan keturunan mereka generasi terdahulu serta dampaknya dalam kehidupan di dunia ini.[34]
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ    أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ( النحل72)
Artinya:
Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni`mat Allah?"
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا (الفرقان :54)
Artinya:
Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan  adalah Tuhanmu Maha Kuasa.

Bagi al-Jalalin dan Ibn Katsir air yang dimaksud adalah air mani atau nuhtfah. Ayat ini,bagi Qurtubi, merupakan peringatan bagi manusia tentang asal penciptannya dari air sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Anbiya : 30.
... وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُون َ(الأنبيآء :  30)
Artinya :
Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah   mereka tiada juga beriman?
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ    وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ فَمِنْهُمْ مُهْتَدٍ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُون َ(الحديد :  26)
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka fasik
وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ (الصفت : 77 )
Dan Kami jadikan anak cucunya (Nuh) orang-orang yang melanjutkan keturunan.

D. PENUTUP
Manusia, dalam ihwal sifat dasar  pada umumnya sama dengan makhluk hidup selainnya, seperti tumbuhan dan binatang. Sifat dasar manusia adalah : terdiri dari sel, makan, minum,  bergerak atau beraktivitas, tumbuh (berubah secara fisik), berkembang biak (berketurunan), beradaptasi serta berevolusi. Tetapi, sebagaimana ditegaskan Allah di dalam al-Quran, manusia adalah makhluk yang paling sempurna dari aspek lahiriah (struktur, fungsi dan mekanisme anatomis).
Perbedaan manusia dari makhluk hidup selainnya, semata-mata bukanlah karena faktor mentalitas atau spirtualitas. Tinjauan biologis dapat menunjukkan bahwa, manusia adalah makhluk Allah yang paling  sempurna      أحسن تقويم . Berdasarkan klasifikasinya manusia tidak dapat dimasukkan kedalam makhluk tumbuhan bersel (protophyta, tallophyta, brytophyta, pteridophya, dan spermatophya) ataupun hewan (protozoa, porifera, coelenterata, vermes, mollusca, arthropoda, enchinodermata, dan chordata). Oleh  karena sel-sel yang terdapat didalam tubuh manusia lebih banyak dan lebih rumit.
Pendidikan bertugas dan berkompeten menciptakan generasi muda menjadi generasi pewaris para nabi dan rasul yang oleh Allah dikaruniai kenikmatan dan kebahagaiaan berupa manhaj al-Hayat yang sesuai dengan kehendak-Nya. Merekalah yang generasi yang dapat dijadikan contoh teladan ataupun panutan baik oleh generasi sekarang dan akan datang.
Pengetahuan dan pemahaman tentang generasi terdahulu memiliki dua tujuan pokok. Pertama, menumbuhkan dan memgembangkan naluri  atau fitrah berinterkasi secara sosial. Kedua, mengembangkan pemahaman terhadap norma-norma yang berlaku didalam masyarakat dan mendorong untuk mematuhinya.[35] Ibrahim ‘Ishmat Muthawi’ menegaskan, sejarah dan peradaban bangsa-bangsa terdahulu berdasarkan hasil penelitian terbukti memiliki andil dan pengaruh signifikan bagi arah pertumbuhan dan perkembangan generasi sekarang. Menurutnya, pengaruh dari peradaban produk generasi sekarang terhadap generasi muda dewasa ini hanya 15 %  saja. Sedangkan pengaruh peradaban bangsa-bangsa terdahulu terhadap generasi muda masa kini adalah sebesar 85 %.[36]  Dinamika sosial dan peradaban di masa lampau memiliki keterkaitan yang kuat dengan perkembangan kepribadian bangsa masa sekarang.[37]  
























Lampiran: 1
Hadits-hadits  Genetika

قال رسول الله صيى الله عليه وسلم:  مآء الرجل غليظ أبيض ومآء المرأة رقيق أصفر فأيهما سبق شبهه  (رواه أحمد ومسلم والحاكم واين ماجه عن آنس) صحيح[38]
قال رسول الله صيى الله عليه وسلم: مآء الرجل أبيض ومآء المرأة أصفر فإذا اجتمعا فعلا منيّ الرجل منيّ المرأة أذكرا بإذن الله     فإذا علا منيّ المرأة منيّ الرجل أنثا  بإذن الله  (رواه ومسلم والنسأئيّ  عن ثوبان) صحيح[39]
قال رسول الله صيى الله عليه وسلم: إن نطفة الرجل بيضآء غليظ فمنها يكون العظام والعصبة  وإن  نطفة المرأة صفرآء رقيق   فمنها يكون اللحم والدم (رواه الطبرانيّ عن ابن مسعود).[40]  
قال رسول الله صيى الله عليه وسلم: نطفة الرجل بيضآء غليظ  ونطفة المرأة صفرآء رقيق  فأيهما غلبت صاحبتها فالشبه له   وإن اجنمعا جميا   كان منها ومنه  (رواه أبو الشيخ  عن ابن عبّاس) ضعيف.












Lampiran: 2
Hadits tentang Bangsa-bangsa di Dunia
قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : ولد نوح ثلاثة سام وحام ويافث (رواه أحمد والحاكم عن سمرة) صحيح.[41]
قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم :  ولد نوح ثلاثة قسام : فسام أبو العرب وحام أبو الحبشة ويافث أبو الروم (رواه الطبرانيّ  عن سمرة وعمران ) حسن.[42]
قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم :  سام أبو العرب وحام أبو الحبشة ويافث أبو الروم (رواه أحمد والترمذيّ والحاكم عن سمرة) حسن.[43]
قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : ولد نوح ثلاثة سام وحام ويافث (رواه أحمد والحاكم عن سمرة) صحيح.[44]
قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : ولد نوح ثلاثة قسام : فسام أبو العرب وحام أبو الحبشة ويافث أبو الروم (رواه الطبرانيّ  عن سمرة وعمران ) حسن.[45]
قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم :  سام أبو العرب وحام أبو الحبشة ويافث أبو الروم (رواه أحمد والترمذيّ والحاكم عن سمرة) حسن.[46]
Baik Jalalin, Ibn Katsir ataupun Qurthubi sependapat bahwa, asal usul dan keturunan manusia yang sampai dengan sekarang masih tetap survive adalah berasal dari bapak yang satu yaitu Nuh AS.  Sam, menurut Sa’id bin al-Musyyab, adalah nenek moyangnya bangsa Arab, Persia, Romawi, Yahudi dan Nasrani. Ham adalah nenek moyang bagi bangsa Sudan, Sind, India, Habsyi, Qibti dan Barbar. Dan, Yafuts adalah nenek moyang bangsa Turki dan juga Ya’juj Ma’juj.





[1] Proses penciptaan manusia, bila boleh dibandingkan, menurut para ahli adalah lebnih rumit ketimbang proses penciptaan makhluk yang lainnya.
[2] al-Faruqi, Ismail Raji,    Islam dan Kebudayaan, Mizan,  Bandung, 1984, 37
[3] Robert Frager,  Hati Diri Jiwa Psikologi Sufi, 188
[4] Fuat Nashori,  Agenda Psikologi Islam, Yogjakarta, Pustaka Pelajar, 2002, 16-17
[5] Amsal Bakhtiar,  Filsafat Agama, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1997,  124
[6] Amir al Najar,  al-Tashawwuf al-Nafsi, terj.,Jakarta, Hikmah 2002, 42
[7]al-A’zami: The History of  The Qur’anic Text From Revelation To Compilation. Terj., Jakarta, Gema Insani, 2005, 183
[8]  Azhari, Akyas,  Psikologi Umum dan Perkembanga, Jakarta, Teraju, 2004, 13
[9]  Azhari, Luthfi, Pengantar Emosi,  Yogyakarta, Jendela, 2002, ix
[10] Sanusi, Syekh Muhammad, Pemikiran-pemikiran Tauhid,  Surabaya, Bina Ilmu, 1994,  220
[11] Khan, Inayat,  Dimensi Spiritual Psikologi, Bandung,  Pustaka Hidayah,  2000, 13
[12] Muthahhari, Murtadha, Perspektif al-Qur’an tentang Manusia dan Agama, Bandung, Mizan, 1997, 125
[13] al-Nahlawi, Abdurrahman, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibih, Beirut, Dar al-Fikr, 1982, hal. 116.
[14] al-Jazairi, ‘Abdurrahman Rhalib, al-Tarbiyah al-Jinisyah fi al-Islam, Meris, al-Dar al-Mishriyah, 1992, hal. 50.
[15] Ibrahim Anis, dkk.,  al-Mu’jam al-Wasith,  Vol. I, Kairo, 1972, h. 83.
[16] al-Jazairi, al-Tarbiyah al-Jinisyah fi al-Islam,  hal. 23.
[17] al-Sya’rani, Muhammad Mutawalli,  al-Tarbiyah al-Islamiyah,  Lebanon, Dar al-Jayl, 1978, hal. 125.
[18] al-Jazairi,  Ibid.,  hal. 22.
[19] al-Jazairi, Ibid.,  hal. 26.
[20] al-Baydhawiy, Nashir al-Din Abu Sa’id ‘Abdullah b. ‘Umar b. Muhammad al-Syayraziy, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil (Tafsir al-Batdhawiy),  vol. IV., Beirut, Dar Shadir, h. 63.
[21] Maurice Bucaille,  Biel, Quran dan Sains Modern,  terj.,  Jakarta, Bulan Bintang, 1982, h. 301.
[22] Maurice, Ibid.,  h. 303.
[23] al-Nawawiy, Murah  Labid,  h. 63.
[24] al-Jazairi, Ibid., hal. 35.
[25] al-Jazairi,  al-Tarbiyah al-Jinsiyah fi al-Islam,  hal. 74-75.
[26] Madkur, Ali Ahmad,  Manhaj al-Tarbiyah fi al-Tashawwur al-Islami,  Beirut, Dar al-Nahdhah al-‘Arabiyah, 1990, hal. 148.
[27] al-Nahlawi,  Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibih,  hal. 116-117.
[28] Ibrahim ‘Ishmat Muthawi’, Ushul al-Tarbiyah,  Jeddah, Dar al-Syuruq, 1982, hal. 35.
[29] al-Jazairi,  Ibid., hal. 36.
[30] Madkur, Manhaj al-Tarbiyah fi al-Tashawwur al-Islami,    hal. 161.
[31] Madkur, Manhaj al-Tarbiyah fi al-Tashawwur al-Islami,, hal. 1612.
[32] al-Jazairi,  al-Tarbiyah al-Jinsiyah fi al-Islam,  hal. 35.
[33] al-Jazairi,  al-Tarbiyah al-Jinisyah fi al-Islam,  hal. 59.
[34] al-Jazairi, al-Tarbiyah al-Jinisiyah di al-Islam ,hal. 29.
[35] al-Nahlawi,  Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibh,  hal. 119-120.
[36] Ibrahim ‘Ishmat Mutrhawi’, Ushul al-Tarbiyah ,  hal. 42.
[37] al-Adib, Ali Muhammad al-Husein,  Manhaj al-Tarbiyah ‘ind al-Imam ‘Ali, Beirut,  Dar al-Katib al-‘Arabi,   1979, hal. 51.
[38] al-Sayuthiy, Jalal  al-Din,  al-Jam’ al-Shaghri fi  Ahadits al-Basyir al-Nadzir,  Beirut, Dar al-Katib al-‘Arabiy, 1976, h. 278.
[39]  Ibid., h. 278.
[40]  Ibid., h. 90.
[41] al-Sayuthiy,  al-Jami’ al-Shaghir,  h. 332
[42] al-Sayuthiy,  al-Jami’ al-Shaghir,  h. 332
[43] al-Sayuthiy,  al-Jami’ al-Shaghir,  h. 170
[44] al-Sayuthiy,  al-Jami’ al-Shaghir,  h. 332
[45] al-Sayuthiy,  al-Jami’ al-Shaghir,  h. 332
[46] al-Sayuthiy,  al-Jami’ al-Shaghir,  h. 170

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.