Rabu, 13 April 2016

TAREKAT

T A R E K A T
SUTEJA
Tarekat  dalam pandangan para sufi  merupakan istilah bagi praktek  mujâhadahMujãhadah  adalah memerangi atau mencegah kecenderungan hawa nafsu dari masalah-masalah duniawi. Mujahadah yang lazim berlaku di kalangan orang ‘awam adalah berupa perbuatan-perbuatan lahiriah yang sesuai dengan ketentuan syari’at. Sementara di kalangan khawãsh mujahadah dimaknai sebagai usaha keras menuscikan batin dari segala akhlak tercela. [1] Mujâhadah dan riyâdhah  adalah metode para sufi  atau calon sufi  yang dijalani atas petunjuk dari al-Sunnah dan menekankan kesesuaian antara amaliah lahiriah dan amaliah batiniah.[2]  Mujâhadah dan riyâdhah  merupakan landasan dalam kerangka mengaktualisasikan kesempurnaan manusia dan jalan yang mesti ditempuh dalam pergerakan mencapai maqam tertinggi yaitu  ma’rifatullâh.  Al-Ghazâlî memandang ma’rifatullâh bukanlah hasil dari kontemplasi spekulatif tentang Allah, melainkan berkat latihan-latihan spiritual (riyãdhah) yang dilakukan melalui praktek tarekat.[3] Tarekat, dengan demikian, merupakan  model pembinaan kepribadian untuk mencapai pensucian jiwa dan perbaikan diri (takhallî dan  tahallî) sebagai media para  murîd untuk dapat mencapai tujuan  dekat dengan Allah.
Tarekat, secara amaliah (praksis) tumbuh dan berkembang semenjak abad-abad pertama hijriah dalam bentuk perilaku zuhud  dengan berdasar kepada al-Quran dan al-Sunnah. Perilaku zuhud  sebenarnya merupakan perwujudan dari salah satu aspek yang lazim ditempuh dalam tarekat agar dapat sampai kepada Allah, yakni mujãhadah. Zuhud bertujuan agar manusia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan terhadap kenikmatan duniawiah secara berlebihan.  Kelompok orang-orang yang zuhud   kemudian mengambil perkumpulan atas dasar persaudaraan. Mereka lebih mendahulukan amaliah nyata daripada perenungan-perenungan filasafis (kontemplasi atau meditasi). Mereka mempunyai anggota dan tempat pemondokan serta guru khusus yang disebut syaykh  atau mursyid.    



[1]al-Kamsyakhãwãnî al-Naqsyabandî,  Jãmi’ al-Ushûl fî al- Awliyã’ wa Anwã’ihim wa Awshãfhim wa Ushãl Kull Tharîq wa Muhimmãt al-Murîd wa Syurûth al-Syaykh. Mesir, Dar al-Kutub al-‘Arabiah al-Kubra, t.th.,  h. 125.
[2]al-Kamsyakhãwãnî.,  h. 310.
[3] al-Palimbani, Abd. Shamad,  Syar al-Sãlikin,  J. IV, h. 103.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.