Senin, 04 April 2016

MUQODDAM TAREKAT TIJANIYAH BUNTET PESANTREN

MUQODDAM TAREKAT TIJANIYAH BUNTET PESANTREN
SUTEJA  
 Pesantren selama masa penjajahan merupakan salah satu tempat yang mendapat perhatian khusus karena dianggap sebagai basis pemberontakan. Demikian juga dengan Pesantren Buntet yang merupakan basis pertahanan para santri dan penduduk setempat. Pesantren ini tidak lepas dari patroli Belanda setiap harinya. Untuk menghindari keadaan tersebut, Kyai Muqoyyim sering berpindah-pindah tempat. Tempat yang pertama dituju adalah Gajah Ngambung[1] sebelum mengambil lokasi di Blok Buntet Pesantren wilayah Desa Mertapada Kulon. Selain kedua tempat tersebut, eliau juga berpindah tempat ke Pasawahan[2] Lemahabang, masih di daerah Cirebon. Kemudian juga ke daerah Tuk Karangsuwung. Bahkan karena begitu gencarnya desakan penjajah Belanda terhadap beliau dan para pengikutnya untuk mau bekerjasama dengan mereka, Kyai Muqoyyim sampai “hijrah” ke daerah Beji, Pemalang, Jawa Tengah sebelum akhirnya kembali ke Buntet Pesantren[3]
Kondisi mencekap di bawah pengawasan Belanda yang berpatroli hampir tiap hari tidak menghalangi minat para santri untuk tetap belajar di samping ada sebagian yang ikut bergerilya. Kelihatannya Belanda sudah mengetahui kalau pesantren ini merupakan basis perlawanan kaum Republik. Hal itu memang wajr karena sepanjang sejarah Buntet, pada hakekatnya adalah cerita perlawanan rakyat terhadap penjajah di bawah pimpinan para ulama yang tergabung dalam Hizbullah[4] dan Sabilillah[5], selain Asybal[6]. Kyai Anas dan kakaknya Kyai Abbas merupakan pionir Sabililah dengan dibantu oleh ulama lainnya[7]  
Tokoh pendiri pesantren Buntet, Kyai Muqoyyim selain aktif mengajar dan bergerilya dikenal juga sebagai tokoh ahli tirakat (riyadhah) untuk kewaspadaan dan keselamatan bersama. Menurut penuturan anak cucunya, beliau pernah berpuasa tanpa putus selama 12 tahun. Niat puasanya beliau bagi menjadi empat bagian yaitu 3 tahun pertama ditujukan untuk keselamatan Buntet Pesantren, 3 tahun kedua untuk keselamatan anak cucunya,3 tahun ketiga untuk para santri dan pengikut setianya dan terakhir, 3 tahun keempat untuk keselamatan dirinya.[8]  
Dari silsilah nasab tersebut dapat diketahui bahwa Kyai Anas merupakan putra tokoh penting dalam genealogi kepesantrenan yang otoritas kepemimpinannya dipegang mutlak seorang kyai-ulama.
Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional merupakan pilihan utama bagi kebanyakan umat Islam untuk menandingi sistem pendidikan kolonial. Dalam sistem pendidikan pesantren dikenal istilah santri keliling yaitu seorang santri yang tidak hanya belajar pada satu pesantren saja tetapi berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren yang lain dengan tujuan mengejar ilmu pengetahuan agama sesuai dengan spesialisasi ilmu yang dimiliki seorang kyai.[9]  
Dengan predikat santri keliling, Kyai Anas menempuh jenjang pendidikan kepesantrenannya setelah terlebih dahulu dibekali dasar agama yang cukup oleh ayahnya sendiri, KH. Abdul Jamil. Pendidikan pesantrennya dimulai di Pesantren Sukanasari Plered Cirebon di bawah pimpinan Kyai Nasuha selama 4 tahun. Kemudian beliau pindah ke pesantren Tegal di bawah asuhan Kyai Sa’id. Setelah itu, beliau pindah ke Pesantren Tebu Ireng di Jombang Jawa Timur di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari.[10]
KH. Anas   mendapat Ijazah Langsung dari Syekh Ali Thoyib al-Madani 
Pengenalan Kyai Anas terhadap Tarikat Tijaniyah, dilakukannya pada saat beliau menunaikan ibadah haji ke Makkah pada tahun 1924. Kepergiannya ini menuruti anjuran kakaknya, Kyai Abbas yang terlebih dahulu berjumpa dengan Syaikh Ali tetapi beliau tidak mengambil bai’at Tarikat Tijaniyah tersebut meskipun beliau sudah menyenangi tarikat ini. Hal ini disebabkan tanggung jawab beliau sebagai mursyid Tarikat Syathariyah di pesantrennya.[11]  
Kyai Anas bermukim kurang lebih 3 tahun di Makkah dan mempelajari dengan seksama kitab-kita pegangan Tarikat Tajaniyah seperti Jawahir al-Ma’ani, Rimah, Bughyat al-Mustafid langsung dari Syaikh Alfa Hasyim. Bai’at tarikatpun dilakukan Kyai Anas kepada Syaikh Alfa Hasyim, selain kemudian mengambil bai’at lagi dari Syaikh Ali al-Thayyib.[12] 
Untuk menyebarluaskan Tarikat Tijaniyah, Kyai Anas melakukan bai’at terhadap Kyai Hawi, Kyai Muhammad (Brebes), Kyai Bakri (Kasepuhan, Cirebon), Kyai Muhammad Rais (Cirebon)[13], Kyai Murtadha (Buntet), Kyai Abdul Khoir, dan Kyai Shaleh (Pasawahan) menjadi muqaddam. Selanjutnya melalui Kyai Hawi, elaborasi tarikat ini semakin menampakkan kemajuan.
Selain mengulangi bai’at yang dilakukan oleh Kyai Anas terhadap muqaddam-muqaddam baru tersebut, Kyai Abbas membai’at juga Kyai Hawi dan Kyai Shaleh, kemudian Kyai Badruzzaman (Garut) dan Kyai Ustman Dhamiri (Cimahi, Bandung). Setelah itu, Kyai Abbas dan Kyai Anas mengulangi bai’at kepada Syaikh Ali saat beliau berkunjung ke Bogor pada tahun 1937.[14] 
Dalam Tarikat Tijaniyah dikenal istilah muqaddam min muqaddam. Artinya, seorang ikhwan Tijaniyah bisa melakukan bai’at lebih dari sekali kelapada muqaddam lainnya dengan alasan ketakwaan, senioritas usia, ataupun disiplin ilmu yang dimiliki muqaddam senior tersebut.[15] Berdasarkan pendapat di atas, diketahui bahwa Kyai Anas melakukan baiat tarikatnya dua kali yaitu dari Syaikh Alfa Hasyim di Madinah dan dari Syaikh Ali al-Thayyib, murid dari Syaikh Alfa Hasyim ketika beliau datang ke Indonesia tahun 1937. [16] 
Dari uraian tersebut, diketahui bahwa genealogi spiritual Kyai Anas dalam Tarikat Tijaniyah dapat disusun sebagai berikut : Rangkaian penerimaan melalui Syaikh Muhammad Alfa Hasyim yaitu : Kyai Anas dari Muhammad Alfa Hasyim dari Syaikh al-Hajj al-Sa’id dari Syaikh Amr bin Sa’id al-Futi dari Muhammad al-Ghala dari Ahmad al-Tijani dari Rasulullah SAW. Bai’at kedua dilakukan oleh Kyai Anas melalui Syaikh Ali al-Thayyob al-Madani al-Azhari dari dua muqaddam yaitu dari Syaikh Adam ibn Muhammad Sa’id al-Barnawi dan Syaikh Muhammad Alfa Hasyim dari Ahmad al-Bani Al-Fasi dari Muhammad Ibn Qosim al-Bishri dan Muhammad al-Ghala dari Ahmad al-Tjani dari Rasulullah SAW. [17]  
Menurut seorang muqoddam Tarekat Tijaniyah di Pesantren Buntet, KH Abdullah Syifa, pengenalan dan perkembangan tarekat ini di pesantrennya hampir sama dengan awal pengembangan pondok pesantrennya.Dua orang dari kalangan pesantrennya menjadi orang pertama yang mengambil ijazah tarekat ini, keduanya yakni Kyai Anas dan Kyai Akyas. Kyai Anas mengambil ijazah tarekat ini kepada Syekh Ali Thoyib al-Madani secara langsung di kota kelahiran Syekh Ali Thoyib yakni Madinah. Beberapa tahun kemudian adiknya, Kyai Akyas (ayahanda Kyai Abdullah Syifa) mengambil ijazah tarekat yang sama kepada syekh yang sama di daerah Garut Jawa Barat.
Diceritakan Kyai Syifa saat diwawancara di rumahnya di Kompleks Pesantren Buntet, saat Kyai Anas hendak berangkat ke Kota Mekkah dan Madinah sekitar tahun 1942-an ia diminta oleh kakaknya, Kia Abas untuk mengambil ijazah Tarekat Tijaniyah kepada Syek Ali Thoyib al-Madani. Maka sepulang dari menunaikan ibadah haji itu Kyai Anas menjadi salahsatu muqoddam Tarekat Tijaniyah di Indonesia[18]
Kyai Akyas diangkat Syekh Ali Thoyib al-Madani  menjadi Muqoddam
Sebagaimana Pesantren Benda Kerep Kota Cirebon, Pesantren Buntet Kec. Astanajapura Kab. Cirebon juga menjadi semacam pusat pengenalan dan penyebaran salahsatu aliran tarekat. Bila Pesantren Benda menjadi pusat penyebaran Tarekat Syattariyah, maka Pesantren Buntet menjadi pusat penyebaran Tarekat Tijaniyah.
Pesantren yang didirikan kurang lebih sekitar tahun-tahun yang sama dengan Pesantren Benda ini sejak awal memang telah menjadi pusat penyebaran Tarekat Tijaniyah. Hingga hari ini, pesantren yang menampung ribuan santri putra-putri dari berbagai daerah itu dikenal sebagai pengamal Tarekat Tijaniyah.
Cerita unik terjadi pada kisah awal mulanya Kyai Akyas didaulat menjadi muqoddam pada tarekat yang sama. Diceritakan Kyai Syifa, Syek Ali Thoyib sudah cukup lama berada di Indonesia, hampir selama 20 tahun. Selama waktu itu Syek Ali kerap melakukan perjalanan menyebarkan tarekat ini di Pulau Jawa hingga sampai ke ujung Jawa Timur, yakni Madura. Suatu ketika sang syekh bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dan Syekh al-Tijani (syekh utama dan pendiri Tarekat Tijaniyah). Dalam mimpinya Syek al-Tijani mengatakan bahwa masih ada satu lagi seorang calon muqoddam yang berada di Pesantren Buntet Kab. Cirebon.
Setelah jaga, Syek Ali Thoyib lantas berkirim surat kepada Kyai Abas yang isinya meminta mengirimkan orang yang bernama Kyai Akyas ke rumah Syek Ali. Pada mulanya, Kyai Akyas tidak mau menjadi muqoddam Tarekat Tijaniyah dengan alasan dirinya masih suka merokok. (Kyai Syifa menjelaskan dalam tarekatnya seorang muqoddam haram hukumnya merokok, sementara anggota jamaahnya diperbolehkan merokok). Singkat cerita Kyai Akyas pun lantas jadi muqoddam dan selanjutnya  memberikan ijazah tarekat tersebut ke banyak orang.



[1]        Nama Gajah Ngambung diambil karena beliau emiliki seekor gajah putih. Versi lain menyebutkan bahwa Gajah Ngambung (artinya gajah mencium) merupakan satu istilah untuk menggambarkan suatu tempat pertemuan para pembesar pesantren dengan berdasarkan ikatan kasih sayang, sehingga setiap kali bertemu, didahului dengan saling berpelukan 9Sumber : Ahmad Rifqi, 25 Februari 2000).
[2]        Nama Pasawahan diambil dari kata sawah.Konon, daerah ini hanya memiliki sepetak sawah tetapi mampu mencukupi kebutuhan pangan bagi Kyai Muqoyyim sekeluarga dan para santrinya.Sampai sekarang daerah ini merupakan salah satu basis Tarikat Tijaniyah dengan KH. Abdurrosyid sebagai muqaddamnya, yang mendapat kan bai’at tarikat ini dari KH. Hawi (Buntet)
[3] Ma’sum, Saifullah (Editor). Kharisma Ulama Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU. Bandung,  Mizan. 1998, hal. 103
[4]        Hizbullah adalah organisasi perjuangan umat Islam pada zaman revolusi untuk menampung dan menyalurkan kekuatan generasi muda Islam guna mengusir penjajah Belanda (Ma’shum Ed., 1998:103-104)
[5]        Sabilillah sebagai organisasi perjuanganumat Islam untuk mengusir penjajah, beranggotakan kaum tua militan (Ma’shum Ed., 1998:104)
[6]        Asybal merupakan organisasi perjuangan yang beranggotakan anak-anak usia di bawah 17 tahun, bertugas sebagai pasukan pengintai atau mata-mata dan sebagai penghubung dari daerah pertahanan sampai front terdepan. Organisasi didirikan oleh para sesepuh Buntet (Ma’shum Ed., 1998:104).
[7] Ma’shum,  Kharisma Ulama Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU., hal. 104
[8] Ma’shum, Kharisma Ulama Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU., hal. 105
[9]  Ma’shum, Kharisma Ulama Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU., hal. 102
[10] Wawancara dengan Ahmad Rifqi, 2 Maret 2011
[11] Muhamin,  Islam dalam Bigkai Budaya Lokal Potret dari Cirebon,  Jakarta, Logos, 1999, hal. 108
[12] Muhamin,  Islam dalam Bigkai Budaya Lokal Potret dari Cirebon,  Jakarta, Logos, 1999, hal. 109 dan Pijper, Fragmentica Islamica, terj., Jakarta, UI Press,1987, hal. 88-89
[13]       Keterangan lebih lengkap lihat Pijper, 1987:85-86.
[14] Muhamin,  Islam dalam Bigkai Budaya Lokal Potret dari Cirebon,  Jakarta, Logos, 1999, hal. 109
[15] Muhamin,  Islam dalam Bigkai Budaya Lokal,  hal. 106.
[16] Muhamin,  Islam dalam Bigkai Budaya Lokal,  hal. 109.
[17] Pijper, Fragmentica Islamica, terj., Jakarta, UI Press,1987, hal. 87:88
[18]Wawancara dengan KH. A. Syifa, Senin  28 November 2011

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.