Senin, 04 April 2016

Pesantren Benda Kerep

PESANTREN BENDAKEREP KOTA CIREBON
SUTEJA
Pesantren Benda Kerep berada di wilayah kelurahan Argasunya Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon, letaknya sebelah selatan Kota Cirebon dengan jarak kurang lebih 9 KM dari pusat Kota. Sejarah berdirinya Pesantren Benda Kerep sarat dengan dunia magis/mistis dimana daerah ini awalnya merupakan hutan belantara yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Pohon-pohon besar yang ada dipercaya masyarakat terdiri dari pohon-pohon yang angker dan mengandung keanehan. Anehnya menurut cerita masyarakat, sebagaimana dibenarkan KH. Muhtadi Mubarok   bahwa jika pohon-pohon tersebut ditebang, akan mengeluarkan darah segar seperti halnya manusia yang terluka.[1]
Kampung ini awalnya dinamakan kampung Cimeuweuh yang berasal dari bahasa sunda cai (air)  meuweuh (raib/hilang) yang mengandung terminologi ketika ada orang yang masuk ke wilayah Cimeuweuh maka orang tersebut akan raib/hilang entah kemana dan akan sulit ditemukan jejaknya. Berdasarkan keyakinan masyarakat sekitar hilangnya orang yang masuk wilayah ini kemungkinan besar dibawa ke alam ghaib oleh sekelompok mahkluk ghaib penghuni wilayah Cimeuweuh.[2]  
Melihat kampung ini sebagai daerah yang sarat dengan cerita-cerita ghaib/mistis, maka banyak kalangan yang merasa penasaran ingin melihat dan mencoba mengetahui tingkat “keangkerannya”. Diceritakan sudah beberapa orang yang sakti mencoba menaklukan daerah yang masih dikuasai Keraton Kanoman ini.  Diantaranya adalah Mbah Layaman, seorang sakti mandaraguna yang memiliki ilmu kanuragan tinggi serta menguasai ilmu agama secara lues, berasal dari daerah solo dan diangkat menjadi penasehat kesultanan karena kesaktian dan kebijaksanaan yang dimilikinya. Beliau mencoba datang ke Cimeuweuh dengan maksud mengusir makhluk-makhluk ghaib serta menaklukan daerah Cimeuweuh dari berbagai pengaruhnya, setelah Embah Layaman datang ke Cimeuweuh beliau mencoba memulainya dengan mengeluarkan berbagai ilmu kesaktiannya untuk menaklukan para penghuni ghaib. Usaha demi usaha telah dilakukan tapi ternyata Tuhan berkehendak lain dimana Mbah Layaman tidak mampu  menaklukan wilayah Cimeuweuh dan para penghuninya.
Pada tahap berikutnya Mbah Soleh  yang hidup pada masa KH. Asy’ari (pendiri pesantren Tebu Ireng dan ayah dari Hasyim Asy’ari [-+ th. 1826 M.]  bersama KH. Anwarudin bertolak menuju tanah Cimeuweuh dengan niatan menaklukan tanah tersebut dari gangguan-gangguan ghaib. Sesampainya disana, Mbah Soleh dan KH. Anwarudin bermunajat dan berdo’a kepada Allah S.W.T. memohon pertolongan dan keselamatan dari hawa-hawa ghaib. Entah apa yang terjadi, berkat kesucian dan karomah yang dimilikinya dengan sekilas para penghuni gaib di wilayah Cimeuweuh takluk kepada Embah Soleh dan menyingkir dari tanah Cimeuweuh.
Sementara itu keterangan yang kami peroleh dari K. Miftah Putra K. Faqih atau keturunan keempat dari Mbah Soleh, ketika proses penaklukan makhluk ghaib di Cimeuweuh semua makhluk ghaib takluk dan bersedia beranjak dari tanah Cimeuweuh. Hal ini bisa terjadi karena keluhuran ilmu dan kesaktian yang dimiliki oleh Mbah Soleh. Sekalipun demikian, berdasarkan cerita, masih ada dua makhluk ghaib yang tidak mau beranjak dari tanah Cimeuwuh yaitu seekor macan ghaib dan seekor ular ghaib yang sebelumnya ular ghaib tersebut ada tiga, yang dua pergi dan yang satu menetap. Konon diceritakan bahwa, pernah terjadi diadakan sebuah perjanjian bahwa seekor Macan dan Ular ghaib tersebut berjanji akan melindungi dan menjaga anak cucu keturunan Embah Soleh dari hal-hal negatif yang membahayakan keturunan Mbah Soleh. Pernyataan ini dibenarkan juga oleh  KH. Muhammad Nuh menantu dari KH. Hasan bin Kyai Abu Bakar bin Embah Soleh.
Berikutnya, setelah tanah Cimeuweuh bisa ditaklukan, akhirnya kabar penaklukan tanah Cimeuweuh oleh Embah Soleh terdengar oleh berbagai kalangan masyarakat termasuk didengar juga oleh Sultan Zulkarnaen (Raja Kraton Kanoman pada masa itu), mendengar berita yang baik itu, tanah Cimeuweuh yang masih milik Kraton Kanoman itu akhirnya dihibahkan oleh Sultan Zulkarnaen kepada Embah Soleh. Penghibahan tanah tersebut merupakan itiqad baik Sultan yang melihat Mbah Soleh sebagai sosok kyai yang bersahaja dan kharismatik sehingga diyakini akan mampu mengembangkan ajaran Islam di tanah Cirebon. Akhirnya penyerahan wakaf itu disertai harapan bahwa tanah Cimeuwuh dijadikan sebagai sumber cahaya dan pusat penyebaran agama Allah SWT.
Setelah mendapat hibah tanah dari Keraton Kanoman, Mbah Soleh pun mulai menetap di Cimeuweuh bersama istri pertamanya Nyai Menah dari Pekalongan. Pada masa permulaan beliau mendirikan sebuah kranggon (pohon besar yang dikasih papan kayu) sebagai tempat tinggal sementara. Disanalah Mbah Soleh mulai menapaki tanah yang penuh aura mistis tersebut dengan penuh keyakinan bahwa beliau akan mampu menguasai wilayah ini demi syiar Islam. Kenyataannya memang demikian, tanah Cimeuweuh yang sekarang dikenal dengan wilayah Benda Kerep benar-benar situasinya berubah sehingga aura mistis/keankerannya tidak begitu nampak.
Berikutnya, perlahan tapi pasti, wilayah ini mulai bisa dikuasai tanpa gangguan dan tantangan yang berarti. Akhirnya, nama Cimeuweuh dimana beliau awal menapaki wilayah ini, diganti dengan nama Benda Kerep karena di tanah Cimeuweuh terdapat pohon Benda (pohon dan buahnya kaya semacan sukun) dan pohon tersebut banyak sekali (Kerep-bahasa Jawa) dengan alasan itulah Cimeuweuh diganti menjadi Benda Kerep. Tidak terdeteksi apakah nama ini merupakan nama yang baik untuk suatu daerah atau tidak, yang pasti, sejak perubahan dari Cimeuweuh ke Benda Kerep nyatanya nama wilayah ini menjadi terkenal dengan kekhasannya terutama dalam mempertahankan tradisi keislaman.
Keberadaan Benda Kerep sebagai wajah baru dari tanah Cimeuweuh tentunya telah mengundang berbagai perhatian dari berbagai penjuru masyarakat Cirebon terlebih disitu terdapat orang mulia, sakti mandraguna dan mempunyai wawasan keilmuan yang tinggi dan berakhlak mulia. Beliau adalah Mbah Soleh yang selalu memegang teguh prinsip-prinsip aqidah dan bersandar pada ajaran tasawuf sebagai implementasi dari ajaran Islam. Banyak dari kalangan masyarakat Cirebon khususnya dari daerah tetangga Benda Kerep yang berniat untuk belajar dan berguru kepada Mbah Soleh. Karena kharismanya, maka daerah ini berangsur-angsur sebanyak penghuninya terutama mereka yang ingin menambah ilmu dan pengalaman dari seorang guru tasawwuf. Awalnya daerah ini sepi dan “anker” mulai menampakkan tanda-tanda kehidupan yang ramai dengan komunitas santri yang sedang berguru pada Kyai. Begitulah yang dirasakan oleh Mbah Soleh tanpa terasa yang semula hanya berdua bersama istrinya kini telah banyak yang menemani embah soleh sebagai muridnya dan Mbah Soleh pun semakin serius untuk membumikan ajaran Islam di tanah Benda Kerep.
Pada tahap selanjutnya, tempat tinggal Mbah Soleh bersama istrinya yang semulanya adalah tempat kranggon, agar lebih memberikan kenyamanan dalam berumah tangga akhirnya Mbah Soleh yang dibantu bersama murid-muridnya membangun sebuah rumah sederhana sebagai tempat. Atas dasar kharisma Mbah Soleh, tanpa harus diminta dan disuruh, santri yang ada bahu membahu membantu untuk membangun tempat tinggal beliau. Pada akhirnya proses pembangunan rumah tersebut telah memberikan warna sejarah tersendiri bagi kemajuan dan perkembangan wilayah Benda Kerep dengan tatanan  kehidupan yang sarat dengan nuansa keislaman. Rumah yang dibangun oleh Mbah Soleh bersama santrinya, adalah rumah pertama di kampung Benda Kerep dan rumah tersebut sampai sekarang masih berdiri kokoh namun telah mengalami berbagai renovasi, yang kemudian sekarang menjadi tempat tinggal K. Faqih cucu Embah Soleh dari K. Abu Bakar.
Melalui hikmah kewalian Mbah Soleh, Benda Kerep yang dahulunya penuh dengan aura mistis kini  tampak cahaya-cahaya Islam yang bersinar di setiap penjuru kampung Benda Kerep. Kehidupan masyarakat kelihatan bersahaja sekalipun hidup tidak bergelimang dengan harta. Suasana ketentraman dan kenyamanan sangat terasa karena jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan suara-suara mesin kendaraan maupun pabrik ataupun kebisingan hiburan dari media elektronik.
Proses pengajaran agama Islam berjalan dengan sempurna sekalipun tanpa kehadiran lembaga pendidikan formal (sekolah), mereka berpendapat, pesantren cukup menjadi lembaga pendidikan untuk mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan agama sebagai bekal untuk hidup di dunia dan akhirat kelak.  Aplikasi ajaran Islam  selalu menyentuh nila-nilai sikap dan moralitas begitu melekat dalam setiap individu yang berdomisili di kampung Benda Kerep. Kaum wanita senantiasa menutup auratnya dengan kerudung, kebaya dan tapih (kain panjang khas bagi wanita), sementara laki-laki menggunakan sarung dan kopyah menampilkan ciri khas kesantriannya.
Dilihat dari letak geografis, Benda Kerep masuk wilayah Kelurahan Argasunya kecamatan Kalijaga kota Cirebon yang daerahnya terpencil karena dipisahkan dengan sungai. Tidak sedikit orang menyebut daerah ini karena terpencil tapi masih masuk wilayah kota Cirebon disebut “Diskotik” (bahasa Sunda disisi Kota saeutik). Sekalipun daerah ini terpencil tidak berarti jauh dari jangkauan orang ataupun orang luar tidak ada yang bisa masuk. Justru daerah Benda Kerep ini merupakan daerah yang “unik” karena kuat mempertahankan tradisinya tanpa terpengaruh oleh modernisasi. Orang banyak tahu tentang eksistensi pesantren Benda Kerep.
Masyarakat luar berdatangan dari berbagai wilayah untuk berbagai tujuan, utamanya minta berkah do’a pada Kyai yang ada di Pesantren dengan berbagai tujuan dan kepentingannya. Kunjungan masyarakat luar ke Pesantren Benda Kerep nampak banyak terutama ketika ada acara-acara yang khusus  dilaksanakan secara rutin pada setiap tahunnya di Pesantren ini.
Momentum itulah yang sering digunakan oleh masyarakat luar dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat sampai pada para politisi dan pejabat sekalipun. Acara-acara khusus dimaksud adalah acara Tradisi yang terkait erat dengan kepercayaan dan ritual agama Islam dalam masyarakat Kampung Benda Kerep yang sampai sekarang masih terus dilakukan setiap tahun, yakni:   Haul, Muludan, dan  Syawalan. Ketiga tradisi ini bisa dikatakan simbol khusus bagi masyarakat Kampung Benda Kerep karena ketiganya dirayakan dengan maksimal oleh seluruh masyarakat Kampung Benda Kerep dimana masyarakat luar pada berdatangan untuk mencari “berkah”.
Di bulan Dzulhijjah, tepatnya pada hari tasyriq adalah acara haolan yakni mengenang wafatnya  Mbah Soleh sebagai pendiri pesantren ini, merupakan acara yang paling ditunggu oleh masyarakat luar. Peneliti menyaksikan secara langsung acara haul tersebut dan menyaksikan   ribuan orang pengunjung berdatangan dari berbagai penjuru daerah sehingga penelitipun merasa kesulitan ketika masuk wilayah pesantren Benda Kerep karena akses jalan kl 4 KM sebelum menuju lokasi sudah dipadati oleh para pengunjung dari berbagai daerah. [3]
Kini pesantren tersebut menjadi tempat belajar sebanyak 310 santri, terdiri dari santri putra 203 dan santri putri sebanyak 107 orang. Para santri ini datang dari berbagai kota atau daerah, terutama yang terbesar adalah mereka yang datang dari wilayah eks Karesidenan Cirebon, yakni dari Kab. Indramayu, Majalengka, Kuningan, Kota dan Kabupaten  Cirebon sendiri. Selain dari wilayah Cirebon, Pesantren Benda juga didatangi para santri yang datang dari wilayah Banten, Bandung, Jakarta, sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Sumatera dan Kalimantan. Para santri ini adalah terdiri dari santri putra dan putri berusia antara 12 sampai 19 tahun.
Meski tidak ada hasil pendataan formal, namun Kang Miftah (sapaan akrab Kyai Muhammad Miftah Machfudz) menyebutkan latar belakang ekonomi-sosial keluarga para santri bisa dikategorikan pada keluarga atau masyarakat bawah, menengah dan atas. Selain mereka berasal dari keluarga petani, banyak para santrinya yang berasal dari keluarga berlatar belakang pedagang atau pegawai.
Berbeda dengan Pesantren Buntet, Pesantren Benda Kerep Kota Cirebon yang didirikan pada perempat awal abad 18 masehi sekitar tahun 1826 M.   oleh Mbah Soleh  tetap tidak adaptif terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, utamanya teknologi informasi, mereka masih mempertahankan tradisi sebagai lembaga pendidikan yang lebih fokus pada pendidikan agama. Beberapa hal bisa dijelaskan diantaranya: Pertama, menolak kehadiran media  elektronik dan media cetak semisal pesawat televisi, radio dan surat kabar serta pembangunan jembatan, Kedua, tidak menyelenggarakan sistem persekolahan. Dua ciri unik ini merupakan sesuatu yang langka mengingat arus modernisasi semakin deras dimana berbagai tatanan kehidupan di berbagai tempat mengalami perubahan. Masyarakat Benda Kerep masih tetap mempertahankan tradisi lokalnya tanpa harus banyak terpengaruh oleh kemajuan modern dan sampai sekarang masih tetap eksis.
Pembelajaran di pesantren ini pada prinsipnya sama seperti halnya Pesantren pada umumnya yakni dengan sistem bandungan dan sorogan. Namun, sejak pesantren ini didirikan sampai sekarang tidak mengenal pendidikan persekolahan yang formal (klasikal/penjenjangan).  Ilmu yang dipelajarinya khusus mempelajari agama dengan rujukan kitab kuning.
 Pada setiap harinya, dengan sistem bandongan maupun sorogan, para kyai sudah siap melayani kebutuhan santri untuk mengaji berbagai kitab. Khusus pada bulan Ramadhan santri memiliki kewajiban menamatkan satu kitab dalam 25 hari. Santri-santri dibawah bimbingan kyainya mempelajari berbagai disiplin dari mulai  ilmu fikih, tafsir, hadis, dan tata bahasa Arab (nahwu sharaf)  yang diselenggarakan dengan sistem pasaran. Khusus pada bulan ini, yang mengikuti pengajian tidak hanya santri mukimin tetapi banyak santri yang sengaja berdatangan dari berbagai daerah. 
Santri pondok pesantren ini di bulan Ramadhan  mencapai  mencapai 300an orang. Mereka ingin mengikuti pengajian pasaran untuk kitab-kitab tertentu terutama kitab tashawwuf.  Mereka berdatangan tidak hanya berasal dari wilayah III Cirebon, tapi ada juga yang berasal dari beberapa kota di Pulau Jawa.
Jika memperhatikan pada jenis pengajian serta model pengajaran yang dikembangkan oleh pesantren Benda Kerep atas dasar keberadaan santrinya, maka dibagi ke dalam dua bagian, bagian pertama untuk model santri kalong, dan model kedua untuk santri mukim. Santri kalong adalah santri yang ikut mengaji dan kegiatan pesantren lainya tetapi mereka tidak menetap/mukim di pesantren. Biasanya, santri kalong datang menjelang maghrib untuk mengikuti pengajian dan pulang tengah malam. Sementara santri mukim adalah meraka yang siang hari dan malamnya tetap bermukim dan mengikuti berbagai kegiatan di lingkungan pesantren. Model pengajian untuk santri kalong diantaranya; manakib, marhaban, shalawatn, tahlil, mauludan, serta haol.
Disamping itu ada acara manaqiban yang biasanya dilaksanakan sebulan dua kali yakni pada minggu ke I dan minggu II dalam setiap bulannya. Kegiatan  ini dapat menjadi sebuah pelatihan kebiasaan bagi santri, baik bagi santri kalong ataupun santri mukim. Acara manakiban ini diselenggaraan dengan  harapan dapat keberkahan hidup dan ketenangan hidup guna menuju kebahagiaan hakiki.
Marhabanan (baca barjanji) merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan santri, baik santri kalong maupun santri mukim, biasanya acara ini dilaksanakan pada setiap malam Jum’at. Seperti halnya dengan manaqiban, marhaban juga merupakan tradisi yang selalu dilaksanakan di pesantren salafiah seperti ini. Memperhatikan tujuan utama dilaksanakan pangajian seperti ni adalah untuk melakukan pujian dengan membaca shalawat khususnya kepada nabi Muhammad SAW, dengan mengharapkan keberkahan serta syafa’atul bliau di akhirat kelak.
Sementara acara muludan biasanya dilaksanakan oleh santri yang waktunya bertepatan dengan tanggal 12/13 Maulid (bulan Rabiul Awwal) pada setiap tahunnya. Muludan ini adalah dalam rangka memperingati hari kelahiran nabi Muhammad SAW. Dengan penyelenggaraan muludan ini, mereka beranggapan akan mendapatkan keberkahan baik hidup di dunia maupun di akhirat kelak, atau paling tidak dapat menjadikan perilaku nabi Muhammad sebagai suri tauladan bagi umatnya. Motivasi mereka cukup bagus dimana mereka dengan mengenang kelahiran dan perjuangan Nabi, diharapkan dapat mentauladani Nabi sebagaimana Firman Allah menyebutkan bahwa pada diri Rasulullah terdapat tauladan yang baik (uswah hasanah).
Upaca kegiatan  haul  dilaksanakan setiap tanggal yang sama yakni tanggal 12/13  setiap bulan Dzulhijah. Maksud perayaan ini dilaksanakan adalah untuk memanjatkan doa bersama dalam rangka mengirim fatihah atau doa khususnya pendiri/sesepuh pesantren Benda Kerep yang sudah meninggal dunia, dengan harapan dapat keberkahan dari kyai sepuh yaitu KH. Mbah Sholeh, KH. Mbah Muslim, dan KH. Mbah Abu Bakar, serta pendiri pondok pesantren Bende Kerep lainya.


[1] Wawancara dengan KH. Mustahdi Mubarok tanggal 6 Oktober 2012
[2] Wawancara dengan KH. Faqih tanggal  12 Oktober 2012
[3] Kunjungan penulis tanggal 29 Oktober 2012

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.